NovelToon NovelToon
In Umbra Penitentiae

In Umbra Penitentiae

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:810
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Kehadiran seorang anak kecil berusia tujuh tahun seharusnya membawa kebahagiaan. Namun tidak bagi keluarga itu. Kedatangannya sebagai anak yang tak pernah diharapkan perlahan menghancurkan keharmonisan yang selama ini terlihat sempurna. Sejak kecil ia tumbuh di tengah tatapan benci, kasih sayang yang setengah hati, dan kehidupan yang seolah tak pernah berpihak padanya.

Semakin dewasa, ia mencoba mencari tempat untuk pulang—melalui mimpi, cita-cita, dan cinta yang diyakininya mampu memperbaiki semuanya. Tetapi hidup kembali mempermainkannya. Harapan yang ia bangun perlahan runtuh, meninggalkan penyesalan, luka, dan kenyataan bahwa tidak semua orang ditakdirkan untuk mendapatkan akhir bahagia.

Di balik semua itu, ia hanya ingin satu hal sederhana: diterima sebagai manusia, bukan kesalahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 Mata yang Sama

Malam itu langit Seoul dipenuhi cahaya gedung-gedung tinggi yang menyala indah.

Di lantai tertinggi sebuah hotel mewah, Sebasta Galen Sadipta berdiri sendirian di balkon suite miliknya sambil menghisap rokok perlahan.

Asap tipis keluar dari bibirnya bersamaan dengan tatapan kosong ke arah gemerlap kota di bawah sana.

Sudah lima belas tahun.

Namun malam prom itu masih terus menghantuinya sampai sekarang.

Tok tok.

Pintu kamar diketuk pelan.

“Masuk.”

Seorang pria berjas hitam masuk sambil menunduk hormat. Itu Arsen, tangan kanan sekaligus orang kepercayaan Sebasta selama bertahun-tahun.

“Tuan,” ucapnya sopan. “Saya mendapat informasi kalau Tuan Damar juga sedang berada di Korea.”

Sebasta tidak langsung menjawab.

Pria itu hanya membuang abu rokoknya perlahan sebelum akhirnya bertanya datar,

“Untuk apa dia di sini?”

“Kurang tahu, Tuan.”

Arsen terlihat ragu sesaat sebelum melanjutkan,

“Tapi beberapa hari terakhir beliau sering terlihat di daerah Hongdae.”

Hongdae.

Entah kenapa nama tempat itu terasa familiar di kepala Sebasta.

Dan tanpa sadar pikirannya kembali pada kejadian dua hari lalu.

Pertemuan keduanya dengan seorang gadis kecil bermata dingin.

Sabine.

Hari itu Sebasta baru selesai meeting dengan klien bisnis di dekat kawasan sekolah internasional tempat Sabine belajar. Mobilnya berhenti di pinggir jalan karena lampu merah saat tanpa sengaja matanya menangkap sosok gadis yang terasa sangat familiar.

Rambut panjang hitam.

Kulit putih pucat.

Dan tatapan dingin yang terlalu dewasa untuk anak seusianya.

Awalnya Sebasta hanya menganggap itu kebetulan.

Namun semakin lama memperhatikan gadis itu… semakin aneh perasaannya.

Sabine sedang duduk di bangku taman dekat café depan sekolah.

Di depannya ada beberapa anak perempuan lain yang sibuk bermain game sambil tertawa-tawa. Salah satu bahkan sibuk selfie berkali-kali sambil memaksa Sabine mengambil foto mereka.

“Eh jangan jelek dong fotonya!”

“Iya Sab, ulang lagi!”

Namun yang membuat Sebasta mengernyit adalah…

Sabine justru sedang mengerjakan semua tugas kelompok sendirian.

Buku-buku dan laptop memenuhi meja kecil di depannya sementara teman-temannya bahkan tidak membantu sedikit pun.

Dan gadis itu hanya diam.

Tidak mengeluh.

Tidak marah.

Hanya mengerjakan semuanya dengan wajah datar.

Tatapan Sebasta perlahan berubah.

Dejavu.

Sangat mirip.

Mata itu…

Tatapan dingin itu…

Dan cara gadis kecil itu diam saat dimanfaatkan orang lain…

Semuanya terlalu mirip dengan Dariela dulu.

Dulu Ela juga seperti itu.

Selalu diam saat disuruh ini itu.

Selalu mengerjakan semuanya sendiri.

Dan tidak pernah benar-benar membela dirinya sendiri.

Entah kenapa dada Sebasta terasa sesak melihatnya.

Sampai akhirnya salah satu anak perempuan berkata sambil tertawa kecil,

“Untung ada Sabine jadi kita nggak usah capek.”

Yang lain langsung ikut tertawa.

Namun Sabine hanya menjawab pendek tanpa mengangkat kepala,

“Besok tinggal kalian print.”

Dingin.

Terlalu dingin untuk anak SMP.

Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun… Sebasta merasa takut pada sebuah kemiripan.

Karena semakin lama melihat Sabine, semakin besar rasa familiar yang menghantui dirinya.

Sampai gadis itu akhirnya mengangkat kepala karena merasa diperhatikan seseorang.

Dan saat mata mereka bertemu…

Napas Sebasta langsung tercekat.

Tatapan itu.

Persis seperti Ela malam setelah prom night.

Kosong.

Dingin.

Dan menyimpan luka yang tidak bisa dijelaskan.

Sebasta langsung tersadar saat klakson mobil belakang berbunyi panjang karena lampu lalu lintas sudah berubah hijau.

Namun sejak hari itu bayangan Sabine terus memenuhi kepalanya.

“Kalau perlu saya atur pertemuan dengan Tuan Damar?” suara Arsen membuyarkan lamunannya.

Sebasta menghela napas panjang lalu mematikan rokoknya.

“Enggak usah.”

Ia berjalan masuk ke dalam kamar hotel dengan wajah lelah.

Namun langkahnya berhenti sesaat sebelum akhirnya berkata pelan,

“Cari tau tentang anak perempuan bernama Sabine.”

Arsen sedikit bingung namun tetap mengangguk.

“Baik, Tuan.”

Setelah pintu tertutup kembali, Sebasta berdiri diam cukup lama di tengah ruangan.

Untuk pertama kalinya setelah lima belas tahun…

Ia mulai takut pada kemungkinan yang selama ini tidak pernah berani ia pikirkan.

Bagaimana kalau…

Sabine adalah anaknya?

1
Agus Tina
bagus ceritanya ...
wulaniii: makasih kak like dan komen yah 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!