NovelToon NovelToon
Aku Ini Istrimu

Aku Ini Istrimu

Status: sedang berlangsung
Genre:KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Penyesalan Suami
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author:

Aku nggak pernah membayangkan kalau gaun putih ini bakal terasa seberat rantai besi. Menikah dengan Bara Adiwangsa bukan mimpi indah yang jadi nyata, tapi awal dari sandiwara panjang yang nggak tahu kapan selesainya.

Bara itu suamiku, tapi dia yang paling sering bikin aku merasa nggak berharga. Dia bisa bersikap manis di depan orang tuanya, lalu berubah jadi orang lain yang kasar saat dia bersamaku.

Capek? Banget. Karena suamiku mungkin berpikir dia bisa menginjak-injak harga diriku hanya karena dia merasa telah "membeliku". Dia bisa saja menatapku dengan jijik, mengacuhkanku seolah aku hanyalah pajangan mati di pojok ruangan. Dia bisa memuja masa lalunya atau mencari pelarian pada orang lain, tapi ada satu kenyataan pahit yang tidak akan pernah bisa dia hapus, sekeras apa pun dia mencoba.

"Tatap aku, Bara. Hina aku sesukamu, tapi jangan pernah lupa satu hal... Aku Ini Istrimu."

Bab 10 Aku Bersama Keluarganya dia Bersama Orang Lain

Saat pintu itu terbuka perlahan, mengeluarkan bunyi derit halus yang langsung memicu perhatian dua orang di ruang tamu. Serentak, mereka menoleh ke arah pintu. Renata terpaku sejenak melihat siapa yang datang. Di sana, Papah Baskoro dan Reno sudah duduk menunggu.

Papah Baskoro adalah yang pertama berdiri, disusul oleh Reno yang gerakannya tampak sedikit kaku. Renata melangkah mendekat, mencoba menyembunyikan rasa lelahnya. Ia meraih tangan mertuanya untuk bersalaman, lalu memberikan senyum tipis yang sopan ke arah Reno.

Baru saja Renata membuka mulut, hendak menyusun kata-kata untuk menjelaskan kenapa ia pulang sendirian tanpa suaminya, Pak Baskoro lebih dulu memotong.

"Papa udah tahu, Renata. Barusan Reno udah bilang kalau Bara mendadak ada urusan penting di kantor yang harus diselesaikan," ucap Baskoro kalem.

Mendengar itu, Renata diam-diam mengembuskan napas lega. Syukurlah, batinnya. Setidaknya ia tidak perlu menjelaskan untuk menutupi ketidakhadiran suaminya.

Papah melirik kantong-kantong belanjaan yang masih dijinjing oleh Bi Sumi di belakang Renata. "Banyak sekali belanjanya. Kamu beli apa aja itu?"

"Ini, Pa... tadi aku beli kemeja buat Mas Bara, sama ada beberapa baju buat aku juga," jawab Renata lembut. Ia merasa sedikit tidak enak hati saat melihat mertuanya. "Maaf ya Pa, aku nggak beli-in baju buat Papa sama Mama. Aku bingung ukurannya berapa, takutnya pas aku beli malah nggak cocok."

Papah tertawa kecil, suara beratnya memenuhi ruangan. "Halah, nggak usah repot-repot kalau buat Papa. Papa mah gampang. Tapi nggak tahu tuh kalau Mama kamu," candanya.

Tiba-tiba, suara nyaring khas seorang Nyonya Sarah terdengar dari arah belakang, tepatnya dari arah dapur.

"Eh, Mama dengar ya! Pokoknya nanti Mama mau lihat model baju yang lagi tren sekarang!" sahut Nyonya Sarah.

Suasana rumah yang tadi sempat terasa tegang bagi Renata, kini mendadak terasa hangat karena kehadiran keluarga suaminya. Namun, di tengah kehangatan itu, ada satu kursi yang kosong. Ada satu sosok yang seharusnya berdiri di sampingnya, tapi sekarang entah sedang berada di mana.

"Pa, kalau gitu Renata pamit ke atas sebentar ya, mau mandi dulu." Renata tersenyum, merasa sedikit tidak enak karena harus meninggalkan mertuanya di ruang tamu.

Papah Baskoro mengangguk maklum. "Oh, iya, silakan. Mandi dulu aja, sekalian istirahat sebentar. Nanti kalau makanannya udah siap semua, kamu baru turun lagi ya buat makan malam bareng."

"Tapi, Pa... aku nggak enak kalau nggak bantu Mama di dapur," jawab Renata ragu. Ia merasa sebagai menantu seharusnya ia ikut sibuk menyiapkan hidangan, apalagi di dapur pasti repot.

Baru aja Renata hendak melangkah ke arah dapur, suara Nyonya Sarah kembali terdengar nyaring, kali ini lebih dekat karena beliau melongokkan kepalanya dari balik sekat ruang makan.

"Nggak usah, Renata! udah, kamu istirahat aja di kamar," sahut Nyonya Sarah. "Biar Mama sama Bi Sumi yang urus di sini. Kamu itu habis jalan jauh, pasti capek."

Renata akhirnya luluh. "Ya udah, kalau gitu Renata ke atas dulu ya, Ma, Pa."

Ia pun melangkah menaiki anak tangga satu per satu, sambil menjinjing tas kecilnya. Di setiap langkahnya, rasa lelah fisik memang terasa, tapi ada rasa ganjil yang lebih besar di hatinya. Sambil berjalan di koridor lantai atas yang sunyi, Renata merogoh ponselnya lagi.

Jemarinya mulai bergerak cepat mengetikkan pesan singkat. Ada sedikit rasa kesal yang mulai bercampur dengan rasa lelahnya.

“Gue udah pulang. Lo di mana, Bara? Papa sama Mama nyariin lo,” tulisnya dalam satu tarikan napas.

Namun, ia hanya bisa menatap layar itu dengan hampa. Jangankan dibalas, centang satu pun tidak berubah. Ponsel Bara sepertinya benar-benar tidak aktif. Renata menghela napas panjang, memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas dengan perasaan yang makin tidak keruan.

Begitu sampai di depan pintu kamar, ia langsung membukanya dan masuk. Begitu pintu tertutup rapat, Renata seolah melepaskan semua beban sandiwara yang tadi ia tunjukkan di bawah. Tanpa mengganti baju terlebih dahulu, ia langsung merebahkan diri ke atas kasur yang empuk.

Wusss... Rasa dingin dari sprei menyentuh kulitnya, tapi tidak bisa mendinginkan kepalanya yang terus bertanya-tanya. Renata menatap langit-langit kamar yang tinggi, sementara bayangan Bara yang tadi melepaskan tangannya di mal kembali muncul.

"Aneh juga yah? sementara Reno di sini dan Bara malah masih ada urusan kerjaan." bisiknya pelan pada keheningan kamar.

Ia memejamkan mata sejenak, mencoba mencari ketenangan di tengah empuknya kasur. Rasa kantuk sempat menyergapnya, tapi ia segera tersentak bangun. Ia tidak boleh tertidur sekarang, apalagi keluarga mertuanya sedang menunggu di bawah. Dengan langkah gulai, ia beranjak menuju kamar mandi untuk menyegarkan diri.

Begitu pintu tertutup, Renata menyalakan shower. Gemericik air yang hangat mulai jatuh membasahi bahu dan punggungnya, perlahan meluruhkan rasa lelah yang menumpuk sejak di mal tadi. Ia menuangkan sabun cair ke telapak tangannya, menggosoknya hingga berbusa, lalu mulai mengusapkannya ke seluruh tubuh.

Namun, di bawah kucuran air yang deras, pikiran Renata mendadak melantur. Entah karena merasa kesepian atau karena sikap dingin Bara belakangan ini, ia tiba-tiba membayangkan sepasang tangan pria yang kuat meremas lembut bahu dan pinggangnya. Sentuhan imajiner itu terasa begitu nyata di balik uap air yang memenuhi ruangan, membuatnya terdiam sejenak sambil terus mengusap lengannya sendiri dengan busa sabun.

Ada kerinduan yang aneh, rasa ingin diinginkan yang selama ini tertahan karena pernikahan mereka yang terasa hambar. Air shower terus bercucuran, membasahi wajah dan menyamarkan helaan napasnya yang terasa berat.

Di tengah uap air yang kian memenuhi ruangan, sentuhan tangan Renata sendiri di atas kulitnya yang licin berbusa terasa semakin menuntut. Jemarinya bergerak perlahan, mengusap area dadanya sendiri dengan gerakan melingkar yang lembut namun penuh penekanan. Ia memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan setiap sentuhan itu menjadi pelampas rasa sepi yang selama ini ia pendam dalam pernikahannya yang hambar.

Sentuhan itu perlahan berubah menjadi remasan yang lebih berani. Renata mendongak, membiarkan air shower mengguyur wajahnya sementara jemarinya terus bermain, mencari sensasi yang bisa membuatnya melupakan sejenak kalau suaminya sedang tidak ada di sampingnya. Desahan halus kini benar-benar lolos dari bibirnya, bersaing dengan suara air yang jatuh ke lantai.

Dalam kegelapan di balik kelopak matanya, bayangan sosok pria yang ia rindukan—entah itu sosok Bara atau orang lain yang sekadar imajinasi tentang pria yang benar-benar memujanya, membuat gairahnya memuncak. Namun, tepat saat ia hampir terhanyut terlalu jauh dalam kesenangannya sendiri, suara ketukan pintu di luar kamar mandi yang samar-samar terdengar langsung menyentaknya kembali ke kenyataan.

"Non... Non Renata? Sebentar lagi makan malam," suara Bi Sumi terdengar dari balik pintu kamar.

Renata tersentak. Tangannya seketika berhenti, dadanya naik turun dengan napas yang memburu. Ia segera mematikan keran shower, membiarkan kesunyian mendadak memenuhi ruangan. Rasa dingin mulai merayap di kulitnya, menggantikan panas gairah yang tadi sempat membakar.

"I-iya Bi! Sebentar lagi saya turun!" sahut Renata dengan suara yang sedikit bergetar, berusaha menenangkan diri.

Setelah selesai mandi, Renata berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Rambutnya yang basah terbungkus handuk putih, sementara ia sudah mengenakan pakaian rumahan yang santai namun tetap terlihat rapi karena ada mertuanya di bawah.

Ia meraih hair dryer, menyalakannya, dan suara bising alat itu mulai memenuhi kamar. Sambil mengarahkan angin hangat ke sela-sela rambutnya, matanya tidak bisa lepas dari ponsel yang diletakkan tepat di samping sisir. Setiap beberapa detik, ia melirik ke layar yang masih gelap, berharap ada kilatan cahaya tanda pesan masuk atau panggilan dari Bara.

Ceklek.

Renata mematikan hair dryer sebentar, mengira ada bunyi notifikasi. Ternyata bukan. Hanya suara AC yang mendesis. Ia menggigit bibir bawahnya, merasa dongkol sekaligus cemas.

"Bener-bener ya lo, Bar. Seenggaknya balas kek, bilang 'iya' atau apa," gumamnya kesal.

Ia menyalakan kembali alat pengering rambut itu, mencoba mengalihkan pikirannya yang mulai liar lagi. Rambutnya perlahan mulai kering dan jatuh terurai di bahunya, tapi hatinya justru semakin terasa berat. Ada perasaan kontras yang menyakitkan: di bawah sana ada keluarga besar yang mencintai dan menghargainya, sementara suaminya sendiri seolah menganggapnya tidak ada.

Begitu rambutnya dirasa cukup kering, Renata mematikan hair dryer dan meletakkannya kembali ke meja rias. Ia menarik napas panjang, memoleskan sedikit bedak dan liptint bibir tipis supaya tidak terlihat seperti orang pucat atau orang yang sedang banyak pikiran.

"Oke, Renata. Show time," bisiknya pada bayangannya di cermin.

Ia meraih ponselnya untuk terakhir kali sebelum keluar kamar. Saat di cek ternyata hasilnya masih nihil. Centang satu. Dengan perasaan pasrah, ia melangkah keluar kamar dan menuruni tangga menuju ruang makan, siap menghadapi rentetan pertanyaan dari mertuanya.

Di ruang makan, suasana sudah sangat sibuk. Aroma rendang dan sup kimlo buatan Bi Sumi menyeruak, memenuhi seluruh ruangan. Sehingga Nyonya Sarah sibuk mengatur letak mangkuk, dan Bi Sumi bolak-balik dari dapur membawa nampan. Renata yang melihatnya segera mendekat, berniat mengambil tumpukan piring porselen untuk ditata di meja.

"Ma, biar Renata yang tata piringnya ya," ucap Renata lembut, mencoba menawarkan bantuan.

Nyonya Sarah menoleh sekilas, namun saat Renata melewati mertuanya itu, sebuah bisikan tajam dan ketus tepat di telinganya.

"Menantu malas. Mau enaknya aja kamu, mentang-mentang dirumah ada suami saya," desis Nyonya Sarah dengan suara yang sangat rendah, cukup untuk membuat telinga Renata panas namun tidak terdengar oleh Papah di ruang tamu.

Renata sempat tertegun. Genggamannya pada piring porselen itu mengeras. Rasanya ingin sekali ia membalas, tapi bayangan wajah Baskoro yang tegas membuatnya mengurungkan niat. Ia menarik napas panjang, menelan bulat-bulat rasa sakit hatinya, dan memilih untuk tetap diam. Sabar, Renata. Jangan bikin keributan di depan Papa, batinnya sambil terus menata piring dengan tangan yang sedikit gemetar.

Tepat saat piring terakhir diletakkan, suara bel rumah berbunyi nyaring.

"Nah, itu pasti mereka!" seru Baskoro dari ruang tamu dengan nada ceria.

Pintu depan terbuka, dan masuklah rombongan keluarga Reno. Sosok Chandra, adik dari Baskoro yang berwajah ramah namun bicaranya blak-blakan, dia melangkah masuk bersama istrinya, Rika, yang tampil modis dengan tas branded menggantung di lengannya.

"Wah, apa kabar? Mas," sapa Chandra sambil menyalami kakaknya.

Tante Rika langsung menghampiri Sarah dan Renata di meja makan. "Duh, Mbak Sarah, wangi banget masakannya! Eh, ada Renata juga. Makin cantik aja kamu, Ren."

Lanjutnya ia menanyakan suami Renata."Mana suamimu? Kok aku nggak lihat ya."

Renata memaksakan senyum terbaiknya, meski di dalam hati ia merasa seperti sedang disidang. "Mas Bara masih di kantor, Tante. Katanya sebentar lagi pulang."

Tepat saat suasana mulai sedikit canggung, pintu kamar mandi di dekat area ruang makan terbuka. Reno keluar dari sana dengan wajah yang sudah lebih segar, meski sisa-sisa kegelisahannya masih terbaca di matanya. Begitu melihat sosok wanita modis yang baru datang, wajahnya langsung cerah.

"Bun!" panggil Reno pelan, ia berlari dan langsung memeluk Bunda Rika dengan hangat. "Gimana Bunda di jalan, macet nggak?"

Bunda membalas pelukan putranya sambil mengelus punggungnya. "Nggak gimana-gimana, cuma ya gitu, tadi macetnya panjang banget pas mau ke arah sini," jawab Rika lembut.

Bunda Rika melepaskan pelukan dan menatap Reno dengan heran. "Eh, tapi kok kamu ada di sini? Bukannya tadi kata Papihmu kamu masih ada urusan sama Bara di kantor?"

Reno sempat tertegun sejenak. Ia melirik Renata dengan kode mata yang sangat cepat, lalu ia buru-buru menoleh ke arah papihnya yang sedang mengobrol dengan Om Baskoro.

"Tadi Reno duluan, Bun. Mas Bara yang nyuruh Reno buat ke sini duluan, biar nemenin Om Baskoro, kan nggak enak kalo kelamaan nunggu," ucap alasan Reno, sambil berjalan mendekat ke arah papihnya, lalu menyalami tangannya dengan takzim.

"Pinter kamu! Mending di sini temenin Om kamu, daripada di kantor nggak ada kerjaan," celetuk Papih Chandra.

"Bener kata Papi kamu, lagian kasihan juga kalo Om kamu nggak di temenin," celetuk Bundanya sambil melirik ke arah meja makan yang penuh makanan.

Reno hanya tertawa hambar, mencoba menutupi rasa gugupnya. Di kepalanya, dia cuma bisa berdoa semoga kebohongannya tidak ketahuan sama mereka . Semisalnya ketahuan urusannya bakal menjadi panjang.

"Makanan udah siap semua nih! Ayo mari semua!" seru Nyonya Sarah dengan suara lantang, memberikan komando pada seluruh penghuni rumah.

Reno yang sedari tadi berdiri gelisah di dekat ruang tamu langsung diajak oleh Om Baskoro dan papihnya untuk mendekat. Mereka semua pun mulai mengambil posisi di kursi masing-masing. Di rumah ini, Baskoro memang dikenal sebagai sosok yang sangat menghargai orang lain; ia bahkan meminta Bi Sumi untuk ikut duduk dan makan bersama mereka semua.

Meja makan itu kini penuh. Ada piring-piring yang tertata rapi, tawa Papih yang sesekali meledak, dan aroma masakan yang menggugah selera. Namun, suasana hangat itu mendadak terhenti ketika Om Baskoro menyadari ada satu kursi yang masih kosong melompong.

"Eh, sebentar. Ini kurang satu orang. Mana si Bara kok dia belum pulang juga?" tanya Baskoro sambil melirik jam dinding yang sudah menunjukkan waktu makan malam.

Suasana langsung hening sejenak. Baskoro menoleh ke arah menantunya. "Renata, coba kamu telepon suamimu itu. Suruh cepat pulang, tidak enak keluarga sudah kumpul semua begini tapi tuan rumahnya malah tidak ada."

"Iya, Pa. Ini Renata coba telepon Mas Bara," jawab Renata patuh.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Renata mengamlbi ponselnya. Ia sengaja menekan tombol loudspeaker tepat di tengah meja makan. Ia ingin semua orang di sana, terutama mertuanya dan Reno, biar bisa mendengar langsung apa alasan suaminya kali ini.

Nada sambung terdengar.

Tuuut... tuuut...

Jantung Renata berdegup kencang. Ia melirik Reno yang tampak menahan napas sambil meremas serbet di bawah meja. Tiba-tiba, suara sambungan itu terhenti dan digantikan oleh suara di seberang sana.

"Halo..."

Suara itu terdengar berat, sedikit serak, dan ada suara latar musik lembut yang sangat asing bukan seperti suasana di ruangan kantor.

1
Nanda
salam kenal yah...
neng aja
bintang 5 buat renata hehehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!