NovelToon NovelToon
PEWARIS NAGA BIRU

PEWARIS NAGA BIRU

Status: tamat
Genre:Anime / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Di Klan Ryu yang telah runtuh, Ryu Seol hanyalah pemuda tujuh belas tahun dengan meridian qi rusak—sampah yang dihina sepupunya sendiri di depan seluruh keluarga. Setiap hari adalah penghinaan, hingga suatu malam ia menemukan sebuah gua terlarang di balik air terjun.

Di dalamnya menanti Gu, rubah berekor sembilan yang jiwanya terperangkap selama ribuan tahun. Dengan sarkasme tajam dan kekuatan iblis kuno, Gu menawarkan perjanjian: memperbaiki meridian Seol, mengajarkan teknik terlarang Pedang Bayangan, dan membawanya melompat dari nol menjadi pendekar dalam hitungan bulan—dengan satu syarat: suatu hari Seol harus membebaskannya.

Dari buangan klan kecil, Seol melangkah ke Sekte Pedang Surgawi, melewati ujian maut Gua Iblis, dan bertemu Seol Hwa—murid senior dingin yang perlahan mencair, serta Baek Ho—sahabat setia dari Sekte Tulang Besi. Namun kekuatannya yang tumbuh terlalu cepat menarik perhatian musuh lama: Ryu Cheonmyeong, yang kini bergabung dengan Kultus Da

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Ujian Pedang

Malam sebelum ujian kedua, Seol tidak bisa tidur.

Ia berbaring di asrama sementara yang disediakan untuk peserta yang lolos—sebuah ruangan kayu sederhana di lereng bawah sekte, dengan delapan peserta lain yang tidur berserakan di lantai beralas jerami. Baek Ho sudah terlelap di sudut ruangan, dengkuran kerasnya bergema di antara dinding-dinding kayu.

Tapi Seol hanya menatap langit-langit yang gelap, pikirannya berputar.

Ujian pemahaman pedang.

Ia tidak memiliki pedang. Ia tidak pernah dilatih menggunakan pedang oleh siapa pun—bukan oleh ayahnya yang meninggal saat ia masih kecil, bukan oleh klan yang mengabaikannya, bahkan belum oleh Gu yang masih tertidur lelap di dalam Batu Giwa.

Yang ia miliki hanyalah ranting pohon yang ia gunakan sebagai pengganti pedang selama perjalanan, dan bayangan-bayangan yang ia ciptakan dengan qi-nya.

Apakah itu cukup?

Ia meraih Batu Giwa di sakunya. Batu itu dingin, tetapi ada denyut hangat di dalamnya—lemah, tetapi ada.

“Gu,” bisiknya, sangat pelan. “Aku butuh bantuanmu. Hanya sebentar.”

Tidak ada jawaban. Denyut itu tetap sama—teratur, tenang, seperti detak jantung orang yang sedang tidur nyenyak.

Seol menghela napas. Ia tidak bisa bergantung pada Gu selamanya. Ini adalah ujiannya. Ia harus melaluinya sendiri.

Ia memejamkan mata, memusatkan pikirannya. Di dalam dadanya, pusaran qi berputar pelan, stabil. Ia tidak perlu lebih dari itu.

Besok, aku akan menunjukkan apa yang bisa kulakukan.

---

Pagi Hari – Aula Pedang Surgawi

Aula Pedang Surgawi terletak di puncak kedua Gunung Cheongmyeong, setengah jam perjalanan dari asrama sementara. Seol dan sembilan peserta lainnya berjalan dalam diam, dipandu oleh dua murid senior berseragam biru yang tidak berbicara sepatah kata pun sepanjang perjalanan.

Matahari pagi menyinari lereng gunung dengan cahaya keemasan, menembus kabut tipis yang masih menggantung di antara pepohonan cemara. Udara di sini sangat dingin, tetapi Seol tidak menggigil. Ia terlalu fokus pada apa yang akan datang.

Mereka berhenti di depan sebuah bangunan batu putih yang menjulang tinggi. Pilar-pilar marmer dengan ukiran naga dan awan menopang atap biru kehijauan yang melengkung anggun. Di atas pintu masuk, sebuah papan kayu besar bertuliskan empat aksara emas:

Aula Pedang Surgawi

Pintu kayu raksasa itu terbuka dengan sendirinya, tanpa ada yang menyentuhnya. Seol merasakan hembusan angin dingin keluar dari dalam—bukan angin biasa, tetapi angin yang mengandung sesuatu yang lebih tua, lebih dalam, lebih sakral.

Qi. Qi yang sangat tua.

Ia masuk.

Di dalam aula, cahaya matahari menembus jendela-jendela tinggi yang terbuat dari kertas tipis, menciptakan pilar-pilar cahaya yang jatuh di lantai batu hitam mengilap. Dinding-dinding aula dipenuhi oleh lukisan-lukisan kuno—gambar para pendekar pedang dari ribuan tahun yang lalu, pertempuran-pertempuran dahsyat, naga-naga yang melingkar di langit.

Tapi yang menarik perhatian Seol bukan lukisan-lukisan itu.

Di tengah aula, di atas sebuah altar batu berundak tujuh, berdiri sebuah patung.

Patung itu setinggi tiga tombak, diukir dari batu hitam yang sama dengan lantai. Bentuknya adalah seorang pendekar dengan jubah panjang yang berkibar, rambut tergerai, dan di tangan kanannya—sebuah pedang.

Bukan pedang biasa. Pedang itu diukir dengan sangat detail hingga Seol hampir bisa melihat kilatan logamnya. Dan meski hanya batu, ada sesuatu yang membuatnya nyata. Hidup.

Di sekeliling altar, sembilan peserta lain duduk bersila dalam formasi setengah lingkaran. Di depan mereka, Baek Yoon berdiri dengan tangan di belakang punggung, wajahnya datar. Di sampingnya, Seol Hwa—perempuan dingin yang menyelamatkannya kemarin—duduk di kursi kayu sederhana dengan papan tulis kecil di pangkuannya, pulas siap di tangan.

Kang Jin juga ada di sana, berdiri di sudut aula dengan tangan disilangkan, matanya mengawasi para peserta seperti elang mengintai mangsa.

“Duduk,” perintah Baek Yoon.

Seol dan peserta lain segera duduk bersila di lantai batu yang dingin. Ia memilih tempat di barisan kedua, sedikit ke kiri, cukup jauh dari altar tetapi masih bisa melihat patung dengan jelas.

“Ujian kedua,” kata Baek Yoon, suaranya bergema di aula yang luas, “adalah Ujian Pemahaman Pedang.”

Ia berjalan mengelilingi altar, jari-jarinya menyentuh permukaan patung itu dengan lembut.

“Patung ini bukan sekadar karya seni. Patung ini adalah peninggalan Pendiri Sekte Pedang Surgawi, dibuat seribu tahun yang lalu oleh murid pertamanya. Di dalam batu ini, tersimpan esensi pedang—getaran qi yang tidak bisa dideteksi oleh indra biasa, tetapi bisa dirasakan oleh mereka yang memiliki koneksi sejati dengan jalan pedang.”

Ia berhenti di depan altar, menatap para peserta satu per satu.

“Tugas kalian sederhana: duduk di sini, pejamkan mata, dan rasakan. Setiap dari kalian akan mendapat waktu satu jam. Setelah itu, kalian akan menuliskan apa yang kalian rasakan di papan tulis kalian masing-masing. Tidak ada jawaban benar atau salah. Yang kami cari adalah… kedalaman.”

Ia memberi isyarat. Seol Hwa mengangkat papan tulisnya, memperlihatkan bahwa setiap peserta memiliki papan kecil di samping mereka—batu tulis tipis dengan kapur putih.

“Mulai,” kata Baek Yoon.

---

Satu Jam yang Panjang

Seol memejamkan mata.

Ia mencoba mengosongkan pikirannya, seperti yang diajarkan Gu. Tarik napas. Buang napas. Rasakan qi di sekitarnya.

Tapi di sini, qi tidak seperti di hutan atau di gua. Di Aula Pedang Surgawi, qi terasa… padat. Berat. Seperti udara sebelum badai, penuh dengan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

Ia mencoba menjangkau patung itu dengan indra qi-nya.

Tidak ada yang terjadi.

Ia mencoba lagi. Lebih dalam. Lebih fokus.

Masih tidak ada.

Satu jam. Ia hanya punya satu jam. Dan ia tidak merasakan apa-apa.

Di sekelilingnya, ia bisa mendengar beberapa peserta mulai menulis—suara kapur di batu tulis yang berdecit pelan. Mereka sudah merasakan sesuatu. Mereka sudah mendapat jawaban.

Seol menggigit bibirnya. Apa aku tidak cukup baik? Apa aku memang tidak berbakat untuk jalan pedang?

Ia teringat kata-kata Cheonmyeong: “Sampah seperti kau tidak akan pernah bisa menjadi pendekar sejati.”

Ia hampir membuka mata. Hampir menyerah.

Tapi kemudian—denyut.

Di sakunya, Batu Giwa berdenyut. Tidak kuat, tidak seperti saat Gu menggunakan kekuatannya. Hanya denyut kecil, lembut, seperti seseorang yang sedang tidur berguling di tempat tidurnya.

Dan dalam denyut itu, Seol merasakan sesuatu.

Bukan qi. Bukan getaran.

Suara.

Suara yang sangat jauh, sangat samar, seperti bisikan dari ujung lorong yang panjang.

“Dengar…”

Suara Gu. Lemah, nyaris tidak terdengar, tetapi jelas.

“Dengar… pedang itu…”

Seol memusatkan seluruh perhatiannya pada suara itu. Ia tidak mencoba merasakan qi. Ia tidak mencoba menganalisis. Ia hanya… mendengar.

Dan kemudian, ia mendengarnya.

Bukan suara dalam arti biasa. Ini adalah getaran yang begitu dalam hingga tidak bisa ditangkap oleh telinga, tetapi bisa dirasakan oleh tulang, oleh darah, oleh jiwa.

Itu adalah suara pedang.

Bukan satu pedang. Ribuan pedang. Puluhan ribu pedang. Suara mereka bergema dari dalam batu hitam itu, dari setiap pori-pori patung, dari setiap ukiran yang menghiasi dinding aula.

Mereka tidak berteriak. Mereka tidak bergemuruh. Mereka bernyanyi.

Setiap pedang memiliki nadanya sendiri—ada yang tinggi dan tajam, ada yang dalam dan berat, ada yang lembut seperti bulu, ada yang menggelegar seperti guntur. Dan di tengah-tengah mereka semua, satu nada yang paling kuat, paling jernih, paling abadi.

Nada pedang di tangan patung itu.

Seol tidak bisa menjelaskan apa yang ia rasakan. Ia tidak punya kata-kata untuk itu. Yang ia tahu, dadanya terasa sesak, matanya perih, dan tanpa sadar—air mata jatuh dari pelupuk matanya yang terpejam.

Ia menangis. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia menangis bukan karena kesedihan atau rasa sakit.

Ia menangis karena ia mendengar.

---

Saat Waktu Habis

“Waktu habis,” suara Baek Yoon memotong keheningan.

Seol membuka matanya. Wajahnya basah. Ia tidak peduli.

Ia melihat sekeliling. Beberapa peserta lain juga tampak terharu—ada yang menunduk dengan mata merah, ada yang menatap patung itu dengan ekspresi kagum. Tapi kebanyakan hanya tampak bingung, tidak yakin apa yang baru saja mereka rasakan.

Baek Yoon berjalan menyusuri barisan, mengumpulkan papan tulis satu per satu. Ia menyerahkannya pada Seol Hwa, yang membaca setiap jawaban dengan ekspresi datar, lalu mencatat sesuatu di buku kecilnya.

Ketika giliran Seol, Baek Yoon berhenti. Ia menatap wajah Seol yang basah, lalu menatap papan tulis yang masih kosong.

“Kau tidak menulis apa pun?” tanyanya.

Seol menggeleng. “Aku… aku tidak punya kata-kata untuk apa yang kurasakan.”

Baek Yoon mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”

Seol menarik napas dalam-dalam. Ia menatap patung itu sekali lagi, lalu berkata:

“Aku mendengar mereka. Semua pedang. Mereka bernyanyi. Setiap pedang memiliki nadanya sendiri. Ada yang tinggi, ada yang rendah. Ada yang marah, ada yang sedih. Tapi di tengah semuanya, ada satu nada yang paling kuat. Nada dari pedang di tangan patung itu. Nada itu… nada itu seperti… seperti panggilan pulang.”

Keheningan menyelimuti aula.

Baek Yoon tidak bergerak. Seol Hwa, yang selama ini datar seperti patung, tiba-tiba mengangkat kepalanya. Matanya yang hitam pekat menatap Seol dengan intensitas yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun.

Kang Jin, di sudut aula, menurunkan tangannya yang semula disilangkan. Mulutnya terbuka sedikit.

“Kau… kau mendengar nyanyian pedang?” suara Baek Yoon serak. Bukan karena sakit, tetapi karena emosi yang ditahan. “Itu adalah tingkat pemahaman tertinggi. Hanya tujuh orang dalam sejarah sekte ini yang pernah melaporkan hal yang sama. Termasuk Pendiri sendiri.”

Seol tidak mengerti apa artinya. Ia hanya tahu bahwa apa yang ia rasakan adalah nyata.

Baek Yoon berdiri diam untuk waktu yang lama. Kemudian ia menghela napas panjang.

“Aku tidak bisa menilaimu,” katanya akhirnya. “Karena apa yang kau alami berada di luar kemampuanku untuk menilai.”

Ia menoleh ke Seol Hwa. “Seol Hwa, kau yang menilainya.”

Seol Hwa berdiri. Ia berjalan mendekati Seol, papan tulis kosong itu masih di tangannya. Untuk pertama kalinya, Seol melihat ekspresi di wajahnya yang tidak dingin. Ada rasa ingin tahu. Ada rasa hormat. Dan ada sesuatu yang lain—sesuatu yang tidak bisa ia identifikasi.

“Ryu Seol,” katanya, suaranya masih datar, tetapi ada nada yang berbeda di dalamnya. “Kau lulus.”

Ia menulis sesuatu di buku kecilnya, lalu berbalik dan kembali ke tempat duduknya.

Baek Yoon mengangguk. “Ujian kedua selesai. Dari sepuluh peserta, tiga dinyatakan tidak lulus. Tujuh sisanya akan melanjutkan ke ujian terakhir.”

Tiga orang berdiri dengan wajah pucat. Mereka keluar dari aula dengan langkah berat, tanpa ada yang menatap mereka.

Seol, Baek Ho, dan lima peserta lainnya tetap duduk.

Baek Yoon berdiri di depan mereka, wajahnya sekarang lebih serius dari sebelumnya.

“Ujian ketiga,” katanya, “adalah yang paling berbahaya. Bukan karena rintangannya yang mematikan, tetapi karena apa yang akan kalian hadapi di dalamnya.”

Ia memberi isyarat ke arah Kang Jin, yang membuka sebuah peti kayu di sudut aula. Dari dalam peti itu, ia mengeluarkan tujuh gulungan kertas kecil, masing-masing diikat dengan tali merah.

“Ini adalah peta menuju Gua Iblis,” kata Baek Yoon. “Di dalam gua itu, kalian akan dihadapkan pada ilusi—ilusi yang akan mengambil bentuk ketakutan terbesar kalian, penyesalan terdalam kalian, atau mimpi terliar kalian. Kalian harus melewatinya. Kalian harus menemukan jalan keluar.”

Ia membagikan gulungan itu satu per satu.

“Tahun lalu, dari dua belas peserta yang masuk Gua Iblis, lima tewas. Empat lainnya keluar dalam keadaan tidak waras. Hanya tiga yang berhasil lulus.” Ia menatap mereka satu per satu. “Jika kalian takut, kalian boleh mundur sekarang. Tidak ada yang akan menganggap kalian pengecut. Gua Iblis bukanlah ujian biasa. Gua ini adalah cermin jiwa. Dan tidak semua jiwa siap melihat dirinya sendiri.”

Tidak ada yang bergerak.

Baek Yoon mengangguk kecil. “Bagus. Besok pagi, kalian akan masuk. Istirahatlah. Dan ingat…” Ia berhenti di pintu. “Di dalam gua itu, satu-satunya yang bisa menyelamatkan kalian adalah kalian sendiri.”

Ia keluar. Kang Jin mengikuti. Seol Hwa berdiri, tetapi sebelum ia pergi, ia menatap Seol sekali lagi. Tatapan yang panjang, dalam, dan tidak bisa dibaca.

Lalu ia pergi.

---

Malam Sebelum Gua

Seol duduk di beranda asrama, memandang ke arah lereng gunung yang gelap. Di kejauhan, lampu-lampu sekte berkelap-kelip seperti bintang yang jatuh ke bumi.

Baek Ho duduk di sampingnya, diam. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, pemuda yang selalu bersemangat itu tampak tenang—terlalu tenang.

“Kau takut?” tanya Seol.

Baek Ho menghela napas. “Aku selalu takut. Tapi biasanya aku bisa menguburnya. Tapi Gua Iblis…” Ia menggigit bibirnya. “Konon, gua itu akan menunjukkan apa yang paling kau takuti. Bukan monster atau iblis, tapi sesuatu yang lebih nyata. Lebih pribadi.”

Seol tidak menjawab.

“Apa yang paling kau takuti, Seol?” tanya Baek Ho.

Seol berpikir. Ia memikirkan tentang ibunya yang sakit. Tentang Cheonmyeong yang haus balas dendam. Tentang Gu yang mengorbankan dirinya. Tentang menjadi lemah. Tentang kembali menjadi sampah.

Tapi ia tidak mengatakan apa pun.

“Aku tidak tahu,” katanya akhirnya. “Tapi apa pun yang ada di dalam gua itu, aku harus menghadapinya.”

Baek Ho menatapnya. Kemudian ia tersenyum—senyum yang mirip dengan senyum saat pertama kali mereka bertemu.

“Kau benar. Kita harus menghadapinya.”

Ia berdiri, mengulurkan tangannya.

“Besok, apa pun yang terjadi, kita akan keluar dari gua itu bersama. Janji?”

Seol menjabat tangannya. Genggaman itu kuat, hangat, dan penuh keyakinan.

“Janji.”

---

Di Dalam Kamar Seol Hwa – Malam yang Sama

Seol Hwa duduk di depan meja kayunya, buku catatan ujian terbuka di hadapannya. Matanya tertuju pada satu nama, satu baris yang ia tulis sendiri.

Ryu Seol – Pendengar Nyanyian Pedang.

Ia tidak bisa menjelaskan mengapa namanya terus berputar di kepalanya. Ia sudah melihat banyak peserta berbakat selama bertahun-tahun menjadi asisten Baek Yoon. Tapi tidak ada yang seperti pemuda ini.

Pemuda yang tidak memiliki pedang. Tidak memiliki klan. Tidak memiliki siapa pun.

Tapi ia mendengar.

“Menarik,” gumamnya pelan.

Di luar jendela, angin malam bertiup membawa aroma bunga dari kebun sekte. Besok, pemuda itu akan masuk ke Gua Iblis.

Dan Seol Hwa, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, merasa penasaran.

Apakah ia akan selamat? Atau akankah ia menjadi satu dari sekian banyak nama yang tercatat di buku ini, hanya untuk dilupakan?

Ia menutup buku itu.

“Kita lihat besok, Ryu Seol.”

---

1
yos helmi
💪💪💪💪💪😍😍😍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍👍👍👍💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😍😍💪💪💪
yos helmi
💪💪💪🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
👍👍👍👍🤣🤣💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍
yos helmi
💪💪💪💪👍👍👍
Daryus Effendi
sampah
R.A.N
mana author
Q. Zlatan Ibrahim: halo terimakasih sudah berkunjung
total 1 replies
R.A.N
halo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!