NovelToon NovelToon
Dua Kehidupan Suamiku

Dua Kehidupan Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Konflik etika
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

​Rania, seorang dokter spesialis bedah yang logis dan tenang, merasa hidupnya adalah definisi kebahagiaan. Suaminya, Damar, adalah kontraktor sukses yang penyayang. Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Damar hilang tanpa jejak. Polisi menyerah, namun insting Rania sebagai istri dan dokter mengatakan ada yang tidak beres.

​Penyelidikan mandiri membawanya ke sebuah ruang bawah tanah di kantor lama Damar. Di sana, ia menemukan koleksi gaun, wig, dan alat rias.

Apa yang terjadi pada Damar ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tangisan Rania

​Matahari pagi menyengat aspal Jakarta dengan hawa panas yang seolah mampu membakar emosi siapa pun yang melintas di bawahnya. Aris memarkirkan motor besarnya dengan kasar di depan pagar rumah Rania. Debu-debu jalanan masih menempel di jaket kulit hitamnya yang kusam— Matanya merah, bukan hanya karena kurang tidur, tapi karena firasat buruk yang terus menggurat di benak selama perjalanan pulang.

​Ia mengetuk pagar besi itu dengan keras. "Ran? Rania!"

​Hening. Tidak ada sahutan. Biasanya, meskipun Rania sedang tidak ingin bicara, ia akan setidaknya mengintip dari balik gorden. Aris menekan bel berkali-kali, namun satu-satunya jawaban yang ia terima adalah gonggongan anjing tetangga di sebelah rumah. Perasaan Aris mencelos. Ia melirik ke arah garasi; mobil Rania ada di sana, namun suasana rumah itu benar-benar mati. Tidak ada aroma masakan Ibu Lastri, tidak ada suara radio Bapak Suprapto yang biasanya menyetel berita pagi.

​Aris segera merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel dengan tangan gemetar. Ia mencoba menghubungi nomor Rania. Satu kali, dua kali, tidak diangkat. Ia beralih menghubungi nomor Ibu Lastri.

​Pada dering ketiga, sambungan itu terangkat.

​"Halo... Aris?" suara Ibu Lastri terdengar parau dan sangat lelah di seberang sana. Ada kebisingan latar belakang yang sangat familiar di telinga Aris sebagai polisi: suara pengumuman melalui pengeras suara dan langkah kaki yang terburu-buru di atas lantai granit.

​"Bu? Ibu di mana? Saya di depan rumah Rania, kenapa sepi sekali?" Aris bertanya dengan nada yang tidak bisa menyembunyikan kepanikannya.

​"Aris... Rania, Nak. Rania di rumah sakit. Semalam dia pingsan... sekarang kami di RS Medika," Ibu Lastri mulai terisak pelan.

​Dunia seolah berhenti berputar sejenak bagi Aris. Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, ia memutus sambungan telepon. "Brengsek!" umpatnya tertahan. Ia segera melompat ke atas motornya, menyalakan mesin dengan raungan keras, dan memacu kendaraannya membelah kemacetan Jakarta menuju rumah sakit. Di kepalanya, hanya ada satu wajah: Rania. Ia menyalahkan dirinya sendiri karena membiarkan wanita itu menghadapi badai sendirian.

​Rumah Sakit Medika terasa begitu dingin dan asing. Aris berlari menyusuri lorong ruang perawatan kelas satu dengan langkah-langkah lebar yang menimbulkan bunyi derap sepatu bot yang tegas. Begitu ia sampai di depan kamar 302, ia melihat sosok pria tua duduk membungkuk di kursi tunggu kayu. Bapak Suprapto tampak sepuluh tahun lebih tua dari terakhir kali Aris melihatnya.

​"Bapak..." panggil Aris lirih.

​Bapak Suprapto mendongak. Begitu melihat Aris, gurat ketegangan di wajahnya sedikit mengendur. Bagi keluarga angkat Damar, Aris bukan sekadar teman Rania. Sejak pernikahan Damar dan Rania, Aris sering berkunjung ke Semarang saat mereka mudik. Ibu Lastri dan Bapak Suprapto sudah menganggap Aris sebagai anak lelaki mereka sendiri—kakak laki-laki bagi Rania yang yatim piatu. Mereka tahu betapa Aris selalu pasang badan untuk Rania sejak kecil.

​"Aris... kamu sudah kembali, Le?" suara Bapak Suprapto serak.

​Ibu Lastri yang baru saja keluar dari kamar perawatan langsung menghambur memeluk Aris. Tangis wanita tua itu pecah di dada Aris. "Aris, jaga adikmu, Ris... Rania... anak itu menderita sekali."

​Aris mengusap punggung Ibu Lastri dengan lembut, mencoba memberikan kekuatan yang ia sendiri pun hampir kehilangan. "Tenang, Bu. Aris di sini. Aris tidak akan ke mana-mana lagi. Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa Rania bisa sampai begini?"

​Bapak Suprapto menghela napas panjang, ia memberi isyarat agar Aris duduk di sampingnya. Pria tua itu memijat keningnya yang berkerut dalam.

​"Kemarin pagi, Aris... Rania memaksa ke kantor Damar. Dia ingin bertanggung jawab karena staf-staf di sana mulai ribut soal gaji dan proyek yang terbengkalai," Bapak Suprapto memulai ceritanya dengan nada pahit. "Saya sudah melarangnya, tapi kamu tahu sendiri Rania bagaimana kalau sudah punya kemauan. Dia ingin menjaga nama baik suaminya."

​Aris mendengarkan dengan rahang yang terkatup rapat. Ia bisa membayangkan tekanan yang dihadapi Rania.

​"Ternyata di sana bukan rapat, tapi penghakiman," lanjut Bapak Suprapto dengan suara yang mulai meninggi karena amarah. "Pak Heru cerita, orang-orang kantor itu menekan Rania. Ada klien yang mengamuk, menuntut ganti rugi miliaran. Staf-stafnya juga tidak punya hati, mereka mengancam lapor polisi kalau gaji tidak dibayar hari itu juga. Mereka mengeroyok Rania dengan kata-kata kasar, menuduh Damar membawa lari uang perusahaan."

​Tangan Aris mengepal di atas lututnya. Jika saja orang-orang itu ada di depannya sekarang, ia tidak akan ragu untuk menyeret mereka ke ruang interogasi.

​"Rania bertahan, Ris. Dia mencoba membela Damar sampai titik darah terakhirnya. Tapi fisiknya tidak kuat. Di tengah keributan itu, dia pingsan. Wajahnya pucat seperti mayat saat dibawa pulang oleh Pak Heru. Kami langsung membawanya ke sini semalam," Bapak Suprapto menjeda bicaranya, matanya menatap Aris dengan tatapan yang sangat menyakitkan. "Dan di sini, dokter memberikan kabar yang membuat jantung baoak mau copot, Ris."

​"Kabar apa, Pak?" Aris bertanya, meski di dalam hatinya ia sudah memiliki firasat yang sama dengan yang ia rasakan di kantor polisi tempo hari.

​"Rania hamil, Aris. Baru enam minggu," bisik Bapak Suprapto. "Dan karena stres yang luar biasa di kantor itu, janinnya hampir lepas. Dia pendarahan. Dokter bilang dia harus bed rest total, kalau tidak... kita akan kehilangan cucu pertama kami."

​Dada Aris terasa sesak. Hamil. Konfirmasi itu menghantamnya lebih keras dari yang ia bayangkan. Ada rasa pahit yang menjalar—rasa pahit karena ia tahu anak itu adalah benih dari pria yang telah menghancurkan hidup Rania. Namun di sisi lain, ada rasa iba yang tak terhingga. Rania sedang membawa nyawa baru di tengah reruntuhan hidupnya.

​"Lalu bagaimana kondisi Rania sekarang?" suara Aris melemah.

​"Masih lemah sekali. Dia sering mengigau memanggil nama Damar," sahut Ibu Lastri sambil menyeka air matanya dengan ujung kerudung. "Ibu tidak habis pikir, Ris. Damar itu anak baik, dia setia. Bapaknya sampai marah-marah mengira dia selingkuh, tapi Rania membela habis-habisan. Rania bilang Damar tidak pernah macam-macam. Tapi kalau memang dia setia, kenapa dia tega membiarkan istrinya yang sedang hamil begini menanggung beban kantor sendirian? Kenapa dia tidak muncul?"

​Aris terdiam. Ia tidak mungkin menceritakan tentang identitas "Dara" atau ruko tua itu kepada orang tua ini sekarang. Itu akan membunuh mereka. Ia harus menyimpan rahasia busuk Damar untuk dirinya sendiri, setidaknya sampai Rania cukup kuat untuk mendengarnya atau sampai Damar ditemukan.

​"Bapak dan Ibu tenang saja. Urusan kantor, biar Aris yang urus. Aris punya kenalan di dinas tenaga kerja dan beberapa pengacara. Mereka tidak akan berani macam-macam lagi kalau ada polisi yang turun tangan," Aris mencoba menenangkan dengan wibawa seragam bayangannya. "Sekarang fokus saja pada kesehatan Rania. Biar Aris yang menjaga di sini malam ini, Bapak dan Ibu pulanglah dulu untuk istirahat. Ibu sudah pucat sekali."

​Bapak Suprapto menggeleng. "Tidak, Aris. Bapak tidak bisa tenang kalau tidak di sini."

​"Pak, kalau Bapak sakit, siapa yang akan menjaga Ibu? Siapa yang akan menguatkan Rania nanti kalau dia bangun? Aris janji, Aris akan jaga Rania seperti nyawa Aris sendiri. Pulanglah sebentar, mandi, dan bawakan pakaian ganti untuk Rania besok," Aris membujuk dengan nada lembut namun memerintah.

​Setelah perdebatan kecil, akhirnya kedua orang tua itu mengalah. Mereka tahu Aris adalah sosok yang paling bisa diandalkan. Ibu Lastri memegang tangan Aris lama sebelum pergi. "Tolong, Ris... jangan biarkan dia sedih lagi."

​"Aris janji, Bu," jawab Aris mantap.

​Begitu sosok kedua orang tua itu hilang di ujung lorong, Aris berdiri di depan pintu kamar 302. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menyingkirkan amarahnya terhadap Damar agar tidak terbawa masuk ke dalam kamar. Ia memutar knop pintu dengan perlahan, tidak ingin menimbulkan suara sekecil apa pun.

​Di dalam, ruangan itu berbau antiseptik yang tajam. Cahaya matahari sore yang mulai meredup masuk melalui jendela, menerpa wajah Rania yang terbaring di atas tempat tidur putih. Ia tampak begitu kecil, begitu rapuh dengan berbagai selang infus yang menempel di tangannya. Wajahnya yang biasanya bersinar kini tampak layu, dengan bibir yang pecah-pecah.

​Aris mendekat, menarik sebuah kursi kayu ke samping tempat tidur. Ia duduk di sana, menatap wajah wanita yang ia puja seumur hidupnya. Tangannya bergerak ragu, ingin menyentuh tangan Rania, namun ia mengurungkannya. Ia hanya berani menatap.

​"Maafkan aku, Ran," bisik Aris di kesunyian kamar itu. "Maafkan aku karena tidak ada di sana saat mereka mengeroyokmu. Maafkan aku karena membiarkanmu memikul beban ini sendirian."

​Aris menundukkan kepalanya, menyandarkan dahi di pinggiran tempat tidur Rania. Air mata yang sedari tadi ia tahan di depan orang tua Damar akhirnya jatuh juga. Ia menangis tanpa suara, bahunya berguncang hebat. Ia merasakan kemarahan yang luar biasa pada Damar, namun ia juga merasakan cinta yang begitu menyakitkan untuk Rania.

​Tiba-tiba, ia merasakan jemari Rania bergerak sedikit. Aris segera menegakkan duduknya, menghapus air matanya dengan cepat. Mata Rania perlahan terbuka, tampak kusam dan bingung.

​"Aris...?" suaranya hanya berupa bisikan yang nyaris tak terdengar.

​"Iya, Ran. Ini aku. Aku sudah di sini," Aris segera meraih segelas air dengan sedotan dan mendekatkannya ke bibir Rania. "Minum sedikit, ya?"

​Rania menyesap air itu sedikit, lalu kembali memejamkan mata. "Bayiku... bagaimana bayiku, Ris?"

​"Dia kuat, Ran. Dia sama kuatnya dengan ibunya," Aris berbohong sedikit untuk menenangkan hati Rania, meski ia tahu kondisi janin itu masih kritis. "Dokter bilang kau hanya perlu istirahat. Jangan pikirkan kantor, jangan pikirkan apa pun. Aku sudah di sini. Aku akan membereskan semuanya."

​Rania membuka matanya lagi, menatap Aris dengan tatapan yang penuh dengan kepedihan. "Dia tahu, Ris..Dia ada disini.. Damar tahu aku sakit. Dia mengirim pesan semalam."

​Aris tersentak. "Pesan? Dari nomor mana?"

​"Nomor tidak dikenal. Dia bilang jaga kesehatan ku baik-baik'. Apa maksudnya, Ris? Kalau dia tahu, kenapa dia tidak datang menjagaku?" Rania mulai terisak, membuat tubuhnya yang lemah sedikit berguncang.

​Aris segera memegang tangan Rania, kali ini ia tidak peduli lagi dengan batas-batas. "Sttt... jangan menangis, Ran. Itu tidak baik untuk bayimu. Kita akan temukan dia. Aku bersumpah, aku akan menyeretnya ke hadapanmu, entah dalam wujud apa pun dia sekarang."

​Rania menggenggam tangan Aris erat-erat, seolah-olah Aris adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dibawa arus penderitaan. Di kamar yang remang itu, Aris kembali membuat sumpah di dalam hatinya. Ia tidak peduli jika ia harus mempertaruhkan kariernya atau nyawanya. Ia akan menghancurkan siapa pun yang berani membuat Rania menangis lagi, termasuk pria yang sedang bersembunyi di balik identitas baru itu.

​Malam mulai jatuh, namun Aris tidak beranjak. Ia terus duduk di sana, menjaga napas Rania yang mulai teratur, sementara di dalam saku jaketnya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari anak buahnya di laboratorium forensik:

​“Komandan, kami menemukan sesuatu yang aneh dari riwayat medis Damar Mahendra di sebuah klinik di Jawa Tengah. Ada catatan prosedur hormonal dua tahun lalu. Dan satu lagi... ada nama saksi yang sering mendampinginya: Dara.”

​Aris menatap layar ponselnya dengan mata menyipit. Teka-teki ini mulai tersusun, dan gambaran di baliknya jauh lebih mengerikan dari yang ia duga.

1
Junita Lempoi
bagus ceritanya
𝐀⃝🥀Weny
semoga kau menyesal setelah operasi damar...
Ayu Putri
bagus
Ayu Putri
udah lah ran SM Aris aja,mas damar mu gak kembali,walopun kembali jg bukan damar yg dulu yg ada udh JD dara
Halwah 4g: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Ayu Putri
ternyata damar gay, harusnya ceraikan Rania dulu, kasian Rania nunggu yg gak pasti
Halwah 4g: emang..kasian ya say
total 1 replies
Ayu Putri
belum up ya Thor 🥺🥺🥺
Ayu Putri
lanjut kak othor
Dian Yuliana
iya kok gak ada kelanjutannya
𝐀⃝🥀Weny
thor, Iki critane dilanjut opo gak to.. kok suwi men gak up neh🤦
Halwah 4g: suabarrr nggih
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
thor ayo lanjut dong, jangan bikin penasaran...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!