Seorang detektif ternama ditugaskan menyelidiki serangkaian kematian aneh yang tampak seperti kecelakaan, kelalaian kerja, bahkan bunuh diri. Namun, di balik kasus-kasus ringan itu, perlahan terbentuk pola yang mengarah pada sesuatu yang tak terduga.
Di tengah penyelidikan, ia bertemu seorang mahasiswi kedokteran yang aneh dan tak biasa. Gadis itu kerap muncul di saat-saat krusial—memberi analisis, menolong di lapangan, dan membantu mengungkap detail yang luput dari penyelidikan resmi. Hubungan mereka tumbuh akrab, meski bayang-bayang masa lalu gadis itu masih menyisakan luka.
Seiring waktu, kasus-kasus berkembang menjadi pembunuhan berantai yang semakin brutal. Kota yang sempat kembali tenang diguncang teror baru, kali ini tanpa upaya menyamarkan kejahatan. Luka-luka serupa tertinggal di setiap korban, seolah sang pelaku ingin dikenali.
Tak ada yang mengira.
apakah ia sedang memburu seorang pembunuh… atau justru telah berjalan di sampingnya sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1 : Kematian Dr.Milly
Gema sirene yang tertahan derasnya hujan, masih samar terdengar di kejauhan. Aroma tanah basah bercampur dengan udara dingin merayapi seluruh halaman Adridgel Hall. Cahaya lampu biru polisi terus berputar, memantul di kaca jendela rumah sakit yang berembun, seolah menandai sebuah tragedi yang tak bisa dihapus begitu saja.
Di televisi yang menyala di ruang tunggu, reporter membacakan berita dengan wajah serius.
“Seorang dokter bedah ternama, Emily Carter, ditemukan tewas di lantai lima, tepat di dekat tangga darurat. Polisi menyebut tidak ada tanda-tanda pembunuhan, hanya satu luka di kepala akibat jatuh. Dugaan awal, korban kelelahan dan kehilangan keseimbangan.”
Kata-kata itu menyalakan percakapan di luar sana, antara mereka yang percaya pada takdir, dan mereka yang meyakini ada misteri di balik kematian tersebut.
Hari-hari berikutnya, rumah sakit dipenuhi karangan bunga. Aroma melati bercampur mawar menusuk udara lobi, meninggalkan kesan duka yang dalam. Orang-orang berdatangan, sebagian menunduk khidmat, sebagian lagi hanya berdiri terpaku, tak sanggup menerima kenyataan bahwa salah satu pahlawan medis mereka telah pergi.
“Wah… makin banyak aja yang datang. Hanya untuk meletakkan bunga,” gumam seorang gadis dengan suara lirih. ID card di lehernya menunjukkan nama Olivia Hayes, mahasiswa residensi tahun pertama.
“Wajar,” sahut gadis di sebelahnya, Katrina Angel, residensi tahun kedua. “Bagi mereka, dokter adalah malaikat. Kehilangan satu saja sudah cukup untuk membuat banyak orang merasa dunia runtuh.”
Olivia tersenyum tipis, matanya memantulkan rasa iba yang tak bisa disembunyikan. “Rasanya… nyawa dokter lebih berharga dari apa pun.”
Katrina menatapnya sekilas, lalu menarik napas panjang sebelum menggenggam tangannya. “Ayo, masih ada pasien yang menunggu.”
Olivia menoleh sekali lagi, matanya menyapu lautan bunga dan orang-orang yang tenggelam dalam duka. Baru setelah itu ia berbalik, melangkah pergi.
Suara tak… tak… tak… dari heels mereka memecah kesunyian koridor. Sinar matahari pagi menyusup lewat kaca jendela, memantul di lantai keramik yang mengilap. Sekilas, suasana rumah sakit tampak normal, seolah tidak ada tragedi yang baru saja terjadi.
“Mau ke mana sekarang?” Olivia menunduk melihat layar ponselnya. “Tidak ada jadwal baru setelah kematian Dokter Mily semalam.”
“Paling jaga IGD. Bosan sekali rasanya…” Katrina menghela napas panjang, hampir seperti mengeluh pada dirinya sendiri.
“Shhht…” Olivia buru-buru menaruh jari di bibirnya.
Langkah mereka terhenti di dekat ruang rapat para dokter senior. Suara-suara di dalam ruangan terdengar jelas, menembus pintu kayu yang tak tertutup rapat.
“Jangan buat rumor konyol!” suara berat penuh tekanan terdengar. “Kematian Dokter Mily hanya kecelakaan! Itu sudah jelas!”
Olivia dan Katrina saling berpandangan, tegang. Mereka mengenali suara itu Patrick Doyle, dokter senior berusia 45 tahun yang dikenal keras.
Namun suara lain menyahut, penuh keberanian. “Tapi, Dok! Bukankah seharusnya kita menyelidiki lebih jauh? Ada banyak hal yang terasa janggal!”
Suara meja terbentur keras menggema. “Selidiki? Kau mau gila?!” bentak Patrick, nadanya penuh ancaman.
Olivia menelan ludah, sementara Katrina membeku. Keduanya tidak mengerti sepenuhnya apa yang terjadi, tetapi jelas ada sesuatu yang disembunyikan.
“Apa maksudnya?” Olivia berbisik gugup.
“Mana aku tahu? Jangan tanya aku!” Katrina mendesis ketus, nada suaranya lebih tinggi dari biasanya.
Olivia menoleh cepat, keningnya berkerut. “Kenapa kau marah? Aku hanya bertanya!”
“Aku tidak marah! Aku hanya tidak suka—”
Suara pintu berderit memutus percakapan mereka. Perlahan pintu ruang rapat terbuka, dan seorang dokter melangkah keluar. Tatapannya tajam, seakan baru saja mendengar semuanya.
“Kalian… sedang apa di sini?” tanyanya dengan nada dingin.
Udara di koridor seketika menegang. Olivia dan Katrina terdiam, tidak tahu harus menjawab apa.
“K-Kami…”
Suara Olivia bergetar, seolah tersangkut di kerongkongan. Kata-kata yang ia coba rangkai berantakan, tak satu pun terdengar masuk akal. Wajahnya pucat, sementara matanya berusaha mencari-cari jawaban di udara.
Tatapan tajam dari dokter itu membuat waktu serasa berhenti. Aura dingin yang dipancarkannya cukup untuk menekan dada siapa pun yang berdiri di hadapannya.
“Kembali ke IGD,” ucapnya datar namun penuh tekanan, nada suaranya seperti perintah militer yang tak boleh dibantah. “Tugas kalian ada di sana, bukan berkeliling tanpa arah.”
Olivia spontan mengangguk, begitu pula Katrina. Meski berusaha terlihat tenang, kaki mereka gemetar hebat. Seakan setiap langkah yang salah bisa menyeret mereka ke lubang yang tak diinginkan.
“B-Baik, Dokter… maafkan kami,” bisik keduanya hampir bersamaan. Tanpa menunggu aba-aba lain, mereka bergegas pergi, langkah mereka berderap terburu-buru hingga gema suaranya memanjang di koridor.
Dokter itu tidak segera masuk kembali. Matanya mengikuti punggung dua gadis itu sampai menghilang di tikungan. Tatapannya tak bergeser sedikit pun, seolah masih menyisakan kecurigaan.
Barulah ia menoleh. Pintu rapat masih terbuka setengah, menyisakan celah. Ia mengangkat tangannya, mengetuk kayu dengan keras sekali, dentumannya seperti palu yang memukul hati siapa pun di dalam ruangan.
“Pelankan suara kalian,” katanya seraya mendorong pintu agar menutup rapat. Namun sebelum hilang, kalimatnya terdengar jelas bagi mereka yang masih menahan napas di balik meja rapat.
“Mereka… hampir saja menangkap kita.”
Udara di ruangan itu seketika menegang, seperti jaring laba-laba yang tersentuh angin.