NovelToon NovelToon
Calamity Ex Machina

Calamity Ex Machina

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Perperangan
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Manusia Ikan

Kekaisaran Aurellian telah menikmati kedamaian selama 1500 tahun, hingga sebuah bayangan misterius jatuh tepat di atas takhta mereka. Arta Valerion, seorang penyihir muda jenius, menemukan bahwa rembulan yang selama ini dipuja kini menyimpan ancaman yang tak terbayangkan. Kehadiran sang utusan dari peradaban masa lalu yang telah binasa—membawa peringatan dingin: bahwa mereka tidak sendirian, dan mereka tidak siap.

​Di ambang kehancuran yang telah menelan delapan planet sebelumnya, Aurellian harus memilih: tunduk pada teknologi asing atau menghadapi kepunahan. Bagi Arta, ini bukan lagi tentang prestasi sihir, melainkan perjuangan untuk mempertahankan senyum orang-orang yang ia cintai sebelum fajar terakhir tiba.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Manusia Ikan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ARC 1 -BAB 3 -PAHLAWAN (4)

​Dua orang penjaga berzirah berat menarik tuas pintu perunggu gedung aula. Namun, bahkan sebelum celah pintu benar-benar terbuka, Arta sudah bisa mendengar dengung suara yang memenuhi ruangan—campuran antara tawa percaya diri, denting logam zirah, dan bisik-bisik penuh spekulasi.

Pintu terbuka sepenuhnya, menampilkan pemandangan puluhan orang dari berbagai ras cerdas yang siap mempertaruhkan nyawa. Ada manusia dengan zirah lempengnya, Beastman dengan otot-otot yang menonjol di balik jubah kulit, hingga segelintir Dwarf yang memegang senjata perang sebesar tubuh mereka sendiri. Sebagian besar dari mereka mengenakan lencana perak atau emas—tanda bahwa mereka adalah petualang tingkat tinggi dari Guild Ibu Kota.

​"Eh, lihat! Itu Tuan Elian dan Nona Arta!" seru salah satu peserta di dekat pintu.

Seketika, keriuhan itu mereda. Pandangan semua orang tertuju pada pasangan yang baru masuk. Kerumunan yang tadinya sesak perlahan terbelah, memberikan jalur kosong bagi Elian dan Arta untuk berjalan menuju podium yang lebih tinggi di ujung aula. Arta bisa merasakan tatapan tajam dan penuh penilaian dari para petualang itu. Ada yang menatap dengan kekaguman, namun ada juga yang menatap skeptis pada sosok gadis muda seperti dirinya.

Aku harap mereka adalah orang-orang yang benar-benar bisa diandalkan, bukan hanya bermodal keberanian buta, bisik Arta dalam hatinya sembari terus mengamati detail perlengkapan orang-orang di sekitarnya.

Sesampainya di atas podium, Elian berdiri dengan tegak, memancarkan aura pemimpin yang alami. Ia memulai pembukaan singkatnya dengan suara yang berat dan berwibawa.

"Aku ucapkan terima kasih karena kalian telah memenuhi undangan ini di tengah situasi yang tidak menentu," ucap Elian. "Tanpa berpanjang lebar, mari kita mulai tahap awal ini. Aku meminta kalian membentuk tiga kelompok besar. Pertama, pengguna senjata fisik, silakan berkumpul di tengah. Kedua, pengguna sihir murni, geser ke sisi kanan. Dan ketiga, kalian yang memiliki kemampuan pendukung atau support—baik sihir maupun fisik—berkumpullah di sisi kiri."

​Ruangan kembali riuh saat para peserta bergerak mengikuti instruksi. Meski tidak berbaris rapi seperti pasukan militer profesional, pengelompokan mereka terlihat sangat jelas. Kelompok tengah adalah yang paling masif, dipenuhi oleh para petarung garis depan yang terlihat garang.

Elian melanjutkan arahannya, "Seleksi ini akan dibagi menjadi dua hari. Hari pertama difokuskan pada pengguna senjata fisik. Kalian akan menjalani uji tanding sesuai senjata utama yang kalian gunakan, dan aku sendiri yang akan melakukan penilaian akhir. Sementara itu, para penyihir akan menjalani tes di bawah pengawasan langsung Arta Valerion."

Arta melangkah maju sedikit, memberikan anggukan kecil yang elegan namun dingin kepada kelompok di sebelah kanan.

"Untuk tim support," lanjut Elian, "penilaian kalian akan dilakukan di hari kedua. Apakah kalian setuju dengan pengaturan ini?"

Para peserta mulai bergumam satu sama lain, menciptakan suasana diskusi yang hangat di dalam aula.

"Heh, aku menduga ini akan menjadi duel fisik," ucap seorang pria bertubuh besar dengan kapak ganda di punggungnya. "Tuan Elian tidak mungkin memilih orang yang tidak bisa menahan ayunan senjatanya."

"Benarkah? Baguslah, aku sangat percaya diri dengan kekuatan ototku," balas peserta lain, seorang Beastman macan tutul yang sedang meregangkan tangannya.

Di sisi kanan, para penyihir terlihat lebih tenang namun waspada. "Biasanya kita dinilai dari kelas tier sihir atau kapasitas mana, bukan?" tanya seorang penyihir muda dengan jubah biru laut.

"Aku rasa bukan," balas seorang penyihir wanita paruh baya yang membawa tongkat dari kayu pohon kuno. "Melihat siapa yang memimpin, kurasa penilaiannya akan lebih berfokus pada kegunaan taktis dan bagaimana kita bereaksi dalam tekanan medan perang yang nyata."

Elian menunggu beberapa saat hingga gumaman itu mereda, lalu bertanya kembali dengan nada lebih tegas, "Bagaimana? Apakah sudah diputuskan?"

Dengan kompak dan penuh semangat, suara para peserta menggema di seluruh gedung, "SETUJU!"

Elian tertawa kecil, suara tawanya memecah ketegangan sejenak. "Hahaha! Aku suka semangat kalian. Aku sangat mengharapkan kemampuan terbaik kalian di lapangan nanti. Sekarang, mari kita menuju lapangan latihan. Ah, untuk kelompok support, kalian bisa kembali dahulu hari ini. Mohon maaf jika telah merepotkan kalian untuk datang pagi ini."

Beberapa peserta di kelompok kiri terlihat sedikit kesal dan mendesah kecewa karena harus pulang lebih awal, namun sebagian besar dari mereka justru tampak semakin bersemangat. Mereka tahu bahwa hari esok akan memberikan mereka panggung yang lebih matang setelah melihat bagaimana rekan-rekan mereka diseleksi hari ini.

Arta mengamati kerumunan yang mulai bergerak keluar menuju lapangan luas di belakang kediaman Solarith. Dalam hatinya, ia mulai menyusun rencana: tes apa yang paling efisien untuk membedakan penyihir akademis yang hanya tahu teori, dengan penyihir tempur yang bisa berpikir cepat di bawah ancaman kiamat.

1
kutu alien
/Ok/
SANG
Mantap banget💪👍
SANG
Lanjutkan aksimu dek💪👍
( Author ) Vivi~
like koment ku sudah mampir, btw ceritanya kalau dicermati asik juga ya😭
akan aku lanjut baca malam nanti, mau serius up cerita ku dulu KK😭😭
Manusia Ikan 🫪: semangaaat up nyaaaah✨
total 1 replies
kutu alien
/CoolGuy//CoolGuy/
Manusia Ikan 🫪: hehehe
total 1 replies
Human175
ada kapal terbang 🗿
Manusia Ikan 🫪: oh yang kapal kayu kah, iya itu kapal terbang sihir, sebagian terbang pake hukum fisika, dan sebagainya gabungan keduanya😅
total 2 replies
Zetavia
Jan lupaa mampir yahh di novel ku saran dan kritik nyaa
Manusia Ikan 🫪: baiik
total 1 replies
T28J
lah kemana dia?
Manusia Ikan 🫪: ah maksudnya dia lagi mengumpulkan energi yang selaras dengan Aether di planet ini.
total 2 replies
Anomali Pink Hiatus
Darimana bisa tahu kalau bangunannya berumur puluhan ribu tahun.
Manusia Ikan 🫪: :v oke oke
total 3 replies
T28J
/Rose//Rose//Rose/
T28J
Arven terdiam sesaat saat merasakan resonansi yang familiar dari dunia lain.

“…jadi kalian benar-benar memanggil Titan ke dunia ini.”

Bukan penolakan, justru sebaliknya. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Menarik...”

Karena setiap dunia yang mulai menyentuh kekuatan Titan… biasanya tidak akan pernah kembali sama.

“Jaga mereka baik-baik. Titan bukan sekadar kekuatan... mereka adalah awal dari perubahan.”

—Arven, Mechanist of Legacy🔥
kutu alien
/Plusone/,/Doge/
alicea0v
"Alice!!! lihat...!!! Golem dan serangga mereka terbuat dari batu mahal!!! kita bisa kaya!!" Xena menunjuk-nunjuk layar sihir pemantau yang mengambang di udara.

"Sepertinya monster di dunia ini, sangat terobsesi dengan kekayaan.. bahkan serangganya pun. dari batu mahal." sahut Alice sembari duduk di singgasananya dengan anggun.

"Kalau aku disana, apa pisau ku bisa membelah mereka?" Violet tiba-tiba menatap kumpulan pisau lempar di pinggangnya.

"Bisa atau tidak, yang jelas kita kaya kalau disana!!" Xena mulai berlarian tak jelas, membuat Arthur menahan emosi.

"huuh... apa-apaan dunia ini?!" Arthur memijat pelipisnua, merasakan gejolak membara (bah?) maksudnya merasakan emosi panas yang mengalir sampai ke ubun-ubun.

"Santailah, Arthur. kau terlalu emosional!" gumam Albertio, nadanya begitu tenang bahkan sangat tenang untuk situasi absurd saat ini.

"We.. wee.. udah capek...!!! bubar!!!" Alice berteriak kesal, membubarkan pertikaian di Kuil dewi itu segera. Teriakannya menggema ke pikiran Author yang menulis cerita ini.
SANG: Tetap semangat💪👍
total 5 replies
kutu alien
yah habis lagi/Sly/
Manusia Ikan 🫪: cape🥴
total 1 replies
Wawan
Satu iklan buat pelatihan Tebing Tinggi💪
Manusia Ikan 🫪: semangat ya🐥
total 1 replies
penulismisterius
pertempuran yang keren🐳
salut sama kak manusia ikan🐳
semangat
SANG: Like iklan plus komen💪👍
total 4 replies
SANG
Bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Manusia Ikan 🫪: /Awkward/makacih
total 1 replies
SANG
Mantap habis👍💪👍💪👍💪👍💪👍💪👍💪👍💪👍💪👍💪
SANG
💪👍👍👍💪
SANG
Lanjutkan aksimu tho💪👍
Manusia Ikan 🫪: /Applaud/pastinya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!