NovelToon NovelToon
Finding True Love

Finding True Love

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Hamil di luar nikah / Pembantu / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: Aldiantt

Berawal dari niatan membantu sang kekasih mencari uang tambahan melamar, Alina justru harus kehilangan kehormatannya.

Ya, gadis itu terlalu mencintai kekasihnya. Sampai-sampai ia rela ikut menanggung beban yang harusnya bukan menjadi tanggung jawabnya. Sebuah pengorbanan untuk pria yang salah, yang atas kuasa Tuhan justru membawanya menemukan cinta yang benar.

Apa yang terjadi padanya?
Baca selengkapnya hingga selesai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aldiantt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Positif!

...----------------...

Di dalam kamar pribadi yang tak terlalu luas itu. Di sore hari, saat kedua orang tuanya tengah pergi ke sawah. Isak tangis samar-samar terdengar dari pojok ruangan tersebut. Seorang gadis muda nampak terduduk, membenamkan wajahnya di antara kaki dan dadanya. Sebuah tes kehamilan bergaris dua tergeletak di sampingnya. Tercecer bersama beberapa helai tidur di sampingnya.

Ya, positif! Alina positif hamil.

Setelah mual-mual di pasar tempo hari, Alina menjadi kepikiran. Tak biasanya ia seperti itu. Dan jika diingat-ingat lagi, sudah lama juga ia tak kedatangan tamu bulanannya.

Sejak saat itu pikiran Alina mulai tak tenang. Berbagai pemikiran negatif bergelayut di otaknya. Ia sudah mencoba untuk tidak mempedulikannya, namun tak kunjung haaid hingga hari ini semakin membuatnya frustasi.

Hingga pada akhirnya, hari ini, saat kedua orang tuanya sedang sibuk di sawah. Ia memutuskan untuk pergi ke apotik, membeli alat tes kehamilan, mencoba mencari kebenaran atas apa yang terjadi pada dirinya.

Dan benar saja! Positif! Dua garis biru terpampang jelas di sana! Alina hamil entah sudah berapa bulan! Alina mengandung anak dari seorang Vincent Louis Oliver. Pemuda kaya raya anak tunggal salah satu konglomerat di negeri ini.

Tangis itu pecah. Entah bagaimana nasibnya setelah ini. Bayi ini tak mungkin dilahirkan tanpa ayah. Tapi meminta pertanggungjawaban pada seorang Vincent Louis Oliver sepertinya mustahil. Bagaimana kabar pria itu saja ia tak tahu. Mungkin hingga saat ini pria itu masih mengejar wanita mantan tunangannya itu. Bukankah Vincent memang se-cinta itu pada wanita tersebut.

Alina mengangkat kepalanya. Ia mengusap air mata di pipinya. Diraihnya benda pipih bergaris dua tersebut. Ia tak bisa diam saja. Ia tak bisa pasrah begini. Ia harus mencari cara. Bagaimana pun hidup harus terus berlanjut. Ia tahu, ia akan mengecewakan banyak orang. Tapi ia tak mungkin menerima begitu saja kenyataan ini.

Alina diam sejenak. Ia mengangkat kepalanya, mendongak mengarahkan pandangan matanya menatap langit-langit kamar sambil terus memutar otak. Sesekali air mata menetes di pipinya. Hingga tiba-tiba...

"Mas Adit...!!" ucapnya sembari dengan cepat menegakkan posisi tubuhnya.

Ya, Alina punya ide. Adit sudah berencana untuk melamarnya beberapa hari lagi. Sebagai sepasang kekasih yang sudah lama menjalin asmara, baik Adit maupun Alina sudah sangat hafal watak kedua orang tua masing-masing. Sebenarnya Alina tak begitu yakin jika nanti sang ayah mau menerima lamaran Adit. Mengingat ayahnya memang tak begitu menyukai laki-laki tersebut. Sudah lama ia menentang keras hubungan keduanya.

Otak polos yang mulai frustasi itu akhirnya berfikir, mungkin seharusnya ia bekerja sama dengan sang kekasih. Alina akan mengatakan yang sejujurnya pada Adit tentang apa yang sudah terjadi antara ia dan sang mantan majikan. Lalu ia akan meminta Adit untuk mengakui janin di dalam rahimnya itu sebagai anak mereka. Dengan begitu, sang ayah tidak punya alasan lagi untuk menolak lamaran Adit lamaran kini Alina sudah berbadan dua.

Ya! Bagaimana kalau seperti itu saja! Agar ia tetap bisa mempertahankan bayinya tanpa perlu meminta pertanggungjawaban dari Vincent.

Ya, begitu saja! Adit pasti mau melakukannya. Ia kan sangat menyayangi Alina.

Wanita itu dengan buru-buru meraih ponselnya. Mencari nomor Adit dan menghubunginya.

"Halo, Al," ucap seorang pria dari seberang sana.

"Halo, Mas. Mas, kamu dimana?" tanya Alina.

"Di rumah, Al. Ada apa?" tanyanya.

"Mas, kita bisa ketemu? Ada yang mau omongin sama kamu. Penting!"

Adit mengernyitkan dahinya di seberang sana.

"Ngomong penting? Mau ngomong apa?" tanyanya.

"Aku nggak bisa bilang di sini. Kita ketemuan, ya!"

"Ya udah. Kita ketemu dimana?" tanya Adit.

"Di tempat biasa aja, Mas. Sekarang, ya! Aku berangkat sekarang!"

Adit tersenyum mendengar sang kekasih. "Kayaknya penting banget, nih. Ya, udah, aku juga berangkat sekarang!"

Sambungan telepon terputus. Sepasang kekasih itu lantas bergegas pergi dari kediaman masing-masing menuju tempat yang sudah mereka janjikan.

....

Selang beberapa menit kemudian. Di tepi sebuah danau kecil yang sunyi.

"Kamu mau ngomong apa, Al?" tanya Adit yang kini duduk di samping Alina.

"Kamu lagi sedih? Mata kamu bengkak," ucapnya lagi seraya mengusap lembut bagian bawah mata Alina. "Kamu dimarahi bapakmu?"

Alina menunduk, lalu menggelengkan kepalanya samar.

"Lalu?" tanya pria itu lagi terlihat khawatir. Alina diam sejenak. Adit sedikit memiringkan kepalanya menatap wajah gadis kesayangannya itu.

Alina menoleh. Matanya berkaca-kaca.

"Mas, ada sesuatu yang mau aku bilang sama kamu," ucapnya.

"Apa?" tanya Adit.

"Tapi janji, ya. Kamu jangan berfikiran buruk sama aku. Ini semua terjadi di luar kendali aku. Aku sama sekali nggak menginginkan hal ini," ucap Alina lagi.

Adit mengernyitkan dahinya. "Ada apa sih, Al?"

Alina tak menjawab. Ia merogoh saku celananya lalu mengeluarkan sebuah tes kehamilan bergaris dua dan menunjukkannya pada Adit.

Laki-laki itu makin mengernyitkan dahinya. Ia tak mengerti maksud gadis itu.

"Aku minta maaf, Mas. Aku hamil," ucapnya.

Degh...

Adit nampak membuka mulutnya. Wajahnya terlihat bingung. Ia tak mengerti maksud wanita itu.

Hamil? Dengan siapa? Mereka tak pernah melakukan hal sejauh itu. Alina juga bukan tipe wanita yang seperti itu. Apa maksudnya??

"Ha-hamil? Gimana maksudnya, Al?" tanya Adit.

Wanita itu diam sejenak lalu menarik nafas panjang. Ia pun mulai menceritakan semuanya. Tentang apa yang terjadi padanya selama mencari tambahan uang lamaran di ibu kota. Tentang sang mantan majikan yang secara "tidak sadar" telah merenggut mahkotanya. Adit menganga mendengar penuturan sang kekasih. Entah apa yang ada di pikiran pria itu. Ia nampak syok mendengar penjelasan dari sang kekasih.

"Jadi, sekarang kamu hamil anak majikanmu?" tanya Adit kemudian.

Alina mengangguk sambil mengusap air matanya. Adit tak menjawab.

"Aku minta maaf, Mas," ucapnya. ”Ini semua bukan keinginanku."

"Laki-laki itu tahu kalau kamu hamil anak dia?" tanya Adit lagi.

"Darimana dia tahu? Ketemu aja kami sudah tidak pernah," jawab Alina.

"Lalu apa rencanamu sekarang?"

Alina menoleh ke arah Adit dengan tatapan penuh harapan. "Kamu bantu aku ya, Mas!"

Adit mengernyitkan dahinya. "Bantu? Bantu apa?"

"Kita bisa memakai kehamilan ini sebagai alasan agar lamaran kamu diterima bapak!"

"Maksudnya?"

"Kita bilang sama bapak, kalau aku hamil anak kamu. Kita mengarang cerita seolah-olah kita sudah berhubungan lebih jauh layaknya suami istri. Dengan begitu, bapak nggak akan punya pilihan lain selain menerima lamaran kamu. Ya, Mas?!!" ajak Alina dengan penuh harapan.

"Maksudmu, aku melamar mu, dan mengakui anak itu adalah anakku, begitu?"

Alina mengangguk dengan semangat. "Ini impian kita, kan? Kamu melamar ku dan kita menikah secepatnya. Iya, kan?

Adit tak menjawab. Ia terlihat tak se-semangat Alina. Tolonglah, bukan ini yang ia maksud. Ia mencintai Alina. Ia memang punya niat melamar gadis itu. Tapi tidak dengan menerima anak yang bukan anaknya lah!

Adit mengubah arah pandang dan posisi duduknya. Ia mengurut-urut jari tangannya, seolah mencoba mencerna apa yang sedang terjadi. Perasaannya tak bisa dijabarkan. Ia benar-benar tak tahu harus bagaimana.

"Gimana, Mas? Kamu mau, kan?" tanya Alina.

Adit menoleh. Dia diam.

"Aku perlu berfikir, Al," ucap Adit kemudian yang sontak mengubah mimik wajah Alina menjadi sedikit kecewa.

"Kasih aku waktu, ya. Aku akan memikirkan semuanya terlebih dahulu," ucap pria itu. Alina nampak mengembun. Keduanya saling diam dengan sorot mata yang tak biasa mereka tampilkan.

"Ini sudah sore. Kamu pulang dulu. Takut orang tuamu nyari. Aku juga mau pulang. Aku butuh waktu untuk berfikir," ucap Adit lagi. Alina tak mampu menjawab. Sedangkan laki-laki bangkit dari posisinya.

"Duluan, Al," ucap Adit yang lantas pergi meninggalkan Alina di tempat itu sendirian.

1
Don't Call Me Mbak💅
lanjuttt
Don't Call Me Mbak💅
lah🤦🤦
Don't Call Me Mbak💅
🤣🤣🤣
Don't Call Me Mbak💅
najisss🤮
Don't Call Me Mbak💅
kebanyakan makan camilan sih😹
Radya Arynda
sabar Alina💪💪💪💪
Radya Arynda
kok ngak punya pendirian sih kamu cen vincen,,,,kasihan,,,alina ,,,mau di apakan dia,,,kenapa ngak nikah diam2 dulu,,,
Desyi Alawiyah
Cucu???

Wah, tanpa mama Theressa sadari, Vincent udah memberi dia cucu loh.. Di perutnya Alina.. 😜
Desyi Alawiyah
Dan pacarnya Alicia adalah Dion.. sahabatmu sendiri Vincent.. 😭
Desyi Alawiyah
Putramu itu hatinya sedang berbunga-bunga, mama Theresa 🤭
Georgia🤑
bener bener lu ya🙄
Desyi Alawiyah: Bener-bener anak durhakim tuh si Vincent 🤭🤣
total 1 replies
whiteblack✴️
pake kata itu..biar semakin jatuh cinta/Proud/
Don't Call Me Mbak💅
lanjut
Don't Call Me Mbak💅
waduh.aku ketinggalan banyak😱
Georgia🤑
entah kenapa aku terbayang bayang ibu ibu rambut mongkrok yang jualan rumah yang hanya dengam satu milyar saja....ituloh🤣🤣🤣🤣
Georgia🤑
istr jdman😊suport kerjaan suami🤗
Desyi Alawiyah
Tenang Kak, aku nggak akan kabur kok.. 🤣

Semangat yah Kak ngurus toddler nya /Determined/
Desyi Alawiyah
Semoga mamanya Vincent baik yah.. Nggak seperti orang kaya yang kebanyakkan.. 🤭
whiteblack✴️
kalau gitu nikahin lah...sampai kapan di simpan terus..dia itu bukan pajangan😒...
Radya Arynda
ternyata ke banggan vincen tidak lebih seperti pelacur,,,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!