NovelToon NovelToon
Perjalanan Sang Kaisar Pedang Surgawi

Perjalanan Sang Kaisar Pedang Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Action / Anak Genius
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: DafToon

Satu Hari 5 Bab... bantu saya untuk terus berkarya😎😎

Di Kota Xiang, seorang jenius muda bernama Xiao Ba pernah dipuja sebagai harapan terbesar Keluarga Xiao karena memiliki Akar Spiritual Suci Tingkat 9, bakat langka yang bahkan sulit ditemukan dalam seribu tahun. Namun semuanya berubah ketika akar spiritualnya hancur secara misterius, membuatnya jatuh dari langit ke dasar kehinaan dalam semalam.

Dulu dipuji, kini dihina.

Dulu didekati, kini dijauhi.

Bahkan keluarga yang pernah memohon perjodohan dengannya datang untuk memutuskan hubungan sambil mempermalukannya di depan semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DafToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bangkit dari Kedalaman Tebing Tujuh Roh

Xiao Ba berjalan semakin dalam melewati celah sempit antara tebing enam dan tebing tujuh

Di sini kawasan Tebing Tujuh Roh menampilkan wajahnya yang paling ganas di mana dinding tebing di kiri dan kanannya menjulang begitu tinggi hingga langit yang terlihat dari bawah hanya selebar jari sementara angin yang berembus di antara celah itu bukan lagi angin laut biasa melainkan sudah bertransformasi menjadi arus udara yang bisa mengangkat tubuh kultivator alam rendah dan melemparkannya ke dinding tebing jika tidak cukup kuat menahan tekanannya

Di bawah kakinya permukaan tebing yang ia injak bukan lagi batu karang biasa melainkan formasi mineral biru kehijauan yang hanya terbentuk setelah ribuan tahun terkena percikan air laut dan terpaan angin mineral di mana formasi ini menyimpan energi Qi yang jauh lebih padat dari bagian manapun di kawasan tebing ini dan itulah alasan mengapa binatang buas tingkat tinggi lebih suka menghuni wilayah terdalam Tebing Tujuh Roh

Ia tidak menunggu lama untuk menemukannya

Seekor Ular Laut Biru sepanjang delapan puluh meter lebih berdiam di celah terbuka di antara dua formasi batu yang menjulang seperti gigi raksasa dengan kulit berwarna biru gelap serta pola-pola lingkaran emas yang memancarkan cahaya samar di antara sela sisiknya sementara matanya merupakan sepasang bola merah tua yang bisa memancarkan cahaya ketika marah karena binatang buas tingkat enam ini dikenal sebagai salah satu predator paling berbahaya di kawasan pesisir akibat kemampuannya bergerak sama cepatnya di daratan maupun di lautan

Ular Laut Biru itu sedang melingkar dengan santai sambil mengangkat kepalanya setinggi tiga meter di mana matanya yang merah menatap ke arah Xiao Ba yang baru saja muncul dari celah sempit dengan tatapan yang mengandung rasa ingin tahu sekaligus ancaman

Xiao Ba menatap balik tanpa bergerak

Binatang buas tingkat enam memiliki kecerdasan yang lebih tinggi dari jenis di bawahnya karena Ular Laut Biru ini sudah bisa membaca bahasa tubuh manusia serta membedakan kultivator yang datang dengan niat berburu dari kultivator yang sekadar lewat dan bahasa tubuh pemuda berambut hitam yang berdiri santai di hadapannya dengan senyum tipis tidak wajar itu termasuk kategori yang mana sang Ular belum bisa memutuskan

Namun naluri predator tidak mengizinkannya ragu terlalu lama hingga ia akhirnya menyerang

Tubuhnya yang panjang melejit ke depan dengan kecepatan yang membuat udara di sekitarnya bergetar di mana kepalanya terarah langsung ke tubuh Xiao Ba dengan rahang yang terbuka lebar memperlihatkan sepasang taring yang masing-masing sepanjang setengah meter

Xiao Ba mengepalkan tangan kanannya tanpa mengaktifkan energi Qi sama sekali kali ini karena yang ingin ia uji adalah kekuatan fisik murni dari Tubuh Fana Puncak yang sudah ia asah selama beberapa hari terakhir

Saat kepala Ular Laut Biru berjarak kurang dari dua meter darinya ia membuka kepalan tangannya menjadi tamparan terbuka

PLAK!

Suara tamparan itu bergema di antara dinding tebing seperti petir yang tiba-tiba menyambar di hari cerah

GEDEBUG!

Kepala Ular Laut Biru berputar hampir sembilan puluh derajat akibat tamparan itu di mana inersia yang tercipta membawa seluruh bagian depan tubuhnya melayang ke sisi kiri lalu kepalanya menghantam dinding tebing di sebelahnya dengan keras hingga dinding batu karang itu retak membentuk jaring laba-laba dari titik benturan

Xiao Ba menatap telapak tangannya lalu menatap Ular yang kini terpening dengan kepala masih menempel di dinding tebing retak itu

"Ah," gumamnya "sia-sia semua kekuatan tubuhku tadi kulepaskan karena ternyata binatang ini terlalu lemah untuk menguji kekuatan tubuh sepenuhnya"

Jika Ular Laut Biru itu bisa memahami bahasa manusia mungkin ia akan meradang karena bukan dirinya yang lemah melainkan Xiao Ba yang menampar dengan cara yang tidak masuk akal namun Ular hanya bisa melakukan apa yang bisa ia lakukan di mana ia mengangkat kepalanya yang masih pening untuk memandang ke arah Xiao Ba dengan tatapan yang kini berbeda dari sebelumnya karena kali ini bukan lagi tatapan predator yang menatap mangsa melainkan tatapan sesuatu yang belum bisa ia kategorikan hingga ia mulai bergerak mundur perlahan

"Ular pengecut," kata Xiao Ba ringan "jangan lupa ekormu masih ada di tanganku"

Entah sejak kapan tangan kirinya sudah menggenggam ujung ekor Ular itu dengan erat dan ketika Ular mengerahkan seluruh kekuatan ototnya untuk melarikan diri seluruh tubuh panjangnya justru terseret kembali ke belakang oleh satu tangan pemuda itu

Apa yang terjadi selanjutnya adalah pemandangan paling tidak wajar yang pernah terjadi di kawasan terdalam Tebing Tujuh Roh karena Xiao Ba membanting Ular Laut Biru ke berbagai arah mulai dari ke kiri ke kanan ke atas hingga ke bawah seperti seseorang yang sedang bermain tali skipping namun talinya adalah binatang buas sepanjang delapan puluh meter yang beratnya mungkin mencapai beberapa ton di mana dinding-dinding tebing di sekitar mereka menjadi korban yang retak dan hancur di beberapa bagian setiap kali tubuh Ular dihempaskan ke sana

"Begitu dong jangan cepat menyerah karena kamu itu Ular Laut Biru bukan cacing," kata Xiao Ba sambil tertawa kecil dengan suara yang terdengar benar-benar menikmati situasi ini

Dalam waktu kurang dari satu menit Ular Laut Biru itu akhirnya berhenti bergerak

Xiao Ba melepaskan ekornya lalu membiarkan tubuh panjang itu ambruk membentuk tumpukan spiral di dasar celah tebing

"Sepertinya aku memang harus serius mencari cara meningkatkan kekuatan tubuh ke Tubuh Raja," gumamnya sambil mengeluarkan belati dari pinggangnya "kekuatan tubuh benar-benar luar biasa efektif tapi fondasi yang ada sekarang belum cukup untuk menghadapi lawan yang lebih dari satu sekaligus dalam waktu lama"

Kulit Ular Laut Biru tingkat enam sangat keras hingga bahkan belati biasa tidak bisa mengirisnya tanpa mengalirkan sedikit energi Qi ke bilah senjata itu sehingga ia mulai menguliti dengan sabar lalu menyimpan kulit dan bagian-bagian yang bernilai jual tinggi ke dalam tas penyimpanannya karena di Kota Beira kulit binatang buas tingkat enam bisa dijual dengan harga yang cukup untuk membiayai kultivasi seorang pemuda berbakat selama berbulan-bulan

Hari-hari berikutnya berlalu dalam ritme yang sama di mana pada siang hari Xiao Ba berburu di antara celah-celah Tebing Tujuh Roh mencari binatang buas dari berbagai tingkatan untuk dijadikan batu asahan kekuatannya sementara malam hari ia masuk ke dalam gua-gua yang tersebar di berbagai sisi tebing untuk duduk bersila menghadap laut dan menjalankan Teknik Kultivasi Kaisar Langit hingga fajar tiba

Setiap kali ia mendengar suara pertarungan antara kultivator lain di kejauhan ia memilih rute lain karena kejadian dengan Keluarga Wang sudah cukup baginya untuk tidak mencari konflik yang tidak perlu akibat yang ia butuhkan hanyalah waktu dan ketenangan untuk berkembang

Dalam lima hari itu ia sudah mengalahkan ratusan binatang buas dari berbagai tingkatan di mana beberapa ia biarkan hidup setelah dikalahkan serta beberapa ia ambil bagian tubuhnya untuk dijual atau dikonsumsi karena daging binatang buas dari kawasan Tebing Tujuh Roh terbukti sedikit berbeda dari binatang buas darat biasa akibat mengandung energi campuran dari dua dunia sekaligus yaitu daratan dan lautan yang secara bertahap membantu meningkatkan kekuatan fisiknya

Pada malam keenam ia duduk di dalam gua favoritnya di sisi tebing kelima yang menghadap langsung ke laut lepas untuk menjalankan kultivasinya seperti biasa namun malam itu ada yang berbeda

Energi yang mengalir masuk ke dalam meridiannya terasa jauh lebih deras dari malam-malam sebelumnya bukan karena ia melakukan sesuatu yang berbeda melainkan karena malam itu adalah malam bulan purnama pertama sejak ia tiba di kawasan tebing ini di mana di Tebing Tujuh Roh malam bulan purnama adalah waktu saat energi dari laut dan langit bertemu di satu titik menciptakan kondisi kultivasi yang bahkan para Patriark keluarga besar pun tidak sering mendapatkan kesempatan untuk merasakannya

Energi biru kehijauan dari laut serta putih keperakan dari cahaya bulan yang memantul di permukaan air dan cokelat keemasan dari mineral tebing bersatu memasuki tubuhnya secara bersamaan dengan intensitas yang beberapa kali lipat lebih tinggi dari biasanya hingga Xiao Ba tidak menyadarinya sampai ia merasakan sesuatu meledak di dalam dirinya

BOOM! BOOM! BOOM!

Tiga dentuman bergema di dalam tubuhnya secara berturutan dan ketika ia membuka matanya untuk memeriksa kondisi dalamnya dengan segera posisinya kini telah berada di Alam Pengumpulan Qi Tingkat 8 Menengah

Dari Tingkat 5 Puncak ketika ia pertama kali masuk kini sudah mencapai Tingkat 8 Menengah yang berarti naik tiga tingkat kecil dalam waktu kurang dari sepuluh hari sebagai sebuah pencapaian yang bahkan jika didengar oleh kultivator paling berbakat sekalipun di Kota Beira mereka tidak akan percaya karena di dunia kultivasi naik satu tingkat kecil dalam sebulan sudah layak disebut jenius luar biasa sehingga naik tiga tingkat dalam sepuluh hari telah melampaui semua kategori yang ada

"Lumayan," gumamnya pelan dengan sudut bibirnya yang melengkung "malam bulan purnama di tebing ini benar-benar berbeda"

Fajar ketujuh menyinari Tebing Tujuh Roh dengan cahaya yang memantul dari permukaan laut dan menciptakan kilauan emas di seluruh permukaan batu karang yang basah oleh embun malam sementara Xiao Ba berdiri di mulut guanya menatap ke arah Kota Beira yang terlihat dari ketinggian ini seperti miniatur yang tersusun rapi di lereng Bukit Karang dengan pelabuhan dan dermaga yang mulai ramai oleh aktivitas pagi hari

Kondisinya saat ini adalah Pengumpulan Qi Tingkat 8 Menengah untuk alam kultivasi lalu Pengumpulan Qi Tingkat 9 Awal untuk kekuatan jiwa serta Tubuh Fana Puncak untuk kekuatan fisik yang masih belum berhasil menembus ke Tubuh Raja meski sudah semakin dekat dari sebelumnya

"Saatnya kembali," gumamnya

Ia melangkah keluar dari gua lalu mulai menuruni tebing dengan langkah yang ringan sambil bergerak di antara celah-celah batu karang yang sekarang sudah ia hafal seperti ia menghafal lorong-lorong kediaman Keluarga Xiao

Di pinggiran kawasan Tebing Tujuh Roh beberapa kelompok kultivator terlihat sedang bersiap memasuki kawasan untuk berburu pagi itu dengan membawa peralatan lengkap serta tas penyimpanan besar dan ekspresi yang penuh semangat dari orang-orang yang belum pernah merasakan sendiri betapa berbedanya kawasan terdalam tebing itu dari yang mereka bayangkan sehingga Xiao Ba melewati mereka begitu saja tanpa berhenti

Namun telinganya segera menangkap bisikan-bisikan yang tidak dimaksudkan untuk ia dengar

"Bukankah itu Tuan Muda Xiao? Apa dia dari dalam tebing mencari mati?"

"Beruntung dia bisa keluar dalam keadaan hidup karena mungkin langit masih ingin melihatnya menderita lebih lama"

"Dengar-dengar dantiannya sudah hancur dan tidak bisa berkultivasi lagi lalu apa yang dicarinya di dalam sana?"

"Mungkin mau bunuh diri tapi tidak jadi karena takut"

Tawa-tawa kecil terdengar di antara mereka namun Xiao Ba mendengar semuanya karena indra spiritualnya yang sudah berada di Tingkat 9 Awal memungkinkan ia menangkap bisikan dari jarak yang jauh melampaui kemampuan pendengaran normal manusia meskipun ia tidak berhenti tidak menoleh dan tidak mengubah kecepatan langkahnya

"Belum waktunya memberi mereka pelajaran," gumamnya pelan sambil terus berjalan "biarkan saja mereka meremehkan untuk sementara karena ada waktunya nanti"

Di kediaman Keluarga Xiao sosok Lu Ming sudah berdiri menunggu sejak tadi saat remaja berambut hitam panjang dengan jubah putih yang sedikit kotor oleh debu karang itu memasuki halaman dengan wajah pengawal setia yang campur aduk antara lega dan khawatir sekaligus

"Tuan Muda syukurlah Tuan Muda baik-baik saja karena sudah tujuh hari ini Patriark sangat mengkhawatirkan Anda," ucapnya

Sesuatu yang hangat bergerak di dalam dada Xiao Ba ketika ia menatap Lu Ming sebentar selaku pria setengah baya yang sudah melayani Keluarga Xiao jauh sebelum Xiao Ba lahir yang tetap berdiri dengan setia di depan paviliunnya bahkan ketika semua orang lain di keluarga ini sibuk berbisik tentang masa depan yang tidak ada untuk Tuan Muda mereka

"Kalau begitu aku akan membersihkan diri dulu baru menemui kakek," kata Xiao Ba dengan senyum tipis yang tulus di sudut bibirnya "Paman Lu tidak perlu khawatir"

Lu Ming mengangguk namun matanya terus mengikuti punggung Tuan Mudanya yang melangkah masuk ke dalam paviliun sambil menatap dengan ekspresi yang sulit diartikan karena Tuan Muda memiliki aura yang berbeda dari sebelumnya yang terasa lebih berat serta lebih dalam seperti lautan yang permukaannya tenang namun menyimpan arus yang tidak terbayangkan di bawahnya

Tidak butuh waktu lama setelah membersihkan diri dan berganti mengenakan jubah biru dengan bordir emas tipis di pinggirannya Xiao Ba segera berjalan menuju kawasan terlarang di belakang kediaman Keluarga Xiao hingga di depan pintu batu yang kokoh menghadap ke arah di mana suara Laut Selatan terdengar paling keras ia akhirnya berhenti

"Salam Kakek Xiao Ba datang untuk menemui Kakek," serunya dengan suara yang sengaja diucapkan tanpa mengalirkan energi Qi ke dalamnya

Di dalam terjadi keheningan sesaat sebelum pintu batu itu terbuka perlahan ketika di luar sana angin dari Teluk Beira berembus lembut membawa aroma garam dan kehidupan yang tidak pernah berhenti mengisi Kota Beira sejak zaman nenek moyang

Sepanjang hidupnya hanya ada satu orang yang pernah membuat Xiao Ba menundukkan kepalanya dengan tulus, bukan karena ketakutan , dan bukan karena kewajiban protokol keluarga, melainkan karena rasa hormat dan kasih sayang yang tumbuh dari bertahun-tahun hidup bersama di bawah atap yang sama, di kota yang dibelai angin laut yang sama, serta di bawah langit yang menghadap ke lautan yang sama sehingga ia menekuk punggungnya sedikit saat melangkah masuk

"Kakek sudah menunggu lama"

1
sibaweh abduh
nice thor
Dafa Faiha Roshiq: Terima kasih bossku
total 1 replies
Jerry K-el
bagus ceritanya mengalir,tdk bertele-tele.
pertahankan👌
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
Dafa Faiha Roshiq: done yahhh
total 1 replies
Dafa Faiha Roshiq
teman aku butuh penilaian mu
Dafa Faiha Roshiq
Gimana masih ada yang kurang tidak bro
Dafa Faiha Roshiq
gesss harap dibaca dengan hikmat dan kalo ada kesalahan tulis tolong kasih tau ya🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!