Berlatar di sebuah desa bernama Desa Suka Makmur. Anggap saja salah satu desa di Jawa Barat. Desa dengan beberapa fasilitas yang tersedia, seperti bangunan sekolah dasar, balas desa, puskemas pembantu, posyandu , lapangan sepak bola dan lainnya. Namun dibalik itu desa tersebut menyimpan kisah misteri dan terkenal dengan kemistisan nya. Desa pocong sebutan lain dari nama desa itu. Terdapat pantangan untuk tidak membuka pintu dan jendela di malam hari. Lebih-lebih keluar di waktu malam , apapun alasan nya. Jika melanggar maka siapapun akan terkena musibah. Sebuah teror, celaka , jatuh sakit , bahkan hingga kematian. Namun tak hanya itu , teror lain turut membayangi warga desa. Hingga seorang gadis pendatang baru yang tinggal di salah satu rumah yang terkenal angker berusaha mencari tahu tentang desa itu. Fitri namanya, gadis dengan kemampuan spiritual yang akan membantu warga desa terbebas dari ketakutan nyata teror pocong yang sudah berjalan berpuluh-puluh tahun lamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon qsk sri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali ke Jakarta
Pagi hari,Fitri sudah siap untuk kembali ke Jakarta. Tapi sebelum itu dia pergi dulu ke rumah peninggalan ayah nya. Nina dan Daryo ikut bersamanya.
"Waaahhh....rapih sekali,hebat kalian" Puji Fitri tersenyum puas melihat rumah yang sudah sangat rapih dan bersih.
Para hantu tersenyum bangga atas kerja keras mereka. Fitri mengacungkan jempol nya ke arah para hantu.
"Ok ! Jaga rumah ini tetap bersih seperti ini,jangan ada debu ataupun sampah sedikitpun" Ucap Fitri ," Mengerti ?!" Tambah nya ,para hantu mengangguk kompak.
Di luar Nina dan Daryo menunggu,mereka saling tatap dengan kening berkerut saat mendengar suara Fitri dari dalam rumah.
"Tuh anak ngomong sama siapa ?" Lirih Nina berbisik.
Suaminya tak menjawab,hanya gelengan kepala dan bahu yang terangkat yang menjadi jawabannya.
Tak berselang lama, Fitri kembali." Ini kunci rumah nya bi" Ucapnya seraya menyerahkan kunci rumah itu.
"Gak kamu bawa saja ?" Tanya Nina nampak ragu menerima nya.
"Bibi kenapa ? Takut ya aku mintai tolong buat bersihin rumah nya ?" Tebak Fitri dengan nada bercanda.
Nina terkesiap karena tebakan nya tepat mengenai sasaran." Bibi tenang saja, untuk tugas kebersihan sudah ada yang megang. Aku cuman butuh bibi pegang saja kuncinya. Kalau aku bawa takut hilang di jalan " Fitri menarik lengan Nina lalu memberikan kunci rumah itu tepat di telapak tangan Nina. Namun Nina tetap bersikukuh menolak nya. Dan pada akhirnya Fitri pun membawa kunci rumah nya.
"Memangnya siapa yang sudah kamu mintai bersihin rumah?" Tanya Daryo penasaran.
Fitri tersenyum sambil melirik ke arah jendela membuat Daryo dan Nina merinding melihat nya.
"Pokonya ...ada deh... " Jawab Fitri sambil mengulum senyum.
"Nih anak lama-lama aneh juga. Apa efek buka jendela malam-malam" Lirih batin Nina.
"Ya udah Bi,paman ...ayo... ! " Ucap Fitri pada paman dan bibinya. Mereka pun segera pergi meninggalkan halaman rumah.
"Nanti kamu naik apa ?" Tanya Daryo sambil berjalan membawakan tas jinjing yang berisi makanan ringan dan bekal nasi serta lauknya yang sudah disiapkan Nina tadi. Kata Nina biar nanti pas sudah sampai,keponakan nya itu tidak perlu mencari makanan atau repot masak.
"Biasanya dari desa ini ke pusat kota orang-orang naik apa ? " Tanya Fitri balik. Ia bertanya seperti itu karena selama di sana ia belum pernah melihat angkutan umum selain kendaraan pribadi dan juga motor yang berlalu lalang di jalanan desa.
"Naik ojek, karena kan desa ini terletak paling ujung ,jarang ada kendaraan umum masuk desa ini. Tapi sesekali ada juga angkutan umum tapi cuman lewat gerbang gapura depan. Itu pun gak tiap hari ,entah itu dua hari sekali atau tiga hari sekali. Gak tentu ,nah palingan kalau kebetulan lewat angkutan umum nya, bisa naik angkutan umum itu buat sampai di pusat kota" Terang Nina.
"Gitu ya. Ya udah deh kalau gitu naik ojek saja. Paman dan bibi tau ojek yang ramah anak gadis kaya aku ?" Tanya Fitri sambil mengedipkan matanya.
"Kita lihat saja nanti di depan ,semoga ada " Ucap Nina
Fitri mengangguk,mereka pun segera berjalan menuju perbatasan. Tak jauh dari sana ada pangkalan ojek, namun entah memang kebetulan atau apa,tak ada satupun tukang ojek yang mangkal. Ketika itu sebuah bus yang nampak tak asing datang dan segera berhenti tepat di depan Fitri.
"Itu kan....bus yang waktu itu " Gumam Fitri pelan. Seorang kernet yang sama turun dari dalam bus, melambaikan tangannya meminta Fitri masuk.
"Kenapa ?" Tanya Nina
"Oh,gak kok bi gak apa-apa " jawab Fitri sedikit gugup. Lalu ia meneruskan ucapannya," Kalau gitu aku berangkat dulu ya,bus nya sudah datang gak enak nunggu lama" Ucap nya lalu meraih tangan Nina dan Daryo untuk dia salimi,ia juga meraih tas jinjing yang ditangan Daryo.
" Assalamualaikum...." Ucap nya mengakhiri salam perpisahan mereka.
Daryo dan Nina terdiam beberapa detik,untuk kemudian saling tatap dengan raut wajah bingung.
Sebelum naik ke dalam bus, Fitri menoleh lalu melambaikan tangannya. Di tempat nya Nina dan Daryo menatap aneh. Setelah duduk di kursi nya, Fitri menoleh ke arah jendela dan lagi-lagi melambaikan tangan nya ke arah paman dan bibinya. Setelah itu bus pun mulai melaju dengan kecepatan sedang.
"Aku tadi gak salah denger kan ? Dia bilang bus nya datang ? Abang lihat ada bus ?" Tanya Nina dengan tatapan mata yang terus tertuju ke arah Fitri yang sedang berjalan. Ya,yang dilihat Nina dan Daryo, keponakan mereka itu tengah berjalan lurus dengan sesekali menoleh dan melambaikan tangannya. Tak ada bus yang nampak di penglihatan mereka.
"Ya Tuhan....apa ini ada hubungannya dengan pantangan yang dia larang malam kemarin ? Kalau iya,berati anak itu dalam bahaya. Kita harus mengejar nya " Ucap Daryo mendadak merasa cemas.
"Maksud Abang ....?" Perasaan Nina sudah tak enak. Meski mereka baru dipertemukan sebentar,rasa sayang sudah mereka rasakan terhadap Fitri,apalagi setelah mengetahui jika gadis malang itu yatim piatu bertambah lah rasa iba mereka. Perasaan ingin melindungi kini merayap di hati mereka.
"FITRI....TUNGGU !" Teriak Daryo langsung mengejar diikuti Nina. Namun entah bagaimana caranya,gadis itu sudah tak ada di sana,padahal baru saja mereka lihat Fitri masih berjalan belum terlalu jauh ,jalanan juga lurus tanpa belokan apalagi persimpangan.
"Kemana dia ? Kenapa cepet banget ngilang nya ?" Lirih Daryo dengan nafas tersengal.
Ketika itu Bu Wati alias Bu Wartinah menyapa mereka. Wanita paruh baya itu baru dari warung terlihat dari tentengan yang dia bawa.
"Pagi Bu Nina,... pak Daryo...! Tumben berduaan saja " Sapa nya , namun dari nada bicaranya tersirat sebuah sindiran.
Nina menghela nafas," Bu Wati...tadi Bu Wati lihat keponakan saya jalan di sana gak ? Kira-kira kemana perginya ?" Tanya Nina mengabaikan pertanyaan Bu Wati
Kening Bu Wati berkerut," keponakan yang mana ya ?" Tanya Bu Wati.
"Yang dari kota,perempuan ...cantik,putih. Tingginya kira-kira segini eh,lebih tinggi dikit dari saya " Terang Nina sambil mengangkat telapak tangan nya lebih tinggi dari tinggi tubuhnya.
Bu Wati nampak berpikir sebelum akhirnya mengingat wajah seorang gadis yang pernah ia antar ke rumah Nina.
"Oh,...yang itu" Bu Wati mengangguk ,"Jadi beneran keponakan nya ,saya kira orang salah alamat " Ucap Bu Wati lagi
"Iya,namanya Fitri. Tadi dia bilang bus nya datang tapi kami tidak melihat adanya bus,yang ada dia jalan kaki" Ujar Nina dengan guratan cemas nampak jelas di wajahnya.
"Gadis itu memang aneh, saat datang waktu itu juga dia bilang nya naik bus , tapi pada kenyataannya dia datang jalan kaki " Ucap Bu Wati.
Nina dan Daryo sontak terdiam," Jadi dari awal dia memang sudah aneh " Lirih Nina dengan tatapan kosong.
Sementara itu,di dalam bus Fitri tertidur. Tidur yang benar-benar pulas,padahal di samping nya si nenek yang waktu itu memberikan makanan sudah memperingatkan nya untuk tidak tidur. Tetapi rasa kantuknya benar-benar tidak bisa ditahan lagi.
"Jangan tidur nduk...biar bisa sampai ditempat tujuan " Ucap si nenek justru terdengar seperti sebuah simfoni yang mengantarkan Fitri dalam tidur lelap nya.
Sosok nenek itu tak lagi bicara setelah melihat Fitri tertidur. Dan dalam waktu sekejap nenek itu lenyap, para penumpang lenyap,kernet,supir dan bahkan bus pun seketika lenyap begitu saja.
Fitri terperanjat saat pipinya terasa panas dan kebas. Gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya, menatap wajah-wajah asing yang kini menatap dan mengerubunginya.
"Eh,...dia sadar !"
"Coba tanya siapa namanya !" Suara bisik-bisik terdengar samar ditelinga Fitri.
"Kalian siapa ?" Tanya Fitri menatap bingung,dia juga memperhatikan sekitarnya.
"Ini....dimana ?" Tanya nya bingung.
.....