NovelToon NovelToon
SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

"Uangku adalah uang kita, tapi uangmu adalah uang keluargamu."

​Kalimat itu menjadi pahit yang Arumi telan setiap hari. Membesarkan dua anak yang beranjak dewasa sendirian di bawah atap yang sama dengan seorang suami, Arumi merasa seperti single parent berstatus menikah. Sementara sang suami tampil necis dan loyal di luar sana, Arumi harus berjuang dengan wajah kusam di depan laptop demi biaya sekolah anak-anak.

​Sampai kapan Arumi harus mengalah? Apakah pernikahan sepuluh tahun ini layak dipertahankan jika keberadaannya hanya dianggap sebagai 'mesin penghasil uang' yang tak berhak bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

​Gema teriakan Pras seolah membuat dinding-dinding kayu rumah peninggalan orang tua Arumi bergetar. Napas pria itu memburu, matanya membelalak merah menatap Arumi yang berdiri tegak tanpa ada ketakutan sedikit pun di wajahnya. Ego Pras yang sudah terluka parah selama tiga hari ini, kini benar-benar hancur berkeping-keping. Ia tidak pernah menyangka bahwa Arumi, wanita yang selama sepuluh tahun ini selalu menunduk dan menerima setiap ketidakadilan dengan air mata kepasrahan, kini bisa menjelma menjadi sosok yang begitu keras dan berani melawannya.

​"Cukup, Arumi! Cukup!" Pras mengacungkan jarinya tepat di depan wajah Arumi, tubuhnya gemetar menahan amarah yang sudah naik ke ubun-ubun. "Aku benar-benar menyesal! Menyesal setengah mati telah memilih wanita seperti kamu untuk jadi istriku! Kalau tahu kamu bakal jadi perempuan pembangkang, sombong, dan bermulut lancang seperti ini hanya karena punya uang receh dari internet, aku tidak akan pernah sudi membawa kamu ke dalam hidupku! Kamu itu tidak tahu diuntung!"

​Kalimat makian yang keluar dari mulut Pras biasanya akan membuat dada Arumi sesak dan air matanya tumpah. Namun tidak untuk hari ini. Kalimat itu justru terdengar seperti lelucon paling menggelikan yang pernah Arumi dengar sepanjang hidupnya.

​Arumi menarik napas dalam-dalam, lalu sedetik kemudian, sebuah tawa getir namun terdengar sangat sinis menyembur dari bibirnya. Ia menatap Pras dengan pandangan mata yang penuh dengan rasa muak dan kejijikan yang mendalam.

​"Kamu menyesal, Pras? Kamu bilang kamu menyesal?!" Arumi melangkah maju, membuat Pras secara refleks mundur satu langkah karena terkejut dengan aura menggebu-gebu yang dipancarkan istrinya. "Dengar baik-baik! Jika ada orang di dunia ini yang paling berhak untuk menyesal, orang itu adalah aku! Aku yang jauh, jauh lebih menyesal karena telah menyerahkan sepuluh tahun umurku untuk menikah dengan laki-laki kikir, perhitungan dan bermental parasit seperti kamu!"

​Suara Arumi menggelegar, memotong setiap celah udara di ruang tamu itu. Tensi di dalam ruangan mendadak naik, terasa begitu tegang dan mencekam.

​"Sepuluh tahun aku bertahan dengan laki-laki yang jabatannya terus naik di kantor, tapi jatah uang istrinya hanya naik seratus ribu rupiah per tahun!" lanjut Arumi dengan nada suara yang bergetar hebat karena emosi yang meledak-ledak. "Sepuluh tahun aku harus memutar otak sendirian, ikut kerja cuci gosok, bikin kue sampai subuh, bahkan jualan di pasar hanya demi menutupi semua lubang yang kamu tinggalkan! Kamu egois, Pras! Kamu pelit kepada anak kandungmu sendiri, tapi kamu bertingkah seperti pahlawan dengan membelikan daging mewah dan memanjakan keluarga kamu di kampung menggunakan uang yang harusnya menjadi hak makan anak-anakmu!"

​"Arumi!! Jaga mulut kamu!! Jangan keterlaluan!!" bentak Pras, wajahnya merah padam seperti udang rebus. Ia merasa ditelanjangi oleh setiap kata yang diucapkan Arumi. Gengsinya sebagai seorang staf tetap yang dihormati di tempat kerja runtuh tak berbekas di hadapan wanita yang selama ini ia anggap remeh.

​"Aku tidak keterlaluan, Pras! Aku hanya menyuarakan kebenaran yang selama sepuluh tahun ini sengaja kamu tutupi dengan ego besar kamu itu!" tantang Arumi, matanya menyala-nyala penuh kemenangan.

​Pras yang sudah kehilangan akal sehat dan tidak mampu lagi mendebat semua fakta yang dilemparkan Arumi, akhirnya menggunakan kartu as terakhir yang biasa digunakan oleh para suami manipulatif untuk mengintimidasi istrinya. Ia menegakkan tubuhnya, mencoba mengembalikan wibawanya yang sudah jatuh ke lantai.

​"Bagus... Bagus kalau itu mau kamu, Arumi!" Pras mendengus kasar dengan senyuman sinis yang dipaksakan. "Jangan pikir aku takut dengan gertakan kamu! Kalau kamu sudah merasa begitu hebat, merasa sudah kaya dan tidak butuh suami lagi, aku bisa ceraikan kamu hari ini juga! Aku akan urus surat perceraian kita ke pengadilan, dan kita lihat saja sejauh mana kamu bisa bertahan hidup tanpa nama besarku di belakangmu! Kamu akan mengemis-ngemis minta maaf di depan kakiku, Arumi!"

​Ancaman cerai itu dilemparkan Pras dengan harapan Arumi akan langsung lemas, menangis, bersimpuh di kakinya, dan memohon agar pernikahan mereka diselamatkan demi anak-anak. Pras sangat yakin kartu as-nya ini akan berhasil.

​Namun, di luar dugaan Pras, raut wajah Arumi sama sekali tidak berubah. Tidak ada ketakutan, tidak ada kepanikan. Arumi justru tersenyum tipis sebuah senyuman dingin yang membuat bulu kuduk Pras tiba-tiba meremajang.

​Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Arumi langsung berbalik badan. Ia melangkah cepat meninggalkan ruang tamu, berjalan menuju koridor kamar utama dan menghilang di balik pintu.

​Pras berdiri terpaku di tengah ruang tamu yang sepi. Ia melipat kedua tangannya di dada, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdegup kencang. Di dalam hatinya, Pras beranggapan bahwa Arumi akhirnya menyerah dan masuk ke dalam kamar untuk menangis meratapi ancaman cerainya. "Paling dia sedang menangis ketakutan di dalam," batin Pras penuh percaya diri.

​Satu menit berlalu. Dua menit berlalu. Suasana rumah terasa sangat sunyi.

​Hingga pada menit ketiga, langkah kaki yang tegas dan cepat terdengar kembali dari arah koridor. Pras menoleh, memasang wajah angkuh, bersiap mendengarkan kalimat permohonan maaf dari istrinya.

​Namun, pemandangan yang muncul di depan matanya membuat Pras seketika mati kutu.

​Arumi berjalan keluar dari kamar dengan napas yang menggebu-gebu. Kedua tangannya sedang mencengkeram sebuah tas ransel besar berwarna hitam yang sudah kusam, kucel, dan berdebu. Tas ransel itu tampak sangat penuh dan menggembung, seolah dipaksakan untuk menampung beban yang sangat banyak.

​Tanpa basa-basi, begitu jaraknya tinggal beberapa langkah dari Pras, Arumi mengangkat tas ransel kucel itu dengan seluruh tenaga yang tersisa di lengannya.

​BRUKKK!!!

​Arumi melempar tas ransel itu dengan kasar tepat ke arah dada Pras. Pras yang tidak siap menerima hantaman itu langsung terhuyung mundur, tangannya dengan panik menangkap tas besar tersebut agar tidak jatuh ke lantai. Bau debu dari tas kucel itu seketika menyeruak, membuat Pras terbatuk kecil.

​"Apa-apaan ini, Rum?!" tanya Pras dengan nada bingung dan panik yang mulai menjalar di suaranya.

​"Itu semua baju-baju kamu, Pras!" jawab Arumi, suaranya terdengar begitu lantang, tegas, dan penuh dengan penekanan di setiap katanya. "Semua kemeja kerja licin kamu, celana-celana mahal kamu, bahkan sampai celana dalam kamu sudah aku masukkan semua ke dalam tas kucel itu! Tidak ada satu pun yang tertinggal!"

​Pras membelalakkan matanya, menatap tas di pelukannya lalu beralih menatap Arumi dengan tidak percaya. "Maksud kamu apa, Arumi?!"

​"Maksudku? Kamu bilang kamu mau menceraikan aku, kan? Kamu bilang kamu menyesal menikah denganku, kan?!" Arumi melangkah maju satu kali lagi, jarinya menunjuk lurus ke arah pintu depan yang terbuka lebar. "Kalau begitu, tunggu apa lagi?! Keluar dari rumahku sekarang juga, Pras!"

​"Arumi, kamu—"

​"Keluar!!" potong Arumi dengan teriakan yang begitu menggebu-gebu, emosi yang ia pendam selama sepuluh tahun kini tumpah sepenuhnya tanpa sisa.

"Rumah ini adalah rumah peninggalan almarhum bapak dan ibuku! Ini tanah warisan orang tuaku, bukan rumah yang kamu bangun dari uang jatah bulanan pelitmu itu! Kamu tidak punya hak sepeser pun atas atap yang menaungi kepala kita hari ini! Jadi, angkat kaki kamu dari sini dan kembali ke istana mewah orang tuamu di sana! Kembali ke ketiak ibumu yang selalu menganggap kamu pahlawan!"

​Pras membeku di tempatnya berdiri. Lidahnya mendadak kelu, terkunci rapat oleh keberanian Arumi yang begitu meledak-ledak. Semua skenario di kepalanya tentang Arumi yang akan menangis memohon ampun hancur lebur dalam sekejap mata. Pria itu benar-benar mati kutu, berdiri mematung dengan tas ransel kucel di pelukannya, menatap daster batik Arumi yang berkibar seiring dengan napas istrinya yang naik turun menahan amarah yang membara. Hari ini, di rumah tua itu, Pras akhirnya sadar bahwa ia telah benar-benar kehilangan kendali atas wanita yang selama ini ia injak-injak harga dirinya.

1
Suanti
manta mentua, dan mantan suami. arumi klu dengar arumi mau menbangun usaha catering bsr2an langsung jantungan / stroke 🤭🤣🤣
Uthie
rasain tuhh mereka 😡
Suanti
setelah selesai bangun rmh 3 lantai rmh arumi mantan ibu mertua langsung stroke🤭🤣🤣🤣
Uthie
Maaff Thor . koq rasanya ada penggambaran soal bonceng 3 naik motor Matic aga kurang masuk di akal sy yaa 😁🙏🙏

kenapa juga gak naik taksi online atau apa gtu, walau cerita nya mereka masih akting susah sekali pun🙏🙏😁
blcak areng: siap kak 😁😁
total 1 replies
Uthie
dasar manusia - manusia culas 😡😡😡
Uthie
Mantap nii Bu RT dan Bu Ida 👍😁
Suanti
jgn sampai tukang renovasi rmh arumi bocor blg arumi mau renovasi rmh bertingkat 3🤭
Uthie
Maju terus Arumi 👍👍😍
Uthie
kebahagiaan dan Rizki selain materi adalah, memiliki Tetangga yg baik dan saling Peduli satu sama lain 👍👍😍
Suanti
uang 200jt arumi bisa renovaai rmh nya jdi tingkat 2 . uang dlm tabungan arumi bisa buka, usaha 🤭
Uthie
dikira Arumi malah akan ada keluarga yg akan terus melindungi nya, tau nya cuma nitipin jatah warisan ayahnya dulu tohhh... 😁
padahal harusnya hubungan keluarga jangan sampai putus begtu saja, kalau sdh ada penyesalan terdalam dan niat baik untuk memperbaiki nya....
memang menyakitkan, namun mikir untuk kedepannya saja 🙏🙏😁
Uthie
Maaf Thor....itu bagaimana yaa? koq Arumi naik ke boncengan motor pak RT?? lahh Bu RT nya di kemanain?? 😂😂
bukannya Arumi juga punya motor sendiri walau sdh tua yaa peninggalan bapak nya yg suka antar jemput sekolah??? maaf... tolong di jelaskan 😁🙏🙏
blcak areng: udah biarin aja.. ini pak polisi nya mikir" mau nilang Arumi kak🤣🤣
total 3 replies
Uthie
Maju dan sukses 👍👍👍
Uthie
Seharusnya demikianlah bertetangga itu.. saling menjaga satu sama lain seperti keluarga sendiri... ikut bahagia jika ada yg bahagia, ikut sedih jika ada yg sedih dan terluka 👍👍😍
Uthie
Biar sumpah nya berbalik untuk dirinya dan keluarga nya sendiri itu 😡
Suanti
sumpah serapah ibu nya pras buat arumi semoga aja kebalikkan nya senjata mkn tuan 🤣🤣🤣🤣
Uthie
Good Choice Arumi 👍👍👍😡
Uthie
Mantappp ituuu 👍👍😡😡
Uthie
Bagusssss Arumi 👍😡
Uthie
Balas terus Arumi 👍😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!