NovelToon NovelToon
SATU -SATUNYA BUANGA DI TENGAH HUTAN.

SATU -SATUNYA BUANGA DI TENGAH HUTAN.

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Karir / Persahabatan
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Komiatun Atun

hidup ini seringkali begitu kejam dan Mestrius. ada yang lah dalam kemewahan, ada yang tumbuh dalam hangatan kasih sayang. namun, takdir berkata lain bagiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komiatun Atun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN" BAB 15: PERLINDUNGAN SAUDARA

 

"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN"

BAB 15: PERLINDUNGAN SAUDARA

Hari itu, langit tampak cerah bersih tanpa awan, seolah ikut merayakan kebahagiaan yang mulai menyelimuti hati Ria. Di dalam kelas, Ria duduk dengan tenang, namun hatinya terasa jauh lebih damai dan berani dibanding hari-hari sebelumnya. Bayangan wajah kedua kakaknya yang berdiri teguh melindunginya tadi pagi masih terbayang jelas di ingatannya, memberikan rasa aman yang belum pernah ia rasakan selama dua tahun belakangan ini.

Di sudut lain halaman sekolah, Bu Risma yang kebetulan lewat untuk mengantar cucunya hanya bisa mendengus kesal dan menahan amarahnya. Ia kaget luar biasa melihat perubahan sikap kakak-beradik itu. Dulu, ia dengan seenaknya menghina dan menyakiti hati Ria tanpa ada yang berani membela, tapi hari ini? Ia harus menelan ludah sendiri saat melihat bagaimana Bang Arefin dan Bang Ardiansyah berani menatap tajam dan membalas setiap kata-kata pedasnya dengan tenang namun penuh wibawa.

"Apa yang terjadi dengan keluarga miskin itu? Kenapa mereka jadi berani begini? Dulu kan diam saja kalau dihina," batin Bu Risma kesal, tapi ia tak berani lagi mengeluarkan kata-kata kasar, teringat tatapan tajam kedua pemuda itu yang membuat bulu kuduknya meremang ketakutan.

Jam pelajaran pun berakhir tepat waktu. Bel berbunyi nyaring memecah keheningan sekolah, menandakan waktu pulang telah tiba. Ria, Dimas, dan Bagas berjalan beriringan keluar gerbang dengan langkah ringan dan wajah berseri. Namun, langkah mereka terhenti sejenak saat melihat sosok dua pemuda tegap yang berdiri menunggu di bawah pohon beringin besar di pinggir jalan.

Itu Bang Arefin dan Bang Ardiansyah. Mereka masih berdiri di tempat yang sama sejak pagi, tak pergi ke mana-mana, rela menunggu berjam-jam hanya demi menjemput dan memastikan adik-adiknya aman pulang.

"Bang... kok masih di sini? Kan katanya mau bekerja?" seru Ria kaget sekaligus haru, berlari kecil menghampiri mereka.

Bang Arefin tersenyum lebar lalu menyambut pelukan adiknya. "Kerjaan bisa diatur kapan saja, Dik. Tapi melihat senyum dan keamanan kamu itu jauh lebih penting bagi kami. Kami janji, mulai hari ini, ke mana pun kamu pergi, kami akan selalu ada di belakangmu, menjaga dan melindungi," jawabnya lembut namun tegas.

Warga desa yang lewat pun kembali menoleh heran, tapi kali ini bukan tatapan meremehkan, melainkan tatapan kagum dan haru. Banyak yang mulai berbisik, betapa indahnya ikatan persaudaraan yang kembali utuh itu, betapa besarnya penyesalan dan kasih sayang yang kini mereka tunjukkan.

Dalam perjalanan pulang, mereka tak lagi berjalan menunduk dan menyendiri seperti dulu. Kini, Ria berjalan di tengah, diapit oleh kedua kakaknya, sementara Dimas dan Bagas berjalan di sambil bercanda ceria di belakang. Suara tawa mereka menggema di sepanjang jalan setapak, memecah keheningan desa.

Tiba-tiba, dari arah berlawanan terlihat Bu Risma berjalan membawa keranjang sayur. Saat jarak semakin dekat, wanita itu berniat membuang muka dan lewat begitu saja, takut dimarahi kembali. Namun, Bang Arefin justru berhenti dan memberi jalan sambil mengangguk sopan.

"Selamat siang, Bu Risma... hati-hati jalannya, licin nih tadi pagi habis gerimis," sapa Bang Arefin ramah sekali, seolah tak ada kejadian pahit di pagi hari.

Bu Risma tertegun kaget, wajahnya memerah karena malu dan bersalah. Ia mengira akan dimarahi, tapi justru disapa dengan sangat sopan. Tanpa sadar, ia pun menjawab pelan, "Eh... iya... selamat siang juga, Le... terima kasih."

Setelah wanita itu lewat, Ria menatap kakaknya bingung. "Bang... kenapa disapa? Kan Bu Risma jahat sama Ria..."

Bang Arefin tersenyum lalu mengusap kepala adiknya. "Dik, membalas kejahatan dengan kejahatan itu bukan kebaikan. Tapi membalas kejahatan dengan kebaikan, itulah yang akan membuat hati orang lain sadar dan berubah. Biar ia malu sendiri dengan kelakuannya yang buruk itu. Biar ia tahu, meski kami miskin, kami punya hati yang jauh lebih kaya dan mulia."

Mendengar itu, hati Ria terasa penuh sekali. Ia sadar, bukan hanya perlindungan fisik yang kini ia dapatkan, tapi juga pelajaran hidup yang sangat berharga dari kakak-kakaknya.

Sesampainya di rumah, Bunda Maria sudah menunggu di beranda dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya. Ia melihat perubahan besar yang terjadi, bukan hanya pada Ria yang kini lebih berani dan ceria, tapi juga pada putra-putranya yang akhirnya sadar akan makna kasih sayang sesungguhnya.

"Masuklah... Bunda sudah siapkan makanan kesukaan kalian," seru Bunda dengan suara parau menahan haru bahagia.

Sore itu, di rumah kecil sederhana itu, tercipta kehangatan yang belum pernah ada sebelumnya. Ria sadar, luka dua tahun ini belum sepenuhnya hilang, tapi ia tahu satu hal pasti: ia tak sendiri lagi. Ia punya benteng terkuat di dunia, yaitu kasih sayang saudara yang tulus dan perlindungan yang tak akan pernah lagi ia lepaskan.

 

1
KOMIATUN
"alhamdulillah,.... terimakasih banyak ya kak atas dukungan nya senang banget deh ada yang mampir dan kasih saya semangat, rasanya capek pulang kerja jadi hilang seketika lho, nanti kalau ada waktu luang pasti saya kunjungi profil nya kakak ya. sihat selalu dan sukses terus buat kakak. 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!