NovelToon NovelToon
Penulis Terjebak; Tolong, Karakter Gue Ngamuk

Penulis Terjebak; Tolong, Karakter Gue Ngamuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Romansa Fantasi / Transmigrasi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Anggit

"Dewa Penulis... kenapa Kau bikin kami hidup, tapi gak kasih kami arti?" — Lord Valgus, Penyihir Jahat

Gue Leon, dan gue yang bikin dunia ini. Gue yang nulis siapa hidup, siapa mati, siapa kuat, siapa lemah. Tapi gue ngelakuinnya santai banget, asal ketik aja di keyboard. Buat gue, ini cuma cerita hiburan doang.

Sampai akhirnya gue malah terjebak masuk ke dalam cerita itu sendiri.

Ternyata, jadi penulis itu gak enak ya kalau ceritanya sendiri berantakan. Kerajaan megah tapi bentuknya aneh, tokoh-tokohnya punya perasaan sendiri di luar naskah, terus musuh utama malah pengen bunuh gue karena ngerasa hidupnya cuma dipermainkan.

Sekarang gue gak cuma nulis cerita lagi. Gue harus hidup di dalamnya, benerin semua kesalahan gue, dan bikin akhir cerita yang adil buat mereka... sebelum gue dihukum sama karya gue sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 10. pertemuan di ladang luas

Pagi itu, matahari baru saja terbit dari ufuk timur. Sinarnya yang keemasan menyinari hamparan ladang padi yang sangat luas, terbentang sejauh mata memandang. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah yang segar dan bau padi yang masih muda, menciptakan suasana yang sejuk dan sangat damai.

Kami berlima. Leon, Liora, Valgus, dan Zarek yang sejak pagi tampak berseri-seri wajahnya setelah bertemu Sari kemarin — berjalan beriringan memasuki wilayah Selatan. Di belakang kami, rombongan kecil petugas istana mengikuti untuk membawa perlengkapan, namun kami berjalan paling depan.

“Wah… luas sekali ladangnya,” gumam Zarek sambil menoleh ke kanan dan kiri. “Pantas saja Pak Tani Joko begitu bersemangat ingin membagikan hasil panen. Sepertinya memang cukup untuk memberi makan seluruh penduduk.”

Liora berjalan di samping Leon, sesekali tangannya menyentuh daun padi yang menjulang di pinggir jalan. Ia menoleh ke arah Leon sambil tersenyum tipis. “Dulu kau hanya menulis tempat ini sebagai ‘ladang padi terbesar’, namun ternyata pemandangannya begitu indah. Rasanya sangat menenangkan berada di sini.”

Leon mengangguk, namun di dalam hatinya ia merasa sedikit gelisah. “Benar… namun jangan salah sangka, Joko bukanlah petani biasa. Dulu aku menuliskannya sebagai sosok yang rajin, jujur, dan memiliki cita-cita mulia, agar tidak ada seorang pun yang harus kelaparan. Kini ia telah diberikan kebebasan, dan ia mewujudkan apa yang diyakininya, meskipun itu berarti berbeda dengan aturan yang berlaku di istana.”

Tiba-tiba dari kejauhan, terdengar suara nyanyian riang yang diiringi bunyi arit dan cangkul. Semakin kami mendekat, semakin banyak orang yang terlihat. Ribuan petani pria, wanita, tua, maupun muda semuanya sibuk bekerja, namun wajah mereka tampak cerah dan penuh kegembiraan. Mereka mengenakan pakaian sederhana, banyak yang memakai caping lebar, dan mereka berhenti bekerja begitu melihat kedatangan kami.

Di tengah hamparan ladang, tepat di atas gundukan tanah yang agak tinggi, berdiri seorang pria tegap berusia sekitar empat puluh tahun. Kulitnya berwarna sawo matang karena terik matahari, dan senyumnya tampak lebar serta sangat ramah. Ia mengenakan pakaian sederhana namun rapi, dan di pinggangnya terselip sebilah arit yang tajam namun terawat dengan baik. Dialah Pak Tani Joko.

Ia melambaikan tangan ke arah kami, suaranya lantang dan ramah. “SELAMAT DATANG! TUAN PENULIS! TUAN PUTRI! DAN TEMAN-TEMAN YANG TERKENAL! SAYA SUDAH MENUNGGU KEDATANGAN KALIAN!”

Kami naik ke atas gundukan tanah itu dan berhadapan langsung dengannya. Ribuan petani di bawah menatap kami dengan penuh perhatian, terlihat ada rasa hormat namun juga kepercayaan yang besar terhadap Joko.

Raja Eldrin tidak ikut serta, ia meminta kami mewakili istana karena ia percaya kami lebih memahami cara berpikir rakyat biasa.

“Joko,” panggil Leon membuka percakapan dengan suara yang tenang namun tegas. “Kami mendengar kabar bahwa kau ingin membentuk pemerintahan baru di wilayah ini. Kau tidak lagi ingin mematuhi aturan istana mengenai pembayaran pajak dan pembagian hasil panen. Apakah itu benar?”

Joko tersenyum dengan tenang, tidak terlihat takut ataupun merasa bersalah sedikit pun. “Benar, Tuan. Dulu saat kami masih terikat dengan tulisan Tuan, kami hanya bekerja, menyerahkan hasil panen kepada istana, lalu menerima apa yang diberikan kembali kepada kami. Kami tidak berpikir, kami tidak memprotes. Namun sejak Tuan memberikan kami kebebasan… kami mulai berpikir. Kamilah yang menanam, merawat, dan memanen… mengapa sebagian besar hasilnya harus dikirim ke kota, padahal masih banyak orang di sini maupun di desa sekitar yang kekurangan makanan?”

Ia menunjuk ke arah hamparan ladang yang luas itu. “Tanah di dunia ini sangat subur, airnya melimpah, dan cuacanya selalu mendukung seperti yang Tuan tuliskan. Sebenarnya tidak ada alasan bagi siapa pun di dunia ini untuk kelaparan. Oleh karena itu, saya dan teman-teman sepakat: mulai sekarang, hasil panen akan dibagi rata untuk semua orang. Mereka yang bekerja mendapatkan bagiannya, mereka yang tidak mampu bekerja pun tetap mendapatkan jatah. Tidak ada pajak yang memberatkan, tidak ada penimbunan beras. Semua orang berhak merasa kenyang.”

Liora melangkah maju selangkah, matanya bersinar memandang gagasan itu. “Itu adalah tujuan yang sangat mulia, Joko. Ayahku, Raja Eldrin, pasti akan menyetujuinya jika tujuannya adalah kesejahteraan bersama. Namun masalahnya… jika tidak ada hasil yang diserahkan ke istana, bagaimana cara membayar para penjaga? Bagaimana cara membangun jalan raya? Bagaimana cara merawat gedung-gedung umum?”

Joko tertawa kecil, lalu menatap Liora dengan pandangan hormat. “Tuan Putri, kami telah memikirkannya juga. Kami tetap akan menyerahkan sebagian hasil panen untuk keperluan umum, namun jumlahnya wajar dan tidak berlebihan. Kami juga siap membantu dengan tenaga jika ada bangunan yang ingin didirikan. Intinya hanya satu Jangan mengambil lebih dari apa yang dibutuhkan, dan jangan membiarkan ada yang tidak mendapatkan bagiannya.”

Zarek yang sedari tadi hanya diam berpikir tiba-tiba menyela. “Kalau begitu, apakah aku boleh mengambil satu karung beras sekaligus? Kan aku butuh banyak tenaga untuk berperang!”

Semua orang tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan itu. Joko pun mengangguk ramah. “Boleh sekali, Ksatria. Mereka yang membutuhkan lebih banyak, mendapatkan lebih banyak. Mereka yang membutuhkan sedikit, mendapatkan sedikit. Adil menurut kebutuhan, bukan adil dalam jumlah yang persis sama.”

Valgus yang sedari tadi hanya diam mengamati tiba-tiba bersuara dengan nada berat. “Gagasan yang bagus. Dulu aku pernah menjadi sosok yang dianggap jahat karena merasa diperlakukan tidak adil oleh dunia. Aku mengerti bagaimana rasanya merasa hakmu diambil orang lain. Namun Joko… apakah kau yakin mampu mengatur ribuan orang ini? Bagaimana jika nanti ada yang mencuri, ada yang serakah, atau ada yang ingin berkuasa? Apakah kau siap menghadapi hal itu?”

Raut wajah Joko berubah menjadi serius, ia menatap mata Valgus dengan tegas. “Saya siap, Penjaga Dunia. Memang kebebasan memiliki risikonya sendiri. Namun lebih baik mengambil risiko menjadi orang bebas dan jujur, daripada hidup aman namun diatur seenaknya. Saya percaya kepada orang-orang ini. Dan jika ada yang berbuat salah, kami akan menyelesaikannya bersama-sama.”

Leon menatap sekeliling, melihat wajah-wajah petani yang penuh semangat dan percaya diri. Ia menatap Joko yang berdiri tegak dengan penuh keyakinan. Ia menyadari bahwa ini bukanlah pemberontakan, melainkan sebuah perkembangan. Dunia ini semakin dewasa. Mereka mulai berpikir sendiri, membuat aturan sendiri, demi kebaikan bersama.

Leon membuka buku catatannya, lalu menatap ke arah mereka semua.

“Joko… dan teman-teman sekalian,” suara Leon lantang dan terdengar jelas hingga didengar oleh semua orang. “Aku tidak akan melarang apa yang kalian lakukan. Aku juga tidak akan menuliskan perintah agar kalian kembali mematuhi aturan lama. Gagasan kalian bagus, mulia, dan benar. Namun aku memberikan satu syarat Jangan pernah memisahkan diri dari kerajaan. Tetaplah menjadi bagian dari dunia ini, namun kalian berhak mengatur urusan di ladang dan soal pangan. Bekerjasamalah dengan istana, jangan menjadi lawan.”

Leon menatap Joko dengan tajam. “Wilayah ini akan menjadi Daerah Otonomi Pedesaan. Kalian mengatur urusan pangan sendiri, namun tetap terhubung dengan kota, istana, dan wilayah lainnya. Agar tercipta keseimbangan. Jika suatu saat terjadi kekeringan di tempat lain, kalian dapat membantu. Jika kalian membutuhkan perlindungan atau bantuan sihir, istana akan siap membantu. Apakah kalian setuju?”

Joko menoleh ke arah teman-temannya, mereka saling berpandangan dan mengangguk dengan penuh semangat. Lalu ia menoleh kembali ke arah Leon sambil tersenyum lebar.

“SETUJU! Sangat setuju, Tuan Penulis! Ini jauh lebih baik dari rencana kami! Kami tetap satu keluarga, namun memiliki hak untuk mengatur pangan sendiri! Terima kasih banyak!”

Joko sedikit berlutut sebagai tanda hormat, diikuti oleh ribuan petani di bawahnya. “Kami berjanji akan menjaga amanah ini. Tidak akan ada lagi orang yang kelaparan di dunia ini!”

Masalah pun selesai, dan kali ini bukan hanya berakhir dengan damai, melainkan juga melahirkan sistem baru yang lebih adil.

Siang harinya, kami dijamu makan siang oleh Joko dan seluruh warga. Nasi putih yang pulen, sayuran segar, ikan bakar, semuanya terasa lezat dan disantap bersama-sama di lapangan terbuka. Suara tawa dan obrolan terdengar di mana-mana, menciptakan suasana yang hangat, layaknya pertemuan keluarga besar.

Saat sedang beristirahat di bawah pohon yang rindang, Liora duduk di samping Leon. Ia menyandarkan kepalanya pelan di bahu Leon, matanya memandang jauh ke arah ladang yang berkilau terkena sinar matahari siang.

“Leon… tahukah kau?” bisiknya pelan dengan suara yang sangat lembut. “Dulu aku hanya tahu bahwa tugasku adalah bersikap baik, ramah, dan membantu orang lain. Namun sekarang… aku mengerti maknanya. Membantu orang bukan hanya karena aturan, melainkan karena kita peduli. Dan kaulah… kaulah yang mengajarkanku semua ini. Kau sungguh hebat, Leon. Aku sangat bangga bisa mengenalmu.”

Jantung Leon berdebar kencang seketika. Ia menatap wajah samping Liora yang tampak begitu cantik, rambutnya yang terurai halus, dan senyumnya yang manis. Saat itu ia merasa memiliki keberanian.

Perlahan-lahan, ia menggenggam tangan Liora yang berada di sampingnya. Tangan wanita itu terasa lembut dan hangat, dan ia tidak menariknya kembali. Sebaliknya, ia membalas genggaman tangan Leon dengan lebih erat.

“Liora…” panggil Leon pelan, suaranya sedikit bergetar karena gugup namun juga bahagia. “Aku juga… aku juga sangat bangga bisa mengenalmu. Jika tidak ada dirimu, mungkin aku sudah menyerah saat dunia ini sedang kacau. Kaulah yang membuat segalanya menjadi lebih indah. Kaulah yang membuatku ingin menjadi pribadi yang lebih baik.”

Liora menoleh dan menatap mata Leon, matanya berbinar indah, terlihat ada kilatan air mata bahagia di sana. Ia tersenyum semakin lebar, pipinya sedikit memerah.

“Leon… aku…”

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba terdengar teriakan Zarek dari kejauhan. “WOI KALIAN BERDUA! MAKANANNYA DITAMBAH LAGI NIH! AYO KEMARI!”

Kami berdua terkejut, buru-buru melepaskan genggaman tangan masing-masing, dan wajah kami berdua memerah padam. Liora tertawa kecil sambil menutupi wajahnya, sedangkan Leon hanya bisa menggaruk kepalanya sambil tersenyum-senyum sendiri. Momen manis itu terputus, namun rasanya… rasanya dunia ini terasa begitu indah.

Valgus yang duduk di bawah pohon di sebelah kami hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum tipis. “Dasar anak muda. Lama sekali hanya sampai menggenggam tangan. Cepatlah, sebelum dunia berakhir.”

Sore harinya kami berpamitan dengan Joko dan seluruh warga. Kami pulang ke istana bukan sebagai pemimpin yang memberi perintah, melainkan sebagai teman yang telah mencapai kesepakatan yang indah.

Namun di tengah perjalanan pulang, Valgus tiba-tiba berhenti. Ia menatap ke arah barat, ke arah hutan gelap yang dulu hanya ditulis Leon sebagai batas wilayah, namun tidak pernah diisi dengan cerita apa pun.

“Masih ada satu tempat lagi yang sangat kosong,” kata Valgus dengan nada serius. “Tempat yang sangat kau lupakan, Leon. Tempat yang tidak berpenghuni, tidak memiliki aturan, dan tidak memiliki sifat… namun kini telah terisi. Dan rasanya… isinya tidaklah ramah.”

Leon menatap ke arah barat. Jantungnya kembali berdebar kencang. Hutan Kosong. Itulah satu-satunya tempat yang belum kami kunjungi. Dan ia tahu, petualangan yang paling berat dan menantang menanti di sana.

“Besok kita berangkat ke sana,” kata Leon dengan tegas. “Kita selesaikan semuanya.”

1
Sarah
Sejauh ini ceritanya udah bagus kok. Paling bagian alur yang kerasa kurang srek di Si Reza dengan “Mempelajari sihir”-nya yang masih sulit dibayangkan. Sama Si Bimo yang mendadak malah jadi calon villain. Tapi sisanya udah nice. 👍
Sarah
Eee... jujur, aku sendiri emang rada kurang srek sama Si Bimo yang mendadak villain ini. Soalnya... gini loh, in real life... cerita tentang Leon dan dunia ceritanya aja terasa tidak masuk akal bagi orang-orang. Meskipun, untuk orang tua Leon, masih lebih mudah percaya karena ya... mereka ortunya. Untuk temen-temennya ini nihh, pasti bakal susah bagi mereka untuk percaya. Leon harus menunjukkan sesuatu yang bisa jadi bukti dia beneran ke sana baru mereka percaya. Ya... mungkin buku catatan itu. Tapi kalaupun temen-temennya percaya, mereka pasti masih sulit membayangkan. Dan kalaupun pengen ke dunia itu... pasti lebih ke baru sekadar “Penasaran” aja “Dunia ciptaan Leon tuh... kayak gimana sih?” ketimbang langsung “Niat gelap pengen masuk ke dunia itu dan jadi berkuasa” dan itu pun meski temennya penasaran sama dunia itu kalau memang beneran ada, ya... mereka pasti gak bakal langsung kepikiran buat cari jalan ke sana-lah. Karena... ini cerita yang sulit dipercaya, Leon sendiri pun gak bener-bener tahu cara bolak-balik ke dunia itu, jadi gimana dia bisa kepikiran mau masuk dunia itu coba?Kurang realistis aja gitu....
kecuali kalau Si Bimo udah di ajak ke dunia menakjubkan itu jadi dia punya niat mau berkuasa. 😶
Sarah
Nah, lebih baik tentang masa mempelajari ilmu gaib dan sihir itu ditunjukkan, gimana asal-muasalnya dia tahu tentang hal itu, prosesnya gimana, pas dia masukin leon ke dunia ceritanya itu gimana... soalnya kalau gak ada flashback kerasa kurang aja dan sulit dibayangkan. Aku berharap author mempertimbangkan saranku ini.
Sarah: Satu hal lagi, kerasa agak tiba-tiba juga sih. Rada maksa dikit... dikit... aja. Tentang alasan dia pindah dunia itu Si Reza. Tapi bisa terasa lebih baik kalau kita dilihat prosesnya dari mulai tahu tentang sihir, belajar, terus cara dia mindahin jiwa Leon. Kalau tiba-tiba gini mendadak banget dan kurang masuk akal.
total 1 replies
Sarah
Ughh, dalem banget lagi pertanyaannya...
Sarah
Wah... rupanya dia masih memiliki seseorang di dunia asal. Ini pasti jadi akhir arc 1 nih. 😮
Sarah
Aku rasa... aku sepemikiran tentang, “Menciptakan dunia yang cukup kuat untuk terus bercerita meski pena sudah diletakkan”
Di real life... kalau kita baca cerita, ceritanya bagus. Tokohnya hidup. Pokoknya bagus lah. Itu pasti pas udah ada kata “Tamat/End/Selesai” itu sebagai pembaca kita masih bisa membayangkan kehidupan mereka setelah itu. Itu ’kan definisi sebenarnya dari “Menciptakan dunia yang cukup kuat untuk terus bercerita meski pena sudah diletakkan”. Karena penulis udah gak lanjutin ceritanya lagi, tapi kita bisa membayangkan kalau gimana kehidupan tokoh-tokoh di cerita yang kita baca setelah itu. Makanya ceritanya gak pernah benar-benar berakhir meskipun ceritanya dah ada label “Tamat”.
Ya enggak? Karena kita gak mungkin masuk novel kayak Leon dan membebaskan aturan dunia cerita itu kan makanya ceritanya tidak pernah benar-benar berakhir. Wkwkwk. 😁
Sarah
Aku sering penasaran, apa dia gak punya siapa-siapa dan hidupnya hampa atau tersiksa banget yah di dunia modern sampai bisa gampang banget bilang iya untuk tinggal di sana tanpa pikir panjang.
Sarah
Udah mulai gak inget dunia modern kah?
Rafi Hafizh
bagus ceritanya 👍
Ananda Anggit
🤭🤭
Ananda Anggit
siap ka, terimakasih saran nya 😁🙏
Sarah
Ya kalau dateng... kalau gak ada yang dateng? Basi dong. /Sweat/
Sarah
Aku juga sudah menduganya. 😂
Sarah
Aduhhh, Leon dipuji mulu tiap bab sama heroine nya ini. 😁
Sarah
Ceritanya lucu banget. 😁
Sarah
Kalau nama awalannya harus huruf kapital yah, “Leon”
Sarah
Ketika catatan penulis yang biasa ada di dalam kurung di tengah-tengah cerita jalan... beneran masuk ke cerita. 😂
Sarah
Bagus, cuma... ini pov orang ketiga (narator) sama pov orang pertama (Leon alias MC) yang konsisten yah. Kalau mau ganti pov tandain dulu. Biar gak bikin bingung. Atau tandain kata kayak “Pikirnya”, “Batinnya”, “Ucapnya dalam hati” untuk nunjukkin apa yang ada di otak Leon.
Ananda Anggit: iya sekali lagi makasih ya kak 😁
total 3 replies
Ananda Anggit
😍💪💪
Rafi Hafizh
semangat author 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!