Arthur hanyalah bocah tujuh tahun yang ingin hidup tenang di Sektor Tujuh. Namun, dunia tidak mengizinkannya. Di balik tubuh mungil itu, bersemayam jiwa The Sovereign, entitas purba yang mampu menghapus konsep keberadaan hanya dengan satu sentilan.
Arthur tidak butuh ketenaran. Ia hanya ingin memastikan tidak ada yang mengganggu waktu santainya, meski itu berarti dia harus menghancurkan dewa dari bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wisata ke Sisa Kiamat
Matahari pagi di Sektor Tujuh menyapa dengan kehangatan yang tidak biasa. Di depan gerbang sekolah, tiga bus besar bertenaga magnetik sudah terparkir rapi. Bus-bus itu dicat dengan warna kuning cerah, dilengkapi dengan logo GDC di bagian samping sebagai tanda bahwa perjalanan ini berada di bawah perlindungan resmi pemerintah. Suara tawa dan teriakan antusias dari anak-anak kelas dua memenuhi udara, menciptakan suasana riuh yang kontras dengan ketegangan yang dirasakan Arthur.
Arthur berdiri di barisan paling belakang, mengenakan jaket biru tua yang disiapkan Clara dan tas ransel kuningnya yang kini terasa lebih berat karena penuh dengan bekal makanan. Ia mengenakan topi bisbol rendah-rendah untuk menutupi matanya. Baginya, kebisingan ini lebih melelahkan daripada menahan ledakan supernova.
"Arthur! Di sini!" teriak Mia sambil melambaikan tangan dari jendela bus nomor dua.
Arthur menghela napas, menyeret langkahnya menuju bus tersebut. Di dalam, Mia sudah mengamankan dua kursi di barisan tengah. Gadis itu tampak sangat siap dengan kamera instan tergantung di lehernya dan sebuah buku panduan tentang Sektor Empat di pangkuannya.
"Kau tampak seperti orang yang akan dihukum gantung, bukan orang yang mau pergi berwisata," komentar Mia saat Arthur duduk di sampingnya.
"Aku hanya kurang tidur," jawab Arthur pendek, lalu menyandarkan kepalanya ke kaca bus yang dingin.
Bus mulai bergerak dengan halus, melayang beberapa sentimeter di atas jalur magnetik. Saat mereka meninggalkan gerbang sekolah, Arthur bisa melihat sebuah mobil hitam legam dengan kaca gelap membuntuti mereka dari jarak yang aman. Ia mengenali frekuensi mesinnya. Itu adalah mobil dinas Silas.
Tampaknya Valerius benar-benar menjalankan perintahnya dengan serius. Silas kini bertugas sebagai pengawal bayangan untuk memastikan tidak ada jurnalis atau agen GDC lain yang mendekati Arthur selama perjalanan ini.
Perjalanan dari Sektor Tujuh ke Sektor Empat memakan waktu sekitar dua jam melewati jalur tol lintas sektor yang dikelilingi oleh dinding pelindung plasma. Sepanjang jalan, Bu Hera berdiri di depan bus, menggunakan pengeras suara untuk memberikan penjelasan tentang sejarah Sektor Empat.
"Anak-anak, Sektor Empat dulunya adalah pusat pelabuhan terbesar. Namun, beberapa hari lalu, pahlawan kita, Komandan Valerius, bertempur hebat di sana untuk menutup retakan dimensi," ujar Bu Hera dengan nada bangga. "Kita akan mengunjungi Zona Nol, tempat di mana tangan raksasa monster itu berhasil dipukul mundur."
Anak-anak bersorak, kecuali Arthur yang justru menutup matanya. Ia teringat betapa lengketnya material dari tangan monster itu saat ia menyentil nya. Material itu bukan daging, tapi sejenis logam cair cerdas yang mampu merekam data genetika siapa pun yang menyentuhnya. Arthur hanya berharap jejak energinya sudah benar-benar menguap di bawah terik matahari Sektor Empat.
Saat bus memasuki perbatasan Sektor Empat, pemandangan berubah drastis. Jika Sektor Tujuh adalah hutan gedung pencakar langit yang rapi, Sektor Empat adalah medan konstruksi raksasa. Ratusan robot derek terlihat sedang mengangkat puing-puing beton, sementara tim pembersih dari divisi biokimia menyemprotkan cairan penetralisir ke sisa-sisa kawah ledakan.
Bau logam terbakar dan aroma laut yang asin menyengat hidung Arthur saat ia turun dari bus. Mereka mendarat di sebuah area yang sudah disulap menjadi museum terbuka sementara. Di sana, terdapat replika raksasa dari kejadian kemarin, lengkap dengan foto-foto Valerius yang sedang berpose heroik.
"Lihat! Itu kawahnya!" teriak Leo sambil menunjuk ke sebuah lubang besar yang kini dikelilingi pagar pembatas elektronik.
Arthur menatap kawah itu dengan pandangan malas. Ia tahu persis bahwa kawah itu tercipta bukan karena serangan monster, tapi karena tekanan udara dari sentilannya sendiri yang menghujam ke tanah. Di tengah kawah tersebut, GDC telah memasang sebuah monumen kecil dengan tulisan: Di sinilah Keadilan Menang.
Keadilan tidak menang, Paman, batin Arthur sinis. Keadilan sedang sibuk mengunyah roti isi stroberi di belakang bus.
Arthur berjalan menjauh dari kerumunan teman-temannya yang sibuk mengambil foto. Ia berjalan menuju tepian pantai yang berbatasan langsung dengan laut lepas. Di sana, ia bisa melihat Armada Kedelapan milik Valerius yang sudah bersiaga di cakrawala. Kapal-kapal induk raksasa itu tampak seperti titik-titik hitam yang membelah lautan.
Tiba-tiba, Arthur merasakan sebuah getaran frekuensi rendah yang sangat halus. Itu bukan berasal dari mesin-mesin konstruksi, melainkan dari kedalaman laut. Getarannya sangat mirip dengan suara dengungan lebah, tapi jauh lebih berat dan berirama.
"Jembatan itu... beresonansi," gumam Arthur.
Ia menyadari bahwa keberadaannya di Sektor Empat, yang secara geografis lebih dekat dengan titik pusat di Pasifik, mulai memicu reaksi dari dimensi lain. Para Architects mungkin tidak bisa melihatnya secara langsung, tapi mereka bisa merasakan keberadaan massa besar yang sedang bergerak di daratan.
Di saat yang sama, Silas yang sedang mengamati dari dalam mobilnya melalui teropong jarak jauh, menyadari ada yang salah. Sensor di dasbor mobilnya mulai berkedip merah sebuah tanda adanya gangguan elektromagnetik yang tidak stabil.
"Arthur sedang melakukan sesuatu?" tanya Silas pada dirinya sendiri. Ia segera keluar dari mobil, mencoba mendekati area pantai tanpa menarik perhatian para guru.
Silas melihat Arthur berdiri diam di pinggir dermaga yang hancur. Bocah itu tampak sangat kecil di hadapan lautan luas, namun Silas bisa merasakan bahwa suhu di sekitar Arthur jauh lebih hangat daripada di tempat lain. Seolah olah bocah itu adalah sebuah reaktor nuklir yang sedang mencoba menahan diri agar tidak meledak.
"Tuan Silas, apa yang Anda lakukan di sini?"
Silas tersentak. Ia berbalik dan menemukan Valerius sudah berdiri di belakangnya. Pahlawan itu mengenakan pakaian kasual jaket kulit dan kacamata hitam untuk menyamar di tengah kerumunan.
"Komandan," Silas mengangguk hormat. "Sensor saya menangkap sesuatu. Arthur... dia sepertinya sedang bereaksi terhadap apa pun yang ada di laut itu."
Valerius menatap ke arah Arthur, lalu ke arah laut. "Aku tahu. Armada Kedelapan baru saja melaporkan adanya kenaikan suhu air laut sebesar sepuluh derajat dalam lima menit terakhir. Arthur sedang mencoba 'menekan' sesuatu dari sini."
Arthur memang sedang bekerja. Di bawah permukaan laut, ia mengirimkan gelombang tekanan yang tak terlihat sebuah perisai konsep yang menekan balik energi dari Jembatan tersebut. Setiap kali Jembatan itu mencoba memancarkan sinyal, Arthur menghancurkan sinyal tersebut dengan getaran molekul air.
Namun, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Dari balik kabut laut, sebuah objek meluncur dengan kecepatan luar biasa menuju dermaga. Itu bukan rudal, bukan juga monster raksasa. Itu adalah sesosok manusia yang mengenakan baju pelindung berwarna perak metalik tanpa celah sedikit pun.
Sosok itu mendarat di atas permukaan air, berdiri tegak seolah olah air laut adalah lantai beton. Ia tidak memiliki wajah, hanya sebuah lensa merah besar di bagian tengah helmnya.
"Pembersih," bisik Arthur. Matanya menyipit.
Pembersih adalah unit pembunuh elit dari para Architects. Mereka bukan makhluk hidup, melainkan bio-mekanis yang dirancang khusus untuk menghapus anomali di planet-planet yang akan mereka invasi. Pembersih ini membawa sebuah sabit energi yang memancarkan cahaya ungu gelap.
Pembersih itu mengangkat senjatanya ke arah Arthur. Ia tidak peduli dengan kerumunan anak sekolah di belakang sana. Misinya hanya satu: memusnahkan sumber energi anomali yang ia deteksi.
"Valerius! Bertindak sekarang!" perintah Arthur melalui pesan mental yang langsung menghantam pikiran Valerius. "Halangi dia! Jangan biarkan dia mendekati dermaga! Aku akan mengurus energinya dari sini, tapi kau harus menjadi wajah yang mengalahkannya di depan publik!"
Valerius tidak membuang waktu. Ia segera melepas jaket penyamarannya, memperlihatkan kostum emasnya yang legendaris di balik itu. Dengan satu lompatan besar, ia meluncur ke arah laut, menciptakan ledakan air yang sangat tinggi.
"Mundur, anak-anak! Semua masuk ke bus sekarang!" teriak Bu Hera yang panik saat melihat Valerius tiba-tiba muncul dan menyerang sesuatu di laut.
Pertempuran pecah di atas permukaan air. Valerius menghantamkan pedang cahayanya ke arah Pembersih, namun makhluk itu bergerak dengan kecepatan yang hampir menyamai cahaya. Setiap benturan senjata mereka menciptakan gelombang kejut yang membuat kaca-kaca gedung di Sektor Empat bergetar hebat.
Arthur tetap berdiri di pinggir dermaga, tangannya masuk ke saku celana. Di balik saku itu, jari jarinya sedang bergerak cepat, memanipulasi hukum gravitasi di sekitar Pembersih agar Valerius bisa mendaratkan serangannya.
Tanpa bantuan Arthur, Valerius sudah pasti akan terbelah menjadi dua dalam waktu kurang dari sepuluh detik. Arthur sengaja memperlambat waktu bagi si Pembersih, seolah olah makhluk itu sedang bergerak di dalam lumpur yang sangat kental.
Ayo, Paman. Ayunkan pedangmu ke kiri sedikit lagi, batin Arthur memberikan instruksi lewat pikiran.
Valerius mengikuti instruksi itu seolah olah ia adalah boneka yang digerakkan benang tak terlihat. Pedang cahayanya mengenai bahu si Pembersih, meledakkan material metalik makhluk itu. Namun, si Pembersih tidak merasakan sakit. Ia justru mulai mengumpulkan energi di lensa merahnya sebuah serangan penghancur area.
"Arthur! Dia akan meledakkan diri!" teriak Valerius melalui interkom internalnya.
Arthur menghela napas. Ia tidak punya pilihan. Jika Pembersih itu meledak, seluruh Sektor Empat akan musnah. Ia harus melakukan sentilan lagi, tapi kali ini ia harus melakukannya dengan sangat halus agar tidak terlihat oleh kamera drone yang sudah mulai memenuhi langit.
Arthur mengambil sebuah kelereng dari sakunya. Ia menjentikkan kelereng itu ke arah si Pembersih. Kelereng itu melesat tanpa suara, menembus udara tanpa menciptakan gesekan panas.
Tepat saat Pembersih itu hendak melepaskan energinya, kelereng Arthur menghantam titik pusat energinya.
KLING.
Suara itu sangat kecil, hampir tidak terdengar di tengah gemuruh ombak. Namun, dampaknya sangat dahsyat. Energi di dalam tubuh Pembersih itu terkunci dan menciut ke dalam, seolah olah ia tertelan oleh sebuah lubang hitam mini yang tercipta di dalam perutnya sendiri.
Dalam sekejap, sosok perak metalik itu menghilang, terkompresi menjadi sebuah butiran logam sekecil biji kacang yang kemudian jatuh ke dasar samudra.
Valerius mendarat kembali di atas air dengan napas terengah-engah. Ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi ke arah kerumunan anak sekolah dan kamera media. "Ancaman telah dihilangkan! Sektor Empat aman di bawah penjagaanku!"
Sorak sorai kembali pecah. Anak-anak kelas dua SD melompat-lompat kegirangan karena baru saja melihat pahlawan idola mereka beraksi secara langsung. Mia terus-menerus memotret dengan kameranya, sementara Arthur sudah berjalan kembali menuju bus, seolah-olah ia baru saja bangun dari tidur siang yang panjang.
Silas berdiri di kejauhan, menatap butiran logam kecil yang tenggelam di laut. Ia tahu persis apa yang baru saja terjadi. Ia melihat Arthur menjentikkan kelereng tersebut. Ia melihat bagaimana hukum fisika ditekuk hanya untuk menyelamatkan pahlawan yang tidak berdaya itu.
"Dia benar-benar gila," gumam Silas. "Menyelamatkan dunia dengan kelereng mainan."
Di bus, Arthur duduk kembali di kursinya. Mia menoleh padanya dengan mata berbinar. "Arthur! Kau lihat itu? Valerius keren sekali! Dia menghancurkan ninja perak itu hanya dengan satu tebasan!"
"Ya, keren sekali," jawab Arthur sambil menutup matanya kembali. "Tapi aku lapar. Kapan kita makan roti isi stroberinya?"
Jauh di Pasifik, Jembatan itu bergetar hebat. Para Architects di sisi lain merasa frustrasi. Pembersih elit mereka hilang begitu saja tanpa sempat mengirimkan data rekaman.
"Anomali di planet itu... ia mulai melawan," suara berat di dimensi tinggi bergema. "Jangan kirim unit tunggal lagi. Siapkan fase ketiga. Buka Jembatan sepenuhnya. Kita akan meratakan planet itu dengan kehadiran kita sendiri."
Arthur, yang sedang menggigit roti isinya di dalam bus yang bergerak pulang, tiba-tiba berhenti mengunyah. Ia menatap ke arah laut untuk terakhir kalinya.
Fase ketiga? batin Arthur. Tampaknya aku harus benar-benar belajar cara mengerjakan PR matematika lebih cepat, karena minggu depan sepertinya akan sangat sibuk.