NovelToon NovelToon
Belenggu Masa Lalu: Menjemput Hatimu Kembali

Belenggu Masa Lalu: Menjemput Hatimu Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: aera_yong

Genre: Romance, Psychological Thriller, Suspense, Drama

Tag: CEO, Mantan Istri, Posesif, Psikopat, Penyesalan, Second Chance Romance

Sinopsis Resmi:
Dua tahun setelah menceraikan Kirana karena keangkuhannya, CEO Adrian Dirgantara didera penyesalan mendalam. Saat ia berniat merebut kembali hati mantan istrinya, Adrian mendapati Kirana telah menikah lagi dengan Rendy Baskoro.

Di mata publik, Rendy adalah suami sempurna. Namun di balik pintu rumah, Rendy adalah seorang psikopat manipulatif yang menyiksa dan menyekap Kirana dalam teror obsesi yang gila.

Menyadari Kirana dalam bahaya maut, Adrian mempertaruhkan nyawa dan seluruh kekuasaannya untuk menghancurkan Rendy. Akankah Kirana yang penuh trauma bisa kembali luluh dan selamat di pelukan Adrian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Peluru dalam Kegelapan

*TAARRR!*

Suara letusan pistol *Glock 19* milik Adrian menyalak nyaring, beradu dengan suara guntur yang menggelegar di luar gedung. Peluru melesat membelah kegelapan ruang tamu, tepat mengenai bahu kanan penyusup pertama yang baru saja melangkah masuk. Pria bermasker hitam itu mengerang tertahan, senjatanya terlepas dari genggaman saat tubuhnya terdorong ke belakang, menghantam daun pintu kayu ek dengan keras.

Namun, Adrian tidak punya waktu untuk bernapas lega. Dari balik bayangan koridor luar, tiga siluet pria berpakaian taktis lainnya langsung bergerak taktis. Mereka tidak amatir. Sadar bahwa target mereka bersenjata, dua penyusup langsung merayap rendah di lantai sambil melepaskan rentetan tembakan balasan dari pistol berperedam suara mereka.

*Phut! Phut! Phut!*

Suara desingan peluru berperedam itu terdengar seperti siulan maut yang mencabik udara. Beberapa peluru menghantam pilar beton tempat Adrian berlindung, merontokkan semen dan meninggalkan lubang-lubang menganga. Adrian merapatkan punggungnya pada pilar, napasnya memburu, namun matanya tetap berkilat dingin penuh kalkulasi.

"Target bersenjata! Amankan koridor kiri, cari wanitanya!" terdengar suara bisikan komando yang berat dari arah pintu masuk menggunakan bahasa sandi yang cepat.

Mendengar kata 'wanitanya', jantung Adrian berdesir tajam. Mereka ke sini bukan untuk membunuhnya sebagai prioritas utama, melainkan untuk menyeret Kirana kembali ke neraka Rendy. Adrian tidak akan membiarkan seujung kaki pun dari para keparat ini mendekati lorong kamar tidur.

Adrian memutar tubuhnya sekilas, mengarahkan senjatanya ke arah bayangan yang mencoba merayap mendekati sofa besar di ruang tengah.

*TAARRR! TAARRR!*

Dua tembakan beruntun dilepaskan Adrian. Tembakan pertama meleset menghantam lantai marmer, namun tembakan kedua telak mengenai paha salah satu penyusup hingga pria itu tersungkur dan mengumpat keras dalam kegelapan.

Sementara itu, di dalam sangkar tersembunyi di balik dinding kamar mandi, Kirana duduk meringkuk di lantai yang dingin dengan kedua tangan membekap mulutnya sendiri. Air matanya mengalir deras tanpa suara. Suara letusan senjata api yang menggelegar dari ruang tengah terdengar begitu mengerikan di telinganya. Setiap detakan jantungnya dipenuhi oleh ketakutan yang teramat sangat—bukan hanya ketakutan akan keselamatan dirinya, melainkan ketakutan bahwa Adrian, pria yang sedang mempertaruhkan nyawa di luar sana, akan tertembak karena membelanya.

*Mas Adrian... tolong bertahan... Tuhan, tolong lindungi dia,* doa Kirana dalam hati, tubuhnya bergetar hebat di tengah kegelapan total yang menyesakkan dadanya.

Kembali ke ruang tamu, situasi semakin kritis bagi Adrian. Penyusup ketiga berhasil memanfaatkan celah saat Adrian fokus pada tembakan sebelumnya. Pria itu melakukan manuver cepat, berguling di balik meja bar dapur bersih, dan kini jaraknya hanya terpisah beberapa meter saja dari posisi Adrian.

*Phut!*

Sebuah tembakan dari penyusup ketiga mengenai lengan kiri Adrian. Peluru memang hanya menyerempet kulit dan otot luarnya, namun sensasi panas dan perih yang membakar seketika menjalar, membuat kemeja abu-abu mahalnya robek dan mulai bersimbah darah segar. Adrian meringis kecil, rahangnya mengeras menahan sakit. Genggaman tangan kanannya pada *Glock* tidak melonggar sedikit pun.

Penyusup ketiga itu keluar dari balik meja bar, mengarahkan moncong senjatanya tepat ke arah kepala Adrian yang sedikit terekspos dari balik pilar. Pria itu siap menarik pelatuknya untuk mengakhiri hidup sang CEO.

*BANGGG!*

Pintu lift pribadi di ujung ruang tamu mendadak terbuka secara paksa dari luar dengan hantaman keras. Cahaya lampu senter bersorot tinggi langsung membedah kegelapan ruangan, menyilaukan mata para penyusup.

"POLISI! JANGAN BERGERAK! JATUHKAN SENJATA KELIAN!"

Suara bentakan menggelegar itu datang dari Rendra yang masuk bersama empat petugas kepolisian bersenjata lengkap dari tim taktis yang sejak sore tadi bersiaga di lobi bawah. Ternyata, Rendra yang berada di lobi langsung menyadari ada yang tidak beres saat lift pribadi kehilangan daya dan indikator CCTV padam. Ia tidak menunggu lama untuk membawa tim polisi naik melalui jalur darurat alternatif.

Para penyusup yang menyadari situasi mereka telah berbalik seratus delapan puluh derajat mencoba melarikan diri menuju jendela balkon dan jalur tangga darurat belakang. Namun, petugas kepolisian bergerak lebih cepat.

*DORR! DORR!*

Tembakan peringatan dilepaskan. Dalam waktu kurang dari tiga menit, dua penyusup yang terluka akibat tembakan Adrian berhasil diringkus di lantai, sementara dua lainnya yang mencoba kabur dikepung di koridor luar oleh tim polisi yang naik dari lantai bawah.

Ruang tamu *penthouse* kini dipenuhi oleh kilatan lampu senter dan aroma mesiu yang pekat. Rendra segera berlari menghampiri Adrian yang masih bersandar di pilar, memegang lengan kirinya yang berdarah.

"Adrian! Kamu terluka?!" tanya Rendra dengan wajah panik, memeriksa luka di lengan sahabatnya.

"Aku tidak apa-apa, hanya goresan," sahut Adrian, suaranya terdengar serak namun penuh kepegaan. Ia mendorong pelan tubuh Rendra. "Urus para keparat ini dan bersihkan ruangan ini secepatnya. Aku harus memeriksa Kirana."

Adrian mengabaikan rasa perih di lengannya, melangkah dengan sedikit tertatih menuju lorong kamar tidur. Ia membuka pintu kamar mandi, melangkah mendekati cermin besar yang menyembunyikan ruangan rahasia tersebut. Dengan tangan kanannya yang masih memegang senjata yang telah diturunkan pengamannya, Adrian mengetuk dinding kayu di samping cermin dengan ketukan khusus yang berpola tiga kali.

"Kirana... ini aku, Adrian. Semuanya sudah aman. Keluar lah," panggil Adrian, nadanya melembut seketika, kontras dengan suaranya saat menghadapi para pembunuh beberapa menit lalu.

Pintu tersembunyi itu perlahan bergeser terbuka. Sosok Kirana muncul dari dalam kegelapan. Begitu matanya menangkap sosok Adrian yang berdiri di depannya, pandangan Kirana langsung turun ke arah lengan kiri Adrian yang bersimbah darah segar hingga menetes ke lantai marmer.

Kirana membekap mulutnya, matanya melebar penuh rasa bersalah dan kesedihan yang mendalam. "Mas Adrian... lenganmu... kamu tertembak karena aku..." tangis Kirana kembali pecah. Ia melangkah keluar dari persembunyiannya tanpa memedulikan hal lain, langsung memegang lengan Adrian dengan tangan bergetar, mencoba menahan aliran darah dengan jemarinya yang kecil.

Adrian tersenyum tipis, sebuah senyuman hangat yang tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam. Ia meletakkan pistolnya di atas wastafel, lalu menggunakan tangan kanannya yang bebas untuk mengusap sisa air mata di pipi lembut Kirana.

"Ini hanya luka kecil, Kirana. Yang terpenting adalah kamu selamat," bisik Adrian lembut. "Iblis itu tidak akan pernah bisa menyentuhmu lagi. Aku sudah berjanji padamu, bukan?"

Melihat ketulusan dan pengorbanan Adrian yang begitu nyata di depan matanya—pria yang rela tertembak demi melindunginya—dinding es trauma di dalam hati Kirana runtuh sepenuhnya. Rasa aman yang sesungguhnya kini telah ia temukan kembali, bukan di dalam rumah mewah penuh kekang, melainkan di dalam dekap hangat pria yang dulu pernah ia tinggalkan dengan penuh penyesalan.

Di luar jendela, hujan deras mulai mereda, menyisakan rintik-rintik kecil yang tenang. Namun, di tempat lain, di dalam mobil van pelarian yang melaju kencang menuju luar kota, Satria sedang mengetik sebuah pesan darurat kepada Rendy Baskoro: *Rencana gagal. Adrian bersenjata dan polisi telah mengamankan apartemen. Kita harus segera meninggalkan negara ini.*

---

Bersambung ke Episode 11

1
Aera_yong
terimakasih ya teman-teman udah support novel aku😍😍
Afri
deg deg an baca nya ..👍👍
Afri
sama sama adu kekuatan 💪💪👍
Afri
seruu
Aera_yong
jangan lupa juga beri dukungan dan support novel ini yah🤭
Aera_yong
jangan lupa baca novel terbaru aku yah tentang The Four Elite
Batriani
gaya mafia......
Batriani
dendam membara
Batriani
seru juga baca nya ditengah derunya drachin dan drakor....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!