Di kota megah yang dipenuhi gemerlap lampu malam dan dosa, nama Aragon De Hartmann dikenal sebagai raja mafia paling kejam dan tak tersentuh. Di balik kekuasaan, uang, dan darah yang mengalir di tangannya, Aragon hidup dalam kegelapan.
Sementara itu, Aurora, seorang gadis panti asuhan yang sederhana dan lembut, berjuang hidup sendirian setelah panti tempat ia dibesarkan terancam ditutup oleh kelompok kriminal. Demi menyelamatkan anak-anak kecil di sana, Aurora nekat mendatangi seorang pria yang paling ditakuti di seluruh kota, dia adalah Aragon De Hartmann.
Pertemuan mereka seharusnya hanya sebuah transaksi.
Namun, tatapan mata Aurora yang hangat perlahan menghancurkan dinding dingin di hati sang mafia. Untuk pertama kalinya Aragon mulai merasakan sesuatu yang hampir ia lupakan, yaitu cinta dan harapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alistia Haka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 34
Steven Gu bergerak impulsif. Dengan sentakan kasar, ia mengangkat lengannya, berniat mengarahkan moncong pistolnya tepat ke tengah wajah Aragon.
Namun, bajingan itu telah melakukan kesalahan fatal malam ini: ia meremehkan seorang Aragon, ia terlalu bodoh, dia lupa siapa yang berdiri di hadapannya.
Bahkan sebelum siku Steven terkunci lurus, sebuah bayangan bergerak dengan kecepatan yang menembus batas nalar sehat. Dalam sekelebat mata, Aragon telah memotong jarak di antara mereka. Gerakannya begitu mulus, senyap, dan mematikan, seperti predator yang menerkam mangsa tanpa riak udara.
“Klik!”
Suara logam dingin yang saling mengunci berdenting tajam, seketika membekukan detak jantung semua orang di area itu.
Sebelum Steven sempat memproses apa yang baru saja terjadi di dalam kepalanya, moncong pistol perak custom milik Aragon sudah menempel lekat di dahinya.
Laras dingin itu menekan kulit Steven Gu begitu keras hingga menciptakan ceruk kecil, mengirimkan sensasi bahaya absolut yang membuat seluruh bulu kuduk Steven meremang.
Keheningan yang mencekam langsung menyelimuti seluruh bandara. Suara gemeretak api yang melalap bangunan dan hanggar di kejauhan mendadak terdengar samar, seolah-olah dunia luar sengaja diredam oleh atmosfer mematikan di titik itu.
Seluruh anak buah Steven Gu membeku di tempat. Tubuh mereka menegang kaku bagai patung-patung batu di tengah kepulan asap. Jari-jari yang menempel di pelatuk mulai basah oleh keringat dingin, sementara napas mereka tertahan di tenggorokan.
Bahkan para penembak jitu yang tiarap di kegelapan menara pengawas tidak berani menggerakkan satu otot pun. Lensa bidik mereka terkunci pada target, namun jari mereka mendadak lumpuh.
Mereka semua memahami satu fakta sederhana malam ini: jarak antara Aragon dan Steven Gu adalah nol.
Jika ada satu saja pergerakan mencurigakan, atau jika satu peluru senapan runduk dilepaskan, Aragon hanya membutuhkan waktu sepersekian detik untuk menarik pelatuknya. Dan sebelum peluru dari kegelapan sempat mencapai dada Aragon, kepala Steven Gu sudah lebih dulu hancur berkeping-keping diterjang peluru kaliber besar dari pistol perak itu.
Di bawah todongan senjata mematikan itu, Aragon hanya menatap Steven dengan seulas senyum tipis, sebuah lengkungan bibir yang terasa jauh lebih mengerikan daripada ancaman verbal apa pun.
Perlahan, tubuh Steven Gu mulai gemetar.
Rasa percaya diri yang membubung tinggi setelah memperoleh pasokan pasukan dan persenjataan dari pihak misterius itu mendadak menguap tanpa sisa. Ia baru menyadari satu kebodohan terbesarnya itu.
“Mau ku beritahu? Di dunia bawah tanah, menjadi penguasa bukan hanya soal menghitung jumlah moncong senjata atau banyaknya kepala anak buah yang kau miliki. Ini adalah soal strategi dan kalkulasi.” Kata Aragon.
Aragon sengaja berdiri sangat dekat, hingga ketika ia menarik pelatuk, jangkaun langkah kakinya langsung mampu berdiri di hadapan Steven Gu.
Aragon tahu betul bahwa Steven Gu, terlepas dari segala kepongahannya, adalah pria yang sangat mencintai nyawanya sendiri. Selama pistol perak itu melekat di dahinya, seluruh pasukan Steven tidak lebih dari sekadar penonton tak berguna.
“Jadi… Sekarang… mari kita bicara dengan cara yang lebih elegan, Aragon,” bisik Steven Gu. Ia mencoba memaksakan sebuah senyum kaku, namun nada suaranya yang bergetar tidak mampu menyembunyikan ketakutan yang mulai menjalar ke sumsum tulangnya.
Tangan kekar Aragon tetap kokoh menggenggam senjatanya tanpa getaran sedikit pun. Sorot matanya yang sedingin es menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak tertarik pada negosiasi.
“Entahlah…” sahut Aragon santai, suaranya seringan angin malam. “Adrenalinku sedang naik setelah melihat pulau dan asetku berubah menjadi lautan api. Rasanya sulit untuk sekadar duduk dan bercengkerama secara damai.”
“T-Tapi kau akan menyesal jika membunuhku di sini!” seru Steven, suaranya naik satu oktav akibat panik. “Kau tidak tahu seberapa banyak orang yang menginginkan kepalamu saat ini!”
“Oh ya?” Aragon terkekeh rendah, suara tawa yang membuat suasana semakin mencekam. “Aku justru baru memahami satu hal menarik malam ini.”
Tatapannya menajam, menguliti ekspresi Steven. “Kasus pencurian barang-barang logistik senjata rakitan milikku yang seharusnya kukirimkan kepadamu… itu semua hanya rekayasa, bukan? Sebuah sandiwara murahan yang dibuat oleh pihak-pihak yang bersekongkol untuk memancingku keluar.”
“B-Bukan begitu….”
“Kau merasa berada di atas awan, Steven?” potong Aragon tanpa memedulikan bantahan itu. “Hanya karena seseorang memberimu mainan baru dan beberapa ratus pasukan pinjaman?”
Aragon menekan moncong pistolnya lebih kuat, memaksa kepala Steven sedikit terdongak. “Sayangnya, menjadi mafia tidak cukup hanya dengan modal senjata di tangan. Harus ada otak yang cukup cerdas untuk menggunakannya. Dan kau… tidak punya itu.”
“Kau… kau tidak akan pernah tahu siapa orang kuat di belakangku jika kau membunuhku sekarang!” teriak Steven, seluruh pertahanan mentalnya runtuh, menyisakan keputusasaan yang telanjang.
“Tak perlu. Aku tidak seantusias itu untuk tahu siapa.” Aragon mengangkat sebelah alisnya dengan ekspresi bosan. “Cepat atau lambat, tikus yang bersembunyi di balik punggungmu akan muncul dengan sendirinya setelah melihat mayatmu. Aku terlalu sibuk jika harus membuang waktu mencari satu per satu kecoak yang menginginkan kepalaku.”
Senyumnya kian mendingin. “Lagipula, aku tahu satu fakta di dunia ini.”
“A-Apa itu?” tanya Steven dengan suara yang kian lirih.
“Semua orang di dunia ini memang menginginkan kepalaku,” Aragon memiringkan kepalanya sedikit, menatap Steven dengan pandangan merendahkan. “Tapi tidak semua orang memiliki kapasitas untuk mengambilnya. Bahkan untuk menyentuh ujung mantelku saja, kebanyakan dari mereka tidak akan pernah punya kesempatan hingga masuk ke liang kubur.”
Steven menelan ludah dengan susah payah, jakunnya naik turun. “Baik… baiklah… Mari kita bicarakan ini baik-baik. Kita bisa buat kesepakatan baru.”
Aragon tidak menjawab. Ia justru melirik ke arah tangan kanannya yang berdiri diam di belakangnya. “Hank.”
“Ya, Tuan,” sahut Hank dengan sikap formal yang kaku.
“Hmm… Bagaimana menurutmu? Haruskah kita bernego lalu pulang dan menikmati segelas susu panas?” Aragon tampak mengetuk-ngetukan jari kirinya di atas mantel, seolah sedang memikirkan menu makan malam.
Hank menghela napas kecil, menyesuaikan ritme permainan tuannya. “Saya pikir sebelumnya Anda sudah menyetujuinya jika saya membantai mereka semua dan membersihkan pulau ini dari sampah, Tuan.”
Aragon mengangguk-angguk pelan, seolah itu adalah rengekan anaknya. “Benar juga. Lalu bagaimana dengan ini Steven?” Ia melirik Steven yang wajahnya kini sudah sepucat kain kafan.
“Sekretarisku sedang merajuk dia tidak bisa menjalankan kesenangannya. Dia sangat menyeramkan jika hobinya dilarang.”
Mendengar nyawanya dipertaruhkan hanya karena alasan sekonyol itu, akal sehat Steven benar-benar hilang. “AKU SUDAH MENJADI PELANGGAN SETIAMU SELAMA BERTAHUN-TAHUN, ARAGON! KAU TIDAK BISA MELAKUKAN INI PADAKU!”
Aragon hanya menatapnya datar, seolah sedang melihat serangga yang meronta di ujung jarum.
“Dan lagi…” lanjut Steven dengan histeria yang kian memuncak, berusaha mencari celah keselamatan. “Kalau kau menembakku sekarang, para penembak jitu di sekeliling tempat ini tidak akan membiarkanmu lolos! Mereka akan langsung membidikmu!” Tawa gugup dan sumbang keluar dari mulutnya yang kering. “Hahaha… bodoh! Lihatlah sekelilingmu! Kau terkepung!”
Steven memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba memanggil kembali sisa-sisa harga diri dan keberaniannya yang tersisa. Namun, sial baginya, tubuhnya yang gemetar hebat justru mengkhianati seluruh gertakan kosong itu.
Aragon menatap wajah menyedihkan itu dengan tatapan muak yang mendalam. Suaranya merendah, sedingin badai salju saat ia membisikkan kalimat terakhir yang langsung menusuk ulu hati Steven:
“Jika kau sendiri sadar bahwa kau dilindungi oleh kepungan semenarik ini, lalu kenapa tubuhmu gemetar hebat? Dan apa tadi katamu? Kau melabeli dirimu sendiri sebagai pelanggan setiaku? Benarkah?”
Aragon menjeda kalimatnya, membiarkan keheningan malam memperparah ketakutan lawan. Sudut bibirnya terangkat, membentuk seringai sinis yang mematikan.
“Bagaimana mungkin seorang pelanggan setia bersekongkol di belakangku, merancang rencana sekonyol ini bersama mafia lain, lalu membakar seluruh wilayahku? Kau hanya seorang pengkhianat.”
Bersambung