Di sekolah elit yang dipenuhi anak pejabat dan keluarga terpandang, Leon Knight de Arther dikenal sebagai murid paling tenang sekaligus paling sulit didekati. Tatapannya dingin, hidupnya sempurna, dan tak seorang pun berani mencari masalah dengannya.
Namun tidak ada yang tahu bahwa di balik seragam putih dan sikap tenangnya, Leon adalah putra kedua dari keluarga mafia paling berpengaruh di kota.
Sebagai putra kedua, Leon hidup di bawah bayang-bayang keluarganya sendiri. Ia tidak pernah benar-benar dianggap, tetapi juga tidak pernah bisa bebas dari dunia gelap yang diwariskan kepadanya. Hingga kedatangan seorang siswi pindahan mengubah segalanya.
Rachael Velencia.
Gadis itu berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Leon. Rachael tidak takut padanya, tidak peduli pada rumor tentang dirinya, dan perlahan masuk ke hidup Leon yang selama ini dipenuhi kekosongan.
Untuk pertama kalinya, Leon mulai merasakan kehidupan normal yang selalu ia inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zehn hart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10 - Menang Tanpa Bahagia
Hari-hari berikutnya berjalan aneh.
Bukan hanya bagi Leon. Tapi juga bagi semua orang yang mengenal Rachael.
Karena sejak hari itu, Rachael benar-benar berubah.
Ia mulai datang lebih pagi ke sekolah lalu langsung duduk sendiri sambil memakai earphone.
Saat jam istirahat, ia lebih sering pergi ke perpustakaan atau duduk sendirian di tangga belakang gedung sekolah.
Dan setiap kali seseorang mencoba mengajaknya bicara— Rachael selalu menjawab seperlunya sebelum kembali diam.
Bahkan Selina mulai kesulitan mendekatinya. “Aku takut dia kenapa-kenapa...” bisik Selina pelan suatu siang.
Axel yang duduk di atas meja hanya menghela napas berat. “Dia nutup diri total sekarang.”
Leon diam sejak tadi dan tatapannya tertuju ke arah kursi Rachael yang kosong karena gadis itu kembali pergi entah ke mana saat jam istirahat.
Dadanya terasa semakin berat setiap hari.
Karena ia sadar—semua ini dimulai sejak dirinya memilih menjauh. Dan sekarang Rachael bukan hanya menjauh darinya, tetapi dari semua orang.
Beberapa hari kemudian, lomba basket antarkelas akhirnya dimulai.
Suasana sekolah berubah jauh lebih ramai dibanding biasanya.
Spanduk kelas tergantung di berbagai sudut lapangan.
Sorakan murid terdengar keras sejak pagi. Dan seperti yang diperkirakan semua orang, kelas XI-A menjadi tim favorit.
Karena mereka punya Leon dan juga Rachael. Namun meskipun berada di tim yang sama, hubungan keduanya tetap terasa dingin.
Mereka bicara seperlunya, hanya soal permainan, tidak lebih.
“Rachael kiri!”
“Oper!”
“Defense!”
Hanya kalimat-kalimat pendek seperti itu.
Tidak ada candaan kecil.
Tidak ada tatapan lama.
Tidak ada senyum samar seperti dulu.
Dan seluruh tim bisa merasakan suasana aneh itu.
Babak final berlangsung sangat panas.
Sorakan penonton memenuhi seluruh gedung olahraga sekolah. “11-A! 11-A! 11-A!”
Peluh membasahi pelipis Rachael saat ia menggiring bola cepat melewati dua pemain lawan.
Gerakannya tetap tajam. Cepat dan fokus.
Namun wajahnya terlihat jauh lebih dingin sekarang.
Seolah dirinya hanya bermain karena harus.
Leon berdiri di sisi kanan lapangan sambil memperhatikan pergerakan Rachael.
Seperti biasanya, mereka masih terlalu sinkron satu sama lain.
Tanpa perlu bicara.
Tanpa perlu melihat.
Rachael mengoper bola tepat saat Leon bergerak maju. Leon menangkapnya mulus lalu melakukan shoot tiga poin.
MASUK.
Sorakan penonton langsung meledak.
“GILAAA!”
“KEREN BANGET!”
Axel sampai berdiri dari bangku cadangan sambil berteriak heboh.
Namun di tengah semua sorakan itu, Leon justru langsung menoleh ke arah Rachael.
Dan dadanya kembali terasa sesak, karena Rachael bahkan tidak melihatnya setelah poin itu masuk.
Gadis itu langsung berbalik dan kembali fokus ke permainan seolah Leon hanyalah rekan tim biasa.
Peluit panjang akhirnya berbunyi.
“PERTANDINGAN SELESAI!”
“XI-A MENANG!”
Seluruh gedung olahraga langsung dipenuhi teriakan kemenangan. Murid-murid XI-A berlari ke lapangan sambil bersorak heboh.
Beberapa langsung memeluk satu sama lain.
Axel bahkan hampir menjatuhkan botol minumnya sendiri karena terlalu semangat.
“JUARA SATU WOI!”
Selina tertawa sambil memeluk teman-temannya.
Semua orang terlihat bahagia. Semua orang, kecuali Rachael.
Gadis itu hanya berdiri sambil mengatur napas pelan. Wajahnya tetap tenang, tapi tidak ada senyum lebar, tidak ada ekspresi bangga.
Padahal biasanya kemenangan seperti ini akan membuat seluruh tim sangat bersemangat.
Leon memperhatikannya diam-diam.
Pelatih berjalan mendekat sambil tertawa puas.
“Kalian keren banget hari ini!”
Semua murid bersorak lagi.
Namun Rachael justru perlahan mundur dari kerumunan. Pergi diam-diam, seolah ingin menghilang.
Selina yang melihat itu langsung memanggil, “Rachael! Foto bareng dulu!”
Langkah Rachael berhenti sebentar.
Semua orang mulai berkumpul di tengah lapangan.
Tetapi beberapa detik kemudian— Rachael hanya menggeleng kecil. “Maaf... aku mau keluar dulu.”
Dan sebelum siapa pun sempat menahan, Rachael sudah berjalan pergi meninggalkan lapangan.
Sorakan kemenangan masih terdengar di belakangnya.
Namun semakin jauh ia berjalan... semuanya terasa semakin samar. Kepalanya pusing, berisik suara orang-orang. Semua terasa menusuk pikirannya.
Ia terus berjalan cepat melewati koridor belakang sekolah sampai akhirnya berhenti di tangga darurat yang sepi.
Hening.
Akhirnya hening.
Rachael langsung duduk pelan di anak tangga sambil menundukkan kepala. Tangannya sedikit gemetar, dadanya sesak.
Entah kenapa, meskipun timnya baru saja menang,
dirinya justru merasa semakin sendirian.
Sementara itu di dalam gedung olahraga, suasana mulai berubah canggung saat semua orang sadar satu orang tidak ada di sana.
“Rachael mana?” tanya salah satu murid.
Selina langsung terlihat khawatir. “Aku cari dia tadi tapi udah nggak ada.”
Axel menoleh cepat ke arah Leon.
Leon yang sejak tadi diam, akhirnya langsung berjalan keluar tanpa mengatakan apa pun.
Sekarang ia mulai sadar satu hal yang paling menakutkan. Rachael bukan sedang marah lagi.
Ia perlahan kembali menjadi seseorang yang menutup dirinya dari dunia.
...----------------...
Koridor belakang sekolah terasa jauh lebih sunyi dibanding gedung olahraga yang masih dipenuhi sorakan kemenangan.
Suara musik, tawa, dan teriakan murid hanya terdengar samar dari kejauhan.
Sementara itu, Axel berjalan cepat menyusuri lorong sambil sesekali melihat ke kanan dan kiri.
Ia tahu ada yang salah, dan bukan kesalahan kecil.
Rachael benar-benar berubah beberapa hari terakhir.
Bukan sekadar menjaga jarak, tetapi seperti... menghilang perlahan.
Ia menjauh dari semua orang. Dari Selena, Axel dan terlebih lagi dari Leon.
Axel mulai merasa situasi ini jauh lebih serius daripada yang mereka kira.
“Ayo dong, Rachel...” gumamnya pelan sambil mengusap tengkuk.
Ia terus berjalan sampai akhirnya melihat pintu tangga darurat belakang sedikit terbuka.
Langkah Axel langsung melambat. Dan saat ia membuka pintu pelan— ia langsung menemukan Rachael duduk sendirian di anak tangga paling tengah.
Kepalanya tertunduk. Earphone masih terpasang di telinganya. Sementara satu tangannya memegang permen lollipop yang belum dibuka.
Axel langsung diam beberapa detik. Karena pemandangan itu terasa... sepi.
Rachael yang biasanya meski pendiam tetap punya aura hangat... sekarang terlihat seperti sedang berusaha menghilang dari dunia.
Axel berjalan mendekat perlahan. “Jadi di sini.”
Rachael sedikit tersentak lalu buru-buru melepas salah satu earphone. “Oh... kamu.” Nada suaranya datar.
Axel duduk beberapa anak tangga di bawah Rachael tanpa memaksa terlalu dekat. “Kamu kabur pas foto kemenangan.”
Rachael menunduk kecil. “Maaf.”
“Kenapa minta maaf?”
Rachael diam. Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Axel memperhatikan gadis itu diam-diam.
Semakin lama ia melihat, semakin jelas kalau Rachael sedang tidak baik-baik saja.
Jemarinya terus bergerak kecil memainkan bungkus permen. Napasnya kadang terlalu pelan lalu tiba-tiba berat. Tatapannya juga terlihat kosong. Seolah pikirannya sedang pergi jauh ke tempat lain.
“Kamu capek ya?” tanya Axel pelan.
Rachael tersenyum kecil. Namun senyum itu terlihat dipaksakan. “Sedikit.”
Bohong.
Axel langsung tahu itu. “Kamu udah nggak ngobrol sama siapa-siapa sekarang.”
Rachael tidak menjawab.
“Selina khawatir.” ucap Axel, diam sejenak sebelum kembali bicara, “Aku juga khawatir.”
Kalimat itu akhirnya membuat Rachael sedikit mengangkat kepala. Tatapannya bertemu dengan Axel beberapa detik.
Dan untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir, Axel melihat mata Rachael yang benar-benar lelah.
Bukan lelah fisik, melainkan seperti seseorang yang terlalu lama menahan pikirannya sendiri.
“Aku cuma...” Rachael menggigit bibir bawahnya pelan. “Pengen sendiri dulu.”
Axel menghela napas kecil. “Kalau sendiri terus, nanti tenggelam loh.”
Rachael tertawa kecil samar. “Aku udah biasa.”
Jawaban itu langsung membuat dada Axel terasa tidak nyaman. Karena kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang sudah terlalu sering dialami seseorang.
Axel akhirnya bersandar santai di dinding tangga. “Boleh jujur?”
Rachael mengangguk kecil.
“Kamu kelihatan takut sama sesuatu.”
Rachael langsung membeku. Dan reaksi kecil itu tidak lolos dari perhatian Axel.
“Kamu takut sama Leon?” tanyanya hati-hati.
Rachael cepat menggeleng. “Nggak.”
“Terus?”
Hening.
Suara hujan kecil mulai terdengar dari luar gedung sekolah.
Rachael menunduk lagi sambil menggenggam bungkus permen lebih erat.
“Aku takut...” suaranya pelan sekali, “orang-orang mulai capek sama aku.”
Axel langsung terdiam.
Rachael akhirnya melanjutkan setelah beberapa detik hening. “Dulu...” ia menarik napas pelan, “aku pernah dijauhin satu kelas.”
Tatapan Axel langsung berubah serius.
“Mereka bilang aku aneh.” Suara Rachael tetap tenang. Tetapi justru itu yang membuat ceritanya terasa lebih menyakitkan.
“Aku gampang marah.”
“Aku terlalu sensitif.”
“Aku nggak suka suara terlalu ramai.” Tangannya mulai bergerak kecil lagi tanpa sadar. “Kadang aku terlalu fokus sama sesuatu sampai nggak sadar orang lain ngomong.”
Rachael tertawa kecil hambar. “Orang-orang capek ngadepin aku.”
Axel diam mendengarkan. Sekarang banyak hal mulai masuk akal baginya.
Kenapa Rachael selalu berusaha terlihat tenang.
Kenapa ia sangat menjaga ekspresinya.
Kenapa ia begitu takut dijauhi.
“Aku kira...” suara Rachael melemah sedikit, “Leon juga mulai kayak mereka.”
Kalimat itu membuat Axel langsung menghela napas panjang. “Ya ampun.”
Rachael sedikit menoleh bingung.
Axel menatapnya serius. “Leon itu orang paling nggak ngerti cara nunjukin perasaan.”
Rachael diam. “Dia ngejauh bukan karena capek sama kamu.”
Axel tersenyum kecil tipis. “Dia malah terlalu takut kehilangan kamu.”
Rachael langsung menunduk cepat, ekspresinya terlihat goyah.
Karena bagian paling menyebalkan dari semua ini adalah: jauh di dalam hatinya, Rachael sebenarnya ingin percaya pada itu.
Suasana tangga darurat kembali sunyi.
Hanya suara hujan kecil di luar gedung yang terdengar samar menemani percakapan mereka.
Axel masih duduk beberapa anak tangga di bawah Rachael sambil memperhatikan gadis itu diam-diam.
Setelah mengatakan semua tadi, Rachael justru terlihat semakin kosong. Bukan sedih, bukan menangis.
Axel mulai merasa khawatir. Karena terkadang orang yang terlalu lelah justru tidak bisa menangis lagi.
Rachael perlahan membuka bungkus permen lollipop di tangannya.
Gerakannya pelan sangat teratur. Seolah itu ritual untuk menenangkan dirinya sendiri.
Axel memperhatikan tanpa bicara.
Rachael memasukkan satu permen ke mulutnya lalu menyandarkan kepala ke dinding tangga.
Beberapa detik hening. Lalu tiba-tiba, Rachael tertawa kecil.
Axel langsung menoleh.
Tawa itu terasa aneh, pendek, pelan, dan sama sekali tidak terdengar bahagia.
Rachael menutup mulutnya sebentar sambil masih tertawa kecil tanpa alasan jelas.
“Aneh ya...” gumamnya lirih.
Axel mulai menyadari sesuatu tidak beres.“Rachael?”
Gadis itu menggeleng kecil sambil tersenyum tipis.
Namun senyumnya terlihat kosong. “Dulu mereka juga takut sama aku karena ini.”
Tatapan Axel berubah bingung.
Rachael menunduk sambil memainkan bungkus permen di tangannya. “Aku kadang ketawa sendiri kalau stres.” Ia tertawa kecil lagi.
Dan kali ini Axel benar-benar merasa tidak nyaman mendengarnya. Karena tawa itu bukan tawa orang yang sedang senang, seperti seseorang yang terlalu lelah sampai emosinya bercampur jadi satu.
“Kadang aku juga gampang marah.” lanjut Rachael pelan. “Atau sensitif sama hal kecil.”
Tatapannya kosong menatap lantai. “Ada suara terlalu keras aja aku bisa emosi sendiri.”
Tangannya mulai bergerak lebih cepat sekarang.
“Kalau terlalu ramai, kepalaku rasanya penuh.”
Rachael kembali tertawa kecil hambar. “Aneh kan?”
Axel langsung mengernyit. “Enggak.”
“Tapi orang-orang dulu mikir gitu.” Suara Rachael terdengar sangat tenang sekarang.
Terlalu tenang terasa menyakitkan. “Mereka bilang aku bikin capek.”
“Aku terlalu ribet.”
“Aku susah dimengerti.” Rachael menggigit pelan permen di mulutnya. “Kadang aku juga mikir mereka benar.”
Kalimat itu membuat dada Axel terasa berat.
Rachael bukan hanya takut dijauhi. Ia sudah terlalu lama percaya bahwa dirinya memang “sulit untuk disukai.” Dan itu jauh lebih berbahaya daripada sekadar rasa sedih.
Axel menghela napas kecil lalu berdiri pelan dari tempat duduknya. Ia berjalan naik beberapa anak tangga sampai akhirnya duduk tepat di samping Rachael. “Denger ya.”
Rachael diam.
Axel menatap lurus ke depan sambil berkata pelan,“Orang yang bikin lu merasa aneh cuma karena lu beda cara mikir itu yang bermasalah.”
Rachael tersenyum kecil lagi. Namun kali ini matanya terlihat sedikit goyah. “Aku capek menyembunyikan semuanya.” Suara itu lirih sekali hampir seperti bisikan.
"Aku selalu takut kalau orang lihat sisi asliku...” Rachael menunduk kecil, “mereka bakal pergi.”
Axel terdiam beberapa detik.
Lalu akhirnya ia berkata dengan nada santai khasnya, “Kalau Leon lihat sisi asli mu, paling dia malah makin protektif.”
Rachael langsung tertawa kecil lagi. “Dia serem kalau protektif?.”
“Memang.” Axel ikut tertawa pelan.
Suasana akhirnya terasa sedikit lebih ringan, meski hanya sedikit.
Tetapi Axel sadar, setidaknya sekarang Rachael mulai bicara jujur tentang dirinya sendiri, itu langkah besar.
Namun di sisi lain— Axel juga mulai mengerti kenapa Leon bisa menjadi begitu takut kehilangan gadis ini.
Karena di balik sikap tenang dan tegas Rachael, ternyata ada seseorang yang selama ini berjuang keras hanya untuk terlihat “baik-baik saja.”
...****************...
Bersambung...
iklan buat kamu
Jika berkenan boleh mampir dan baca ceritaku hehe