Anya Clarissa, seorang Arsitek Lanskap yang terbiasa menata keteraturan dari kekacauan tanaman, menemukan hidupnya sendiri berantakan. Ibunya, Mama Clarissa, terjerat hutang miliaran setelah ditipu oleh rekan bisnis butiknya. Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran datang dari Keluarga Arkatama, penguasa industri logistik laut yang legendaris.Devan Arkatama, CEO muda yang dingin, angkuh, dan efisien, sedang dalam posisi terhimpit. Sang ayah, Papa Arkatama, mengancam akan mencopot jabatannya dan mengalihkan warisan kepada sepupunya jika Devan tidak segera menikah dan memperbaiki citranya yang dikenal sebagai "Playboy Tak Berperasaan."Pertemuan pertama mereka di sebuah acara peresmian taman kota berakhir dengan bencana. Anya menganggap Devan adalah pria sombong yang tidak menghargai seni, sementara Devan menganggap Anya adalah wanita kelas menengah yang mencoba mencari perhatian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 34 : JEJAK SILUMAN DAN API DI STUDIO HIJAU
Pagi yang seharusnya membawa kesegaran justru datang dengan aroma abu dan kecemasan yang mencekik. Mansion Arkatama yang biasanya tenang kini berubah menjadi pusat komando yang tegang. Devan Arkatama berdiri di tengah ruang kerja, menatap layar monitor yang menampilkan titik-titik koordinat pelacakan sinyal di seluruh Jakarta dan sekitarnya. Namun, semua titik itu mati. Gelap.
"Mas Devan... bagaimana?" tanya Anya, suaranya parau. Ia sudah mengenakan pakaian lapangan, siap untuk menghadapi apa pun yang terjadi pada studionya.
Devan menggeleng perlahan, rahangnya mengeras hingga otot lehernya menonjol. "Nihil, Sayang. Mereka benar-benar menggunakan protokol komunikasi militer. Om Bram sepertinya sudah mencabut semua sistem GPS pada kendaraan mereka dan menggunakan alat pengacak sinyal. Kita kehilangan jejak di kawasan industri lama, tapi setelah itu... mereka seolah menguap ke udara."
Anya meremas jemarinya. Frustrasi mulai menggerogoti pertahanannya. Sebagai seorang arsitek, ia terbiasa membangun sesuatu dengan presisi. Namun kini, ia menghadapi musuh yang tidak kasat mata, musuh yang menghancurkan semua pondasi hidupnya satu per satu.
Sebelum menuju studio, Devan memutuskan untuk mengantar Anya menjenguk Mama Clarissa yang kini mengungsi di rumah kecil peninggalan almarhum suaminya karena trauma pasca-pembakaran butik.
Sesampainya di sana, suasana terasa begitu sunyi dan suram. Rumah itu kecil namun asri, tetapi kini aura kesedihan menyelimuti setiap sudutnya. Mama Clarissa duduk di kursi goyang di teras samping, matanya sembap dan tatapannya kosong menatap halaman.
"Mama..." bisik Anya sambil memeluk ibunya dari belakang.
Mama Clarissa tersentak sedikit, lalu air matanya kembali mengalir. "Anya... Devan... maafkan Mama. Mama tidak bisa menjaga peninggalan Papa kalian. Semuanya sudah jadi arang."
Devan berlutut di depan ibu mertuanya, memegang tangannya yang gemetar. "Ma, jangan minta maaf. Ini bukan salah Mama. Mas janji, Arkatama akan membangun kembali butik itu sepuluh kali lebih megah. Tapi yang paling penting sekarang adalah kesehatan Mama."
"Mas benar, Ma," tambah Anya, mencoba memberikan senyum meski hatinya hancur. "Anya sudah siapkan desain barunya di kepala Anya. Kita akan bangkit lagi."
Namun, di balik kata-kata penguatan itu, Devan melihat ketakutan yang nyata di mata Mama Clarissa. Rasa aman yang selama ini dibangun telah dirampas secara paksa oleh kerabat sendiri. Luka ini bukan hanya soal harta, tapi soal pengkhianatan darah.
Di tengah suasana yang sangat berat, Mama Sarah (Nyonya Sarah Arkatama) datang dengan membawa energi yang luar biasa, namun cenderung konyol. Ia datang dengan mobil SUV-nya yang sudah dihias dengan stiker bertuliskan "Catering Sehat Mama Sarah" untuk menyamar.
"Anya! Devan! Jangan sedih terus!" seru Mama Sarah sambil keluar dari mobil mengenakan daster yang ditutupi jaket denim besar, kacamata hitam, dan membawa teropong binokular di lehernya.
"Ma, Mama ngapain pakai kostum begitu?" tanya Devan, merasa sakit kepala melihat tingkah ibunya.
"Ini namanya penyamaran intelijen, Sayang! Mama sudah muter-muter keliling komplek tadi, siapa tahu ada orang mencurigakan pakai helm hitam yang ngintipin rumah Mama Clarissa," Mama Sarah mengangkat teropongnya dan menatap ke arah pohon mangga tetangga. "Tuh! Ada yang gerak-gerak di atas pohon!"
"Ma, itu kucing," sahut Papa Arkatama yang baru keluar dari mobil dengan wajah pasrah.
"Oalah, kucing ya? Tapi kucingnya mencurigakan! Matanya tajam kayak Rico!" Mama Sarah tetap pada pendiriannya. Ia kemudian mengeluarkan sekotak bento yang isinya disusun membentuk wajah tersenyum dari nasi dan sayuran. "Ayo makan dulu! Ini namanya Nasi Semangat Arkatama. Kalau nggak makan, nanti nggak punya tenaga buat ngejar penjahat!"
Melihat Mama Sarah yang sibuk menyuapi semua orang dengan paksa, Anya akhirnya tertawa kecil. Kehadiran Mama Sarah selalu menjadi oase di tengah gurun kesedihan mereka.
Ketenangan sesaat itu hancur ketika ponsel Anya bergetar hebat. Alarm keamanan dari studionya, Green Soul Studio, berbunyi di ponselnya. Seseorang baru saja merusak pagar sensor dan masuk ke dalam area penyimpanan bibit langka.
"Mas! Mereka di studio!" teriak Anya.
Tanpa membuang waktu, Devan menarik tangan Anya menuju mobil. Mereka melesat menembus jalanan Jakarta yang padat. Devan mengemudi dengan kecepatan yang membuat jantung Anya berpacu. Sebagai CEO logistik, Devan hafal setiap jalur tikus di kota ini.
Sesampainya di studio, kepulan asap mulai terlihat dari gudang pupuk organik. Anya melihat seorang pria berpakaian hitam, mengenakan helm full-face, sedang menyiramkan cairan ke arah rak-rak berisi tanaman langka yang sudah dipesan klien internasional.
"HEI! BERHENTI!" teriak Devan.
Pelaku itu terkejut dan segera berlari menuju motor trail yang terparkir di belakang gudang. Namun, Devan tidak membiarkannya lolos begitu saja. Dengan insting tempur yang terlatih, Devan mengejar pria itu.
Pengejaran berlangsung sengit di antara labirin rak-rak tanaman dan instalasi hidroponik. Pelaku itu mencoba melemparkan pot-pot besar ke arah Devan untuk menghambat langkahnya. Devan dengan lincah melompati rintangan, gerakannya sangat taktis dan cepat.
"Jangan harap kamu bisa lari!" Devan melakukan lompatan harimau saat si pelaku hendak menaiki motornya.
Devan berhasil menarik jaket pria itu hingga keduanya terguling di atas tanah yang basah. Terjadi perkelahian jarak dekat. Si pelaku mengeluarkan sebuah pisau lipat, mencoba menusuk perut Devan. Anya yang melihat dari kejauhan berteriak ketakutan, namun Devan dengan tenang menangkis tangan pria itu, menggunakan teknik kuncian pergelangan tangan hingga pisaunya terjatuh.
BUKK!
Satu pukulan telak mendarat di rahang si pelaku. Devan menekan tubuh pria itu ke tanah. Namun, tiba-tiba sebuah mobil sedan hitam meluncur kencang dari arah gerbang dan menabrak deretan pot bunga besar hingga pecah berkeping-keping untuk mengalihkan perhatian Devan.
Seorang pria lain dari dalam mobil melepaskan tembakan peringatan ke udara. Dalam sepersekian detik kekacauan itu, si pelaku berhasil melepaskan diri dari Devan dan melompat ke dalam mobil yang segera melaju kencang meninggalkan studio.
"Mas! Mas Devan nggak apa-apa?!" Anya berlari menghampiri, memeriksa tubuh suaminya yang penuh dengan debu dan noda tanah.
"Aku nggak apa-apa, Sayang. Maaf, aku gagal menangkapnya," desis Devan dengan nada kecewa yang mendalam. Ia menatap kepergian mobil itu dengan mata yang berkilat dendam.
Anya melihat ke sekeliling studionya. Meskipun apinya berhasil dipadamkan dengan cepat oleh sistem sprinkler otomatis yang ia rancang, kerusakan tetap ada. Banyak tanaman langkanya yang hancur terinjak-injak dan tersiram zat kimia.
Mereka kembali ke rumah utama dengan hasil yang lagi-lagi nihil. Om Bram dan Rico seolah-olah memiliki pasukan bayaran yang sangat terlatih untuk melindungi mereka. Semua laporan dari kepolisian juga menemui jalan buntu.
Papa Arkatama duduk di ruang perpustakaan, menatap keluar jendela ke arah taman yang gelap. "Bram benar-benar ingin menghapus jejak kita, Devan. Dia tahu bahwa menyerang aset emosional Anya adalah cara paling cepat untuk membuat kita berlutut."
"Mas... kita harus bagaimana?" tanya Anya saat mereka sudah berada di dalam kamar.
Devan menarik Anya ke dalam pelukannya, mencium puncak kepala istrinya. "Kita tidak boleh menyerah, Sayang. Mereka ingin kita lelah, mereka ingin kita saling menyalahkan. Kita akan perketat keamanan sepuluh kali lipat. Mas akan memindahkan operasional studio kamu sementara ke gedung kantor Arkatama yang memiliki pengamanan militer."
Anya menyandarkan kepalanya di dada Devan, mendengarkan detak jantung suaminya yang masih berpacu karena sisa adrenalin tadi. "Aku hanya takut mereka akan menyentuh Mama Sarah atau Papa selanjutnya."
"Selama Mas masih bernapas, itu tidak akan terjadi," janji Devan.
...****************...
Di tempat lain, di bunker kegelapan mereka, Om Bram dan Rico melihat rekaman kegagalan Devan menangkap anak buah mereka melalui kamera tersembunyi yang mereka pasang. Rico tertawa puas sambil menenggak wiskinya.
"Sedikit lagi, Pa. Sedikit lagi mereka akan memohon pada kita untuk berhenti," ucap Rico dengan senyum yang sangat jahat.
Pencarian yang susah ini mulai menguras segalanya, namun di balik itu semua, ikatan antara Devan dan Anya justru semakin mengeras seperti baja. Perang ini bukan lagi soal siapa yang paling kaya, tapi soal siapa yang paling mampu bertahan di tengah badai pengkhianatan.