NovelToon NovelToon
In Between Us

In Between Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:256
Nilai: 5
Nama Author: Hhj cute

Menceritakan tentang Nathan, Fabian, dan Natalie, tiga orang sahabat yang saling menyayangi.

Nathan terlahir dari keluarga yang harmonis dari lahir. Keluarganya yang menyayanginya penuh dengan. kehangatan, tanpa tidak pernah memberikan kasih sayang kurang. Meskipun terlahir dari kalangan keluarga yang sederhana, keluarga mereka terkenal dengan keharmonisan dan kehangatan yang selalu hadir.

Fabian, seorang anak yang terlahir kaya sedari kecil. Ia berasal dari keluarga yang broken home. Kedua orang tuanya yang punya selingkuhan masing-masing, kerap. membuatnya kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Hidup berkelimang harta tak membuatnya benar-benar merasakan apa itu hidup tanpa kehadiran kedua orang tuanya.

Sedangkan Natalie, kehidupannya hampir sama dengan fabian. Bedanya ia di tinggal sendiri.

Persahabatan yang mereka jalin cukup erat. Hingga sering berjalannya waktu, dua jiwa yang saling buta arah bersatu menjadi sebuah takdir yang tak pernah tertulis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hhj cute, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13

"Udah nggak usah sedih. Mereka nggak apa-apa kok. Lukanya juga nggak terlalu parah," ucap Dewi menenangkan Natalie.

Beberapa waktu lalu mereka sudah sampai di Singapura, dan langsung menuju ke rumah sakit. Kini keduanya duduk di depan ruangan Sarah.

Keduanya tak mempunyai luka cukup berat untungnya. Hanya sebuah goresan kecil di dahi dan tangan. Tapi untuk Sarah, karena terlalu lama di biarkan membuatnya kehilangan banyak darah.

Untuk Nisa, dia sekarang masih berada di rumah yang mereka sewa. Ia sama sekali tak datang ke rumah sakit karena di larang oleh neneknya. Katanya keadaannya masih belum pulih. Kenapa neneknya bisa ada di sana? Karena beliau sedang liburan, jadilah ada di sana nemenin Nisa.

"Dokter, gimana keadaan mama saya?" tanya Natalie saat melihat seorang dokter keluar dari ruangan mamanya.

"Pasien sudah baik-baik saja. Dan dia usah mulai siuman," kata dokter.

"Apakah kita berdua boleh masuk?" tanya Dewi mewakili Natalie.

"Silahkan. Kalau begitu saya permisi dulu, ya."

"Terima kasih, dokter."

Natalie dan Dewi masuk ke dalam ruangan. Mereka melihat Sarah yang sudah siuman, sedang duduk bersandar.

"Mama …." Natalie berhamburan pada pelukan mamanya.

"Hai, gimana kabar kamu sayang?"

"Aku baik-baik aja, kok ma. Ada tante Dewi yang jaga aku di sana."

"Kamu kenapa bisa kecelakaan sih, mbak?" tanya Dewi.

"Ya, begitulah. Oh iya, Natalie. Mama mau minta tolong boleh?" tanya Sarah.

"Minta tolong apa, ma?"

"Jadi gini, rencananya mama sama pada mau nitipin Nisa sama kamu dulu selagi kita di rumah sakit. Sebenarnya kemarin kita emang rencananya mau nitipin Nisa ke sana, karena ada urusan di sini. Dan kami nggak bisa kalau harus bolak-balik. Jadi, apakah kamu mau? Hanya satu tahun kok, habis itu Nisa akan kami bawa kembali," kata Saràh.

"Tapi, sekolah aku gimana? Bukannya di sini ada nenek ya? Terus sekolah Nisa juga gimana?"

"Kamu tenang aja. Untuk sementara waktu sekolah kamu. biar di ganttin sama Nisa. Biar dia bisa merasakan kehidupan luar, bertemu orang-orang baru. Lagi pula nenek kamu kan udah terlalu tua, kasihn kalau harus urus Nisa sendirian."

"Jadi aku nggak sekolah?" tanya Natalie bingung.

"Kamu masih sekolah kok, cuma kamu. gantiin Nisa. Intinya itu kalian bertukar sekolah, untuk satu tahun kedepan."

"Ya nggak bisa gitu dong, mbak. Entar kalau Natalie ketinggalan pelajaran gimana? Kan mbak tau sendiri dunia luar itu nggak baik buat Nisa. Meskipun dia udah sembuh karena dapat donor, bukan berarti dia bisa bebas gitu aja. Bukannya kamu sendiri yang melarang Nisa untuk bersosialisasi dengan orang asing? Terus kenapa jadi kayak gini?" protes Dewi tak terima.

Karena bagaimanapun keduanya tetap orang yang berbeda. Ia tahu kok kalau pendidikan itu penting. Tapi nggak gini juga caranya. Apalagi untuk Nisa yang nggak pernah ketemu orang asing, lalu tiba-tiba harus bersosialisasi dengan mereka—dengan cara bertukar tempat. Bukankah itu juga tidak adil untuk Natalie?

"Kenapa nggak? Laagian ya Dewi, mereka berdua itu anak aku. Jadi terserah aku mau gimana menentukan masa depan mereka berdua. Kamu jangan ikut campur sama urusan keluarga aku. Kamu cukup jaga mereka buat aku," kata Sarah.

"Tapi—"

"Udah, tante nggak apa-apa. Bener kok kata mama, Nisa harus bisa bersosialisasi dengan orang lain. Apa lagi ini adalah pertama kalinya dia keluar, kan?" potong Natalie.

"Makasih ya sayang, kamu udah ngertiin mama. Oh iya, dan satu lagi. Untuk biaya sekolahnya pakai uang kamu dulu, ya. Sekalian punya Nisa juga. Kan kemarin mama sama papa udh kasih kamu kartu. Tolong Nisa di kasih juga, ya."

"Iya, mama."

Natalie ternyum melihat mamanya yang bahagia. Meskipun dalam hati, ia sedikit berat mengikuti permintaan mamanya.

"Nggak apa-apa, Natalie. Cuman satu tahun, kok," batinnya menenangkan.

"Yaudah, kamu berangkat sekarang gih. Jangan lupa jemput Nisa, ya," perintah Sarah yang langsung di turuti oleh Natalie.

"Nata, kamu nggak bisa gitu dong. Kalau Nisa gantiin kamu yang ada kamu semakin ketinggalan banyak pelajaran," protes Dewi di lorong rumah sakit.

"Nggak apa-apa, tante. Nisa lebih butuhin itu dari pada aku. Lagian aku kan masih homeschooling, jadi aku nggak akan ketinggalan pelajaran," ucap Natalie tenang, berbanding balik dengan hatinya.

"Tapi kamu kan tau sendiri, kalau Nisa itu homeschoolingnya masih ngejar yang mana. Dia aja masih dalam materi sekolah SMP, nggak akan sama kayak yang kamu pelajari sekarang. Emang kamu mau cosplay jadi anak SMP?" tanya Dewi tak habis pikir dengan keponakannya itu.

Natalie menghentikan langkahnya, menatap tantenya memohon. Jujur saja, ia juga nggak mau ngelakuin ini semua. Tapi demi mama dan papanya ia rela.

"Aku nggak apa-apa kok. Lebih baik kita susul Nisa sekarang, oke."

"Anak ini, susah bener omongannya."

Saat ini keduanya sudah sampai di depan rumah.

Tok … Tok … Tok …

"Kalian. Ngapain kalian ke sini?" tanya Nenek sedikit ketus.

"Kita ke sini mau jemput Nisa, nek," jawab Natalie dengan sopan.

"Mau kalian bawa ke mana cucuku!" sentaknya.

Natalie berusaha mempertahankan senyumnya, meskipun tak mendapatkan respon yang baik dari neneknya itu.

"Kita mau bawa dia ke Indonesia, nek. Mama nyuruh kita bawa dia ke sana," ucap Natalie.

"Tunggu sini. Saya akan berbicara dulu dengan anak saya."

Brak!

Pintu di banting dengan cukup keras, membuat Natalie memejamkan matanya.

"Dasar, nenek tua. Nggak punya sopan santun sama sekali, heran. Mentang-mentang udah tua, kaya lagi, maunya cuma di sanjung. Takut kalah saing tuh, pasti," cibir Dewi.

Jujur Dewi rasanya ingin melawan wanita itu. Meskipun dia ibu tirinya, nggak terima ia di perlakukan seperti itu. Toh, dia bisa kaya juga karena menikah dengan ayahnya. Ngapain … coba dulu nikah sama kak lampir, pikirnya.

"Udah, tante. Nggak apa-apa," ucap Natalie.

"Nggak apa-apa gimana? Kamu nggak inget emang sama kejadian dulu? Wanita itu udah injek-injek kita, Nata. Dia memandang rendah kita, seakan-akan dia yang paling benar," kesal Dewi.

"Aku tau. Tapi gimana lagi?"

Dewi membuang muka sebal. Kenapa sih, keponakannya itu selalu diam saat di injek-injek kayak gitu? Nggak bisa apa sekali-kali ngelawan gitu.

Beberapa menit berlalu, namun sang pemilik rumah tak kunjung keluar. Natalie dan Dewi masih setia menunggu di depan pintu, layaknya seseorang yang meminta kepastian.

"Akhirnya," gumam Dewi saat melihat Nisa keluar lengkap dengan kopernya.

"Kau, jaga cucuku dengan baik. Jangan sampai ada goresan sedikitpun. Kalau sampai cucuku kenapa-napa, lihat saja," ucap Nenek pada Natalie.

"Kalau Nisa cucu nenek, terus aku siapa …?" batin Natalie.

Jujur saja, ia juga ingin mendapat perhatian seperti Nisa. Tapi ia cukup tahu diri, bahwa kembarannya lebih membutuhkan itu semua dari pada dirinya.

Nenek sedikit melempar koper milik Nisa ke arah Natalie, membuatnya dengan sigap menahan koper itu.

"Jaga diri baik-baik ya, sayang. Nanti nenek sama kakek akan mengunjungi kamu ke sana," ucap nenek dengan lembut, memeluk cucunya dengan penuh sayang.

"Iya, nek. Aku pergi dulu, ya. Bye."

Mereka bertiga berjalan menuju mobil yang sudah di siapkan oleh nenek, sebenarnya cuma Nisa aja. Sedangkan Natalie dan Dewi menaiki taksi yang sudah mereka dapatkan.

.

.

.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!