Haikal yang sebelumnya impotent tiba-tiba menjadi pria normal saat bertemu Laura...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Call Me Nunna_Re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Perdebatan itu berakhir tanpa pemenang.
Kata-kata Gita masih terngiang di telinga Haikal saat ia keluar dari kamar dengan langkah berat. Pintu ditutupnya pelan, seolah takut suara itu akan memperpanjang konflik yang sudah membuat dadanya sesak. Ia mengusap wajah, menarik napas panjang, lalu memutuskan turun ke dapur.
Aku butuh kopi, pikirnya. Atau apa pun yang bisa menenangkan. Haikal tidak habis pikir dengan apa yang telah ada di dalam pikiran istrinya itu,padahal sedari awal Sagita lah yang meminta Haikal untuk mencari orang untuk mengurusi semua keperluan nya,lalu kenapa justru sekarang diaa merasa terancam.
"Dasar perempuan aneh. Dia saja bisa menghabiskan malam dengan laki-laki lain. Kenapa masalah Laura dia malah merasa seolah-olah aku penjahatnya." Gumam Haikal.
Ia melangkah menyusuri lorong menuju kamar belakang tempat Laura biasa beristirahat. Namun sebelum sampai, langkahnya terhenti. Ada suara samar dari dalam kamar Laura. Bukan suara orang berbicara, melainkan desahan napas yang tidak beraturan, teredam, seperti seseorang yang sedang menahan emosi kuat.
Haikal mengerutkan kening.
"Suara apa itu?, Apakah ada orang lain di kamar Laura?"
Pikiran itu langsung membuat dadanya mengeras.
Ia mendekat perlahan, berhati-hati agar langkahnya tidak terdengar. Pintu kamar Laura tidak tertutup rapat hanya menyisakan celah tipis. Dari celah itu, cahaya lampu kamar merembes keluar.
Haikal tampak ragu.
Ini wilayah yang seharusnya tidak ia masuki. Namun rasa penasaran dan kekhawatiran mengalahkan pertimbangannya. Ia mendekatkan wajahnya, cukup untuk melihat ke dalam. Yang ia lihat membuatnya membeku.
Laura sendirian.
Ia berdiri di depan cermin, membelakanginya. Bahunya naik turun oleh napas yang berat. Tangannya tengah mer emas gundu kan kenyal miliknya, sedangkan tangan yang satu lagi tengah berada di me-mew nya. Tidak ada orang lain. Tidak ada tamu. Hanya Laura dikamar itu, larut dalam pergulatan yang tak ia sadari sedang disaksikan oleh Haikal.
Glek...
"A-apa yang dia lakukan?." Gumam Haikal sementara mantanya masih menatap tubuh Laura.
Haikal tersentak mundur.
Jantungnya berdetak keras. Bukan karena apa yang ia lihat secara fisik, melainkan karena makna di baliknya. Ia tiba-tiba merasa telah melanggar batas yang sangat pribadi batas yang tidak seharusnya ia sentuh.
Namun pada saat yang sama, ia tidak bisa menyangkal reaksi tubuhnya sendiri. Ada ketegangan yang muncul, naluri yang bangkit tanpa ia undang. Haikal mengepalkan tangan, menahan diri, menelan ludah dengan susah payah.
"Ini salah," batinnya.
"Sangat salah."
Laura yang menyadari kehadiran Haikal pun tersenyum miring. Dengan gerakan yang penuh sen sual, ia mulai mele paskan gaun tidur nya hingga gaun tipis berbahan satin itu terjatuh di lantai. Dengan jelas Haikal bisa melihat betapa besar dan Indahnya gundukan milik Laura dari pantulan kaca. Apalagi suara de sahan Laura yang semakin jelas. Haikal menegang, pikiran dan tubuhnya tidak bisa di sinkron. Tubuhnya ingin melangkah pergi dan mengabaikan apa yang baru saja di lihatnya, tapi otaknya berkata lain.
"Besar sekali, pasti tidak muat dengan genggaman tangan ku, rasanya pasti lembut dan kenyal. Boba nya pasti manis saat aku ji lat dan hisap." Pikir Haikal sedangkan Jojo Haikal sudah berdiri tegak menantang, siap untuk berperang.
"Ah....pak Haikal..... Re mas dan hi sap kuat pak...hmmmm enaaak sekali.." racau Laura membuat Haikal terperanjat.
"Dia...dia...barusan menyebut nama ku?, apa aku gak salah dengar. Dia menjadikan aku fantasinya?" Batin Haikal tak percaya.
"Aaaaa Pak Haikal...geli pak... Jangan digigit." De sah Laura semakin menjadi-jadi.
"Hhmmm... Pengen jilat Jojo nya pak Haikal yang besar itu...ahhh...pasti gak muat di me meww aku.." lanjut Laura yang membuat Haikal semakin terpancing, apa lagi Laura memainkan jarinya di memewww miliknya semakin Agresif dan lenguhan panjang pun terdengar tanda pelepasan. Dada Laura tampak naik turun seiring dengan dengan nafasnya yang tersengal-sengal. Laura merasa sangat puas karena ia yakin Haikal pasti menyaksikan semua nya. Sejujurnya Laura tadi sempat mengintip saat Haikal dan Gita berdebat di dalam kamar. Dan Laura pun yakin jika Haikal nantinya akan ke dapur untuk mengambil minum dan sebuah ide licik pun muncul di kepala nya. Dan ya... Dia berhasil membuat Haikal kebakaran jenggot.
Ia melangkah mundur, menjauh dari pintu itu, kembali ke lorong dengan langkah tergesa namun tertahan. Kepalanya penuh. Dadanya sesak. Malam itu, bukan hanya pertengkaran dengan Gita yang membuatnya goyah melainkan kenyataan bahwa godaan kini berdiri terlalu dekat, terlalu nyata.
Di balik pintu kamar, Laura akhirnya duduk di tepi ranjang, memejamkan mata, ia tahu bahwa keheningannya barusan telah mengubah sesuatu di luar sana.
Dan Haikal masuk kedalam ruang kerja nya dan mengunci pintu rapat-rapat.
Ia duduk di kursi kerja nya dan memejamkan matanya sembari mengatur nafas. Bayangan tu buh Laura kembali melintas di pelupuk matanya. Tubuh yang indah, kulit seputih susu, punggung yang mulus, lekuk yang indah bak gitar spanyol, bo kong yang sintal dan padat. Duo melon jumbo yang menggantung indah siap untuk di re mas dan di hisap dengan kuat.
"Arggh!!! Sial... Kenapa aku jadi sangek an gini." Racau nya frustasi.
Tatapan Haikal pun tertuju pada Jojo yang sudah mengeras di balik jubah mandi nya. Haikal pun memejamkan mata nya, menjadikan Laura fantasi nya sembari mengusap jojo nya dengan perlahan. Gerakan maju mundur membuat Haikal men desah dan mengerang Ken ikamatan yang sulit ia bayangkan selama ini.
"Laura...kamu sexy sekali.. saya ingin menjelajahi setiap inci tu buh itu tanpa melewatkan nya sedikitpun."
"Ahh... Enak sekali Laura.. kamu hebat, ah.... Ayo terus Laura, yang kuat kenyot nya.. yes...seperti itu baby." Racau Haikal dalam fantasi Liar nya.
Sementara itu di kamar Sagita yang merasa kesal pun menelpon kekasih gelapnya yaitu Reza, dan menceritakan semua uneg uneg nya di mana Reza selama ini selalu menjadi pendengar yang baik bagi Sagita.
"Sabar Baby, kenapa kamu kesal gitu hanya karena pembokat. Ini bukan seperti Sagita yang aku kenal." Ucap Reza di balik benda pipih itu.
"Gimana aku mau sabar sayang, tu pembokat bersikap seolah-olah dia manguasai rumah ini. Dia bersikap seolah-olah hanya dia dirumah ini." Adu Gita.
"Apa maksud kamu?."
"Dia terang-terangan berusaha menarik perhatian Haikal dengan berpakaian minim dan tipis."
"Trus Masalahnya dimana?."
"Tentu saja aku kesal, aku gak suka."
"Kamu cemburu?." Tebak Reza.
"Aku..cemburu...cih!! Ngawur kamu Za." Bantah Gita.
"Trus kalau gak cemburu kenapa kamu kek cemas gitu?."
"Aku gak cemas, aku hanya risih aja."
"Kamu takut Haikal tergoda?,"
"Ya gak gitu..."
"Kamu aneh baby, dengan kemolekan tubuh kamu aja, Otong nya 5L, apa lagi hanya pembokat. Bukankah kamu bilang dia gak normal?."
"Iya juga sih."
"Udah lah jangan pikirin itu. Mending sekarang kamu kesini. Aku tiba-tiba pengen jilat si itil." Goda Reza yang membuat Gita terpancing.
"Otw sayang."
"Oke Baby... Segera ya. Aku udah gak tahan." Bisik Reza sebelum menutup panggilan itu.