Di sudut kota yang tenang, hiduplah keluarga Baskara yang tampak sederhana namun menyimpan kehangatan yang luar biasa. Cerita ini berpusat pada kehidupan sehari-hari mereka yang dinamis, berputar di antara aroma masakan dapur, wewangian parfum langka, dan ambisi masa depan.
Kyla Rebecca Lynette M., si bungsu berusia 18 tahun yang memiliki kecantikan visual mutlak bak boneka hidup, menyimpan dunia emosionalnya sendiri di balik taman belakang yang luas dan laboratorium parfum rahasianya. Di saat sang kakak sulung, Tamara, berjuang dan akhirnya berhasil menembus beasiswa penuh S2 di London membawa kebanggaan sekaligus rasa haru yang hebat bagi keluarga Rebecca harus menghadapi ujian akhir SMA-nya.
Dalam proses pendewasaan ini, Rebecca dibimbing sekaligus "diganggu" oleh kakak keduanya, Naufal, seorang pemuda dingin di luar namun menjadi mentor sekaligus pencipta kerusuhan yang manja di kamar Rebecca. Di bawah asuhan hangat kedua orang tua mereka, novel ini mengeksplorasi arti kedewasaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oviamarashiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan dari Mas Naufal dan Misi Rahasia Kota Sebelah
Ketegangan di koridor pagi tadi perlahan mereda seiring berjalannya jam pelajaran yang padat. Begitu bel istirahat pertama berbunyi, Rebecca memilih untuk duduk di sudut bangku taman sekolah yang teduh, menjauh dari hiruk - pikuk kantin. Rambut hitam pekat bergelombangnya yang dikuncir ponytail bergerak lembut ditiup angin siang.
Gadis porselen itu mengeluarkan ponselnya dari saku rok abu - abu span yang membungkus siluet pinggul semoknya dengan rapi. Sebuah notifikasi pesan singkat dari nomor abangnya, Naufal, mendadak muncul di layar.
Mas Naufal : Dek, nanti pulang sekolah langsung ikut Mas, ya. Jangan pulang naik jemputan. Kita ke restoran di kota sebelah. Mas mau minta tolong kamu temani Mas ketemu orang.
Rebecca menaikkan sebelah alisnya yang rapi. Jemari halusnya yang mulus bergerak cepat mengetik balasan di atas layar sentuh.
Rebecca : Ketemu siapa, Mas? Tumben jauh - jauh ke kota sebelah.
Hanya butuh waktu beberapa detik sampai sebuah balasan panjang masuk kembali, memperlihatkan kepanikan terselubung dari abangnya yang bertubuh kekar itu.
Mas Naufal : Mas mau kenalan sekaligus berterima kasih secara resmi sama seorang gadis. Kemarin waktu Mas repot mengurus motor di pom bensin dekat perbatasan, dia yang menolong Mas memberikan pinjaman kunci pas dan menderek motor Mas ke bengkel terdekat. Namanya Davika Ovwua Mwohan. Mas bingung harus bersikap bagaimana di depan perempuan selain kamu dan Mbak Tamara. Jadi, kamu wajib ikut sebagai tim penilai dan penengah! Jangan menolak, nanti Mas belikan soto ayam langgananmu.
Membaca pesan super jujur dari abangnya yang hobi tinju itu, belahan bibir ombre alami Rebecca yang merona merah cerah tanpa riasan tebal akhirnya bergerak membentuk sebuah senyuman imut yang sangat manis. Jiwa introvernya yang kaku mendadak merasa terhibur dengan fakta bahwa sang abang yang sangar ternyata bisa dibuat mati kutu oleh seorang gadis bernama Davika Ovwua Mwohan.
"Davika..." gumam Rebecca lirih, mengeja nama unik tersebut dengan suara jernihnya yang khas.
Tanpa Rebecca sadari, dari jarak beberapa meter di balik pohon palem, Sagara Immanuel Arya berdiri bersandar sembari melipat tangan tegapnya. Sorot mata tajam sang pemuda jangkung tampak meredup, kembali dirayapi rasa cemburu saat melihat bagaimana Rebecca bisa tersenyum begitu manis menatap layar ponselnya. Sagara mengira senyuman rahasia itu ditujukan untuk sang dosen muda, Gus Adrian.
Sagara mengembuskan napas dingin, memilih berbalik pergi dengan hati yang kian panas, sama sekali tidak tahu bahwa senyuman Rebecca siang itu murni karena kelakuan kocak Naufal dan rencana pertemuan mereka dengan seorang gadis penolong di kota sebelah.
...****************...
...Pertemuan Lintas Takdir di Restoran Kota Sebelah...
Sore harinya, sesuai dengan janji di pesan singkat, Naufal dan Rebecca telah berada di sebuah restoran bergaya klasik modern di pusat kota sebelah. Tempat itu cukup tenang dengan jajaran sofa beludru dan pencahayaan hangat. Naufal yang bertubuh kekar tampak beberapa kali merapikan kerah jaket jins hitamnya, wajah sangarnya terlihat luar biasa tegang sebuah pemandangan langka yang membuat Rebecca diam - diam terhibur di balik ketenangannya.
Rebecca sendiri duduk dengan anggun di seberang abangnya. Pakaian sekolahnya sudah berganti dengan tunik oversized kasual berwarna hitam yang dipadukan dengan celana kulot longgar. Kuncir rambut ponytail nya sudah dilepas, membiarkan rambut asli hitam pekatnya yang panjang bergelombang terurai indah, membingkai wajah mungil porselennya dengan sangat manis dan dewasa.
Kring...
Suara lonceng di pintu masuk restoran berbunyi, memecah keheningan sore. Sesosok gadis melangkah masuk dengan aura yang begitu memikat dan teduh. Gadis itu adalah Davika Ovwua Mwohan, tokoh utama dari kisah *WHISPERS of the Heart yang legendaris. Davika tampil sangat cantik natural dengan riasan tipis, mengenakan gaun kasual bermotif bunga lembut yang memancarkan pesona keanggunan seorang protagonis sejati.
Namun, yang membuat detak jantung Naufal mendadak berhenti sesaat dan mata hijau lembut milik Rebecca sedikit memicing adalah sosok pria jangkung yang berjalan tepat di samping Davika.
Davika ternyata tidak datang sendirian. Ia didampingi oleh Gus Xavier al Buchori, seorang ulama muda berwajah luar biasa tampan dengan garis rahang tegas, mengenakan kemeja koko premium bersulam rapi dan sarung sutra bernuansa gelap. Kehadiran Gus Xavier di samping Davika memancarkan aura perlindungan yang sangat kuat, dingin, namun penuh wibawa sebuah kombinasi karisma yang seketika mengubah atmosfer di dalam restoran menjadi jauh lebih berbobot.
"Selamat sore, Mas Naufal," sapa Davika dengan suara selembut sutra, senyuman manisnya langsung mencairkan ketegangan di meja tersebut. "Mohon maaf jika saya datang terlambat. Dan perkenalkan, ini Gus Xavier al Buchori, beliau yang mendampingi saya sore ini."
Gus Xavier memberikan anggukan hormat yang sangat berwibawa, sepasang mata tajamnya menatap Naufal dan Rebecca secara bergantian dengan ketenangan mutlak seorang anak Kiai besar. "Selamat sore. Saya Xavier."
Naufal langsung berdiri, menjabat tangan Gus Xavier dengan canggung namun penuh rasa hormat antar-lelaki. "S-selamat sore, Gus. Saya Naufal, dan ini adik saya, Rebecca."
Rebecca merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada, memberikan penghormatan syar'i yang sangat anggun ke arah Gus Xavier dan Davika. Sorot mata hijau langka Rebecca beradu pandang dengan mata Davika selama beberapa detik. Sebagai sesama wanita yang memiliki sensitivitas tinggi, Rebecca bisa merasakan ada sebuah ikatan takdir dan rahasia besar yang tersimpan di dalam hati Davika sebuah 'bisikan hati' yang membuat tokoh utama tersebut tampak begitu istimewa.
Pertemuan sore itu pun dimulai dengan obrolan ringan yang hangat. Namun di balik keakraban yang perlahan terbangun antara Naufal dan Davika, pikiran Rebecca justru berkelana jauh. Kehadiran Gus Xavier di hadapannya entah mengapa langsung mengingatkannya kembali pada sosok kaku Gus Adrian di pondok pesantren sana. Lintas takdir antara para pelindung suci dan gadis - gadis porselen ini seolah sedang merajut sebuah kisah baru yang jauh lebih besar dari yang pernah mereka bayangkan sebelumnya.