NovelToon NovelToon
TEBUSAN RANJANG ( Kontrak Pernikahan 1 Tahun )

TEBUSAN RANJANG ( Kontrak Pernikahan 1 Tahun )

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Five Vee

*Novel dengan Alur Sat Set dan Bab Pendek.*


Junee tidak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan Ben Pratama.

Anak culun yang dulu ia tolak di SMA, sekarang jadi CEO muda yang dingin dan sukses. Ketika panti asuhan tempat Junee mengabdi terancam digusur, satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran Ben: Menjadi istri kontraknya selama satu tahun. Tidak ada cinta. Hanya kesepakatan.


Begitu pikir Junee. Tapi tinggal serumah dengan Ben ternyata tidak sesederhana itu. Setiap tatapannya penuh teka-teki. Setiap sikapnya seperti menyimpan amarah yang belum selesai.


Junee mulai bertanya: Apakah Ben benar-benar membencinya? Atau selama ini, ia salah paham tentang alasan penolakan itu? Satu tahun. Satu kontrak. Satu kesempatan untuk memperbaiki masa lalu. Pertanyaannya… apakah hati mereka masih bisa diperbaiki?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Pertengkaran Pertama.

Junee merasa sudah tidak tahan lagi.

Ia merasa sudah lama menunggu. Enam bulan tanpa pengaman, dan tidak menghasilkan apapun.

Lalu diagnosis PCOS dan endometriosis yang membuat dunianya seakan runtuh.

Tekanan Bu Ratna saat mereka bertemu.

Direksi Ben Holding yang mulai mempertanyakan calon CEO masa depan mereka.

Dan pada akhirnya… Junee pun meledak di dalam ruang tamu lantai 48.

“Sudah cukup semuanya!”

Suara Junee pecah, keras, tidak seperti biasanya. Tubuh wanita itu luruh bersama piring kecil di tangannya ke atas karpet. Untung saja piring itu tidak pecah.

Ben yang baru pulang dari kantor, seketika berhenti di ambang pintu. Jasnya masih rapi, namun dahinya berkerut dalam.

“Ada apa, Junee?” Tanyanya khawatir.

“Ada apa?” Junee mengulang. Matanya merah, napasnya memburu. “Kamu bertanya ada apa? Kamu tida melihat aku sudah seperti apa, Ben?”

Ben menutup pintu kamar dengan pelan.

“Jangan berteriak, Junee. Tenangkan diri kamu.” Ia mendekati sang istri.

Junee masih diam di tempatnya. “Kamu selalu mengatakan ‘jangan stres’, ‘jangan dengerin Ibu’, ‘jangan dengerin direksi’. Tapi kamu tidak mengerti rasanya menjadi aku!”

Ben menghela napas. Mugkin kali ini tidak bisa lagi menenangkan sang istri seperti sebelumnya.

“Aku sudah lelah, Ben!” Suara Junee bergetar. “Lelah menunggu, lelah ditatap seperti orang gagal! Lelah mendengar Ibu menagatakan aku tidak cukup, lelah mendengar Direksi menunggu calon CEO masa depan mereka.”

Ben terdiam. Membiarkan sang istri menumpahkan rasa sakitnya.

Junee tertawa kecil. Padahal tidak ada yang lucu sama sekali.

“Kamu menikahi aku karena balas dendam, kan? Karena aku sudah menolak kamu 10 tahun yang lalu. Jadi kamu mau membalas aku dengan menggunakan

panti?”

“Berhenti bicara seperti itu.” Suara Ben mengeras.

“Kenapa berhenti? Itu fakta, kan? Kalau aku tidak bermasalah, kamu tidak akan pusing seperti ini. Kalau aku bisa memberi kamu anak secepatnya, Ibu tidak akan marah, direksi tidak akan meganggu. Jadi ini semua salah aku!”

“Ini bukan salah siapa-siapa!” Ucap Ben suaranya naik satu oktaf. “Aku menikahi kamu, karena aku cinta, Junee! Bukan karena rahim kamu! Bukan karena balas dendam! Aku sudah mengatakannya seribu kali!”

“Terus kalau kamu cinta, kenapa kamu tidak marah sama mereka?” Junee menunjuk ke arah pintu, ke arah luar, ke arah dunia. “Kenapa kamu hanya diam waktu Ibu nyindir aku? Saat Direksi menanyakan calon CEO masa depan —

“Aku sudah melawan, Junee!”

Ben akhirnya ikut meledak juga.

Suara pria itu menggelegar di penthouse lantai 48. Untuk pertama kalinya sejak mereka mengucap janji suci pernikahan, Ben berteriak pada Junee.

“Aku sudah mengatakan pada Ibu kalau urusan rumah tangga ini bukan urusannya! Aku sudah mengatakan pada Direksi kalau mereka mau menjual saham, silakan! Tapi apa? Kamu tidak mendengarnya! Kamu hanya mendengar kata-kata mereka, kamu tidak mau mendengar pembelaan ku.”

Nafas Junee memburu. Ia pun bangkit dari atas karpet.

“Tetapi ucapan kamu tidak bisa menutup mulut mereka, Ben!” teriak Junee balik. “Pembelaan kamu tidak bisa membuat aku hamil! Dan pembelaan kamu tidak bisa membuat aku jadi wanita normal!”

Ruangan itu kemudian hening.

Hanya ada suara nafas mereka berdua yang kasar, dan berantakan.

Junee menatap Ben dengan lekat. Dan wanita itu melihat ada luka yang terpancar dari sorot mata sang suami.

“Aku juga lelah, Junee.” Ucap Ben pelan. Suaranya kembali pecah. “Aku lelah melihat kamu menyiksa diri sendiri. Aku lelah melihat kamu memilih pergi sedikit-sedikit. Aku lelah merasa seperti aku tidak cukup untuk kamu.”

Junee membuka mulut. Tapi tidak ada suara yang keluar.

Ben menggeleng pelan.

“Aku sudah mengalah, Junee. Aku sudah mengalah untuk tidur di atas sofa depan kamar tamu selama dua minggu. Aku sudah mengalah untuk tidak memaksa kamu kembali. Tapi kalau kamu masih berpikir aku menikahi kamu karena dendam… berarti aku yang gagal.”

Junee menggeleng cepat.

“Bukan, Ben. Bukan…”

“Tapi itu yang kamu katakan.” potong Ben.

“Jadi ya sudah. Kalau kamu mau diam, ya diam saja. Kalau kamu mau marah, marahlah. Tapi jangan mengatakan aku tidak cinta. Jangan mengatakan aku dendam. Karena itu bohong.”

Junee merasa kakinya lemas.

Ia kembali jatuh terduduk di lantai, di samping piring kecil itu.

Tangisannya pun kembali pecah.

Bahkan lebih keras dari sebelumnya.

Ben tidak langsung mendekat.

Ia masih berdiri di sana, menatap Junee, dadanya naik turun.

“Keluar, Ben.” Bisik Junee pelan.

“Apa?” Ben mengerutkan keningnya.

“Keluar, Ben. Aku butuh sendiri.” Ulang Junee.

Ben menatap wanita itu lama. Ia kemudian mengangguk pelan.

Terdengar suara pintu kamar utama yang tertutup pelan.

Junee ditinggal sendiri di ruang tamu, di atas karpet, dan kata-kata yang tidak bisa ditarik kembali.

---

Tiga hari.

Selama itu mereka tidak bicara sama sekali.

Junee kembali tidur di kamar tamu.

Ben tetap bekerja dari kantor lantai 45, pulang larut, tidur di sofa depan kamar sang istri.

Ben selalu menyiapkan sarapan untuk sang istri. Kemudian mengirim pesan singkat pada wanita itu.

“Jangan lupa sarapan.”

Dan Junee pun membalasnya. “Sudah.” Itu saja.

Dingin.

Kering.

Kosong.

Hari ketiga, saat Junee bangun di pagi hari, ia tak menemukan sepiring sarapan di atas meja makan.

Biasanya Ben selalu menyiapkan meski mereka tidak saling bicara.

Tapi, pagi ini tidak ada.

Junee duduk di atas kursi meja makan, menatap kosong ke arah dapur.

Ia menunggu suara langkah Ben keluar dari kamar utama.

Tidak ada.

Dan untuk pertama kalinya, Junee merasa takut.

Takut kalau tiga hari ini akan menjadi selamanya.

---

Malamnya di hari ketiga, pukul 23.00. Junee keluar dari kamar tamu.

Ia tidak tau mau kemana?

Junre hanya tau, ia sudah tidak tahan lagi dengan keheningan ini.

Wanita itu memutuskan pergi ke kamar utama.

Ben ada di dalam. Duduk di atas lantai, bersandar pada tempat tidur, mata terlihat memerah. Pria itu juga tidak tidur.

Mereka pun saling tatap.

Tidak ada yang bicara lebih dulu.

Dan akhirnya Junee pun melangkah pelan.

Ia juga duduk di atas lantai, dua meter dari Ben.

“Aku… aku tida mau pisah, Ben.” Bisiknya dengan suara serak.

Ben menutup mata.

“Aku juga tidak.”

“Lalu, apa yang kita lakukan sekarang?” tanya Junee.

Ben menghela napas panjang.

“Kita berhenti saling menyalahkan. Kita berhenti mendengarkan omongan orang lain. Kita mulai mendengarkan diri kita sendiri.”

Junee mengangguk pelan.

“Aku takut, Ben.”

“Aku juga.” Jawab Ben jujur. “Tapi aku lebih takut kehilangan kamu.”

Junee menggeser sedikit.

Satu meter.

Lalu setengah meter.

Ben tidak bergerak. Ia menunggu Junee yang memutuskan.

Ketika Junee akhirnya menyandarkan kepalanya di bahu Ben, pria itu langsung melingkarkan tangannya.

Kuat.

Seperti takut Junee akan pergi lagi.

Mereka tidak menyelesaikan masalah malam itu.

PCOS masih ada.

Endometriosis masih ada.

Bu Ratna dan direksi Ben Holding masih ada.

Tapi untuk pertama kalinya dalam tiga hari, mereka tidak sendirian.

Dan itu cukup. Setidaknya untuk malam ini.

---

1
Oma Gavin
semoga berhasil junee dan ben buah perjuangan cinta kalian jadi bayi premium
ardiana dili: up lagi kak
total 1 replies
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
semangat jun,semua pasti ada hasil nya kalau sudah di coba,semoga hasil nya lebih baik yang di harapkan
Naufal Affiq
jangan bertengkar lagi jun,pasti ada jalan keluarnya,bukan perpisahan,kalian saling menguatkan sesama pasangan jangan langsung bertengkar,untuk masalah anak itu hanya titipan,jadi banyak-banyak berdoa,semoga kamu diberi keturunan
ardiana dili
up. lagi kak
ardiana dili
up lagi kak
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
lanjut kak
ardiana dili
up lg kak
merry yuliana
senangnya kamu dicintai sebegitunya sama ben.. junee
pesan 1 kak
ardiana dili
semoga junne bisa hamil
ardiana dili
lanjut kak
ardiana dili
lanjut
ardiana dili
lanjut kak
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
lanjut thor
ardiana dili
lanjut kak
ardiana dili
lanjut
Naufal Affiq
lanjut thor
ardiana dili
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!