Zee Chou, atau yang dikenal dengan nama panggung Choi Heesung, adalah idola K-Pop paling populer dan dicintai jutaan penggemar. Di atas panggung, ia bersinar sempurna, tampan, dan memiliki citra bersih yang dijaga sangat ketat. Namun di balik kemegahan itu, ia menyembunyikan satu kenyataan pahit: warisan perusahaan keluarga yang terancam bangkrut. Demi menyelamatkan segalanya, Zee terpaksa menyetujui pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan—menikahi Park Hye-ri, gadis biasa dan sederhana, putri sahabat orang tuanya yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia hiburan.
Pernikahan ini hanyalah sebuah kesepakatan di atas kertas, rahasia yang harus dijaga mati-matian dari publik dan penggemar. Tidak ada cinta, tidak ada perasaan, hanya kewajiban dan aturan ketat. Bagi Zee, Hye-ri hanyalah kewajiban yang mengganggu karir cemerlangnya. Bagi Hye-ri, Zee hanyalah idola dingin, angkuh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao Eunbi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng Kebohongan dan Perihnya Kesepian
Hari-hari berubah menjadi neraka bagi Park Hye-ri.
Rumah besar yang baru mulai terasa hangat dan berwarna, kini kembali menjadi tempat paling dingin dan menyakitkan di dunia. Bahkan lebih buruk dari awal pernikahan mereka dulu. Dulu, setidaknya tidak ada tawa wanita lain yang terdengar renyah bersahutan dengan suara Heesung. Dulu, setidaknya ia tidak harus melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana pria yang dicintainya memperlakukan wanita lain dengan lembut, sopan, dan penuh perhatian.
Jung Soo-ah benar-benar menempati rumah itu. Ia bertindak seolah dialah nyonya rumah yang sesungguhnya. Berjalan beriringan dengan Heesung, duduk di sebelahnya saat makan malam, tertawa di ruang tamu, dan sesekali—dengan sengaja—menatap tajam ke arah Hye-ri dengan pandangan penuh kemenangan dan ejekan.
Dan Heesung... Heesung melakukan segalanya dengan sempurna.
Ia adalah aktor terbaik. Di depan Soo-ah, di depan staf rumah tangga, di depan dunia... ia menjadi kekasih yang sempurna. Ia menatap Soo-ah dengan pandangan lembut, membukakan pintu untuknya, tersenyum padanya, dan berbicara dengan nada manja yang dulu hanya diperuntukkan bagi Hye-ri.
Namun, setiap kali Soo-ah tidak melihat, setiap kali Heesung mengira tidak ada yang memperhatikan... matanya akan berubah kosong, redup, dan penuh kepedihan yang tak terukur. Dan saat ia tidak sengaja bertatapan dengan Hye-ri, ada kilatan rasa sakit dan penyesalan yang begitu dalam di sana, kilatan yang memohon: Maafkan aku. Tolong mengertilah.
Tapi bagi Hye-ri, tatapan itu hanyalah sisa-sisa rasa kasihan. Baginya, Heesung telah memilih. Ia telah memilih ketenaran, telah memilih masa lalu, dan telah meninggalkannya di tempat yang paling sepi.
Malam itu, jam menunjukkan pukul dua belas lewat tengah malam.
Hye-ri duduk di lantai dekat jendela kamarnya, memeluk lututnya sambil menatap hujan deras yang turun membasahi taman di bawah sana. Matanya bengkak dan kering, air matanya rasanya sudah habis tertumpah selama tiga hari terakhir.
Dari lantai bawah, terdengar suara tawa dan obrolan. Pintu ruang tamu terbuka lebar karena udara panas. Hye-ri bisa mendengar suara Heesung dan Soo-ah yang sedang menonton film bersama.
"Zee Chou... kau ingat tidak? Dulu kita sering begini, kan? Hanya berdua, menonton film sampai larut malam," suara Soo-ah terdengar manja dan jelas terbawa angin.
"Ya... aku ingat," jawab suara Heesung. Datar. Sangat datar. Tapi bagi telinga Hye-ri, jawaban itu terdengar seperti belati.
"Kau tahu? Aku sangat rindu ini. Sangat rindu kamu. Dulu aku pergi karena aku ingin mengejar mimpiku. Tapi ternyata... mimpi terbesarku ada di sini, bersamamu," ucap Soo-ah lagi, nadanya sengaja dikeraskan agar terdengar sampai ke lantai atas.
Hye-ri menutup telinganya dengan tangan, berusaha memblokir suara itu. Dadanya sesak sekali. Rasanya ia ingin lari keluar rumah, pergi ke mana saja, asalkan tidak harus mendengar semua ini.
Tiba-tiba, ada ketukan pelan di pintu kamarnya.
Tok... tok... tok...
Hye-ri tertegun. Jam segini? Siapa? Ibu Jung sudah pulang. Pembantu lain tidur di sayap belakang. Hanya ada mereka bertiga di rumah ini.
Ketukan itu terdengar lagi, lebih pelan, hampir berbisik.
"Hye-ri... ini aku. Buka sebentar saja... tolong..."
Suara itu. Suara yang membuat hatinya hancur sekaligus berdegup kencang. Suara Heesung.
Hye-ri ragu. Ia ingin sekali membuka pintu itu, ingin melempar dirinya ke pelukan pria itu dan bertanya kenapa, kenapa dia melakukan semua ini. Tapi ia ingat kata-kata menyakitkan Heesung tempo hari. Ia ingat tatapan dinginnya.
"Pergilah," jawab Hye-ri dengan suara parau, cukup keras terdengar lewat celah pintu. "Pergilah ke kamar tamu di sebelah kamar utama. Di sana ada wanita yang menunggumu. Jangan datang ke sini, Tuan Choi. Kita sudah sepakat... aku hanya istri kontrak. Dan kau sudah punya kekasihmu kembali."
Di balik pintu, Heesung berdiri kaku. Tubuhnya basah kuyup karena ia menyelinap keluar lewat jendela ruang tamu dan berjalan memutar lewat teras belakang agar tidak ketahuan Soo-ah. Rambutnya basah, kemejanya lembap, dan wajahnya pucat pasi.
Ia menempelkan dahinya ke pintu kayu dingin itu, air mata kesedihan bercampur air hujan membasahi wajahnya.
"Maafkan aku... Hye-ri, tolong dengarkan aku sebentar saja," bisik Heesung dengan suara bergetar dan pecah. "Semua yang kukatakan hari itu... semua kata-kata jahat itu... tidak ada yang benar. Aku terpaksa. Demi keselamatanmu, demi melindungimu dari kebencian dunia... aku harus menjadi penjahat. Tolong jangan percaya apa pun yang kau lihat atau dengar. Di hatiku... hanya ada kamu. Hanya kamu seorang."
Hye-ri di dalam sana terdiam, tangannya menutup mulut agar tidak menangis tersedu-sedu. Ia ingin percaya. Ia sangat ingin percaya. Tapi kenapa? Kenapa harus seberat ini? Kenapa harus menyakiti sampai sedemikian rupa?
"Kalau begitu..." Hye-ri menjawab pelan, suaranya bergetar hebat, "kalau kau benar-benar mencintaiku... kenapa kau biarkan wanita itu merangkul lenganmu? Kenapa kau tertawa bersamanya? Kenapa kau tidak mengusirnya? Heesung... rasa sakit yang kau berikan padaku... itu bukan perlindungan. Itu penyiksaan."
Heesung di luar sana menunduk dalam-dalam, rasa bersalahnya menghancurkan organ dalamnya.
"Aku tidak punya pilihan, Sayang. Agensi memegang semua kendali. Ayahku terancam dipenjara. Dan Soo-ah... dia lebih licik dari yang kau kira. Dia tahu tentang pernikahan kita. Dia tahu kelemahan kita. Jika aku menolaknya... dia bersumpah akan menghancurkanmu lebih dulu sebelum menghancurkanku. Dia akan membuat namamu kotor seumur hidup. Aku tidak berani mengambil risiko itu. Aku rela dibenci, aku rela dianggap pengkhianat... asalkan kau aman. Asalkan kau tetap hidup dan bernapas di sini, di atap yang sama denganku..."
Suara langkah kaki terdengar dari ujung lorong. Langkah kaki sepatu hak tinggi yang berirama dan keras.
"Heesung? Kau di mana? Kenapa hilang tiba-tiba?" suara Soo-ah terdengar mendekat.
Wajah Heesung memucat ketakutan. Ia menoleh ke belakang, lalu kembali menempelkan bibirnya ke pintu, berbisik secepat dan secemas mungkin.
"Dia datang. Hye-ri, tolong bertahan sedikit lagi. Aku berjanji... tidak lama lagi. Begitu aku mendapatkan bukti yang kubutuhkan, begitu aku punya kekuatan untuk melawan mereka semua... aku akan membongkar segalanya. Aku akan menjemputmu. Aku akan berlutut di kakimu seumur hidupku. Tunggu aku... kumohon, tunggu aku."
Langkah kaki makin dekat.
Heesung berlari tergesa-gesa menjauh, bersembunyi di balik tiang pilar lorong gelap tepat saat Soo-ah muncul di ujung sana.
Soo-ah melihat pintu kamar Hye-ri yang tertutup rapat, lalu menatap sekeliling dengan curiga. Senyum licik melintas di bibirnya. Ia tahu. Ia curiga.
"Heesung?" panggilnya lagi, kali ini dengan nada tajam.
Heesung muncul dari bayang-bayang di ujung lorong lain, berpura-pura baru keluar dari kamar mandi. Ia mengusap rambut basahnya dengan handuk kecil yang ia ambil sembarangan.
"Apa? Ada apa?" tanya Heesung dingin, wajahnya kembali dipasang datar dan tak berperasaan.
"Kau dari mana saja? Aku bangun, kau tidak ada di sampingku. Aku pikir kau kabur lari ke wanita itu," ucap Soo-ah sambil menunjuk pintu kamar Hye-ri dengan dagunya.
Heesung mendengus kasar, berjalan melewati Soo-ah tanpa menatapnya.
"Gila. Untuk apa aku ke sana? Wanita itu hanyalah beban kontrak. Aku hanya pergi ke kamar mandi. Ayo turun lagi, aku belum selesai melihat berita jadwal besok."
Soo-ah tersenyum puas, mengaitkan lengannya kembali ke lengan Heesung. Tapi matanya melirik pintu kamar Hye-ri dengan pandangan berbahaya.
'Kau pikir aku bodoh, Heesung? Kau pikir aku tidak tahu? Hati-hati... kalau kau main api, aku akan pastikan si burung kecil di dalam sana terbakar habis,' batin Soo-ah penuh kebencian.
Pagi harinya, badai baru datang.
Soo-ah sengaja mengatur segalanya. Ia meminta difoto bersama Heesung di halaman depan rumah, berpelukan, tersenyum mesra, seolah sedang berpacaran serius. Foto itu langsung tersebar ke seluruh media kurang dari satu jam kemudian dengan judul besar:
"PASANGAN EMAS KEMBALI BERSATU! CHOI HEESUNG DAN JUNG SOO-AH KONFIRMASI HUBUNGAN, WANITA MISTERIUS DI JEJU HANYALAH FITNAH!"
Isinya penuh pujian, penuh komentar manis dari penggemar yang lega, dan penuh kebahagiaan palsu.
Hye-ri membaca semua itu di layar ponselnya sambil duduk sendirian di sudut taman belakang, jauh dari pandangan mereka berdua. Tangannya gemetar hebat. Ia merasa dirinya seperti sampah yang dibuang begitu saja demi ketenaran pria itu.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
"Nona Park Hye-ri... Jika kau masih merasa punya harga diri, pergilah dari rumah itu. Jangan membuat dirimu makin dipermalukan. Heesung mencintaiku. Kau hanya masa lalu yang mengganggu. Atau... kau ingin aku menyebarkan bukti pernikahan kontrak kalian yang memalukan itu ke seluruh dunia, dan membuatmu dicemooh jutaan orang sebagai wanita yang membeli suami? Aku memberi waktu 3 hari. Pergilah."
Pesan itu dari Soo-ah.
Hye-ri mengangkat wajahnya, menatap ke arah beranda depan rumah. Di sana, dari kejauhan, ia melihat Heesung sedang berdiri diam. Punggungnya tegak, tapi bahunya terlihat sangat lelah. Heesung menatap lurus ke arah Hye-ri. Jarak mereka jauh, tapi tatapan mata itu bertemu.
Di mata Heesung, Hye-ri melihat air mata yang tertahan. Ia melihat keputusasaan. Ia melihat pria itu seolah berteriak dalam diam: Jangan pergi. Kumohon, jangan pergi. Aku butuh kamu di sini agar aku tetap waras.
Tapi pesan Soo-ah berputar di kepalanya. Ancaman untuk mempermalukan keluarganya. Ancaman untuk menghancurkan sisa-sisa harga dirinya.
Hye-ri menghela napas panjang, napas yang terasa berat dan getir. Ia tersenyum tipis, senyum yang penuh kepahitan. Ia menggeleng pelan ke arah Heesung, seolah menjawab semua pertanyaan yang tak terucap.
Ia tidak bisa terus begini. Ia tidak bisa menjadi alasan kenapa Heesung terus terjebak dalam kebohongan ini. Ia tidak bisa menjadi beban yang menghalangi karir pria itu. Dan ia tidak sanggup lagi menyaksikan pria yang dicintainya dimiliki orang lain di depan matanya sendiri.
Hye-ri bangkit berdiri, membersihkan roknya yang berdebu. Ia berjalan masuk ke dalam rumah, melewati Heesung tanpa menoleh lagi.
Keputusan sudah bulat.
Ia akan pergi.
Ia akan pergi untuk sementara waktu, berpikir bahwa itu yang terbaik untuk Heesung, untuk karirnya, dan untuk keselamatan semua orang. Tapi ia tidak tahu... kepergiannya itu akan menjadi pukulan terberat bagi Heesung, yang akhirnya akan membuat sang idola itu kehilangan kendali dan meledak dengan cara yang tidak pernah dibayangkan siapa pun.