NovelToon NovelToon
Dendam Flora

Dendam Flora

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sayong

Flora, putri sulung keluarga Amor, kehilangan ibunya saat usianya baru 17 tahun—sebuah luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Kepergiannya ke luar negeri untuk kuliah menjadi pelarian, hingga tanpa ia sadari, hidupnya berubah.
Di sana, ia bertemu seorang pria yang membuatnya bisa melupakan kesedihan nya.

Namun kedua nya hanyalah hubungan Tampa status.lebih tepat nya keduanya hanya teman tidur saja.mereka tidak tahu identitas masing masing.
hubungan mereka berakhir dengan damai.
Flora kembali ke tanah air, bersiap mengambil alih perusahaan peninggalan ibunya. Tapi hidup tak pernah sesederhana rencana. Ayahnya telah menikah lagi, dan dunia yang ia tinggalkan kini terasa asing.
Di sisi lain, pria yang pernah mengisi malam-malamnya—Evan—terpaksa menerima perjodohan demi kepentingan politik keluarga.
Keduanya melangkah ke masa depan masing-masing… tanpa tahu bahwa takdir belum selesai mempermainkan mereka.
Karena ketika rahasia mulai terungkap, dan masa lalu kembali .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berbaikan

Di ruang kantor yang sunyi, Lemos menunduk sejenak sebelum akhirnya berkata pelan,

“Aku akan menyerahkan perusahaan itu padamu.”

Flora tidak terkejut. Tatapannya tetap dingin, seolah itu memang sudah seharusnya terjadi.

“Tapi…” Lemos melanjutkan, suaranya sedikit ragu, “aku ingin kamu memberikan saham pada Agnes. Satu persen saja. Bagaimanapun… dia anakku. Dan ini juga… utangku padanya. Selama ini dia tidak pernah diakui sebagai putri kandung.”

Flora langsung tersenyum sinis.

“Kamu benar-benar tidak tahu malu.”

Namun Lemos tetap berdiri teguh.

“Itu kesalahanku… bukan kesalahan Agnes.”

Flora tidak membantah. Ia hanya terdiam beberapa detik, lalu berkata datar,

“Baik. Ini yang terakhir.”

Lemos mengangguk lega.

“Besok aku akan mengadakan rapat pimpinan. Semua akan diselesaikan.”

Di rumah, Agnes berdiri di hadapan Nadira dengan wajah tegang.

“Ibu… di rumah ini tidak ada orang. Katakan yang sebenarnya… aku ini anak Ayah… atau anak pria lain?”

Nadira menatapnya tajam.

“Tentu saja Kamu anak Lemos.”

Jawaban itu langsung mengubah ekspresi Agnes. Ragu di wajahnya menghilang, digantikan ambisi.

“Kalau begitu… aku juga berhak atas semuanya,” katanya pelan.

Nadira tersenyum tipis.

“Benar. Kita akan merebutnya dari Flora.”

Tiba-tiba ponsel Nadira berdering. Ia mengangkatnya, lalu wajahnya langsung berubah marah.

“Apa?!”

Tanpa ragu, ia membanting ponselnya ke lantai.

“Ada apa, Bu?” tanya Agnes.

“Lemos akan menyerahkan perusahaan pada Flora!” bentak Nadira.

Wajah Agnes langsung mengeras.

“Aku juga putri kandungnya… kenapa aku tidak diperlakukan sama?”

Matanya dipenuhi kebencian.

“Aku akan menghancurkan Flora.wanita jalang itu tidak bisa mendapatkan nya.hanya kamu yang pantas.”

Nadira mendekat, suaranya dingin.

“Lemos jangan salah aku.kalau kamu tidak bisa adil maka jangan salahkan aku kalau harus menggunakan cara jahat.”

Ia menatap Agnes dalam-dalam.

“Kalau dulu ibunya bisa disingkirkan… anaknya juga bisa.”

Di lobi kantor, Flora bersiap pergi menemui klien dari Bintang Group. Namun langkahnya terhenti saat suara keras memanggilnya.

“Flora!”

Agnes datang dengan wajah penuh emosi, langsung melabraknya.

“Kamu kejam! Kamu sengaja menjebak ibuku karena kamu tidak menyukainya!”

Suara Agnes sengaja dibuat keras, menarik perhatian semua orang.

“Kalau kamu tidak suka padaku, marahi aku saja! Jangan ibuku!” lanjutnya, air mata mulai mengalir.

“Ibuku sudah menganggap mu seperti anak sendiri… tapi kamu tega menjebaknya!”

Karyawan mulai berbisik-bisik. Tatapan mereka berubah.

Agnes menatap Flora dengan penuh luka—akting yang sempurna.

“Kamu tidak menerima pernikahan itu… karena kamu menyukai Evan, tunanganku!”

Ia bahkan berkata dengan suara bergetar,

“Aku rela menyerahkan Evan padamu… asal kamu melepaskan ibuku…”

Flora hampir tertawa melihat akting itu.

Dalam hati, ia bahkan merasa Agnes pantas mendapatkan penghargaan.

“Sudah selesai?” tanya Flora datar.

Agnes terdiam sesaat.

“A-apa maksudmu? Aku hanya ingin kamu melepaskan ibuku!”

Bisik-bisik semakin ramai.

“Flora ternyata licik…”

“Kasihan Agnes…”

Agnes menunduk, menyembunyikan senyum tipisnya.

Inilah yang ia inginkan.

Tiba-tiba beberapa wartawan muncul, langsung menyerbu Flora dengan pertanyaan. Dorongan terjadi, membuat Flora hampir jatuh.

Namun sebelum tubuhnya menyentuh lantai—

Seseorang menahannya.

Evan.

“Kaku tidak apa-apa?” tanyanya singkat.

Flora menggeleng pelan.

“Tidak.”

Tatapan Evan langsung berubah dingin saat melihat para wartawan.

“Kalau kalian masih di sini,” suaranya rendah tapi mengancam, “aku akan menuntut kalian.”

Para wartawan langsung mundur panik, meski beberapa masih sempat mengambil foto.

Agnes menatap dengan air mata.

“Aku tunanganmu… kenapa kamu membelanya?”

Evan bahkan tidak menoleh.

“Kita sudah tidak ada hubungan.”

Satu kalimat itu… menghancurkan segalanya.

Tanpa memberi kesempatan lagi, Evan menggenggam tangan Flora dan membawanya pergi.

Ia membuka pintu mobil, membiarkan Flora masuk, lalu duduk di kursi pengemudi.

Mobil melaju meninggalkan kerumunan.

Sepanjang perjalanan, tidak ada yang berbicara.

Hingga akhirnya—

Evan membawa Flora ke apartemennya.

Dan untuk kedua kalinya… pria itu kembali menarik Flora masuk ke dunianya, meski hatinya sendiri masih belum pulih dari luka yang sama.

Flora langsung menarik tangannya dari Evan begitu mereka masuk ke dalam apartemen.

“Apa yang kamu lakukan, Evan?” suaranya dingin. “Kamu mau membawaku ke mana?”

Evan menatapnya, santai tapi ada sesuatu yang serius di matanya.

“Beginilah caraku memperlakukan orang yang menyelamatkanku.”

Flora memutar matanya kesal.“Aku bisa menyelesaikannya sendiri.”

“Kalau aku tidak datang, kamu sudah jatuh karena dorongan tadi,” balas Evan cepat. “Kita perlu bicara.”

“Tidak ada yang perlu dibicarakan,” potong Flora. “Kita sudah selesai.”

Evan menghela napas panjang.“Kamu memang keras kepala.”

Flora mengangkat dagunya.“Memang. Lalu kamu mau apa?”

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya—

Evan tiba-tiba menariknya dan membungkamnya dengan ciuman.

Flora langsung menggigit bibir Evan refleks.

“Ah—” Evan meringis, lalu menatapnya kesal. “Kamu ini benar-benar… lahir di tahun anjing ya? Kerjanya cuma menggigit.”

Flora langsung tersulut.“Yang lahir tahun anjing itu kamu dan seluruh keluargamu!”

Evan mendecak.“Kamu itu kayak landak. Mulut dan sikapmu semuanya tajam.”

Flora langsung memukulnya, tapi tangannya ditangkap oleh Evan dengan cepat.Gerakan itu membuat mereka berhenti.

Tatapan mereka saling bertemu.Sunyi sejenak… tapi penuh ketegangan.

Evan bicara lebih dulu, suaranya kali ini lebih rendah dan serius.“Kasih aku kesempatan.”

Flora tidak menjawab.

“Aku akan bantu kamu membalas semuanya,” lanjut Evan. “Siapa pun yang menyakitimu… akan aku buat mereka membayar.”

Flora masih diam, tapi matanya mulai goyah.

“Aku mencintaimu,” ucap Evan tanpa ragu.

“Dan aku tahu… kamu juga punya perasaan untukku. Kamu cuma tidak mau melibatkan ku.”

Napas Flora sedikit tertahan.

“Aku tidak mau bermusuhan denganmu,” lanjut Evan pelan. “Aku… merindukanmu.”

Kali ini Flora akhirnya berpaling. Ia berjalan ke sofa lalu duduk, seolah mencoba menenangkan dirinya sendiri.

“Kalau cuma soal perusahaan…” katanya pelan, “aku bisa saja merelakannya direbut oleh Agnes dan ibunya. Paling Aku bisa mulai dari awal.”

Ia berhenti sejenak.“Tapi… kematian ibuku—”

Belum selesai ia bicara Evan kembali mendekat dan menciumnya.Kali ini tidak kasar.Tidak memaksa.Lembut… seolah benar-benar ingin menenangkan.

Dan kali ini… Flora tidak menolak.Ciuman itu perlahan berubah lebih dalam, penuh emosi yang selama ini mereka tahan. Waktu seolah berhenti di antara mereka.

Tiba-tiba Ponsel Evan berdering.Tanpa melihat, ia langsung mematikannya dan kembali mencium Flora.

Namun ponsel itu berdering lagi.Flora tertawa kecil di sela napasnya.“Sepertinya ada yang lebih penting daripada aku.”

Evan mendecak kesal, lalu mengangkat telepon dengan wajah tidak sabar.“Sebaiknya hal yang kamu laporkan penting.jika tidak aku akan mengirim mu ke Antartika untuk mengurus penguin.

Di seberang, suara Joy terdengar tegang.dia berpikir apakah dia sudah menghancurkan perbuatan baik tuan nya.dia tiba tiba merinding.“Tuan… perusahaan sedang dalam masalah.”

Evan langsung berubah serius.“Aku segera ke sana.”Ia menutup telepon, lalu menatap Flora.

“Aku harus pergi sebentar.”

Flora hanya mengangguk kecil.

Evan mendekat, mencium keningnya dengan lembut.“Tunggu aku.”

Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan pergi.

Pintu tertutup.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama… Flora hanya duduk diam, menyentuh bibirnya sendiri—bingung dengan perasaan yang mulai tak lagi bisa ia kendalikan.

1
Himna Mohamad
lanjut kk,,ceritanya bagus👍👍👍👍👍
Laar Ani
cerita hebat
Fulayah Haddad
Good , keren & menarik alur ceritanya bagus
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!