GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)
"Hayu siapa yang penasaran sama kisah Aruna, gadis malang yang terpaksa menyerahkan hidupnya jadi milik seorang pria yang sangat tampan, kaya raya, tapi dikenal sangat kejam dan berhati dingin? 😯💔
Dipaksa menikah cuma demi bertahan hidup, dihina, diremehkan, dan dianggap cuma barang milik semata. Namun Aruna berjanji dalam hatinya, dia bakal buktikan kalau dia juga punya harga diri yang tak boleh diinjak. Apakah dia sanggup hadapi sifat angkuh dan kejam Aris Baskara? Bagaimana nasibnya hidup di antara kemewahan yang ternyata penuh dengan penghinaan dan rasa sakit? 🤔
Baca yuk ceritanya! Kisah cinta penuh luka, amarah, air mata, dan takdir yang bikin hati campur aduk. Dijamin bikin penasaran dari bab pertama sampai akhir 📖🔥
📖 Judul: GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)
(Penulis: Lestari Visa)"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lestari visa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Menelusuri Jejak Masa Lalu
Angin masih berhembus pelan di antara pepohonan rindang yang mengelilingi kompleks pemakaman. Suasana yang hening dan damai itu kini terasa sedikit berubah, seolah udara di sekitar mereka mulai diisi oleh rasa penasaran sekaligus rasa waspada yang perlahan tumbuh di dalam hati Aditya dan Luna. Setelah menyadari bahwa masih ada satu rahasia besar yang belum terungkap dari silsilah keluarga Luna, keduanya merasa bahwa kedamaian yang baru saja mereka rasakan belum sepenuhnya utuh. Masih ada satu bagian yang hilang, satu teka-teki yang harus dipecahkan demi keamanan dan kebahagiaan mereka di masa depan.
Luna menatap Aditya dengan pandangan yang bercampur antara rasa khawatir dan tekad yang kuat. Ia menggenggam tangan kekasihnya itu lebih erat, seolah mencari kekuatan dan kepastian bahwa apa pun yang akan terjadi nanti, mereka akan tetap berjalan beriringan.
"Kalau begitu, kapan kita akan mulai mencari tahu semuanya, Aditya? Dan dari mana kita harus memulainya? Aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang keluarga asliku, bahkan nama nenekku pun baru aku dengar hari ini," tanya Luna pelan, suaranya terdengar lembut namun penuh kesungguhan.
Aditya tersenyum menenangkan, lalu mengusap lembut punggung tangan Luna dengan ibu jarinya. Ia menatap ke arah jalan setapak yang membelah area pemakaman, seolah sedang memikirkan langkah pertama yang harus mereka ambil.
"Kita akan mulai secepat mungkin, Sayang. Kita tidak akan menunda-nunda lagi, karena aku takut kalau kita terlambat, jejak-jejak yang ada akan semakin sulit ditemukan atau bahkan hilang sama sekali. Tapi tenang saja, kita tidak akan melangkah sendirian. Ada Pak Herman yang akan membantu kita. Beliau adalah orang yang paling tahu seluk-beluk sejarah keluarga Pratama, dan dialah yang menemukan dokumen-dokumen penting itu. Besok pagi, kita akan pergi ke kantor hukum milik Pak Herman dan menelusuri berkas-berkas lama yang ada di sana. Mungkin di sana kita akan menemukan petunjuk awal yang bisa membawa kita kepada kebenaran," jelas Aditya dengan tenang dan penuh perhitungan.
Luna mengangguk setuju. Ia merasa lega mengetahui bahwa mereka tidak berjalan sendirian dalam pencarian ini. Kehadiran Pak Herman, sosok yang bijaksana dan dapat dipercaya, menjadi satu harapan besar bagi mereka berdua.
"Baiklah, aku setuju. Aku akan ikut denganmu ke mana pun kamu pergi, Aditya. Aku ingin tahu semuanya, meskipun nanti kebenarannya ternyata tidak menyenangkan atau malah membawa masalah baru bagi kita. Setidaknya aku tidak akan hidup dalam ketidaktahuan dan ketakutan akan hal yang tidak diketahui," ucap Luna dengan tegas.
Aditya tersenyum bangga melihat keteguhan hati yang dimiliki oleh wanitanya. Ia pun merasa semakin yakin bahwa mereka akan mampu melewati ujian baru ini dengan baik, sama seperti saat mereka berhasil mengalahkan Bapak Surya dahulu.
"Aku bangga padamu, Luna. Kamu wanita yang luar biasa kuat dan berani. Percayalah, apa pun yang nanti akan kita temukan, kita akan menghadapinya bersama-sama. Tidak ada rahasia yang terlalu besar untuk kita pecahkan, dan tidak ada masalah yang terlalu berat untuk kita pikul berdua," ucap Aditya tulus, lalu ia mencium kening Luna dengan penuh kasih sayang.
Setelah merasa cukup tenang dan yakin dengan rencana yang telah mereka susun, mereka berdua pun akhirnya melangkah pergi dari makam itu. Namun, langkah kaki mereka kini terasa berbeda dari saat mereka datang tadi. Dulu langkah mereka penuh beban dan ketidakpastian, namun kini langkah mereka penuh dengan semangat, keberanian, dan harapan baru. Misteri yang ada di depan mata mereka memang terlihat gelap dan menakutkan, namun cahaya cinta dan persatuan di antara mereka menjadi penerang yang akan menuntun jalan mereka.
Perjalanan pulang ke rumah berlangsung dengan suasana yang lebih tenang. Sesekali mereka berbicara mengenai kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, namun lebih banyak mereka habiskan dengan berdiam diri, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Di dalam hati mereka, rasa penasaran bercampur dengan rasa cemas, namun keduanya berusaha untuk tidak membiarkan perasaan negatif itu menguasai diri mereka. Mereka tahu bahwa mereka harus tetap tenang dan berpikir jernih jika ingin berhasil mengungkap kebenaran.
Keesokan harinya, tepat seperti yang telah direncanakan, pagi-pagi sekali Aditya dan Luna sudah bersiap-siap untuk berangkat. Luna mengenakan pakaian yang sopan dan rapi, namun terlihat sederhana, seolah ingin menyesuaikan diri dengan suasana yang akan mereka hadapi. Ia merasa sangat gugup, seolah ia akan membuka sebuah buku sejarah yang sudah tertutup rapat selama puluhan tahun, dan ia tidak tahu cerita seperti apa yang akan terbaca di dalamnya.
Aditya tampak sangat sigap dan siap. Ia memegang tangan Luna sepanjang perjalanan, memberikan kekuatan dan ketenangan yang terus-menerus dibutuhkan oleh kekasihnya itu. Tak lama kemudian, mobil mereka pun tiba di sebuah gedung perkantoran yang tampak tua namun sangat terawat dan berwibawa. Di sanalah letak kantor hukum dan arsip yang dikelola oleh Pak Herman selama puluhan tahun lamanya.
Begitu masuk ke dalam ruangan yang berbau kertas tua dan kayu keras itu, mereka langsung disambut oleh Pak Herman yang sudah menunggu dengan wajah yang serius namun ramah. Pria tua itu mengenakan kacamata baca dan memegang sejumlah berkas tebal yang terlihat sudah sangat tua dan berdebu.
"Selamat pagi, Tuan Muda Aditya, Nona Luna. Saya sudah menunggu kedatangan kalian berdua. Seperti yang sudah kita bicarakan kemarin, saya sudah mengumpulkan semua berkas, dokumen, dan catatan lama yang berhubungan dengan sejarah keluarga Pratama, termasuk catatan-catatan yang berhubungan dengan Nona Sinta dan Nona Laras," sapa Pak Herman dengan sopan dan lembut, namun ada nada kesungguhan yang terasa dalam setiap kata yang diucapkannya.
"Selamat pagi, Pak Herman. Terima kasih banyak atas bantuan dan kerja keras Bapak selama ini. Tanpa Bapak, kami mungkin tidak akan pernah sampai pada titik ini dan tidak akan tahu apa-apa tentang masa lalu kami," jawab Aditya dengan penuh rasa hormat.
Luna pun ikut tersenyum sopan dan menganggukkan kepala. "Terima kasih banyak, Pak Herman. Saya sangat berterima kasih sekali karena Bapak sudah bersedia membantu kami menelusuri jejak masa lalu yang sangat rumit ini."
Pak Herman tersenyum lembut dan mengangguk. "Sudah menjadi tugas dan kewajiban saya, Nak. Keluarga Pratama adalah keluarga yang sangat saya hormati dan sayangi, dan saya akan melakukan apa saja demi kebaikan dan keselamatan kalian berdua. Mari kita duduk dan mulai menelusuri berkas-berkas ini bersama-sama. Kita lihat apa saja yang bisa kita temukan di sini."
Mereka pun duduk melingkar di meja besar yang terbuat dari kayu jati yang kokoh. Pak Herman kemudian membuka satu per satu berkas yang ada di hadapan mereka. Kertas-kertas di dalamnya sudah menguning dimakan usia, namun tulisan tangan yang ada di dalamnya masih bisa dibaca dengan cukup jelas. Ada akta kelahiran, surat-surat korespondensi lama, foto-foto hitam putih, dan berbagai dokumen penting lainnya yang menceritakan kehidupan masa lalu keluarga besar mereka.
"Lihatlah ini," kata Pak Herman sambil menunjuk pada sebuah akta kelahiran yang sudah agak kusam. "Ini adalah akta kelahiran Ibu Laras, ibu kandung Nona Luna. Di sini tertulis jelas bahwa ia dilahirkan oleh seorang wanita bernama Sinta, yang pada saat itu bekerja sebagai perawat pribadi di kediaman keluarga Pratama. Dan seperti yang sudah Tuan Aditya ketahui, di kolom nama ayah, memang kosong dan tidak ada keterangan apa pun. Sangat aneh dan tidak wajar, karena biasanya dokumen resmi seperti ini harusnya terisi lengkap."
Luna menatap dokumen itu dengan hati yang berdebar kencang. Ia melihat nama ibunya tertulis di sana, dan nama neneknya yang baru saja ia ketahui kemarin. Rasanya aneh namun juga mengharukan bisa melihat bukti nyata dari asal-usulnya sendiri. Namun, rasa penasaran dan kebingungannya semakin memuncak saat melihat kolom nama ayah yang benar-benar kosong melompong, seolah orang itu sengaja dihapuskan dari sejarah.
"Terus... ada tidak catatan lain yang mungkin bisa memberikan petunjuk siapa sebenarnya pria itu, Pak Herman? Apakah ada yang pernah melihat atau mengetahui siapa ayah kandung Ibu Laras?" tanya Luna dengan suara yang sedikit bergetar karena rasa penasaran yang membuncah.
Pak Herman menghela napas panjang, lalu mengeluarkan sebuah buku harian tebal yang sampulnya terbuat dari kulit. "Ini adalah buku harian milik Almarhum Kakek Pratama. Beliau adalah orang yang paling mengetahui segala hal yang terjadi di masa itu, karena dialah yang mengurus semuanya. Beliau menuliskan segala peristiwa penting yang terjadi dalam hidupnya di buku ini. Saya sudah membaca sebagian isinya, dan saya menemukan bagian yang menceritakan tentang kehadiran Nona Sinta dan kelahiran Nona Laras. Namun, bahasanya sangat samar dan tertutup, seolah beliau sengaja menuliskannya dengan cara yang sulit dimengerti agar tidak ada orang lain yang bisa mengetahuinya."
Aditya segera mengambil buku harian itu dan mulai membaca bagian yang ditunjukkan oleh Pak Herman. Ia membaca dengan saksama, matanya bergerak cepat mengikuti setiap kata yang tertulis di halaman kertas yang sudah menguning itu.
"Hari ini, kedamaian yang selama ini aku jaga dengan susah payah seakan terguncang oleh kehadiran orang yang tak terduga. Sinta telah melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik dan sehat. Namun, kebahagiaan ini ternyata dibalut dengan ketakutan dan bahaya yang mengancam. Pria itu... pria yang menjadi ayah dari anak ini, adalah sosok yang memiliki kekuatan dan pengaruh yang sangat besar, namun juga memiliki sifat yang kejam, ambisius, dan tak terduga. Hubungan mereka adalah sebuah kesalahan besar yang tidak seharusnya terjadi, dan jika kebenaran ini sampai terungkap ke publik, maka akan timbul kekacauan yang luar biasa besar. Demi keselamatan nyawa bayi ini dan juga demi menjaga nama baik keluarga, aku memutuskan untuk mengadopsinya dan merahasiakan identitas asli ayahnya selamanya. Semoga keputusanku ini adalah keputusan yang paling tepat dan terbaik untuk semuanya..."
Aditya menghentikan bacaannya sejenak, lalu menatap Luna dan Pak Herman dengan raut wajah yang terkejut sekaligus serius.
"Dari tulisan Kakek ini, bisa disimpulkan bahwa ayah kandung Ibu Laras itu adalah orang yang sangat berpengaruh dan berkuasa, namun juga orang yang berbahaya dan memiliki karakter yang buruk. Kakek bahkan sampai takut jika identitasnya terungkap, karena bisa menimbulkan kekacauan besar. Itulah sebabnya nama orang itu dirahasiakan dan tidak pernah dicantumkan di mana pun. Kakek ingin melindungi Ibu Laras dan menjauhkannya dari ayah kandungnya yang berbahaya itu," jelas Aditya dengan nada yang penuh kesungguhan.
Wajah Luna menjadi pucat mendengar penjelasan itu. Ia tidak menyangka bahwa asal-usul keluarganya ternyata menyimpan cerita yang begitu rumit dan berbahaya. Jika ayah kandung neneknya itu memang orang yang berkuasa dan berbahaya seperti yang tertulis di buku harian itu, maka kemungkinan besar orang itu masih hidup dan mungkin saja memiliki keturunan atau pengikut yang masih ada sampai sekarang. Dan jika mereka sampai tahu akan keberadaan Luna, satu-satunya keturunan langsung dari hubungan terlarang itu, maka bahaya besar bisa saja datang menghampiri mereka kapan saja.
"Jadi... maksudnya, kakek kandungku itu adalah orang jahat dan berkuasa? Lalu di mana dia sekarang? Apakah dia masih hidup?" tanya Luna dengan suara yang nyaris berbisik, matanya memandang Aditya dengan penuh ketakutan.
Aditya segera menggenggam tangan Luna dengan erat, memberikan rasa aman dan perlindungan yang dibutuhkan oleh kekasihnya itu.
"Kita belum tahu pasti, Sayang. Kita baru mendapatkan potongan kecil dari teka-teki yang besar ini. Tapi dari tulisan Kakek, kita tahu bahwa pria itu adalah sosok yang ditakuti dan memiliki pengaruh besar. Kita harus mencari tahu lebih dalam lagi, siapa nama aslinya, apa pekerjaannya, dan di mana keberadaannya sekarang. Mungkin saja ada catatan lain atau saksi mata yang masih hidup yang bisa memberi tahu kita lebih banyak hal," ucap Aditya dengan tenang, berusaha menenangkan hati Luna yang sedang dilanda kekhawatiran.
Pak Herman pun mengangguk setuju. "Benar sekali, Tuan Muda. Berdasarkan pengetahuan saya mengenai sejarah masa itu, sekitar puluhan tahun yang lalu ada beberapa tokoh berpengaruh yang memiliki karakter seperti yang digambarkan oleh Almarhum Kakek Pratama. Salah satu yang paling terkenal dan memiliki kekuasaan luar biasa besar adalah keluarga besar Tanudjaya, sebuah keluarga konglomerat yang sangat kaya dan berkuasa, namun dikenal memiliki latar belakang yang gelap dan sering terlibat dalam berbagai masalah. Konon, mereka memiliki kekuasaan di mana-mana dan tidak ada orang yang berani melawan mereka."
Mata Aditya terbelalak mendengar nama itu. Ia tentu saja sangat mengenal nama keluarga besar Tanudjaya. Keluarga itu adalah salah satu keluarga terkaya dan paling berpengaruh di negeri ini, memiliki banyak sekali bisnis dan perusahaan di berbagai bidang. Namun, di balik kemegahan dan kekayaan mereka, memang banyak beredar kabar bahwa cara mereka berbisnis sangat kejam, keras, dan penuh intrik.
"Keluarga Tanudjaya..." gumam Aditya pelan, seolah sedang mencoba menghubungkan satu per satu potongan teka-teki yang ada di kepalanya. "Apakah Bapak menduga bahwa ayah kandung Ibu Laras adalah seseorang dari keluarga itu, Pak Herman?"
Pak Herman menghela napas panjang dan mengangguk pelan. "Saya tidak berani memastikan, Nak. Itu hanya sebuah dugaan saja. Namun, jika kita melihat waktu kejadian, latar belakang, dan kekuasaan yang dimiliki oleh keluarga itu, kemungkinannya memang sangat besar. Dulu, Almarhum Kakek Pratama memang pernah memiliki hubungan bisnis yang cukup dekat namun juga penuh persaingan dengan keluarga Tanudjaya. Ada kemungkinan besar bahwa Nona Sinta pernah bertemu dan menjalin hubungan dengan salah satu anggota keluarga itu, namun hubungan itu tidak direstui dan dianggap memalukan, sehingga harus ditutup rapat-rapat."
Suasana di ruangan itu menjadi hening sejenak. Pikiran Aditya dan Luna kini dipenuhi oleh nama keluarga besar Tanudjaya yang menakutkan itu. Jika benar bahwa mereka memiliki hubungan darah dengan keluarga yang begitu besar dan berkuasa namun juga berbahaya itu, maka kehidupan mereka tidak akan pernah sama lagi. Pintu gerbang menuju masalah dan konflik yang jauh lebih besar dan seru baru saja terbuka perlahan-lahan.
Luna merasa kakinya terasa lemas. Ia tidak menyangka bahwa dirinya ternyata memiliki hubungan dengan salah satu keluarga paling ditakuti di negeri ini. Rasa cemas dan takut kembali merayap masuk ke dalam hatinya. Namun, saat ia menatap wajah Aditya yang terlihat tegas dan penuh kesiapan, rasa takut itu perlahan berkurang dan berganti dengan rasa percaya diri. Selama ia bersama Aditya, ia tahu bahwa ia tidak akan menghadapi masalah ini sendirian.
"Jadi... sekarang arah penyelidikan kita sudah mulai jelas, kan?" ucap Aditya memecah keheningan, suaranya terdengar tegas dan penuh tekad. "Kita akan mulai menelusuri sejarah dan anggota keluarga Tanudjaya dari masa puluhan tahun yang lalu. Kita akan mencari tahu siapa saja anggota keluarga mereka pada masa itu, dan siapa yang mungkin memiliki hubungan dengan nenekku, Nona Sinta. Ini mungkin akan menjadi penyelidikan yang panjang, sulit, dan penuh bahaya, tapi kita tidak punya pilihan lain selain terus berjalan maju dan mencari kebenaran sampai tuntas."
Luna mengangguk mantap, matanya menatap Aditya dengan penuh keyakinan dan cinta. "Aku siap menemani kamu kemanapun, Aditya. Kita akan hadapi semuanya bersama-sama, tidak peduli seberapa besar atau menakutkan musuh yang akan kita hadapi nanti. Aku yakin, kebenaran pasti akan selalu menemukan jalannya untuk terungkap, dan kita akan menjadi orang yang menemukannya."
Pak Herman tersenyum bangga melihat persatuan dan keberanian yang dimiliki oleh kedua anak muda di hadapannya itu. Ia tahu bahwa perjalanan mereka ke depan akan sangat berat dan penuh duri, namun ia juga yakin bahwa dengan kecerdasan, keberanian, dan cinta yang mereka miliki, mereka akan mampu melewati semuanya dengan baik.
"Bagus sekali, Nak. Saya sangat bangga pada kalian berdua. Mulai hari ini, kita akan bekerja sama untuk mengungkap rahasia besar ini. Apa pun yang terjadi, ingatlah bahwa kalian tidak berjalan sendirian. Saya akan selalu ada di sini untuk membantu dan mendukung kalian. Mari kita mulai babak baru ini dengan penuh semangat dan kehati-hatian," ucap Pak Herman dengan penuh semangat.
Hari itu menjadi hari yang sangat penting bagi kehidupan Aditya dan Luna. Sebuah awal dari perjalanan panjang yang akan membawa mereka menuju kebenaran yang tersembunyi, menuju keluarga baru yang misterius, dan menuju konflik yang jauh lebih besar dan berbahaya daripada yang pernah mereka bayangkan sebelumnya. Misteri keluarga Tanudjaya kini menjadi fokus utama mereka, dan petualangan besar mereka pun baru saja benar-benar dimulai.
(BERSAMBUNG)
📖 SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA! 🤗🩷
Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini! Semoga kalian menikmati setiap halaman dan setiap momen kebahagiaan, tawa, bahkan emosi yang terasa dalam setiap babnya ya. 🥰
Jangan lupa tinggalkan komentar dan berikan suka pada setiap bab yang kalian baca, ya! Jika kalian menyukai ceritaku, silakan tuliskan pendapat kalian — misalnya "Lanjutkan dong, ceritanya keren banget!" atau "Ceritanya bagus dan menyentuh hati!" — karena setiap kata dukungan dari kalian akan menjadi semangat terbesarku untuk terus menulis dengan lebih baik lagi. 🩷
Sekali lagi terima kasih banyak atas perhatian dan dukungannya. Sampai jumpa lagi di bab selanjutnya ya! Selamat membaca dan sampai bertemu kembali! 👋👋🤗🌷