NovelToon NovelToon
Sebait Doa, Sekeping Asa

Sebait Doa, Sekeping Asa

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:848
Nilai: 5
Nama Author: Alvinoor

"Tuhan!, tidak banyak yang ku pinta, hanya kuatkan hati ku, bimbing langkahku, agar aku selalu sabar dan ikhlas dengan semua kehendak dan ketentuan mu ini".

Kisah perjuangan hidup seorang anak manusia, seorang remaja miskin, putra dari seorang penderita odgj bernama Kaenan.

Hinaan, caci maki, fitnah dan perundungan bahkan kekerasan fisik, sudah menjadi lauk makan sehari hari.

Meskipun hidup dalam kemiskinan dan tak punya siapa siapa, satu hal yang masih di yakini Kaenan, dia masih punya Allah dan doa doa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvinoor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Tidak seperti biasa nya, jika dia pulang dari pondok, ibu nya sudah tidur dengan pakaian lusuh nya. Tapi malam ini, wanita ini nampak bersih, sudah mandi, dengan rambut di sisir rapi serta mengenakan pakaian yang di belikan Kaenan dulu.

Wanita itu nampak masih duduk di dalam pondok nya, menantikan kedatangan Kaenan.

Kaenan tersenyum melihat tubuh ibu nya bersih, rambut di sisir rapi, serta kuku kuku nya yang sudah di potong. Tidak tampak jika ibunya wanita pengidap gangguan jiwa.

Kaenan duduk disamping ibu nya, memeluk wanita itu erat.

"Ibu belum tidur bu?" tanya Kaenan mencium pipi wanita itu.

Bu Limah tersenyum memeluk tubuh Kaenan erat, berusaha membuat Isak tangis nya tidak terdengar.

"Ibu menunggu Kae datang, ibu kangen Kae, sini ibu peluk" ujar wanita itu menarik tubuh Kaenan agar berbaring berbantalkan paha nya.

"Kae!, Kae tahu jika ibu sangat sayang sama Kae, Kae harapan ibu satu satu nya, jadilah laki-laki hebat, laki-laki yang berguna, maaf jika selama ini ibu tidak bisa mendampingi Kae, tapi percayalah, ibu sangat menyayangi Kae" ucap Bu Limah sambil membelai rambut Kaenan.

Malam itu, hati Kaenan benar benar bahagia, kewarasan ibu nya telah kembali, entah apa yang telah terjadi yang menyebabkan semua itu.

"Bu!, Kae sayang ibu, apapun adanya ibu, ibu adalah ibu ku, satu satunya harta yang Kae miliki, jangan tinggalkan Kae ya bu" Kae memeluk tangan ibu nya.

Malam itu Kaenan tidur beralaskan kardus dengan pulas di dalam pelukan ibu nya.

Baru kali ini Kaenan merasa kebahagiaan yang luar biasa membuncah di dalam dada nya.

Keesokan hari nya, Kaenan pergi ke sekolah tidak terlalu terburu buru seperti hari hari biasa nya, karena ujian telah selesai, dan hari hari hanya di isi dengan persiapan perpisahan.

Disekolah, Kaenan tidak lagi sendirian tapi berdua dengan Syarif.

"Kae!, rencana mu setelah lulus mau kemana?" tanya Syarif satu ketika saat kedua nya duduk di samping gedung sekolah.

"Aku tidak tahu Rif!, mungkin kerja saja, orang seperti kita, mana mampu punya cita cita, cukup bisa makan sudah Alhamdulillah" sahut Kaenan.

"Kau sangat dewasa dalam berpikir Kae, mungkin karena tempaan berbagai beban kehidupan yang memaksa kita harus dewasa sebelum waktunya, iya kan?" ....

"Ya kau benar Rif, tapi beberapa hari ini, aku sangat bahagia sekali" ujar Kaenan tersenyum lepas, tanpa beban.

"Iya kah?, pasal apa?" ....

"Kau tahukan penyakit ibu ku?" ....

"Tahu!" ....

"Nah!, tiba-tiba dalam beberapa hari ini, ibuku menjadi waras kembali dengan sendiri nya, aku tidak mengerti Rif, mungkin inilah keajaiban Allah, konon ibuku bermasalah dengan otak nya semenjak ayah ku kecelakaan sewaktu aku kecil" ....

"Syukur lah Kae, aku turut bahagia mendengar nya, jika kau mau, kau bisa tinggal di pondok ku, aku hanya tinggal sendirian juga Kae" ajak Syarif.

"Terimakasih Rif, aku baru memiliki sahabat sekarang ini, dahulu aku selalu dikucilkan, di bully!" ....

"Bukan salah kita Kae, hanya saja kita berada pada tempat dan waktu yang salah, itu saja" sahut Syarif.

Akhirnya, tibalah waktu pengumuman kelulusan para siswa.

Dan tanpa di duga duga, Kaenan mendapatkan rangking satu, di susul oleh Syarif di rangking kedua, sedangkan perpisahan dilakukan tiga hari lagi.

Sambil berlari, Kaenan pulang, ingin memberitahukan ke lulusan nya kepada sang ibu.

Namun tanpa disadari nya, didekat TPS, sebuah mobil putih menunggu nya.

Saat melihat Kaenan berlari lari di kejauhan, mobil putih itu buru buru tancap gas.

Jalan arah ke TPS ini kebetulan jarang dilewati orang, kecuali truk sampah.

Beberapa meter lagi mobil itu menghantam tubuh Kaenan, saat tiba-tiba dari semak semak arah perkampungan pemulung, muncul seorang wanita berlari menyongsong mobil berwarna putih itu.

"Bruak!" ....

Mobil berwarna putih itu menabrak wanita itu sebelum kembali menabrak Kaenan.

Tubuh kedua nya terpental beberapa meter, dengan pakaian yang sobek, menampakan dada Kaenan yang luka luka.

Dari dalam mobil, muncul satu orang pria muda tersenyum puas, mengeluarkan handphone nya, dan mengambil photo Kaenan yang terlentang bermandi darah di atas jalan tak beraspal.

Sambil tertawa gelak, pria itu mengirimkan photo itu ke pada seseorang.

Di SMA Mahatama, Jhonatan tertawa terbahak bahak menerima kiriman photo dari seseorang.

Lalu dengan langkah setengah berlari, dia mencari Syafea dan memperlihatkan hasil kerja orang suruhan nya.

"Ha, ha, ha, ha!, si sampah itu sudah tamat, lihatlah!" ujar Jhonatan bangga.

Syafea terpaku menatap kearah photo yang diperlihatkan Jhonatan tadi.

Tiba-tiba jantung nya seolah berhenti berdetak, saat melihat tubuh Kaenan terbaring terlentang dengan pakaian yang sudah koyak semua. Tidak jauh dari tempat itu, terlihat tubuh Bu Limah tergolek dengan tubuh yang nyaris terlipat dua.

"To… Tolong kirim ke pada ku jhon!" ujar Syafea.

Dengan rasa bangga luar biasa, Jhonatan mengirimkan photo itu ke handphone Syafea.

Setelah mengamati photo itu, tanpa berbicara lagi, Syafea berlari kearah mobil nya di parkiran, lalu memacu benda itu arah ke TPS tempat gubuk Kaenan berada.

Namun di tempat itu, sudah tidak ada apa apa lagi, hanya ceceran darah memenuhi jalan tak beraspal.

Dengan wajah panik luar biasa, Syafea masuk kedalam mobil nya, lalu memacu benda itu kembali arah kedalam kota.

Sementara itu, Dirumah Kiai Nuruddin, nampak Kiai sedang berbincang bincang dengan istri dan putri nya Aisyah, tentang ibu nya Kaenan yang tiba-tiba sembuh tanpa sebab itu.

Tiba-tiba handphone Aisyah bergetar, panggilan dari handphone Kaenan.

"Assalamualaikum, ada apa adik?" tanya Aisyah lembut sebagai mana biasa nya.

"Maaf mbak, apa saya bicara dengan Aisyah?" tanya seseorang dari seberang sana.

Jantung Aisyah tiba-tiba berdetak kencang, firasat buruk menghantui nya.

"Ya benar, ada apa ya?, bapak siapa?" tanya dara itu mulai gelisah.

"Saya Nursalim dari kepolisian, kami menemukan seorang remaja dan seorang ibu tergolek dijalan dekat TPS, dari pemeriksaan, kami menemukan sebuah handphone dan ada nomor mbak, sekarang kedua nya di Rumah Sakit Bhayangkara" tegas suara itu.

"Klontang!" ....

Handphone ditangan Aisyah jatuh begitu saja dari genggaman tangan nya, tubuh nya tiba-tiba limbung, untung ummi Nazeha buru buru merangkul tubuh sang putri.

"Ayi!, ayi!, ada apa nak?, apa yang terjadi sayang?" tanya ummi Nazeha menangis sambil memeluk tubuh sang putri.

Kiai Nuruddin mencoba mengambil handphone Aisyah yang jatuh di lantai dan menghidupkan nya lagi.

Tapi karena benturan itu cukup keras, sehingga seluruh layar handphone itu hancur dan tidak bisa di hidupkan lagi.

"Mi!, tolong ambil minyak angin di dalam!" ujar Kiai Nuruddin mencoba berzikir dengan melafazkan nama Allah berulang ulang kali.

Setelah kiai menggosokkan minyak angin ke hidung dan tengkuk Aisyah, barulah gadis itu membuka mata nya.

"Kae!… Kae… Kae Abi, kae!" hanya itu yang mampu diucapkan dara cantik itu, tangis nya terdengar memilukan.

"Iya nak!, ada apa dengan Kae, coba jelaskan kepada abi" Kiai Nuruddin berusaha menenangkan putri nya.

Ummi Nazeha membawakan segelas air putih, untuk menenangkan Aisyah yang masih menangis sesegukan.

"Kae kecelakaan, sekarang di Rumah Sakit Bhayangkara bi" tangis Aisyah pecah.

Kini ummi Nazeha turut menangis juga, melihat sang putri menangis.

Kiai Nuruddin berulang kali melafazkan nama Allah, untuk menenangkan hati nya.

"Inna lillahi wa Ina ilaihi Raji'un, laa haula wala kuwwata Illa billahil aliyil azim, tenangkan diri kalian, kita segera ke Rumah Sakit, bersabarlah, ini sudah jalan dari sang maha kuasa, kita hanya bisa pasrah, ikhlas dan ridha" ujar Kiai Nuruddin bergegas masuk kedalam rumah mengambil kunci mobil.

Beberapa saat kemudian, ketiga orang telah sampai ke Rumah Sakit Bhayangkara, setelah bertanya kepada petugas, mereka dibawa ke ruang unit gawat darurat.

Tidak ada kata kata yang terucap dari ketiga orang ini, Aisyah dan ummi Nazeha masih menangis sambil berpelukan, saling menguatkan.

Setelah lebih dari satu jam, pintu ruang gawat darurat pun terbuka, seorang dokter keluar dengan wajah kelelahan.

"Dok!, bagai mana keadaan nya?" tanya Kiai Nuruddin.

Sebelum berbicara, dokter itu terlebih dahulu menarik nafasnya dalam dalam, ada kabut kepedihan diwajah dokter itu.

"Kami sudah berusaha semampu kami pak!, tapi apa daya kami, kami hanya manusia juga yang punya keterbatasan, kita berusaha, sang maha kuasa yang menentukan" ucap dokter itu.

"Ya Allah!" ....

Setelah berucap itu, tubuh Aisyah limbung, tumbang ke dalam pelukan ummi nya.

Beberapa orang petugas membawa Brankar, dan tubuh Aisyah dinaikan keatas Brankar, lalu di dorong ke ruang perawatan di ikuti oleh ummi Nazeha. Sementara itu, Kiai Nuruddin sedang berbicara dengan dokter tadi.

Dari arah luar Rumah Sakit, seorang dara cantik berlari tersengal sengal menuju meja Resepsionis.

"Bu! Ada pasien kecelakaan yang masuk ke Rumah Sakit ini kah?" tanya dara itu sambil tersengal sengal.

Wanita petugas resepsionis itu memeriksa komputer nya beberapa saat.

"Ada dik, masih dalam penanganan di ruang UGD" jawab wanita petugas resepsionis itu.

Tanpa menunggu petugas itu selesai berbicara, gadis itu sudah berlari ke arah ruang unit gawat darurat.

Di depan ruang UGD, terlihat Kiai Nuruddin masih berbicara dengan seorang dokter.

"Adik mencari siapa?" tanya dokter itu.

"Benarkah disini dirawat pasien kecelakaan yang terjadi baru baru ini di dekat TPS tanya gadis itu.

"Benar sekali, adik siapa nya ya?" dokter itu balas bertanya.

"Sa… saya teman sekolah nya dok!" sahut gadis itu lagi.

"Oooh, maaf salah seorang tidak bisa kami selamatkan, luka nya terlalu parah, dia meninggal di tempat" ujar dokter itu lagi.

Gadis itu tertunduk, wajah nya pucat pasi.

"Bisakah saya melihat nya?" tanya gadis itu.

"Bersabarlah, mungkin beberapa saat lagi" jawab dokter itu sambil mohon diri kembali ke ruangan nya.

Tidak seberapa lama, sebuah Brankar keluar dengan seseorang yang di tutupi dengan kain putih, di bawa ke ruang jenazah.

Gadis cantik itu duduk diatas kursi tunggu dengan wajah pucat pasi dan tubuh nya yang gemetaran.

Berulang ulang dia menarik nafasnya dalam-dalam, seolah ingin mengenyahkan kegundahan hati nya.

"Bukankah Kaenan tidak memiliki seorang teman pun di sekolah?" tanya Kiai Nuruddin menatap gadis cantik itu.

"I… iya, eh ti… tidak!" jawab gadis itu.

...****************...

1
Was pray
langkahmu masih panjang kae ! tapi semua harus dirajut sejak dini, sepotong baju butuh beberapa proses untuk mewujudkannya, mulai dari seirat dipintal menjadi benang, benang ditenun menjadi kain baru kain dijahit menjadi baju, jadi semua butuh ikhtiar untuk mewujudkannya, berdoa tanpa usaha berarti pemalas, berusaha tanpa doa berarti sombong, jadi ikhtiar dan doa harus berjalan beriringan, benang tak akan jadi baju jika hanya diam tanpa mau dirajut demikian juga cinta dan cita2 kae
Hentri Gunawan
bagus dan buat pelajaran
Was pray
kapan kaenan mau hidup damai? waktu miskin diinjak injak oleh ortunya sendiri, setelah diketahui kae anak orang kaya bukan makin tenang hidup kae malah tambah runyam, diperalat oleh keluarga ortunya demi harta
Was pray
harta adalah fitnah yg mempirak porandakan segalanya, harta bisa menjadi barokah tapi juga gak laknat jika ditangan yg serakah
Was pray
memaafkan belum tentu harus menerima kehadirannya kyai! takdir anak dan orangtua kandung memang tidak bisa diubah kyai, mengakui tidak harus menerima, durhaka itu jika si anak gak mau mengakui kalau dia orangtuanya kemudian berbuat dholim kepadanya , tidak berbakti terhadap kedua orangtuanya yg Sholeh/Sholehah, juga jika kamu diposisi kaenan apakah yg kau katakan sanggup kau lakukan kyai Nurudin? ceramah itu mudah melaksanakan apa yg diceramahkan itu yg belum tentu bisa
Was pray
kelurga pak Irfan yg waras akal budinya cuma Bu shanty, pak Irfan hanya kebetulan darahnya mengalir di tubuh kaenan, syafea bukan kakak kaenan hanya takdir yg membuat keduanya terpaksa lahir dari ibu dan bapak yg sama, orang2 seperti gak pantas dapat gelar ayah dan kakak kandung, luka hati dan penderitaan yg disebabkan oleh sosok orang yg terpasang berkedudukan jadi ayah dan kakak kandung lebih dalam lukanya dan tak kan hilang selamanya , pak Irfan syafea lebih rendah dari binang babi yg najis dan haram
Was pray
nasib tragis tahfid. Al-Qur'an , hilang dari orangtuanya sampai2 ortunya gak nyadar, biasanya ortu akan ada ikatan batin dengan anak kandungnya sendiri,ini ortu apaan sih pak Irfan itu?disiksa ortu dan kakak kandung sendiri. cek cek cerita tragis bagi umat muslim yg taat beibadah
Was pray
yah MC nya lemah .. apagunya IQ tinggi tapi gak ada nyali untuk membela diri, umat Islam memang diajarkan untuk selalu welas asih terhadap sesama, mengalah demi kebaikan tapi ya jangan keterlaluan dengan pasrah menerima nasib ketika dilecehkan dan direndahkan oleh orang tanpa sedikitpun membela diri, lama2 mati konyol tuh kaenan, miskin harta gak apa2 tapi Islam tetap mengajarkan umatnya untuk membela diri jika itu sudah melati batas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!