Sebuah pernikahan yang begitu megah, suatu hal yang selama ini diimpikan oleh Devina, tiba-tiba dihancur begitu saja oleh seseorang yang selama ini sangat dia benci.
Bukan hanya pernikahannya, tapi perusahaan keluarganya pun mengalami kehancuran.
"Aku sanggup membuat perusahaan ayahmu kembali berjalan, tapi dengan satu syarat, kamu harus menikah denganku!"
Itulah yang diucapkan oleh Abian Pratama, seorang CEO dingin dan kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DF_14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
"Apa? Jadi Abian Pratama yang melakukan semua ini?" Eliano tersentak kaget saat mendengar penjelasan dari Devina.
Saat ini Devina sedang bersama dengan keluarganya dan Eliano, dia sangat merasa frustasi karna semua pengusaha yang diajak bekerjasama dengannya telah menolak.
Robert menghela nafas. Dia menyadari keluarga Pratama bukanlah tandingannya. Jika dia melaporkannya ke polisi, akan percuma. "Aku tidak mengerti, mengapa dia melakukan semua itu?"
Devina menjawab dengan nada kesal. "Dia bilang, dia akan membantu perusahaan kita asalkan aku mau menikah dengannya."
Eliano sangat tidak terima. "Dia benar-benar kurang ajar!"
Sedangkan Jihan dan ibunya saling memandang dengan tatapan iri. Tentu saja mereka sangat iri, jika seandainya Jihan yang dilamar oleh Abian, tanpa berpikir panjang, Jihan akan setuju.
Dulu, Jihan memang satu sekolah yang sama dengan Abian, Devina, dan Eliano. Bahkan dari kelas satu SMA, Jihan sempat mengejar-ngejar pria itu bersama dengan murid perempuan yang lainnya. Tapi di mata Abian, mereka hanyalah butiran debu yang sama sekali tidak ada artinya. Karena itu, Jihan memilih untuk berpaling ke Eliano.
"Kenapa harus si Devina sih yang dilamar Abian? Coba kalau aku, aku akan rela melepaskan Eliano asalkan bisa menjadi istrinya Abian," batin Jihan.
Devina merendahkan suaranya. "Tapi aku sudah menolaknya."
Eliano sangat bernafas lega. "Syukurlah. Makasih sudah memutuskan untuk setia padaku, Dev. Begitu juga dengan aku, aku akan selalu setia sama kamu."
Devina hanya tersenyum mendengar perkataan Eliano. Meskipun sebenarnya dia sangat merasa bersalah kepada pria itu akibat insiden tadi siang. Abian telah mencuri ciuman pertamanya.
Setelah cukup lama berpikir, tiba-tiba sikap Robert menjadi dingin. Dia meminta Eliano, Laras dan Jihan untuk pergi. "Aku ingin bicara dengan Devina empat mata. Bisakah kalian pergi sebenar?"
"Memangnya Papa mau bicara apa sama Devina?" tanya Laras, penasaran.
Robert enggan menjawab. "Saya bilang kalian keluar sebentar!"
Eliano terpaksa mengangguk. "Baik, Om."
Diikuti oleh Laras dan Jihan, berjalan keluar dari ruangan tersebut.
Kini, di ruang tamu itu hanya ada Devina dan ayahnya. Devina langsung bertanya, "Papa ingin bicara apa sama aku?"
Robert menarik napas panjang, lalu memulai pembicaraannya dengan nada berat. "Buana Group itu adalah perusahaan keluarga kita yang dibangun oleh ibumu dengan susah payah. Papa tidak bisa membiarkan perusahaan itu hancur begitu saja."
Robert melanjutkan dengan nada menekan, "Karena itu, Papa rasa tidak ada salahnya kamu mempertimbangkan lamaran dari Abian Pratama."
Devina sangat terkejut mendengarnya. "Jadi, maksud Papa, Papa ingin menjual aku pada pria arogan itu?"
Robert membantah, "Bukan begitu, Devina..."
"Aku gak mau, Pa. Itu artinya Papa menyuruh aku untuk mengkhianati Eliano," potong Devina.
Robert masih bersikukuh dengan keputusannya. "Tapi sampai kapanpun kita akan sulit melawan keluarga Pratama. Hanya ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan perusahaan kita. Masalah Eliano, dia pasti akan mengerti. Yang penting kamu menikah dulu dengan Abian, setelah perusahaan kita aman, baru kita memikirkan bagaimana caranya agar kamu bercerai dengannya. Yang penting perusahaan kita terselamatkan."
Devina tetap tak setuju. "Aku bilang aku gak mau, Pa!"
"Jadi kamu mau perusahaan kita hancur?!" tanya Robert dengan nada tinggi.
Namun, tiba-tiba Robert merasakan dadanya sangat sesak. Dia memegang dadanya dengan nafas tak beraturan.
Devina sangat panik. "Papa! Papa kenapa?"
Robert tiba-tiba tak sadarkan diri. Tubuhnya terkulai lemas di sofa.
...****************...
Robert dilarikan ke rumah sakit, penyakit jantungnya telah kambuh. Jihan dan Laras malah menyalahkan Devina.
"Apa yang kamu perbuat pada suamiku? Kenapa dia tiba-tiba pingsan?" bentak Laras dengan nada tinggi.
"Kalau terjadi sesuatu sama Papa. Aku tidak akan memaafkan kamu!" seru Jihan.
Devina menatap tajam pada mereka. "Gak usah bersikap sok peduli pada Papaku! Akting kalian sangat jelek!"
Seketika ibu dan anak pun terdiam.
Eliano hanya bisa mengusap bahu Devina, untuk memenangkannya.
Saat dokter keluar dari ruangan, Devina segera menghampirinya. "Dokter, bagaimana keadaan Papa saya?"
Dokter menghela napas pelan, lalu menjawab dengan serius. "Kondisinya belum stabil. Saya sarankan agar Tuan Robert jangan menerima tekanan apapun, pikirannya harus benar-benar tenang. Jika tidak, akan memperburuk keadaannya."
Devina langsung tertegun. Dia menyadari penyakit papanya kambuh karena bertengkar dengannya.
Tapi... apakah itu artinya demi kesembuhan papanya, dia harus menerima lamaran dari Abian? Musuh bebuyutannya itu.
pasti elian cuma ngaku2 doang....😡