Selama tiga tahun, Nayra mendedikasikan hidup untuk suaminya, Lettu Ardana Prajakelana. Seorang pria abdi negara yang merangkap profesi sebagai psikolog kesatuan. Semua terjadi karena perjodohan.
Namun, menjelang usia pernikahan yang ke ketiga, sebuah nama lain justru sering digaungkan Ardana. Mantan kekasihnya kembali, mengemis harap dan memohon Ardana menceraikan Nayra. Lalu apa yang akan terjadi dengan pernikahan Ardana dan Nayra setelah mantan kekasih Ardana kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Nayra Demam
Nayra demam, tubuhnya menggigil. Ardana yang sempat ia hubungi dan dikirim pesan WA, sampai kini belum ada tanda-tanda pulang.
Sementara obat di dalam kotak P3K, tidak ada obat penurun panas atau paracetamol sama sekali. "Tidak ada," desahnya sambil menahan rasa panas dingin di sekujur tubuhnya.
Nayra akhirnya meraih gelas di atas rak, ia menuangkan air hangat untuk diminum. Setelah itu, ia berjalan menaiki tangga dan bermaksud mengistirahatkan tubuhnya di kamar. Selain demam, ia juga merasakan sakit di setiap sendi tubuhnya.
"Mas Arda benar-benar tega. Dia lebih memilih bersama perempuan itu," keluhnya menangis. Nayra terisak, ia menangis karena Ardana juga karena sakit yang kini sedang dialaminya.
Nayra membaringkan tubuhnya perlahan, sebab kalau hanya didudukan saja, demam yang menggigil itu justru semakin menyasar tubuhnya.
Nayra menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut. Sebab hawa malam ini terasa menusuk, terlebih saat ini ia demam.
"Mas Arda...Mas...." Nayra ngigau. Mungkin demamnya saking panasnya. Tapi, tidak ada siapa-siapa yang menghiraukan, Nayra benar-benar sendiri.
Tepat jam tiga dini hari Ardana baru pulang ke rumah. Ia pulang dalam keadaan lelah. Semalaman ia berjaga di samping ranjang Tiana. Semalam Tiana kembali ngamuk, keadaannya tidak terkontrol, saat Ardana izin pamit. Dia seakan tidak ingin ditinggalkan Ardana.
Bukan hanya itu saja, ketika ngamuk, tangan kiri Tiana yang tidak diinfus, memegangi perut bawahnya serta meremas seperti merasakan sakit yang luar biasa.
Dering ponsel Ardana kembali berdering, ia masih saja sibuk dengan komunikasi yang entah dengan siapa, padahal saat ini dia sudah berada di rumah.
"Iya, Bro, semalam Tiana ngamuk lagi. Dia tidak mau aku tinggal," balas Ardana. Sepertinya ia sedang berbicara dengan dokter Arka.
"Lalu, sekarang siapa yang menjaganya?"
"Dia sudah sedikit tenang setelah diberi obat penenang oleh Perawat. Dan sekarang aku pulang dulu ke rumah, aku mau istirahat dulu. Aku sangat lelah dan ngantuk."
Ardana mengakhiri sambungan telpon bersama dokter Arka. Langkah kakinya kini menuju kamarnya di atas, yang harus ia lalui melalui tangga.
Pintu kamar terbuka, cahaya remang-remang menyinari ruangan itu. Desah napas yang tidak beraturan terdengar di sana, tepatnya di atas ranjang.
Ardana mendekat, keningnya sedikit naik ke atas, merasa ada sesuatu yang tidak biasa dari suara napas Nayra.
Gerakan Ardana sangat pelan dan hati-hati, ia tidak mau menimbulkan suara yang bisa mengganggu tidurnya Nayra.
"Mas Arda...Mas...."
Ardana terperanjat, tepat saat tubuhnya sudah di bibir ranjang dan wajahnya mendongak bermaksud melihat wajah Nayra. Suara Nayra yang memanggil namanya sontak mengejutkannya.
Bukan sekedar terkejut biasa, kali ini Ardana merasa curiga, sebab suara Nayra sedikit berbeda.
"Nayra...." ucapnya heran. Suara napas itu terdengar berat dan semakin tidak beraturan. Ardana lantas meraba punggung Nayra, ia kaget karena punggung Nayra sangat panas.
"Dia demam, sejak kapan dia demam?" gumamnya timbul rasa khawatir.
Ardana menjauh dari bibir ranjang, untuk menyalakan lampu utama. Lalu ia kembali ke sisi ranjang, memastikan apa yang sedang Nayra alami dan rasakan.
"Nayra, kamu sakit?" ujarnya bertanya sembari meraba bahu Nayra dan mengguncangnya pelan. "Nay...kamu sudah minum obat?" tanyanya.
Tubuh Nayra yang panas perlahan bergerak, ia berusaha mengangkat kepalanya dan mendongak. Melihat ke arah suara.
Nayra belum benar-benar bisa melihat dengan jelas Ardana, sebab cahaya lampu utama itu membuatnya silau dan memaksa tangannya untuk mengucek sejenak.
Nayra langsung meringis ketika melihat wajah Ardana, yang tadi malam ia nantikan kehadirannya untuk membelikannya obat demam. Kini, entah jam berapa, sosok itu sudah berada di sampingnya di tepi ranjang menatapnya dengan rasa khawatir yang selama ini jarang ia perlihatkan.
"Hah...hah...." Nayra tidak berkata apa-apa. Napasnya terdengar cepat pendek dan mengeluarkan hawa panas dari dalam. Wajahnya terlihat sangat menyedihkan, jelas sekali ia meringis menahan demam yang mendera. Nayra kembali pada posisi semula. Sosok Ardana yang semalam ia nantikan tidak lagi ia harapkan sekarang, kini justru sangat menyakitkan.
Ardana terlihat panik, ia melihat ke atas meja kecil di samping ranjang, tidak ia dapati gelas minum atau sebutir obat pun. Ardana menduga kalau Nayra belum minum obat.
"Nayra, kamu demam. Kamu belum minum obat, kan? Bangkitlah, biar aku bantu. Aku akan cari obat di kotak P3K. Tunggu sebentar," ujarnya memperlihatkan kepanikan yang entah tulus atau tidak.
Nayra berusaha menahan tubuhnya agar tidak diangkat Ardana, namun tenaga Ardana sangat kuat. Dan kini tubuhnya sudah terduduk di atas ranjang, dengan punggung bersandar di kepala ranjang. Ardana mengatur dan mengganjal punggung Nayra dengan bantal, sehingga posisi duduknya terlihat enak.
"Tunggu sebentar, aku cari obat dulu...."
"Tidak perlu, Mas...." cegah Nayra lirih disertai isak tangis yang keluar begitu saja. Air mata langsung rembes membasahi pipinya.
Ardana membalikkan badan, lalu mendekat dan berkata, "Kenapa? Kamu sedang demam, aku mau mencari paracetamol."
"Kalau ada, Nay tidak perlu membiarkan Mas Arda mencari obat itu. Jadi, tidak perlu Mas Arda repot-repot mencari obat itu. Bukankah selama ini Nay selalu mencari apa-apa kebutuhan Nay sendiri di rumah ini, Mas?"
Ardana menghela napas, sampai bahunya terangkat. Kali ini ia seakan baru menyadari, bahwa selama menikah, Nayra belum pernah meminta bantuannya. Bahkan memasang tabung gas saja belum pernah. Nayra lakukan sendiri.
"Tapi, kali ini beda. Kamu sedang sakit," ucap Ardana memberikan pengecualian.
"Tidak usah, Mas. Nay tidak ingin membuat Mas Arda semakin kelelahan setelah mengurus pasien di RS," sindir Nayra dengan suara yang masih lemah, tapi cukup menyita perhatian Ardana.
"Sudahlah, nggak usah kamu kaitkan dengan pekerjaanku di luar sana. Sekarang kamu sakit, dan kamu butuh bantuanku."
"Nay, sudah tidak butuh bantuan apapun dari Mas Arda. Pergilah, Mas perhatikan saja pasien Mas itu. Nay, sama sekali tidak penting buat Mas Arda." Nayra langsung bangkit dari ranjang dan bermaksud keluar dari kamar. Ia mengurai selimut, lalu ia hempas dengan kasar. Nayra sudah tidak ingin menerima bantuan apa-apa dari suaminya itu.
"Mau ke mana?" Tangan kekar Ardana mencoba menahan tubuh Nayra, tapi Nayra bergerak dengan brutal sehingga ia terlepas dari pertahanan Ardana.
Nayra segera menuju pintu dengan tenaga yang lemah.
"Nayra, patuhlah, kamu ini sedang sakit. Cobalah mengerti tugas aku, aku saat ini sedang menangani pasien. Kenapa harus kamu jadikan iri? Aku juga khawatir melihatmu sakit seperti ini, Nayra," sentak Ardana sembari menghampiri Nayra dan berhasil menahannya.
"Lepaskan, Mas. Nay, sudah tidak butuh lagi bantuan atau belas kasih dari Mas Arda. Lebih baik curahkan semua perhatian Mas Arda untuk mantan kekasih Mas Arda. Nayra tidak berarti apa-apa buat Mas Arda," tukas Nayra masih berontak.
"Kamu...kamu itu sedang mencemburui aku. Aku sungguh khawatir karena kamu sakit."
"Tidak usah, biarkan Nayra mati saja, Mas. Dan jangan katakan Mas Arda khawatir dengan Nayra, kalau memang benar-benar khawatir, tidak mungkin panggilan atau pesan WA Nay, tidak Mas hiraukan."
Ardana terperanjat mendengar ucapan Nayra barusan. Ia sadar, selama di RS ia tidak memeriksa pesan WA. Ia hanya sibuk berkomunikasi dengan dokter Arka semalaman.
"Kamu menghubungi dan mengirim pesan WA?" Pertanyaan Ardana tanpa balas. Nayra justru berontak dari cengkraman Ardana, ia berhasil membuka pintu dan akan melangkah keluar. Namun tubuhnya tiba-tiba ambruk. Nayra terjatuh karena tubuhnya lemas dan sakit.
"Nayra...."
NB: Hai pembaca yang baik, duh...jangan dulu pergi ya dari kisah ini. Mungkin kalian gemes karena Nayra yang terlalu lemah, tapi di sinilah saripati (ceileh apaan sih? 😄😄😄) ceritanya. Nayra itu bukan lemah, tapi dia terlalu baik, atau masih baik saja dan menunggu kapan suaminya bakal menganggapnya. Seperti kisah dalam kehidupan nyata, kita butuh diberi kesempatan dan memberi kesempatan. Nah Nayra ini, sepertinya masih memberikan kesempatan untuk Ardana. Siapat tahu Ardana bisa mencintainya?
Pokoknya lanjutkan, kalian pasti akan menemukan kejutan-kejutan dalam cerita ini. 🙏🙏🙏
Dan Ardana kamu tuh bodoh , mau aja dibohongin sama Tiana 😡😡😡
Udah deh ini mah fix kamu harus harus pergi Nayra daripada tersiksa batin kamu , kamu berhak bahagia Nayra 🫢🫢🫢
mantau dikit lagi nih...