Dua saudari terjatuh ke sumur tua—terbangun di hutan belantara, menjadi buruan para pemburu; berusaha bertahan hidup ditengah intrik istana dan konflik asmara.
(Jika berkenan, follow Author di ig&tiktok untuk dapat melihat ilustrasi karakter dan berbagai cerita Author yang lain)
ig = @refinawriters
tiktok = @refinawriters
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. Seftia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertanyaan Xiao Yan
"Shu Hua, kamu tidak apa-apa?"
Sebuah keberuntungan besar bagi Shu Hua. Jika bukan karena Xiao Yan, anak panah itu mungkin sudah berhasil menembus jantungnya, dan serangan seperti itu sudah cukup untuk membunuh Shu Hua di tempat.
Namun, kematian tampaknya masih sangat jauh dan tidak akan datang pada waktu dekat ini: Dan setelah bisa berdiri kembali dengan kedua kakinya, Shu Hua pun langsung bersiap untuk serangan lain yang akan datang.
"Pedang!" Shu Hua sekali lagi memanggil pedangnya—ia lalu menatap Xiao Yan.
"Kamu bisa bertarung 'kan?" tanya Shu Hua.
"Iya, aku bisa," jawab Xiao Yan, ikut mengeluarkan pedangnya, bersiap untuk menghadapi serangan yang akan datang.
"Jumlah mereka lebih banyak daripada kita. Semoga kita bisa selamat. Jika kita selamat, aku berjanji akan berbuat baik." Shu Hua berdoa sebelum melakukan pertarungan jarak dekat yang bisa saja membahayakan dirinya, terlebih lagi kemampuan Shu Hua tidak terlalu hebat. Berbeda dengan para pemburu yang telah terlatih.
Namun, tampaknya bukan hal yang sulit untuk melumpuhkan para pemburu itu, mengingat memori aneh tentang dasar-dasar pertarungan, akhirnya Shu Hua dan Xiao Yan berhasil melumpuhkan semua pemburu; tetapi Shu Hua sengaja meninggalkan satu pemburu yang masih dibiarkannya hidup.
Shu Hua punya pertanyaan. Pertanyaan yang besar. Pertanyaan ini sudah sangat lama ingin Shu Hua tanyakan kepada pemburu yang begitu tergila-gila ingin menangkap, bahkan membunuh Shu Hua dan Kakaknya, Li Hua.
"Sejak awal, kalian terus datang dan ingin memburuku dan Kakakku. Kita tidak saling mengenal, lalu kenapa kalian begitu ingin membunuh kami? Siapa yang menyuruh kalian? Katakan, atau nasibmu akan sama seperti teman-temanmu!"
Shu Hua tidak main-main dengan ancaman yang diberikannya, dan pemburu itupun tampaknya tahu jika Shu Hua benar-benar tidak main-main. Karena itulah dia pun pada akhirnya menyerah dan memberikan jawaban yang selama ini sangat Shu Hua ingin ketahui.
"Tidak banyak aku ketahui. Yang pasti, banyak pembunuh bayangan yang ingin menangkapmu dan saudarimu. Mereka ingin menukar kalian dengan koin emas yang bisa cukup untuk membeli rumah dan banyak pelayan," ungkapnya.
"Siapa yang rela mengeluarkan begitu banyak uang hanya untuk menangkapku dan Kakakku? Kami tidak mengenal siapa-siapa di sini! Kenapa mereka ingin menangkap kami?" Shu Hua kembali bertanya dengan amarah yang meledak-ledak.
"Bukankah sudah jelas apa yang mereka inginkan? Bukan dirimu dan saudarimu yang mereka inginkan, tetapi kemampuan tidak biasa kalian. Kebangkitan kalian sudah ditunggu oleh mereka, dan saat kalian benar-benar muncul, mereka langsung bergerak untuk segera menangkap kalian."
"Kemampuan melihat sesuatu yang tidak biasa, kekuatan penyembuhan dan menyembuhkan; lalu kekuatan pemanggil dan kebal akan serangan. Semua itu yang orang itu inginkan. Dia tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan apa yang dia inginkan!" ungkap sang pemburu.
Shu Hua kini hanya bisa terdiam. Ia benar-benar tidak menyangka jika ternyata situasi yang ia hadapi saat ini begitu serius dan penuh dengan bahaya.
"Jadi apa kamu tahu siapa orang itu? Kamu pernah bertemu dengannya? Katakan di mana keberadaannya!" seru Shu Hua.
"Tidak ada yang tahu tentang siapa dia, seperti apa wajahnya dan apa dia sebenarnya. Tetapi yang jelas, dia pun juga bukan manusia biasa. Dia jelas memiliki kemampuan sama seperti kalian berdua. Dan jika sampai kalian bertemu, kemungkinan pertarungan tidak akan selesai tanpa ada yang mati lebih dulu," jelasnya.
Penjelasan yang tidak terlalu membantu bagi Shu Hua. Dan ketika mengingat kembali bagaimana dulu Li Hua pernah terkena anak panah pemburu itu, untuk balas dendam Shu Hua menusukkan pedangnya sedikit ke perut pemburu itu.
"Ini bayaran karena dulu anak panahmu pernah melukai Kakakku. Luka ini tidak seberapa. Jika segera mendapatkan penanganan, kamu masih bisa selamat. Dan jika kamu selamat, aku ingin kamu katakan kepada orang itu. Jika dia benar-benar menginginkan aku dan Kakakku, datanglah langsung kepada kami. Jangan hanya mengirimkan serangga tak berguna!"
Shu Hua yang sudah cukup tenang saat itu, akhirnya meninggalkan sang pemburu dengan luka tusuk. Shu Hua pergi dengan langkah kaki yang terasa lemah—hampir saja ia terjatuh, tetapi untung saja Xiao Yan cepat menahan tubuh Shu Hua.
"Shu Hua, kamu baik-baik saja? Tubuhmu berkeringat dan sangat pucat." Xiao Yan khawatir melihat kondisi Shu Hua saat itu.
Dan saat Xiao Yan terus bertanya kepada Shu Hua, Shu Hua tidak bisa menjawab. Saat itu, pikirannya sedang kosong. Matanya kosong menatap lurus ke tangan yang memegang pedang penuh darah. Bahkan di tangannya pun ada darah.
Sejak pertama kali datang ke dunia ini, Shu Hua tidak pernah bisa tidur dengan tenang. Setiap kali ia menutup mata, maka bayangan dari orang-orang yang telah ia bunuh muncul, mengganggu tidurnya, tidak membiarkan Shu Hua tidur dengan tenang. Dan sekali lagi, kali ini Shu Hua terpaksa harus membunuh beberapa orang, dan rasa bersalah itu kembali datang menyerang.
"Jika kamu tidak kuat lagi, kamu bisa kembali. Aku akan mengantar kamu untuk kembali, dan aku bisa mencari obatnya sendiri. Kamu tidak terlihat sehat, Shu Hua," ucap Xiao Yan.
"Tidak-tidak. Jika aku kembali sekarang, aku hanya akan membuat Kakak khawatir. Aku tidak mau menjadi beban untuknya. Saat ini, aku hanya perlu beristirahat sebentar. Dan juga... aku perlu sumber air untuk membersihkan diri."
Mendengar apa yang dibutuhkan Shu Hua, Xiao Yan langsung ingat jika tidak jauh dari tempat mereka saat itu, ada sebuah sungai kecil yang bersih dan tenang. Cocok untuk beristirahat dan juga membersihkan diri.
Xiao Yan membawa Shu Hua ke sungai itu; di sana, Shu Hua membersihkan darah yang ada di pedangnya, membersihkan tangannya juga. Setelah semua bersih, Shu Hua kembali kepada Xiao Yan yang duduk di batu-batu besar yang ada di sungai itu.
"Aku sudah selesai. Kita bisa lanjut sekarang," ujar Shu Hua.
"Kita bisa istirahat lebih lama. Lagipula kamu masih terlihat berkeringat. Istirahat saja dulu. Ayo, duduk di sini." Xiao Yan membantu Shu Hua untuk naik ke atas batu besar, duduk di sana dengan nyaman sambil menikmati udara dan pemandangan yang menyegarkan.
"Terima kasih banyak ya atas semua bantuan kamu, Xiao Yan. Jika bukan karena kamu, entah apa yang akan terjadi kepadaku," ucap Shu Hua dengan senyuman di wajahnya.
"Tidak perlu berterima kasih. Sudah menjadi hal yang wajar jika saling menolong. Dan... apa kamu sudah merasa lebih enakan?"
"Iya. Aku sudah jauh lebih baik. Aku suka di sini. Tenang. Bagus."
"Kita bisa ke tempat ini lagi di lain waktu," ucap Xiao Yan.
"Apakah akan ada waktu itu lagi?"
"Tentu saja akan ada. Memangnya kenapa? Kamu tidak berpikir untuk menyerah saat diserang orang jahat itu 'kan?"
Shu Hua tersenyum. "Tentu saja tidak. Aku tidak menyerah dengan mudah. Aku harus menjaga Kak Li Hua. Apapun yang terjadi, aku harus memastikan tidak terjadi apapun kepada Kakak!"
Xiao Yan tampak diam untuk beberapa saat. "Kenapa kamu terus menekankan keselamatan Li Hua? Bagaimana dengan keselamatanmu sendiri, Shu Hua? Kamu tidak memikirkannya?" tanya Xiao Yan.
-Bersambung-
Sungguh penasaran pasti shu hua bakal ngecincang Hao Lin dan Xiao Yan bakal kena nih 😄