Raisa Maureen ditinggal mati suaminya di dalam kondisi masih prawan, lalu ia melakukan hubungan satu malam dengan kakak iparnya karena pria itu mabuk berat dan kehilangan keperawanannya. setelah menikah dengan Evan ia baru mengetahui kenapa selama ini Aditya almarhum suaminya tidak pernah menyentuhnya. Apa yang sebenarnya terjadi? ikuti kelanjutan kisah nya hanya disini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lavender Marriage
"Evan… mami cuma mau Aditya kembali ke jalan yang lurus," ucap Lina, suaranya mulai melemah.
Evan menutup matanya sejenak, lalu menjawab dengan nada berat,
"Aku tahu mami sayang sama Aditya… tapi cara mami menyayangi dia… justru menyakitinya."
Lina terdiam di seberang.
"Dan sekarang… akibatnya dia Aditya meninggalkan kita semua kan," lanjut Evan pelan.
Suara Lina mulai bergetar.
"Maafkan mami, Van… mami—"
Evan memotong, masih dengan nada tegas,
"Lavender Marriage itu cuma nyakitin perempuan, mih. Mami kan juga perempuan,masa gak memiliki rasa empati sedikit pun terhadap perempuan? "
Lina mencoba membela diri.
"Mami cuma—"
"Mami boleh sedih," potong Evan lagi. "Aditya anak satu-satunya mami, aku ngerti itu."
Ia menarik napas dalam.
"Tapi bukan berarti mami bisa seenaknya nyalahin Raisa," lanjutnya. "Dia juga kehilangan… dia juga hancur."
Hening sejenak.
"Tolong, mih… hargai perasaan Raisa," ucap Evan lebih pelan, tapi tetap tegas.
Di ujung telepon, Lina hanya bisa diam seolah mulai menyadari bahwa apa yang selama ini ia anggap benar… ternyata justru melukai banyak orang.
"Mami salah, Van… mami minta maaf sama kamu," ucap Lina dengan suara bergetar.
Evan menghela napas pelan.
"Jangan minta maaf sama aku, mih," balasnya tegas. "Minta maaf sama Raisa. Karena mami… dia sampai sedih dibilang mandul, padahal selama lima bulan menikah dia bahkan belum pernah disentuh Aditya."
Lina terdiam.
"Itu bukan salah Raisa," lanjut Evan. "Aditya memang nggak bisa mencintai dia."
Suara Lina terdengar lirih.
"Mami akan minta maaf sama Raisa… mami sadar mami salah."
Evan terdiam sejenak, lalu berkata,
"Kalau gitu… restuin aku nikah sama Raisa. Nanti mami juga bakal punya cucu."
Lina langsung menolak.
"Nggak, Van. Kamu nggak boleh menikah sama Raisa,Papa kamu akan marah besar."
Evan mengernyit kesal.
"Kenapa sih, mih? Raisa itu cantik, pintar, baik. Apa kurangnya?"
Lina menjawab dingin,
"Dia bukan dari keluarga kita, Van. Nggak selevel."
Evan langsung menatap tajam ke depan.
"Kalau gitu… kenapa Raisa boleh menikah sama Aditya dulu?"
Lina terdiam.
"Karena mami—"
"Mami cuma mau nutupin kekurangan Aditya, kan?" potong Evan. "Lalu sekarang… malah nyalahin Raisa?"
Nada suaranya makin dalam.
"Mami juga perempuan… tapi tega melakukan itu ke perempuan lain."
Lina menarik napas panjang, lalu akhirnya berkata jujur,
"Mami cuma ingin Aditya diterima di keluarga besar papa kamu…" suaranya melemah. "Kalau mereka tahu… siapa dia sebenarnya, mami takut… papa sama kakek kamu nggak akan terima."
Evan menarik napas dalam, suaranya terdengar berat tapi tegas.
"Memang… nggak semua orang bisa menerima penyimpangan, mih," ucapnya pelan. "Tapi bukan
berarti mami boleh mengorbankan orang lain."
Lina terdiam di seberang.
"Raisa itu gadis baik," lanjut Evan. "Dia nggak tahu apa-apa. Pernah nggak mami pikir… bagaimana kalau dia sampi tertular penyakit menular s3ksual? Itu bukan hal kecil."
Suara Lina mulai melemah.
"Mami… salah, Van…"
Evan menutup matanya sejenak.
"Aku maafin mami," jawabnya akhirnya. "Dan masalah ini… nggak akan sampai ke opa atau papa."
Lina langsung sedikit lega.
"Terima kasih, Van…"
"Tapi ada satu syarat," lanjut Evan.
Lina kembali tegang.
"Syarat apa?"
Evan menatap lurus ke depan.
"Mami harus restuin aku nikah sama Raisa," ucapnya tegas. "Dan mami harus bantu bujuk papa… supaya merestui pernikahan kami."
Hening beberapa detik.
Keputusan kini ada di tangan Lina.dan kali ini, konsekuensinya tidak kecil.
Lina terdiam cukup lama di ujung telepon. Napasnya terdengar berat, seolah sedang menimbang sesuatu yang tidak mudah.
"Kamu serius, Van?" akhirnya ia bertanya pelan.
Evan menjawab tanpa ragu.
"Aku serius, mih."
Lina menghela napas panjang.
"Ini bukan keputusan kecil…" ucapnya. "Papa kamu itu keras. Kalau sampai tahu semua ini… bisa jadi masalah besar."
Evan menatap lurus ke depan, suaranya tetap tenang.
"Aku yang akan hadapi papa. Tapi aku butuh mami di pihak aku."
Lina kembali terdiam, lalu bertanya pelan namun penuh curiga,
"Kamu mau menikahi Raisa itu… karena kasihan atau apa, Van?"
Evan langsung menjawab tanpa ragu.
"Nggak, mih. Aku memang sudah menyukai dia… bahkan sebelum dia menikah sama Aditya."
Lina terkejut.
"Maksud kamu?"
Evan menarik napas dalam.
"Aku dari awal nggak suka dijodohkan sama Mona," ucapnya jujur. "Karena yang aku suka itu Raisa."
Lina makin terdiam, mencoba mencerna.
"Tapi waktu itu… aku tahu Raisa sudah menikah sama Aditya," lanjut Evan. "Dan papa terus mendesak aku buat menikah."
Ia menghela napas.
"Akhirnya aku menikah sama Mona… tapi itu cuma karena terpaksa."
Lina berbisik pelan,
"Lalu?"
"Seminggu setelah menikah…" lanjut Evan, "aku sadar aku nggak bisa lanjut. Aku nggak cocok sama dia."
Ia menutup matanya sejenak.
"Makanya aku memilih untuk menceraikannya."
Lina terdiam cukup lama. Kali ini bukan karena marah tapi karena mencoba memahami semuanya.
"Kamu… selama ini simpan perasaan itu sendiri?" tanyanya pelan.
Evan mengangguk, suaranya rendah.
"Iya, mih. Aku nggak pernah bilang ke siapa pun."
Lina menghela napas panjang.
"Kenapa kamu nggak bilang dari awal?" suaranya mulai melembut. "Kalau mami tahu… mungkin semuanya nggak akan serumit ini."
Evan tersenyum tipis, pahit.
"Waktu itu Raisa sudah dekat sama Aditya… dan aku juga nggak yakin dia bakal lihat aku," jawabnya jujur.
Lina menutup matanya sejenak.
"Jadi… sekarang kamu benar-benar yakin sama pilihan kamu?" tanyanya lagi.
Evan tidak butuh waktu lama untuk menjawab.
"Aku yakin."
Hening sejenak.
Lina akhirnya berbicara lagi, nadanya lebih tenang.
"Kalau begitu… mami akan coba berdiri di pihak kamu."
Evan menghela napas lega.
"Tapi, Van," lanjut Lina, "kamu harus ingat… ini bukan cuma tentang kamu dan Raisa."
Evan mengernyit.
"Maksud mami?"
"Ini tentang nama keluarga… tentang papa kamu… tentang bagaimana kalian berdua akan diterima nanti," jelas Lina.
Evan menatap kosong ke depan.
"Aku tahu… dan aku siap."
Lina mengangguk pelan.
"Kalau begitu… bawa Raisa ke rumah minggu ini," ucapnya. "Mami mau bicara langsung sama dia."
Evan terdiam sejenak, lalu menjawab,
"Iya, mih."
Telepon pun berakhir.
Evan bersandar di kursinya, menatap langit-langit mobil.
Evan bersandar di kursinya, menatap kosong ke depan. Bibirnya bergerak pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri.
"Raisa…" gumamnya lirih.
Tatapannya berubah lebih dalam, penuh tekad.
"Sebentar lagi… kamu akan benar-benar jadi milikku."
udah tau juga belang Aditya..
udah dengerin aja,jangan jadi orang yang sok tau gimana Aditya
udah di obok obok tiap hari msak gak mau dinikahi..
ada2 aja,kemana harga diri Mu Sa
pak David tukang kibul malah dikibulin...
anak sendiri pula pelakunya 🤣🤣🤣🤣
Cuma Raisa yang disini gak tau kelakuan Aditya