Keana Elvaretta percaya bahwa pisau bedah di tangannya bisa mengungkap kebenaran yang disembunyikan mayat, namun ia gagal mengungkap isi hati suaminya sendiri, Ghazali Mahendra. Menikah karena sebuah wasiat dan paksaan keadaan, Keana harus menerima kenyataan pahit bahwa ranjang pengantinnya hanyalah medan perang emosional yang dingin.Bagi Ghazali, seorang Jaksa Penuntut Umum yang ambisius dan memuja kesempurnaan, Keana hanyalah wanita "berbau formalin" yang merusak citra idealnya.
Di siang hari, mereka adalah rekan profesional yang bersinergi memecahkan kasus hukum dan forensik, namun di malam hari, mereka hanyalah dua orang asing yang berbagi luka di bawah satu selimut. Saat rahasia besar mulai terkuak dari sebuah meja otopsi, Keana menyadari bahwa dirinya selama ini hanyalah 'alamat yang salah' untuk cinta yang dikirimkan Ghazali. Mampukah Keana bertahan saat luka yang ia bedah setiap hari ternyata adalah hatinya sendiri?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Saat Maia Kembali
Kegelapan yang menyergap kamar utama ini tidak seperti mati lampu biasa akibat cuaca buruk. Ini adalah kegelapan yang bernapas, menekan, dan merampas setiap miligram oksigen dari alveolus paru-paruku. Di luar jendela kaca setinggi langit-langit, kilat menyambar membelah langit Jakarta, memberikan iluminasi sepersekian detik yang menampakkan siluet ranjang king-size kami—ranjang yang baru saja menjadi saksi bisu runtuhnya tembok pertahanan di antara kami berdua.
Tangan Ghazali menggenggam jemariku begitu erat hingga tulang-tulang rawan di tanganku berderak pelan. Keringat dingin merembes di telapak tangannya—tangan seorang Jaksa Penuntut Umum yang biasanya tak pernah gemetar sedikit pun saat membacakan vonis mati di meja hijau. Setiap emosi manusia bermanifestasi melalui tindakan fisik; ketakutan Ghazali malam ini terekspos jelas dari bagaimana napasnya tersengal pendek-pendek dan otot rahangnya yang mengeras bagai besi cor.
"Mundur ke arah balkon, Keana. Pelan-pelan," bisik Ghazali, suaranya nyaris tak terdengar di antara deru hujan yang menghantam kaca.
Namun, sebelum kakiku sempat melangkah mundur, suara kenop pintu kuningan kamar kami diputar dari luar. Klik. Klik. Seseorang membuka kunci cadangan.
Pintu berderit terbuka dengan lambat, mengundang masuk seberkas cahaya kuning pucat dari lampu darurat lorong. Siluet seorang wanita berdiri di ambang pintu, memegang sebuah tongkat kayu eboni berukir. Nyonya Ratna Mahendra. Ibu mertuaku itu tidak membawa pasukan preman atau algojo bayaran. Ia hanya berdiri sendirian, mengenakan gaun tidur sutra dan syal cashmere yang melingkari lehernya, menatap kami dengan keanggunan seorang ratu yang baru saja memergoki pelayannya mencuri perak kerajaan.
"Kalian berdua tampak sangat dramatis dalam kegelapan," suara Nyonya Ratna memecah kesunyian, datar dan diwarnai nada merendahkan yang sangat khas. "Ghazali, nyalakan sakelar genset darurat di dinding dekatmu. Ibu tidak suka berbicara dalam kegelapan. Itu tidak beradab."
Ghazali tidak bergerak. Ia justru melangkah maju, memosisikan tubuhnya yang tegap sebagai perisai di depanku. "Apa yang Ibu inginkan? Ibu mematikan aliran listrik utama?"
"Ibu hanya memastikan tidak ada percakapan tidak pantas yang terekam atau terkirim ke luar dari kamar ini," Nyonya Ratna melangkah masuk, ketukan ujung tongkatnya di atas lantai pualam terdengar seperti detak jarum jam kematian. "Ibu mendengar semuanya, Ghazali. Tentang kunci bank Swiss. Tentang gaun pengantin konyol buatan kakekmu itu. Dan tentang... Digitalis."
Mendengar nama racun mematikan itu diucapkan dengan begitu santai dari mulut pembunuhnya langsung, perutku bergejolak hebat. Di ruang makan, keluarga ini selalu berbicara menggunakan sindiran atau kalimat pasif-agresif yang menyembunyikan maksud asli. Namun malam ini, topeng aristokrat itu telah dilepaskan sepenuhnya.
"Ibu membunuhnya," geram Ghazali. "Ibu membunuh darah daging Ibu sendiri demi menguasai yayasan, lalu Ibu mencuci otakku selama bertahun-tahun untuk membenci Kakek!"
"Ibu menyelamatkan masa depan keluarga ini, Ghazali!" Nyonya Ratna membalas dengan suara yang tiba-tiba meninggi, menggema di dinding kamar yang luas. "Kakekmu sudah gila! Dia ingin menyumbangkan tujuh puluh persen aset Mahendra ke yayasan amal dan panti asuhan! Dia akan membuat kita menjadi bahan tertawaan di lingkaran elit. Ibu melakukan apa yang harus dilakukan untuk memastikan kau tetap bisa memakai jas mahalmu dan berdiri angkuh di ruang sidang!"
"Dengan menyewa Maia sebagai eksekutornya?!"
"Ah, bicara soal Maia..." Nyonya Ratna menyunggingkan senyum tipis yang membekukan aliran darahku. Ia menoleh ke arah lorong yang gelap. "Masuklah, Sayang. Udara di luar pasti membuatmu kedinginan."
Dari balik bayang-bayang lorong, suara langkah sepatu hak tinggi terdengar mendekat. Sosok itu melangkah masuk ke dalam batas cahaya lampu darurat.
Maia Anindita.
Ia masih mengenakan blazer hitam yang sama seperti saat ia mencoba menyayat leherku di dermaga beberapa jam yang lalu. Rambutnya sedikit basah, namun riasan wajahnya tetap sempurna. Wangi parfum mawar hibridanya langsung menyerbu indra penciumanku, menyingkirkan aroma keberanian yang baru saja berhasil kubangun.
Lututku seketika terasa lemas. "Bagaimana mungkin... kau sudah ditangkap. Komisaris Herman membawamu ke tahanan reserse kriminal!" teriakku, tidak mampu menyembunyikan getaran horor dalam suaraku.
Maia tertawa kecil, suara tawa yang halus namun mengandung racun. Ia berjalan mendekati Nyonya Ratna, berdiri berdampingan layaknya ibu dan anak perempuan yang sesungguhnya.
"Kau mungkin jenius di dalam ruang otopsimu yang bau formalin itu, Dokter Keana. Tapi kau sungguh buta huruf soal hukum di dunia nyata," ucap Maia sambil menatap kuku-kukunya yang dicat merah marun. "Apakah kau pernah mendengar istilah penangguhan penahanan? Atau manipulasi prosedur praperadilan? Ketika kau memiliki Nyonya Ratna Mahendra yang menelpon langsung Kepala Kepolisian Daerah, surat perintah penangkapan hanyalah selembar kertas tisu yang tidak berguna."
Ghazali menggeram, "Ini obstruction of justice! Aku akan melaporkan ini ke pengawas kejaksaan dan komisi yudisial. Aku adalah dominus litis, aku akan memastikan berkas perkaramu naik malam ini juga!"
"Melaporkan dengan bukti apa, Ghazali?" Nyonya Ratna memotong tajam. Tongkat eboninya diketukkan sekali ke lantai. "Kunci bank Swiss itu tidak ada harganya tanpa tanda tangan Maia. Dan soal pengakuan dokter pribadi kakekmu... kertas rapuh yang disembunyikan di dalam gaun istri buanganmu itu tidak akan pernah bisa diterima di pengadilan. Pengacara mana pun akan dengan mudah mematahkannya karena tidak ada bukti fisik."
"Tentu saja ada bukti fisiknya," potongku.
Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku sebelum aku sempat menyaringnya. Seluruh mata di ruangan itu kini tertuju padaku. Aku melangkah keluar dari balik punggung Ghazali, mengabaikan cengkeraman tangannya yang berusaha menahanku. Rasa takutku telah mencapai titik didih, dan ketika ketakutan itu menguap, yang tersisa hanyalah rasionalitas klinis murni seorang ilmuwan.
"Kau meremehkan duniaku, Nyonya Ratna," suaraku mengudara dengan ketenangan es, persis seperti nada yang kugunakan saat mendiktekan laporan Visum et Repertum. "Kalian mungkin berpikir Digitalis adalah racun yang sempurna karena gejalanya menyerupai gagal jantung akut. Tapi kalian lupa satu prinsip dasar toksikologi forensik. Racun itu tidak hancur oleh proses pembusukan biologis."
Maia mengernyitkan dahinya. Senyum meremehkannya sedikit memudar.
Aku menatap tepat ke mata Nyonya Ratna. "Glikosida jantung dari tanaman Digitalis akan mengikat dirinya secara permanen pada jaringan epitel, sampel rambut, dan sumsum tulang. Sekalipun Kakek sudah dikuburkan bertahun-tahun, aku bisa mengajukan surat perintah ekshumasi—penggalian kembali jenazah yang sudah dikuburkan untuk dilakukan pemeriksaan autopsi luar dan dalam. Begitu tulang belulang Kakek diangkat dan dibawa ke laboratoriumku, mesin spektrometri massa akan membaca kadar racun itu dengan tingkat akurasi 99,9 persen. Tidak ada manuver hukum apa pun yang bisa membatalkan fakta ilmiah dari sebuah tulang manusia."
Keheningan yang mematikan menelan ruangan itu. Mata Nyonya Ratna sedikit melebar, menyadari bahwa wanita berbau formalin yang selama ini ia hina di meja makan ternyata memegang palu godam yang bisa menghancurkan kerajaan Mahendra dalam semalam.
Ghazali menatapku dari samping. Matanya memancarkan rasa takjub dan kekaguman yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Namun, Maia dengan cepat menguasai dirinya kembali. Ia menepuk tangannya pelan, sebuah tepuk tangan sarkastis yang menggema di keheningan. "Brilian. Sungguh deduksi yang sangat brilian, Dokter Keana. Kau benar-benar ahli dalam mengurus orang mati. Tapi mari kita bahas tentang orang yang masih hidup."
Maia mengambil sebuah ponsel dari saku blazer-nya dan melemparkannya ke atas ranjang di dekat kami. Layarnya menyala, menampilkan sebuah video panggilan langsung (video call).
Aku menatap layar itu, dan jantungku seolah berhenti berdetak saat itu juga.
Di layar tersebut, terlihat ruangan laboratorium forensik RS Bhayangkara. Adrian Bramantyo—asistenku yang baru saja distabilkan di ruang gawat darurat—kini duduk terikat di kursi lab miliknya sendiri. Selang infus masih menancap di punggung tangannya, namun cairan di dalam kantong infus itu bukan lagi larutan salin jernih, melainkan cairan berwarna kuning keemasan.
"Adrian!" teriakku, berlari mendekati ranjang dan meraih ponsel tersebut.
"Jangan bergerak, Dokter," suara berat seorang pria terdengar dari video itu. Pria bertopeng yang berdiri di belakang Adrian memegang katup laju infus.
"Cairan kuning itu adalah Potassium Chloride dosis sangat tinggi," ucap Maia dengan nada santai, seolah ia sedang mendeskripsikan menu hidangan penutup. "Aku yakin kau tahu persis apa yang akan terjadi jika cairan itu masuk ke pembuluh vena asisten kesayanganmu itu. Henti jantung mendadak dalam hitungan detik. Dan kali ini, kau tidak ada di sana untuk menyuntikkan Atropine."
"Kau gila, Maia! Kau benar-benar iblis!" teriak Ghazali, amarahnya meledak hingga urat-urat di lehernya menonjol. Ia bersiap menerjang Maia, namun Nyonya Ratna mengangkat tangannya.
"Berhenti di sana, Ghazali," perintah Nyonya Ratna, suaranya sedingin es di ruang penyimpanan jenazah. "Atau pria di seberang sana akan memutar katup infusnya ke kecepatan maksimum."
Ghazali membeku di tempat. Ia terperangkap. Sang Jaksa Penuntut Umum yang agung kini berdiri tanpa daya di kamarnya sendiri, dikalahkan oleh ibunya dan wanita masa lalunya.
"Apa yang kalian inginkan?" tanyaku, air mata mulai mengalir deras membasahi pipiku. Duniaku runtuh. Kejeniusan klinisku tidak ada artinya jika dihadapkan pada kekejaman tanpa batas seperti ini.
Nyonya Ratna melangkah perlahan mendekati ranjang, menatapku dengan sorot mata yang menguliti setiap lapis martabatku. "Aku menginginkan keseimbangan tatanan ini kembali seperti semula, Keana. Kau adalah sebuah anomali. Keberadaanmu merusak estetika keluargaku."
Nyonya Ratna lalu menoleh pada putranya. "Ghazali, kau memiliki dua pilihan malam ini. Pilihan pertama: kau tetap berpegang pada kebenaran moralmu yang konyol itu. Kau lindungi istri buanganmu ini, lalu kau lihat asistennya mati secara langsung di layar itu. Setelah itu, kau bisa melaporkanku, menghancurkan nama Mahendra, dan kita semua akan berakhir di penjara."
Ghazali menelan ludah dengan susah payah. Matanya memerah, napasnya memburu. "Pilihan kedua?"
Maia yang menjawabnya. Ia melangkah maju, meletakkan selembar dokumen di atas meja rias, berdampingan dengan kotak cincin kawinku.
"Pilihan kedua sangat elegan," ucap Maia dengan senyum beracunnya. "Kau menandatangani surat gugatan cerai ini sekarang juga. Kau menyerahkan kunci bank Swiss itu, dan kau memusnahkan kertas pengakuan dokter Kakek di depan mata kami. Sebagai gantinya, istrimu yang kotor ini akan kubiarkan keluar dari rumah ini hidup-hidup, dan asistennya akan selamat."
Bumi seolah berhenti berputar pada porosnya. Cerai?
Aku menatap surat di atas meja rias itu. Surat yang dicetak rapi dengan kop firma hukum milik Maia. Tiba-tiba, rasa sakit dari bahuku yang tersayat kembali berdenyut hebat, menyebar hingga menembus jantungku. Ranjang pengantin yang baru beberapa menit lalu menjanjikan sebuah awal baru dari penyatuan luka kami, kini kembali berubah menjadi meja operasi tempat hatiku akan dibedah hidup-hidup tanpa anestesi.
"Ghazali..." panggilku lirih, suaraku pecah oleh isak tangis. Aku menatapnya, mencari perlindungan, mencari secercah janji yang ia bisikkan padaku beberapa saat lalu. Pegang tanganku, Keana. Dan jangan lepaskan, apa pun yang terjadi.
Ghazali menatapku. Ada perang badai yang berkecamuk di dalam matanya yang gelap. Ia melihat ke layar ponsel tempat Adrian mulai merintih kesakitan karena pria bertopeng itu memutar katup infus sedikit lebih cepat. Ia lalu melihat ibunya yang tersenyum penuh kemenangan. Terakhir, matanya kembali padaku.
Perlahan, ekspresi wajah Ghazali berubah. Kepanikan dan kerapuhan yang tadi ia tunjukkan mendadak surut, ditarik paksa ke dalam brankas psikologisnya, menyisakan topeng pualam yang sangat kukenal. Topeng dingin yang ia pakai saat pertama kali menghinaku di malam pertama kami.
Ia melepaskan genggaman tangannya dariku.
Sensasi kehilangan sentuhan tangannya terasa seperti kulitku baru saja disiram dengan nitrogen cair. Dingin, mematikan, dan menghancurkan jaringan.
"Ghazali? Apa yang kau lakukan?" bisikku.
Ghazali tidak membalasku. Ia berjalan melangkah melewatinya, menuju meja rias. Ia mengambil pena emas Montblanc miliknya dari saku kemeja.
"Jangan lakukan itu, Mas! Kita bisa mencari cara lain! Jangan biarkan mereka menang dengan kebohongan ini!" aku berteriak histeris, mencoba meraih lengannya, namun ia menepis tanganku dengan kasar.
Tepisannya begitu kuat hingga aku terhuyung mundur dan jatuh terduduk di tepi ranjang.
"Cara lain apa, Keana?!" bentaknya keras. Suaranya menggema brutal di dalam kamar. "Apakah kau mau melihat orang lain mati lagi karena keras kepalamu?! Apakah kau belum puas melihat Bram mati dengan lidah terpotong?!"
"Tapi kau berjanji—"
"Aku berjanji pada diriku sendiri untuk melindungi reputasiku!" potong Ghazali tanpa belas kasihan. Matanya menatapku dengan sorot yang begitu asing dan kejam. "Kau pikir aku benar-benar mencintaimu? Kau pikir ciuman tadi adalah bentuk penyerahan diriku padamu? Itu hanyalah reaksi keputusasaan sesaat dari seorang pria yang terpojok!"
Setiap kata yang meluncur dari bibirnya adalah bilah scalpel yang menyayat organ vitalku. Aku terengah-engah, memegangi dadaku yang terasa mau meledak. Ini tidak mungkin nyata. Beberapa menit yang lalu ia mengatakan bahwa bau formalinku adalah aroma keberanian. Namun sekarang, ia kembali mengulitiku.
"Sejak awal, pernikahan ini hanyalah transaksi kotor yang dipaksakan oleh Kakek," ucap Ghazali, suaranya kini kembali pada intonasi rendah yang sangat merendahkan. Ia menatap Maia sekilas, lalu kembali menatapku. "Dan kau... dengan segala dedikasimu pada mayat dan bau antiseptikmu itu... kau tidak akan pernah cocok berada di duniaku yang bersih ini. Keberadaanmu di rumah ini hanya membawa bencana dan investigasi polisi yang merusak karierku."
Ghazali membuka tutup penanya. Dengan satu gerakan tangan yang cepat dan presisi tanpa keraguan sedikit pun, ia menandatangani surat gugatan cerai itu di atas materai.
Maia tersenyum lebar, senyum kemenangan absolut. "Keputusan yang sangat cerdas, Pak Jaksa Penuntut Umum."
Nyonya Ratna mengangguk puas. "Hentikan infusnya," perintahnya pada Maia. Maia memberi kode pada pria di layar ponsel, dan pria itu segera menutup katup cairan kuning tersebut sebelum mencabut jarumnya dari tangan Adrian secara kasar.
"Sekarang, berikan kertas pengakuan Kakek," pinta Nyonya Ratna.
Ghazali merogoh saku celananya, mengeluarkan kertas usang dan kunci perak itu. Ia menyerahkannya langsung ke tangan Maia tanpa menoleh sedikit pun ke arahku. Maia segera menyalakan korek api gas miliknya dan membakar kertas itu. Bara apinya menari-nari dalam kegelapan, membakar satu-satunya kebenaran hukum yang bisa memenjarakan mereka, mengubahnya menjadi abu kelabu yang berjatuhan mengotori karpet Persia yang mahal.
"Selesai," Nyonya Ratna berbalik, berjalan menuju pintu keluar dengan tongkatnya. "Kemas barang-barangmu malam ini juga, Keana. Ibu tidak ingin melihat wajahmu atau mencium bau rumah sakitmu di meja sarapan besok pagi. Dan ingat, jika kau berani membuka mulut tentang malam ini... asistenmu tidak akan seberuntung tadi."
Maia melangkah menyusul Nyonya Ratna. Namun sebelum ia keluar, ia berhenti di samping Ghazali. Maia berjinjit, dan dengan sangat sengaja mengecup rahang suamiku itu—sebuah ciuman kepemilikan. "Selamat datang kembali di duniaku, Sayang."
Pintu kamar ditutup. Kegelapan dan keheningan kembali menguasai ruangan, menyisakan aku dan pria yang baru saja secara resmi membuangku ke dalam jurang terdalam.
Aku masih duduk di lantai, tubuhku bergetar hebat. Air mata mengalir tanpa suara. Kertas abu sisa pembakaran bukti itu berserakan di depanku, persis seperti sisa-sisa pernikahan kami.
Ghazali berdiri memunggungiku, menatap ke arah luar jendela tempat hujan masih menderas. Pundaknya yang lebar tampak turun.
"Kenapa kau melakukannya?" bisikku, suaraku hancur lebur. "Kenapa kau menghancurkanku lagi, Ghazali?"
"Karena terkadang, memotong anggota tubuh yang infeksi adalah satu-satunya cara agar pasien tetap hidup," jawab Ghazali pelan, tanpa menoleh padaku. Suaranya serak, bergetar menahan sesuatu yang tidak bisa ia ungkapkan. "Aku adalah pasien yang terinfeksi itu, Keana. Dan kau harus pergi sejauh mungkin sebelum racunku membunuhmu."
"Kau pengecut."
"Aku memang pengecut."
"Aku membencimu," isakku, memeluk lututku sendiri, membiarkan luka bahuku berdarah kembali menodai kemejaku.
"Bencilah aku," balas Ghazali, melangkah perlahan menuju sofa di sudut ruangan, meninggalkanku sendirian di dekat ranjang. "Bencilah aku dengan seluruh kewarasan logikamu, Dokter. Karena hanya dengan membenciku, kau bisa bertahan hidup di luar sana."
Malam itu, di kamar pengantin yang tak pernah dihangatkan oleh cinta, penderitaanku mencapai titik sempurnanya. Aku tidak pernah menangis di depan keluarga korban di ruang otopsi, namun malam ini, aku menangisi kematianku sendiri. Ghazali telah memilih untuk menyelamatkan nyawaku, namun sebagai bayarannya, ia mengeksekusi mati hatiku di atas ranjang ini. Cinta ini memang sejak awal dikirimkan pada alamat yang salah, dan kini, surat cinta itu telah dikembalikan kepada pengirimnya dengan stempel bertuliskan: Ditolak.
baca part ini aku merinding
nunggu update selanjutnya kak😍