NovelToon NovelToon
Raja Ruang & Waktu Di Akademi Para Iblis

Raja Ruang & Waktu Di Akademi Para Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Terlahir kembali di dunia yang dipenuhi Iblis dan Malaikat Jatuh bukanlah rencana Saiba Ren. Sebagai mantan Raja Dewa yang pernah mengguncang Alam Ilahi, ia kini harus memulai segalanya dari nol di Akademi Kuoh dengan identitas baru.
​Namun, Ren tidak datang sendirian. Di balik penutup matanya yang misterius, tersimpan kekuatan Six Eyes yang mampu menembus struktur semesta, dan di dalam jiwanya, istri-istri tercintanya masih tertidur dalam dimensi rahasia yang menunggu untuk dibangkitkan. Di dunia di mana Sacred Gear dan garis keturunan adalah segalanya, Ren hadir sebagai anomali yang tidak bisa diukur oleh logika sistem mana pun.
​Saat faksi-faksi besar mulai mengincar kekuatannya, Ren hanya memiliki satu prinsip: "Dunia ini boleh punya aturannya sendiri, tapi akulah yang menentukan kapan aturan itu berlaku bagiku." Bisakah ia membangun kembali kejayaannya sambil menjaga kedamaian haremnya yang perlahan terbangun?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10.Dibalik Kacamata Biru Kristal

Hening kembali menyergap, namun kali ini udaranya terasa padat, seolah-olah setiap molekul oksigen di taman itu telah berubah menjadi timah. Kiba Yuuto tidak menunggu lebih lama. Dengan satu sentakan kaki yang menghancurkan rumput di bawahnya, ia melesat maju. Kecepatannya bukanlah sesuatu yang bisa diikuti oleh mata manusia biasa; ia tampak seperti kilatan cahaya perak yang membelah kegelapan, ujung pedangnya mengarah tepat ke bahu Ren—serangan yang dimaksudkan untuk melumpuhkan, bukan membunuh.

Ren tidak berkedip. Di balik kacamata hitamnya, Six Eyes membedah lintasan serangan Kiba menjadi ribuan bingkai gambar yang bergerak sangat lambat. Ia bisa melihat kontraksi otot di kaki Kiba, aliran energi sihir yang mengalir ke pedangnya, bahkan debu yang tersingkir akibat gesekan udara.

Saat ujung pedang itu tinggal beberapa sentimeter dari pakaiannya, Ren hanya menggeser tubuhnya sedikit ke samping. Gerakannya begitu minimalis, hampir tidak terlihat, namun cukup untuk membuat pedang Kiba hanya menebas udara kosong.

"Terlalu terburu-buru, Kiba-kun," bisik Ren saat Kiba meluncur melewatinya. "Kecepatan tanpa ketenangan hanyalah energi yang terbuang sia-sia."

Kiba terbelalak. Ia segera memutar tubuhnya di udara, melakukan pendaratan yang mulus dan langsung bersiap untuk serangan kedua. Namun, sebelum ia sempat bergerak, Koneko sudah melompat tinggi ke udara. Gadis kecil itu mengepalkan tinjunya yang mungil, namun berat dari energi yang ia kumpulkan cukup untuk menghancurkan beton bertulang.

"Turun," ucap Koneko singkat.

Pukulan itu menghujam ke arah kepala Ren. Namun, tepat sebelum tinju itu mendarat, sebuah fenomena aneh terjadi. Tinju Koneko berhenti di udara, hanya berjarak satu inci dari rambut putih Ren. Tidak ada perisai energi yang terlihat, tidak ada benturan suara, hanya sebuah keheningan yang menyesakkan. Koneko merasa seolah-olah ia sedang memukul sebuah dinding yang tidak berujung; semakin keras ia menekan, semakin jauh jarak itu terasa.

Ini adalah Infinity. Jarak tak terbatas yang diciptakan oleh manipulasi ruang Ren.

"Kenapa... tidak sampai?" gumam Koneko, matanya yang datar untuk pertama kalinya menunjukkan secercah kebingungan yang nyata.

"Karena kau tidak akan pernah bisa menyentuh kenyataan yang ada di hadapanmu, kecil," Ren mengangkat tangan kirinya, menjentikkan jarinya tepat di depan dahi Koneko.

TAK!

Sentuhan itu seringan bulu, namun dampak ruang yang dihasilkan membuat Koneko terlempar ke belakang seolah-olah ia baru saja ditabrak oleh truk kontainer. Ia berguling di atas rumput sebelum akhirnya melakukan posisi bertahan, napasnya sedikit memburu.

Kiba segera berdiri di depan Koneko, melindungi rekannya. Wajah ramahnya kini sepenuhnya hilang, digantikan oleh ekspresi serius yang dingin. "Teknik apa itu? Bukan sihir, bukan pula Sacred Gear yang kukenal. Kau memanipulasi ruang di sekitarmu?"

Ren melangkah maju, tangannya kembali dimasukkan ke dalam saku mantel. Tekanan aura yang ia lepaskan sekarang sedikit meningkat, membuat pepohonan di sekitar mereka berderit seolah-olah sedang memikul beban berat.

"Kalian tidak perlu tahu apa ini," ucap Ren, suaranya terdengar seperti gema dari dimensi lain. "Anggap saja ini adalah pengingat bahwa di dunia ini, ada entitas yang tidak bisa kalian ukur dengan sistem peringkat Iblis kalian yang sempit."

[SISTEM: Deteksi penggunaan energi berlebih oleh Kiba Yuuto. Ia sedang menyiapkan 'Sword Birth' tingkat lanjut.]

[REN: Biarkan dia mencoba. Aku ingin melihat seberapa kreatif pion Rias ini dalam menciptakan mainannya.]

Kiba menancapkan pedangnya ke tanah. "Kalau begitu, aku harus sedikit lebih serius. Sword Birth!"

Dari permukaan tanah di sekitar Ren, puluhan bilah pedang hitam legam mencuat keluar seperti taring monster yang haus darah. Pedang-pedang itu muncul dari segala arah, mengunci posisi Ren agar tidak bisa menghindar. Namun, Ren tetap berdiri tegak. Ia bahkan tidak melihat ke arah pedang-pedang yang mengepungnya.

"Seni yang indah, tapi fondasinya terlalu rapuh," Ren menginjakkan kakinya ke tanah dengan pelan.

BUM!

Gelombang kejut yang murni dan terkontrol meledak dari titik pijakannya. Pedang-pedang sihir milik Kiba hancur berkeping-keping sebelum sempat menyentuh mantel Ren. Serpihan logam sihir itu menguap menjadi debu cahaya dalam hitungan detik.

Kiba terbatuk, merasakan dadanya sesak akibat tekanan udara yang mendadak berubah. Ia menatap Ren dengan rasa tidak percaya yang mendalam. Di hadapannya, pemuda berambut putih ini tampak seperti gunung yang tak tergoyahkan, seorang penguasa yang hanya sedang bermain-main dengan serangga di bawah kakinya.

[SISTEM: Integrasi Template Mokuton meningkat 0.5% akibat sinkronisasi energi di medan tempur.]

[REN: Bagus. Setidaknya latihan malam ini membuahkan hasil untuk kekuatanku.]

Ren menatap kedua Iblis muda itu bergantian. "Sudah cukup untuk malam ini? Aku mulai merasa mengantuk, dan kalian tahu, tidur yang cukup sangat penting bagi kesehatan 'manusia' sepertiku."

Koneko mencoba berdiri kembali, namun Kiba menahannya dengan tangan. Kiba tahu bahwa jika mereka terus memaksa, hasilnya tidak akan berubah. Mereka tidak sedang melawan seorang petarung; mereka sedang mencoba melawan hukum alam itu sendiri.

"Siapa kau sebenarnya, Saiba Ren?" tanya Kiba dengan suara parau.

Ren berbalik, memunggungi mereka dan mulai berjalan menjauh menuju kegelapan koridor sekolah. "Hanya seorang pengembara yang sedang mencari jalan pulang bagi keluarganya. Ingat pesanku pada Rias: jangan mencoba memancing di air yang terlalu dalam jika kalian tidak siap bertemu dengan apa yang bersembunyi di dasarnya."

Sosok Ren perlahan menghilang, menyatu dengan bayang-bayang gedung sekolah, meninggalkan Kiba dan Koneko yang masih terpaku di tengah taman yang kini hancur berantakan.

1
Chandra
lanjut lagi lebih banyak lagi
Chandra
lanjut mana sih
Chandra
lanjut mana
Chandra
lanjut lagi
Chandra
mana lanjutnya
Chandra
lanjut lagi seru ini
Chandra
lanjut lagi
Chandra
lanjut
Chandra
mana lanjutnya 😭
Chandra
mana lanjutnya
Chandra
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!