Zahra dijodohin sama Rayan karena wasiat almarhum Ayah Zahra yang sahabatan sama Abah Rayan. Zahra _ngamuk_ karena ngerasa nggak pantes jadi istri ustadz. Rayan juga _shock_ karena harus nikah sama cewek bertato yang nggak bisa baca Al-Fatihah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wanudya dahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: HUMAIRAH JADI MAK COMBLANG CILIK & RAYAN SALAH TINGKAH
Hari ke-25 di Ndalem. Status Zahra Almira: Bu Nyai Dadakan Punya Bodyguard Cilik.
Penyebab: Humairah. Bocil 6 tahun pipi bakpao. Fans nomor satu Zahra Almira.
Jam 06.30, aku lagi nyiram bunga di teras. Pake daster, kerudung asal, sandal jepit. Aura Bu Nyai amblas.
Humairah dateng. Bawa roti sobek. Lari-lari. “Bu Nyai! Bu Nyai!”
Aku jongkok. “Iya, Humairah. Pagi-pagi udah semangat.”
Humairah nyodorin roti. “Ini buat Bu Nyai. Tadi Kak Fikri dibebeliin. Tapi Humairah kasih ke Bu Nyai aja. Soalnya Kak Fikri nakal. Godain Bu Nyai.”
Aku keselek air liur. “Lho, Humairah tau dari mana?”
“Kata Mbak Yuni,” jawab Humairah polos. “Katanya Kak Fikri kena marah Ustadz Rayan gara-gara nanya Bu Nyai udah punya pacar belum.”
Satu Ndalem gosip cepat banget.
Aku ketawa. Cubit pipi Humairah. “Makasih rotinya. Tapi Bu Nyai udah sarapan.”
Humairah ngangguk. Terus liat ke dalam. “Ustadz Rayan mana, Bu? Kok nggak gandengan sama Bu Nyai?”
DEG. Pertanyaan berbahaya.
“Eh, kenapa harus gandengan?” tanyaku.
Humairah manyun. “Ayah Bunda Humairah gandengan terus. Katanya kalau sayang harus gandengan. Biar nggak ilang.”
Aku mau jawab, suara dari belakang, “Assalamualaikum.”
Rayan. Peci hitam, koko abu, kitab di ketek. Mukanya kaget denger obrolan berbahaya.
Humairah langsung lari ke Rayan. Peluk kakinya. “Ustadz! Ustadz kok nggak gandengan sama Bu Nyai? Katanya udah nikah. Nikah itu harus gandengan!”
Rayan batu. Muka merah sampe ke kuping. Ngelirik aku minta tolong.
Aku? Ketawa. Lepas. Jahat. “Nah, Tadz. Dijawab tuh. Humairah nanya.”
Rayan batuk. Jongkok biar sejajar sama Humairah. “Humairah, Ustadz sama Bu Nyai itu gandengannya di hati. Nggak keliatan.”
Humairah melotot. “Bohong! Hati nggak bisa pegangan. Nanti Bu Nyai ilang gimana? Kayak kucing Humairah. Nggak dipegangin, kabur.”
Satu teras: Meledak. Mbak Yuni di dapur sampe jatuhin sendok.
Aku udah nggak kuat. Duduk di lantai teras. Ngakak sampe perut kram. “Ampun, Humairah. Ustadznya udah keringet dingin tuh.”
Rayan nyerah. Berdiri. “Zahra, tolong handle muridmu.”
Aku berdiri. Ngedekatin Humairah. “Gini lho, Humairah. Ustadz Rayan itu malu. Jadi gandengannya nanti malem aja. Pas nggak ada orang.”
Rayan: “Zahra!”
Humairah manggut-manggut. “Oh. Kayak Ayah Bunda. Kalau ada tamu nggak gandengan. Tapi kalau di kamar gandengan.”
Aku sama Rayan: MATI KUTU.
Humairah puas. Lari pulang. Sambil teriak, “Humairah doain Ustadz sama Bu Nyai gandengan terus! Biar nggak kayak kucing!”
Rayan nutup muka pake kitab. “Astagfirullah. Itu anak siapa sih.”
Aku tepuk pundak Rayan. “Itu anak didik Tadz. Hasil didik Tadz sendiri. Tanggung jawab.”
Rayan ngelirik. “Kamu juga tanggung jawab. Soalnya kamu yang ngajarin latte art. Sekarang jadi gini.”
Aku salim. “Siap, Tadz. Salah Bu Nyai.”
Jam 10.00, Rayan mau ke madrasah. Biasanya jalan sendiri. Aku biasa nyapu.
Tapi hari ini, Humairah nongol lagi di gerbang. Bawa Zaidah sama 3 bocil lain. Formasi demo.
“Ustadz! Bu Nyai!” teriak Humairah. “Kalian harus gandengan ke madrasah! Biar rukun! Biar pahala!”
Santri yang lewat pada nengok. Ning Aliya yang lagi nyiram kembang juga nengok. Senyumnya tipis.
Rayan membatu lagi. Aku? Mikir cepat. Kalau nggak nurut, Humairah bisa demo tiga hari tiga malem.
Aku nyamperin Rayan. Bisik, “Tadz, gandeng sebentar. Demi kewarasan pondok. Nanti dilepas di tikungan.”
Rayan napas. Berat. Terus nyodorin tangannya. Kaku. Kayak robot.
Aku gandeng. Tangannya dingin. Keringetan. Tapi gede dan kuat.
Humairah tepuk tangan. “Hore! Rukun! Pahala! Pahala!”
Kami jalan ke madrasah. Gandengan. Santri pada melongo. Fikri yang lagi hukuman nyapu di depan kelas sampe jatuhin sapu. Lagi.
Ning Aliya nyiram kembang. Airnya malah kena kaki sendiri.
Sampe tikungan sepi, Rayan langsung lepas. “Udah. Cukup.”
Aku ketawa. “Tadz kayak kena setrum. Padahal halal.”
Rayan benerin peci. “Halal bukan berarti nggak malu, Zahra. Aku ustadz. Jaga wibawa.”
“Wibawa apa wiwa?” ledekku.
Rayan geleng-geleng. “Kamu ini.” Tapi sudut bibir naik 10mm. Rekor pecah lagi.
Sore, aku di dapur. Bikin kopi. Humairah nongol lagi. Bawa kertas.
“Bu Nyai, ini gambar buat Ustadz sama Bu Nyai,” katanya.
Aku buka. Isinya: gambar stickman dua orang gandengan. Yang satu pake peci, yang satu rambutnya ungu. Di atasnya ada tulisan: Ustadz Rayan sama Bu Nyai Zahra. Jangan berantem. Harus gandengan biar masuk surga.
Aku mewek. Kalah sama bocil.
Rayan masuk dapur. Liat kertas. Liat aku mewek. Panik. “Kenapa? Humairah nakalin kamu?”
Aku kasih kertas. Rayan baca. Diam. Lama. Terus lipet rapi. Masuk saku koko.
“Buat disimpen,” katanya pelan. “Pengingat. Dari malaikat kecil.”
Aku senyum. “Tadz jadi mellow.”
Rayan nyeduh kopi sendiri. “Kamu juga. Mata bengkak.”
Malam, aku nulis di album. Halaman 3: Hari ini dipaksa gandengan sama Ustadz karena demo bocil. Malu tapi seneng. Ustadz Rayan nyimpen gambar Humairah. Kesimpulan: Jadi Bu Nyai itu harus kuat mental. Soalnya musuhnya bocil umur 6 tahun.
Pintu diketok. Rayan. Bawa dua gelas kopi.
“Ronde dua,” katanya. “Les privat plus gandengan. Soalnya Humairah bilang harus gandengan biar pinter ngaji.”
Aku buka pintu lebar. “Tadz pake alasan Humairah buat modus?”
Rayan masuk. Taruh kopi. Duduk. “Nggak. Aku pake alasan syariat. Menggembirakan istri itu pahala.”
Aku duduk di seberang. Nggak gandengan. Tapi hati gandeng. Kenceng.
Dari jendela, Ning Aliya lewat. Bawa tumpukan kitab. Liat ke dalam. Liat aku sama Rayan ketawa bareng. Liat spidol coklat di meja.
Dia diem. Terus jalan cepet. Keratannya keras.
Perang dingin naik dua derajat. Tapi aku punya pasukan: Humairah dan teman-teman.