Semua orang iri saat tahu Solenne bertunangan dengan Zevran Ardevar—bujangan nomor satu paling diinginkan seantero kerajaan, seorang bangsawan aristokrat yang dingin, kaya, dan terlalu tampan untuk diabaikan.
Mereka mengira Solenne hanyalah gadis beruntung yang memanfaatkan hubungan masa kecil.
Padahal, mereka bahkan tidak saling mengenal.
Pertunangan ini hanyalah wasiat terakhir sang ibu dan sebuah hutang budi yang belum lunas.
Di tengah hujatan publik, karier Solenne sebagai aktris justru berada di titik terendah.
Diremehkan, disabotase, dan hampir tenggelam, ia bertekad membuktikan bahwa dirinya pantas berdiri di atas panggung.
Namun semakin ia berjuang, semakin Zevran yang awalnya dingin mulai mengejarnya dengan serius.
Di dunia hiburan yang dipenuhi sihir dan teknologi masa depan, mampukah Solenne menjadi bintang terbesar abad ini… dan menaklukkan hati pria yang seharusnya hanya menjadi tunangan kontraknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfah_muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taruhan
"Memang nya kau bisa?"
Zevran berkata sinis.
"Satu tahun... Aku butuh satu tahun saja..."
"Ayo bertaruh dengan ku sir. zevran..."
Tatapan mata Mireya sangat tajam.
"Apa?"
Alis mata zevran naik dengan ucapan gadis di depannya.
"Jika aku akan membuktikan nya, dan jika aku gagal berkembang di industri ini... aku akan mengikuti kontrak awal..."
Ruangan kembali hening.
"Hmmm menarik baru kali ini aku di ajak bertaruh dengan seseorang yang tidak punya apapun sebagai balasannya..."
"Kenapa aku harus melakukan nya nona?"
Zevran berpangku tangan menatap gadis di depannya, sebenarnya zevran sudah banyak merugi dari uang dan waktu hanya untuk membantu dan menerima wasiat ibu nya. Tapi entah mengapa ada sesuatu di hati nya terasa menggelitik.
Tatapan itu ahh dia tau itu adalah orang yang bakal sukses...
Kepercayaan diri nya...
Semangat nya...
Mungkin tidak ada yang bisa menjatuhkan nya kecuali dirinya sendiri...
"Aku... Aku akan membayar dan memberi keuntungan besar saat aku sukses... Membuat seluruh dunia tau bahwa perusahaan ini terbaik..."
Ya itu bukan tidak masuk akal... Promosi kebaikan perlu di lakukan agar terlihat jelas di mata masyarakat... Jika sudah ada artis terkenal yang mengembar gembor kan nya kami hanya perlu bersandiwara lembut memberi santunan atau hal lainnya dengan lebih murah...
Aku tidak menyangka gadis ini juga tau seperti itu hehehe menarik...
"Baiklah aku menerima taruhan ini karena kau menarik untuk di coba..."
Taruhan itu sudah diucapkan.
Tidak ada jalan mundur.
Namun Mireya belum mengalihkan pandangannya.
Tatapannya justru semakin lurus menatap Zevran.
“Ada satu hal lagi.”
Zevran yang tadinya hendak kembali membuka terminal hologramnya berhenti.
Alisnya sedikit terangkat.
“Satu hal?”
Mireya mengangguk.
“Kalau aku menang…”
suaranya pelan, tapi mantap,
“aku ingin meminta satu hal lagi.”
Sudut bibir Zevran terangkat tipis.
Nada suaranya terdengar hampir seperti mengejek ringan.
“Katakanlah.”
Ia menyandarkan tubuh ke kursinya dengan santai.
“Uang?”
“Mobil?”
Tatapannya tenang, penuh keyakinan seorang pria yang tahu ia bisa membeli hampir apa saja.
“Atau bahkan sebuah planet.”
Ia mengucapkannya setengah bercanda, setengah serius.
“Saking kayanya aku, semua itu bukan masalah.”
Mireya menatapnya beberapa detik.
Lalu menggeleng.
“Bukan itu.”
Zevran sedikit menyipitkan mata.
“Lalu?”
Mireya menarik napas dalam.
Tatapannya tidak goyah sedikit pun.
“Aku ingin permintaan maafmu.”
Hening.
Benar-benar hening.
Jari Zevran yang berada di atas sandaran kursi berhenti bergerak.
Tatapannya berubah.
“…Apa?”
Untuk pertama kalinya nada suaranya terdengar sedikit tidak percaya.
Mireya mengepalkan tangannya.
Bukan karena takut.
Tapi karena menahan rasa sakit yang sejak tadi ia telan.
“Aku ingin…”
“saat aku berhasil membuktikan diriku…”
“kau meminta maaf padaku.”
Tatapannya menajam.
“Karena sudah meledek mimpiku.”
Satu detik.
Dua detik.
Ia melanjutkan.
“Dan karena merendahkan apa yang aku sukai.”
Kalimat itu jatuh pelan.
Namun terasa jauh lebih berat daripada permintaan uang.
Mireya tidak peduli dengan mobil.
Tidak peduli dengan perhiasan.
Tidak peduli dengan semua kemewahan pria ini.
Yang ia inginkan hanyalah satu hal.
Pengakuan.
Bahwa mimpinya tidak pantas dihina.
Bahwa apa yang ia perjuangkan selama ini bukan sesuatu yang memalukan.
Zevran menatapnya lama.
Sangat lama.
Lalu…
sudut bibir pria itu perlahan terangkat.
Senyum tipis.
Bukan mengejek.
Lebih seperti terkejut.
Dan sedikit… terkesan.
“Menarik.”
Ia berdiri dari kursinya.
Langkahnya pelan mendekat.
Berhenti tepat di depan Mireya.
Tatapan mereka sejajar.
“Baik.”
Suaranya rendah.
“Kalau kau berhasil…”
“Aku akan meminta maaf langsung di hadapanmu.”
Tatapannya sedikit menajam.
“Dengan kata-kata yang kau ingin dengar.”
Jantung Mireya berdegup lebih cepat.
Karena entah kenapa…
kata-kata itu terdengar seperti janji.
Bukan sekadar taruhan.
Zevran mengulurkan tangan.
“Kesepakatan?”
Mireya menatap tangan itu.
Lalu, tanpa ragu, ia menyambutnya.
“Kesepakatan.”
Jari mereka bersentuhan.
Hangat.
Dan tanpa mereka sadari…
taruhan kecil itu baru saja menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
...****************...
Kontrak lama perlahan diganti.
Bagian tentang karier yang tadi terasa seperti rantai kini berubah menjadi klausul baru.
Satu tahun masa pembuktian.
Selama satu tahun pernikahan kontrak berlangsung, Mireya diberikan kebebasan untuk tetap berkarier di industri hiburan.
Namun—
jika dalam satu tahun ia gagal membuktikan dirinya…
maka klausul lama akan kembali berlaku.
Ia harus meninggalkan dunia hiburan.
Sebaliknya, jika ia berhasil—
kontrak akan direvisi permanen.
Zevran wajib mendukung kariernya atau setidaknya tidak menghalangi langkahnya lagi.
Mireya membaca ulang dengan sangat teliti.
Jantungnya berdebar.
Ini bukan sekadar kontrak.
Ini seperti pertaruhan hidupnya.
Zevran menoleh.
“Sudah sesuai?”
Mireya mengangkat pandangan.
Beberapa detik ia menatap pria itu.
Lalu mengangguk.
“Sudah.”
Zevran mengulurkan terminal pribadinya.
“Kalau begitu tanda tangani.”
Mireya menarik napas panjang.
Lalu menempelkan jarinya pada kolom tanda tangan digital.
Cahaya tipis menyala.
Nama lengkapnya muncul.
Di bawahnya…
Zevran Ardevar juga menandatangani tanpa ragu.
Begitu kedua tanda tangan lengkap—
dokumen itu langsung berubah status.
VALIDATED
LEGAL SPOUSAL CONTRACT REGISTERED
Mireya membeku.
“Hah?”
Ia bahkan belum sempat memproses ketika sistem otomatis langsung mengirim dokumen identitas keduanya.
Tanpa lamaran.
Tanpa cincin.
Tanpa upacara.
Tanpa keluarga.
Semua data langsung terkirim ke platform pencatatan sipil kerajaan.
Hanya dalam hitungan detik.
Status mereka berubah.
SAH
Suara notifikasi lembut terdengar.
Pernikahan resmi telah terdaftar.
Mireya menatap layar dengan wajah kosong.
Otaknya seperti berhenti bekerja.
…hah?
udah?
udah nikah?
WTF…
gue udah nikah sama dia?
Wajahnya perlahan memucat.
Tangannya hampir gemetar memegang terminal.
Di sisi lain, Zevran terlihat biasa saja.
Seolah baru saja menandatangani dokumen rapat biasa.
Ia hanya merapikan jasnya dengan tenang.
Gerakannya elegan.
Lalu berkata datar,
“Baiklah.”
Tatapannya turun pada Mireya.
“Karena sekarang kau adalah istriku.”
Kalimat itu membuat Mireya hampir tersedak napas sendiri.
Zevran melanjutkan tanpa perubahan ekspresi.
“Dalam kerahasiaan.”
“Dan di luar, kita akan tampil sebagai tunangan.”
Mireya masih menatap kosong.
Zevran berjalan mendekat sambil membenarkan manset jasnya.
“Kau berhak ikut denganku ke acara resmi.”
“Pesta.”
“Jamuan bisnis.”
“Atau pertemuan keluarga kelas atas.”
Nada suaranya tenang.
“Orang-orang di lingkaran atas harus tahu dulu keberadaan mu.”
“Baru setelah itu berita akan menyebar keluar.”
Mireya langsung membayangkan wajah Luna.
Wajah orang-orang di agensi.
Dan semua orang yang selama ini memandang rendah dirinya.
astaga…
Aku beneran jadi bagian keluarga Ardevar?
Ia hampir pusing.
Namun Zevran sudah melanjutkan,
“Malam ini ikut makan malam denganku.”
Mireya tersentak.
“Hah? Nggak— aku pulang aja—”
“Tidak.”
Jawaban Zevran terlalu cepat.
Mireya mengerjap.
“Aku bisa pulang sendiri kok—”
Tatapan Zevran turun lurus ke arahnya.
Dingin.
“Sekarang kau istriku di mata pemerintah.”
Suaranya rendah.
“Mau tidak mau, kau harus mulai menyesuaikan diri.”
Mireya membuka mulut.
Menutupnya lagi.
Lalu membuka lagi.
“Tap—”
“Ini juga bagian dari kesopanan.”
Zevran menyelipkan satu tangan ke saku celana.
“Aku mengajak...”
“Aku mengantar pulang.”
“Itu hal yang wajar.”
Mireya masih ingin menolak.
Namun pria itu satu langkah lebih dekat.
Tatapannya tajam.
“Hanya makan malam, baiklah jika tidak bisa gunakan makan siang sebagai gantinya.”
“Jangan membuatku mengulang perintah.”
Jantung Mireya berdebar.
Sialnya…
nada memerintah itu justru membuatnya tak bisa membantah.
Ia menunduk sedikit.
“…baik.”
Sudut bibir Zevran bergerak tipis.
“Bagus.”
Lalu tanpa peringatan—
ia berbalik dan mulai berjalan keluar ruangan.
“Mari.”
Mireya membelalak.
lah kok langsung jalan?!
Ia buru-buru mengambil tasnya dan mengejar.
Dalam hati hanya ada satu kalimat.
astaga… aku beneran udah nikah sama cowok ini.
...****************...
Zevran berjalan lebih dulu.
Langkahnya tenang.
Cepat.
Dan seperti biasa, tidak menoleh apakah Mireya mengikuti atau tidak.
Mireya yang masih membawa tasnya buru-buru mengejar di belakang.
Di dalam lift khusus, suasana kembali hening.
Hanya ada suara dengung lembut mesin sihir.
Mireya melirik pria di sampingnya.
Masih sama.
Wajah dingin.
Tatapan lurus ke depan.
Tidak ada sedikit pun kesan baru saja menikah.
ini orang biasa aja banget ya…
Entah kenapa itu justru membuatnya semakin gugup.
Sementara di sisi lain, Zevran sebenarnya memang tipe yang cuek.
Ia tidak benar-benar memahami bagaimana memperlakukan wanita.
Dulu saja, saat masih dekat dengan seseorang—
lebih tepatnya hubungan tanpa status—
ia bahkan selalu diajak oleh pihak sana.
Mau pergi ke mana.
Mau makan apa.
Mau menonton film atau tidak.
Semua selalu dipilihkan.
Ia hanya mengikuti.
Karena baginya, selama tidak mengganggu pekerjaan, semua sama saja.
Jadi sekarang…
menghadapi Mireya membuatnya sedikit berpikir lebih lama.
Lift terbuka
Pintunya membuka langsung ke balkon terbuka tempat parkir khusus.
Dan di sana—
Mireya membeku.
Sebuah kendaraan terbang hitam metalik terparkir megah.
Bentuknya elegan.
Garis bodinya tajam.
Lambang Ardevar terpahat halus di bagian samping.
Cahaya sihir biru berputar lembut di bawah bodi.
Mireya langsung mengenalinya.
Ini mobil yang pernah ia lihat di berita.
Kendaraan terbang termahal.
Yang katanya hanya ada tiga unit di seluruh dunia.
Mulutnya sedikit terbuka.
“Ini… yang itu?”
Zevran berjalan mendekat.
“Iya.”
Jawabannya singkat.
Mireya menelan ludah.
aku naik ini?
Ia bahkan takut menyentuhnya.
Takut lecet.
Takut rusak.
Takut duduk salah.
Zevran membuka pintu.
“Masuk.”
Mireya masih berdiri kaku.
“Aku takut ngerusak…”
Tatapan Zevran datar.
“Hanya duduk.”
Nada suaranya hampir seperti menahan heran.
“Mobil ini tidak akan rusak hanya karena kau duduki.”
Mireya masih ragu-ragu.
Namun pria itu sudah menatapnya lagi.
“Masuk.”
Akhirnya ia naik dengan gerakan super hati-hati.
Seolah kursinya terbuat dari emas murni.
Baru saja ia duduk di ujung—
Zevran langsung mengernyit.
“Duduk yang benar.”
Mireya menoleh cepat.
“Hah?”
Pria itu menarik sabuk pengaman otomatis.
Membungkuk sedikit ke arahnya.
Klik.
Sabuk terpasang.
Gerakannya cepat.
Dingin.
Namun jarak mereka mendadak sangat dekat.
Wajah Mireya langsung memanas.
Zevran bahkan tidak menyadarinya.
Tatapannya lurus.
“Jangan duduk seperti itu.”
Nada suaranya datar.
“Nanti kalau kendaraan berbelok, kau bisa nyungsep.”
Ia berdiri tegak lagi.
“Aku tidak mau tanggung jawab kalau kau jatuh.”
Mireya membeku.
loh…
ini orang ngomongnya kok nyebelin tapi kayak perhatian…
Pintu kendaraan tertutup otomatis.
Dan kali ini—
Zevran sendiri duduk di kursi pengemudi.
Mireya membelalak.
“Kamu yang nyetir sendiri?”
Zevran menyalakan panel kontrol hologram.
Lampu biru menyala di sekeliling dashboard.
“Memangnya kenapa?”
“Biasanya orang sekayamu punya sopir… Pak supir yang pernah aku liat pas naik Limosin itu ”
Untuk pertama kalinya, Zevran terlihat hampir seperti tersinggung kecil.
“Aku tidak suka orang lain menyentuh kendaraan pribadi ku.”
Satu tangan pria itu memegang kontrol kemudi cahaya.
Sangat tenang.
Sangat terbiasa.
Lalu kendaraan mulai terangkat perlahan dari balkon privat.
Mireya refleks mencengkeram kursinya.
Sementara Zevran melirik sekilas.
“Jangan panik.”
Nada suaranya tetap dingin.
“Kalau takut, pegang kursinya.”
Mireya ingin bilang kalau dari tadi memang sudah pegang.
Tapi melihat wajah samping pria itu—
fokus.
Tampan.
Sangat tampan.
Ia malah jadi salah fokus.
astaga…
kenapa cowok ini ganteng banget pas nyetir…
...****************...
“WAAH—”
Ia buru-buru menahan suara.
Namun matanya membesar penuh takjub.
Di bawah mereka, gedung kantor Ardevar perlahan menjauh.
Hiruk pikuk kota terdengar satu per satu.
Langit siang sangat terang benderang.
Dan kendaraan itu melesat halus di antara jalur udara khusus VIP.
Mireya menempelkan pandangan ke jendela.
“Cantik banget…”
Suara itu keluar begitu saja.
Gedung-gedung tinggi.
Jalur transportasi udara bertingkat.
Iklan hologram raksasa yang melayang di udara.
Lampu sihir yang berpendar di sepanjang jalan langit yang mungkin berfungsi juga sebagai iklan.
Ibu kota terlihat seperti dunia lain.
Zevran meliriknya sebentar.
Sudut bibirnya hampir bergerak.
Hampir.
“Kau baru pertama kali ke sini?”
Mireya mengangguk cepat.
“Iya…”
“Dulu mungkin pernah, tapi aku nggak ingat.”
Tatapannya masih terpaku di luar.
“Indah banget…”
Ia terdengar seperti anak kecil yang pertama kali melihat taman hiburan.
Zevran memandang jalan lagi.
Namun tanpa sadar, suasana di dalam kendaraan terasa sedikit lebih ringan.
Tidak selama ini diisi debat.
Beberapa menit kemudian kendaraan mulai melambat.
Di kejauhan, sebuah menara hunian mewah menjulang.
Bagian puncaknya memiliki area pendaratan privat.
Mobil terbang itu naik lebih tinggi.
Sampai akhirnya mendarat mulus di balkon penthouse paling atas.
Mireya menatap ke atas.
Lalu ke samping.
Lalu kembali ke depan.
“…ini rumah?”
Nada suaranya hampir tidak percaya.
Pintu terbuka otomatis.
Zevran turun lebih dulu.
Lalu menoleh.
“Iya.”
Jawabannya santai.
“Untuk sementara.”
Mireya masih membeku di kursi.
ASTAGA.
aku beneran tinggal di sini?