NovelToon NovelToon
Dibuang Suami, Dicintai Presdir Tampan.

Dibuang Suami, Dicintai Presdir Tampan.

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Penyesalan Suami
Popularitas:24k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Lima tahun menikah, Kanisha Rayya Shanika selalu percaya bahwa rumah tangganya bersama sang suami, Arven Mahendra, akan berjalan harmonis untuk selamanya. Ia rela menekan mimpinya sendiri demi menjadi istri sempurna dan ibu terbaik bagi anak angkat yang sangat ia cintai. Namun semua kepercayaan itu runtuh dalam satu malam.
Kanisha memergoki Arven berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri—wanita yang selama ini ia anggap hanya rekan kerja biasa. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, kenyataan yang jauh lebih kejam kembali menghantamnya. Anak angkat yang ia rawat dengan penuh kasih ternyata adalah darah daging hasil hubungan terlarang suaminya dengan sang selingkuhan.

Dikhianati sebagai istri sekaligus dipermainkan sebagai seorang ibu, Kanisha memilih pergi dan mengakhiri pernikahan yang telah menghancurkan hidupnya. Dengan tekad untuk bangkit, Kanisha mulai membangun hidup baru dan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak begitu saja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Selena mulai kewalahan menahan Naira yang terus meronta menangisi kepergian Kanisha.

“Naira tenang ya sayang, mama kamu ada disini.”

“Nggak mauuuu!! Tante Selena bukan mama Naira, mama Naira itu mama Kanisha.” Tangisan gadis kecil itu semakin keras. “Mamaaa… jangan pergi…”

Kanisha memejamkan matanya kuat-kuat.

Dadanya terasa sakit sekali, rasanya seperti ada tangan tak terlihat yang meremas jantungnya tanpa ampun. Langkahnya kembali berjalan pelan menuju pintu keluar kamar.

"MAMAA!!"

Tangisan Naira menggema keras dari dalam rumah megah itu. Tangisan yang biasanya selalu berhasil membuat Kanisha berbalik, tangisan yang biasanya selalu membuatnya berlari menghampiri putri kecilnya. Namun malam ini berbeda. Malam ini ada sesuatu yang telah hancur di dalam diri Kanisha. Sesuatu yang mungkin tidak akan pernah bisa diperbaiki lagi. Langkah wanita itu terus berjalan menjauh dari kamar Naira. Menjauh dari suara tangisan yang memanggilnya mama. Menjauh dari rumah yang selama lima tahun ia anggap sebagai tempatnya pulang.

Dan menjauh dari kehidupan yang selama ini ia perjuangkan mati-matian.

Air mata terus mengalir tanpa henti namun Kanisha tidak lagi berusaha menghapusnya.

Untuk apa? Toh tidak ada lagi yang perlu ia pertahankan, tidak ada lagi yang perlu ia jaga.

Bahkan harga dirinya sendiri sudah diinjak-injak habis oleh orang yang paling ia cintai. Langkahnya terasa ringan sekaligus berat. Ringan karena ia akhirnya meninggalkan sumber luka itu namun berat karena sebagian dirinya tertinggal di sana.

Bersama seorang anak kecil yang memanggilnya mama.

Saat Kanisha keluar dari kediaman Mahendra, langit yang sejak tadi mendung akhirnya menunjukkan amarahnya. Angin bertiup semakin kencang, daun-daun di halaman berguguran. Langit yang tadinya hanya gelap perlahan berubah menjadi pekat seolah malam itu alam semesta ikut berkabung atas kehancuran seorang wanita.

Kanisha menatap langit kosong dengan matanya yang merah, wajah pucat dan rambut berantakan. Penampilannya jauh berbeda dari Kanisha yang selalu terlihat anggun dan terawat. Wanita itu berdiri beberapa saat di depan gerbang rumah Mahendra. Rumah yang pernah ia banggakan. Rumah yang pernah ia sebut sebagai rumah tangganya. Namun rumah itu ternyata hanya berisi kebohongan.

Petir menyambar di kejauhan dan disusul suara gemuruh yang menggetarkan langit.

Beberapa detik kemudian,

Bruuukkk!

Hujan pun turun. Awalnya hanya gerimis lalu semakin deras. Semakin lama semakin lebat namun Kanisha tidak bergerak. Ia hanya berdiri diam membiarkan air hujan membasahi tubuhnya, rambutnya, wajahnya dan membaur bersama air matanya yang tak kunjung berhenti. Tak lama kemudian wanita itu mulai berjalan. Sendirian, tanpa tujuan yang jelas. Tanpa payung, tanpa kendaraan dan tanpa membawa apa pun. Langkahnya terlihat pelan menyusuri jalan yang mulai sepi.

Malam semakin larut, lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan di atas genangan air, namun Kanisha tidak memedulikan apa pun. Tatapannya kosong, benar-benar kosong seolah tubuhnya berjalan sementara jiwanya tertinggal jauh di belakang. Ia hanya terus melangkah menuju rumah kedua orang tuanya. Satu-satunya tempat yang masih bisa ia datangi malam ini.

Hujan terus turun tanpa ampun dan membuat baju Kanisha basah kuyup. Tubuhnya mulai menggigil namun rasa dingin itu tidak ada apa-apanya dibanding rasa sakit yang sedang menghancurkan hatinya. Langkah demi langkah, Kanisha terus berjalan, sampai akhirnya suara Arven kembali terngiang di telinganya.

"Aku nggak pernah cinta sama kamu."

Langkah Kanisha langsung melambat. Napasnya tercekat, air matanya kembali jatuh.

"Aku dipaksa nikahin kamu."

Kanisha langsung memejamkan matanya erat-erat. Tubuhnya mulai gemetar sementara tangannya perlahan mengepal.

"Aku senang lihat kamu hancur."

Deg, Kalimat itu kembali menghantam jantung Kanisha dan membuatnya lebih sakit daripada sebelumnya karena sekarang tidak ada lagi pertengkaran ataupun emosi, yang ada hanya dirinya sendiri dan kenyataan pahit yang terus berputar di dalam kepalanya.

"Aku berhasil menghancurkan penghalang terbesar dalam hidup aku."

"Tidak..." Kanisha menggeleng pelan namun suara itu terus terdengar seolah Arven sedang berdiri tepat di sampingnya, mengulang semua penghinaan itu berkali-kali dan berkali-kali.

"Diam..." Suara Kanisha terdengar lirih namun kenangan itu tidak berhenti.

"Aku nggak pernah cinta sama kamu."

"Tolong hentikan..."

"Aku benci hidup sama kamu."

"Aku mohon tolong hentikan..."

Kanisha mulai menutup kedua telinganya namun suara-suara itu tetap terdengar, tetap menyakitinya dan menghancurkannya sampai akhirnya wanita itu berhenti di pinggir jalan. Hujan deras mengguyur tubuhnya sementara angin menerpa wajahnya, namun Kanisha sudah tidak peduli lagi. Ia menutup kedua telinganya kuat-kuat lalu berteriak.

"AAAAAAAHHHHHH!!!"

Teriakan itu akhirnya pecah di tengah hujan malam dengan penuh rasa sakit, keputusasaan dan kehancuran. Kanisha terisak keras, tangannya masih menutup telinganya seolah dengan begitu ia bisa menghentikan semua kenangan yang terus menyerangnya.

Tangisnya pecah dan membuat wanita itu jatuh berlutut di pinggir jalan. Hujan terus mengguyur tubuhnya, namun ia tidak peduli.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Kanisha benar-benar merasa sendirian. Air matanya terus mengalir, bahu wanita itu bergetar hebat, lalu perlahan ia menengadah ke langit. Ke arah langit gelap yang tertutup awan hitam.

"Ya Allah..." Suaranya bergetar. "Kenapa?" Air mata Kanisha terus jatuh. "Kenapa harus aku?" Tangannya mencengkeram dadanya sendiri seolah ingin menghentikan rasa sakit yang terus menusuknya dari dalam. "Apa salahku?" Tangisnya semakin keras. "Apa aku kurang bersyukur selama ini?" Tanya Kanisha kepada sang pencipta namun tidak ada jawaban.

Hanya ada suara hujan, suara angin dan suara tangis seorang wanita yang hatinya baru saja dihancurkan.

"Kenapa ujian ini harus seberat ini?" Kanisha memejamkan matanya sementara tubuhnya terus gemetar. "Apa aku terlalu bodoh karena cinta?"

Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Kanisha karena semakin ia memikirkan semuanya, semakin ia sadar mungkin memang dirinya yang terlalu menutup mata, terlalu percaya dan terlalu mencintai Arven sampai tidak sadar bahwa selama ini ia sedang hidup dalam kebohongan. Ia selalu membela Arven, selalu memaklumi Arven, selalu mencari alasan untuk Arven, padahal kenyataannya, pria itu bahkan tidak pernah mencintainya.

Kanisha tertawa kecil, tawanya terdengar menyedihkan.

"Aku pikir aku wanita yang paling bahagia, tapi nyatanya tidak. Aku justru terjebak oleh laki laki yang sama sekali tidak pernah mencintaiku."

Padahal selama ini ia hanya hidup dalam ilusi.

Perlahan Kanisha mengusap wajahnya, menghapus air matanya yang bercampur dengan air hujan. Lalu untuk pertama kalinya malam itu, tatapan Kanisha mulai berubah.

Masih ada rasa sakit di sana, masih ada luka, masih ada kehancuran, namun ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang perlahan bangkit dari dalam dirinya yaitu tekad. Kanisha mengepalkan tangannya perlahan namun pasti.

"Cukup." Suara Kanisha terdengar lirih tapi tegas. "Cukup sampai di sini."

1
Rain Aricia
Iya pak gasskan lagii, keluarkan semua biar mampus tuh bapak sama anak
Rain Aricia
Prettt, keluarga kau blg matamu lah keluarga
Rain Aricia
Mendadak apanya? Makanya tanyakan sama anak kesayanganmu itu
Rain Aricia
Coba pikir baik2
Rain Aricia
Iya bener, ngapain kasih dana ke org yg ga becus
Rain Aricia
Kanisha kalau sama bapaknya jadi kayak putri kecil kesayangan🥰
Rain Aricia
Lu mau ngeles kah nanti?
Noey Aprilia
Pdhl cma dngr crta hdpnya doang,tp udh ga sbr ya bang pgn ktmu....😁😁😁....
d jmin bkln jth cnta kl udh ktmu lngsng,scra kanisha cntk plus hebat bgt.....
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: pastinya kak😄
total 1 replies
Rain Aricia
Hahha mampus lu, biar bapakmu tau gmb sebenarnya kelakuan busukmu
Rain Aricia
Yah mampuslah kalian bangkrut
Rain Aricia
Oi pak, anakmu noh selingkuh sampe punya anak. Pecat aja lah dia itu
Rain Aricia
Hah? Statement dari mana itu kamu ambil? Harusnya kebalikannya anjai
Putri Sylvia
menyesal kan Lu sekarang ven
Putri Sylvia
atas dasar perselingkuhan kamu
Putri Sylvia
syukurin, orang lagi frustasi tapi masih bisa bisanya menggatal🤣🤣🤣🤣
Putri Sylvia
salah besar kamu Arven kl berpikiran seperti itu
Putri Sylvia
musuh bebuyutan
Putri Sylvia
puas banget aku liat Arven digebukin pak Rendra/Doge/
Putri Sylvia
muak sama orangnya tapi doyan sama uangnya 🤣🤣🤣🤣
Putri Sylvia
malu maluin aja anakmu pak damar/Yawn//Yawn//Yawn/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!