NovelToon NovelToon
Marwah Yang Ternoda

Marwah Yang Ternoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Bad Boy
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: ayuwidia

"Malam ini Lo hancur! Biar kakak Lo paham, ada harga mahal buat tangan yang berani menyentuh adik gue." --Xavier--

"Aku bersumpah, aku akan jadi neraka terpanjang di hidupmu, Xavier!" --Sukma--

Dunia Sukma runtuh dalam satu malam. Perbuatan nista Hamdan, kakaknya, menyulut api dendam di nadi Xavier--pemimpin Geng Bima Sakti Yang Tak mengenal ampun. Dalam buta amarah, Xavier merenggut paksa kesucian Sukma sebagai balasan atas Marwah adiknya yang hampir ternoda.

Hamdan mengakhiri hidup dengan cara tak diberkati, meninggalkan Sukma sebatang kara.

Kesucian tercabik. Masa depan hancur. Satu-satunya penguat jiwa telah pergi.

Di ambang napas terakhirnya, Gea--kekasih Xavier, menitipkan wasiat yang menjadi belenggu sekaligus penebusan dosa: Xavier harus menikahi Sukma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 6 Duka

Tangis Sukma pecah ketika mobil ambulans yang membawa jenazah Hamdan tiba di halaman rumah.

Dengan kaki yang terasa lunglai, ia melangkah mendekat--menyaksikan paramedis mengeluarkan jenazah kakaknya.

Dunia Sukma kian runtuh. Tubuhnya lemas tiada daya, seolah nyawanya ikut tercabut paksa saat wajah pucat Hamdan memenuhi ruang pandang.

"Kak Hamdan ...," panggil Sukma, lirih dan bergetar.

Suaranya terdengar begitu menyayat hati. Mendorong Raina dan Aluna untuk segera menghampiri, menjadi tiang penyangga sebelum akhirnya tubuh Sukma limbung dan tak sadarkan diri.

Ryuga, Tara, dan Dimas bergerak refleks. Mereka bergegas membantu kedua wanita yang tampak kepayahan menopang tubuh Sukma.

"Biar gue yang gendong Sukma, Pak. Lo jagain Bu Ketu aja," ujar Tara, Wakil Sekretaris Jenderal BEM.

Ryuga mengangguk, mempersilakan Tara menggendong Sukma. Sementara itu, Dimas memposisikan diri berjalan di sisi Tara, membantunya membuka jalan menuju ruang utama yang sudah dipenuhi warga sekitar.

Sayup-sayup, terdengar bisik-bisik warga yang menyulut emosi para pengurus BEM Universitas Cakrawala. Namun, baik Ryuga, Tara, maupun Dimas berusaha keras menahan ledakan amarah.

Berbeda dengan Nofiya. Salah satu pentolan inti BEM itu tidak bisa menahan diri untuk melayangkan kalimat sarkas. Suaranya tenang, tetapi menghujam telak--membungkam mulut-mulut tak beretika.

"Manusia yang hobi gibah, cuma bisa menilai keburukan orang lain, tapi lupa berkaca dan melihat keburukan sendiri yang mungkin jauh lebih parah! Miris!"

Usai mengucap kalimat tajam itu, Nofiya langsung menyusul Ryuga dan Aluna yang baru saja melangkah masuk ke dalam rumah.

Karena Sukma tidak memiliki kerabat atau saudara dekat, Raditya beserta keluarganya dengan sukarela membantu mengurus jenazah Hamdan. Begitu pula para anggota inti BEM beserta warga sekitar yang langsung dikomando oleh Ustaz Reinan.

"Love, gue tinggal keluar sebentar, ya. Ada orang yang mesti gue hubungi buat ngebantu Sukma," ucap Ryuga setengah berbisik.

Aluna mengangguk pelan. "Iya, Mas," balasnya lembut sembari menatap wajah sang Presma dengan tatapan teduh.

Ryuga beranjak dari sisi Aluna. Ia melangkah keluar, menjauh dari keramaian dan mencari sudut halaman yang sepi untuk menghubungi Xavier.

"Vier, buruan lo datang ke rumah Sukma! Sekarang!" titah Ryuga begitu Xavier menerima panggilannya. Suara sang Presma terdengar rendah, namun begitu tegas dan menolak dibantah.

Di seberang sana, Xavier hanya diam membatu. Otaknya kian gaduh, dipenuhi teriakan batin yang terus-menerus merutuki kebodohan dirinya.

"Vier, lo denger gue, kan?" Ryuga memberi penekanan pada tiap kalimatnya. "Kalau lo enggak ke sini, gue sendiri yang bakal seret lo. Gue enggak peduli lo itu kakak ipar gue atau pemimpin geng terbodoh yang pernah gue kenal!"

Klik. Tanpa menunggu jawaban Xavier, Ryuga memutus sambungan telepon secara sepihak. Ia memasukkan kembali gawainya ke dalam saku kemeja dengan rahang mengeras.

Marah? Jelas Ryuga teramat marah pada Xavier, kakak iparnya. Karena tindakan bodoh Xavier, mental Hamdan benar-benar hancur. Lelaki itu bahkan nekat mengakhiri hidup dan kian memporak-porandakan masa depan Sukma.

Terdorong rasa empati yang besar, Aluna menggeser posisi duduknya untuk memangkas jarak dengan Sukma yang kini duduk termenung di sisi jenazah Hamdan, setelah tadi sempat pingsan.

"Ma," panggil Aluna pelan. "Ikhlaskan kepergian kakakmu. Jangan terus-menerus meratapi perpisahan ini." Jemari lentiknya mengusap lembut lengan Sukma, berusaha menyalurkan kekuatan dan rasa tenang.

"Kenapa Kak Hamdan tega melakukan ini padaku? Kenapa dia pergi di saat aku butuh penopang dan penguat?" lirih Sukma. Air matanya menetes, jatuh membasahi kain putih yang menutupi wajah Hamdan.

"Aku hancur, hidupku udah enggak ada artinya," lanjutnya parau. "Aku ... juga ingin mati. Menyusul kakak dan kedua orang tuaku."

Ucapan Sukma mengiris ulu hati, membuat Aluna semakin berempati.

"Sukma, aku mengerti perasaanmu saat ini ...," bisik Aluna sembari meraih tubuh Sukma dan membawanya ke dalam pelukan.

"Aku juga pernah dihantam ujian dan rasanya ingin mati saja," lanjut Aluna dengan suara bergetar. "Tapi alhamdulillah, Allah masih memberiku kesempatan hidup. Lewat kehadiran Mas Ryuga, Allah menyadarkan aku kalau kematian bukan jalan terbaik untuk mengakhiri penderitaan."

Sejenak, Sukma memejamkan sepasang matanya erat-erat. Kedua tangannya terulur ragu untuk membalas pelukan Aluna. Ia membiarkan air matanya jatuh, membasahi pasmina milik adik kesayangan lelaki yang telah menodai marwahnya--Xavier.

"Sukma, mulai sekarang, bagi bebanmu pada kami. Anggap keluargaku adalah keluargamu juga," tutur Aluna sembari mengusap lembut punggung Sukma dengan gerakan teratur.

"Luna, aku ... ternoda. Aku ... menjijikkan," bisik Sukma teramat lirih, nyaris menyerupai desau angin yang berembus pelan.

Gerakan tangan Aluna seketika terhenti. Jelas, ia sangat terkejut mendengar pengakuan itu.

Perlahan, Aluna mengurai pelukan, lalu menatap lekat manik mata Sukma yang terbingkai air duka.

"Siapa yang tega melakukan itu, Ma?" tanya Aluna lirih, berharap Sukma berkenan memberi jawaban.

Sukma menggeleng, lalu menundukkan wajah. Ia berusaha menyimpan rapat-rapat rahasia kelam yang sudah pasti akan meluluhlantakkan hati Aluna dan keluarganya.

"Sukma, katakan! Siapa dia? Aku dan Mas Ryu sebisa mungkin akan membantumu--meminta pertanggungjawaban dari pria bejat itu sekaligus menyeretnya ke penjara! Biar dia merasakan hukuman yang setimpal."

Tepat saat Aluna mengucapkan rangkaian kata yang menghujam itu, Xavier tiba di ambang pintu. Wajah yang biasanya dihiasi tawa jemawa, kini tampak pias dan berselimut mendung kelabu.

"Luna, tolong lirihkan suaramu. Aku mohon," pinta Sukma. "Aku nggak mau semua orang tahu dan menganggapku hina," imbuhnya berbisik.

Aluna tersadar jika suaranya tadi sempat naik satu oktaf karena emosi yang gagal ia tahan.

"Sukma, maaf ... Aku enggak bermaksud ...."

"Aku ingin sendiri, Lun. Terima kasih udah mau menghibur dan menguatkan aku," potong Sukma cepat. Ia lalu mengalihkan atensinya kembali pada tubuh sang kakak yang terbujur kaku.

Sementara itu, Xavier masih berdiri di tempatnya berpijak. Ia menatap sendu wanita yang telah ia hancurkan hidupnya.

"Kinan ... maaf ...," ucapnya penuh rasa sesal yang mendalam. Lantas memberanikan diri melangkah mendekat dan duduk bersimpuh di hadapan jenazah Hamdan.

"Sukma, gue nggak tahu kalau lo Kinan, anak kelas dua A yang dulu ...."

"Pergi!" titah Sukma dingin, memangkas perkataan Xavier tanpa sudi menatapnya.

"Gue ... minta maaf. Gue ...."

"Pergi dan jangan pernah muncul di hadapanku lagi!" pangkas Sukma lagi. Suaranya bergetar hebat, menyiratkan letupan amarah yang tertahan.

"Kinan ...."

"Kinan udah mati! Xavier yang dulu dia kenal juga udah mati dan digantikan iblis. Kamu ... cuma manusia bejat yang terlambat menyesali perbuatan hinanya, Xavier Narendra Aditama!"

Xavier tertunduk dalam. Segumpal daging yang bersemayam di dalam dadanya bagai dihantam palu godam--remuk tak berbentuk.

Rasa bersalah dan penyesalan kian membuncah, mencekik leher hingga memaksa bibirnya terbungkam--membisu. Ia hanya bisa pasrah menerima runtunan umpatan yang terus-menerus digemakan oleh benaknya sendiri.

Karena tidak ingin menjadi pusat perhatian orang-orang di dalam ruangan, Xavier akhirnya bangkit. Ia melangkah pergi, meninggalkan Sukma yang masih setia duduk di sisi jenazah Hamdan.

Aluna mengernyit tipis. Ia mencoba meraba interaksi antara kakaknya dan Sukma yang terasa sangat janggal.

Rupanya, kejanggalan itu tidak hanya disadari oleh Aluna, tetapi juga dirasakan oleh Raditya dan Raina. Namun, mereka semua memilih diam demi menghargai dan menjaga perasaan Sukma saat ini.

Nanti, setelah tiba di rumah, Raina dan Raditya bertekad akan menanyakan kejanggalan itu langsung pada Xavier.

🍁🍁🍁

Bersambung

1
mom riz
suka ceritanya
Ayuwidia: Terima kasih banyak, Kak 😇🙏🏻
total 1 replies
partini
aamiin bismillah jadi juara
Ayuwidia: Terima kasih banyak, Kak 😍🙏🏻
total 1 replies
Nofi Kahza
Yups! betul. sekrng bukan waktunya mencari siapa yg salah, tapi intropeksi diri.

btw dr awal kamu kan yg salah?
Nofi Kahza
udahlah, Pir. Meski Gea nggak tau juga ujung2nya meninggal. justru Geaitu harus diberi tahu, biar dosamu segera ditebus.😒
Najwa Aini
Gak semuanya salah kamu, Nara. ajal seseorang itu sudah ditetapkan dari zaman azali
partini
ga lah lebih baik Gea tau secara itu perbuatan dosa besar si kafir Gea juga kondisi kesehatan nya udah ga memungkin hidup lama
memperkosa loh ga main" itu
Najwa Aini
Nah ini..kalimat Tara yg aku suka dari sejak bab Ryuga...
Najwa Aini: Iya paham..
total 2 replies
Najwa Aini
Si kakak Partini itu kah..yg selalu nagih dibuatin kisah Xavier ya
Ayuwidia: Bukan, Kak. Kak Erida yg dulu katanya nungguin, tapi belum aku colek. Kak Partini, pembacanya Nyai
total 3 replies
Najwa Aini
Kalau di kisah Rama ada Bi Ijah. Di sini ada Bi jayanti.
The Power of bibi bibi🌹🌹
Ayuwidia: Sungkem buat mereka 😍
total 1 replies
Najwa Aini
Aku yg baca juga pingin ngakak..
ancaman dlam kalimat konyol..itu kayak menggertak mau pukul orang tapi pakai ranting pohon tauge..🤣
Ayuwidia: Ada2 gajah 😆
total 1 replies
Najwa Aini
frontal amat
partini
dasar kamu kafir punya pacar pengertian kamu biadab ,,waktu merangkak minta maaf ke Sukma
semoga di kasih 7 tanjakan 7 turunan dan 7 Pengkol penderita mu mengejar maaf vier
Ayuwidia: Semoga ya, Kak 😁
total 1 replies
Nofi Kahza
gea soalnya hapal dg karakter Sapir yang batu😒
Ayuwidia: bener banget
total 1 replies
Nofi Kahza
kebiasaan tuman! emosi didahuluin dr pada otak😒
Ayuwidia: Namanya juga Sapir 😃😆
total 1 replies
Nofi Kahza
biasanya ada yng mau terkena musibah, atau ada yang meninggal...tapi tetep takdir itu kembali dg Yang di atas🥹
Nofi Kahza
biasalah.. bawa'an orang ngidam mang gitu. Senggol bacok🤣
Ayuwidia: Gampang Esmoni 😆
total 1 replies
Nofi Kahza
tapi janinmu nggak hina Sukma🥹
Nofi Kahza
baguuusss😏
Nofi Kahza
masih ingusan aja, sok2an mau jadi pembunuh😒
partini
wasiat Gea suruh nikahi Sukma bearti dia tau apa yg di lakukan vier ke Sukma ,,bikin jungkir balik dulu dunia vier Thor baru Sukma lovely doply ❤️ sama sukma
Ayuwidia: Iyes, Kak. Biar dia terpacu berjuang buat ngeluluhin hati Sukma ❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!