Namanya Esterlita Hanggara Suparapto, putri bungsu pengusaha transportasi terkenal Anthony Hanggara Suprapto dan Hagia Selvia Suprapto.
Ester adalah gadis cantik berusia 20 tahun, karena statusnya yang merupakan putri bungsu ia mendapatkan kasih sayang berlebih dari kedua orang tuanya dan kedua kakak perempuannya.
Namun ternyata perlakuan itu menjadikan Esterlita menjadi sosok nona muda dengan segudang sifat dan sikapnya yang menyebalkan. Estelerlita menjadi sosok yang sangat arrogant dan suka merendahkan orang lain.
Pergaulannya kian liar,
Keributan demi keributan seringkali ia ciptakan, Titik kesabaran tuan Anthony mencapai batas ketika ia bertemu dengan sang putri di loby hotel bersama seorang pria yang sangat tidak ia suka.
Tuan Anthony marah bukan main,
keputusan di buat,
Jika Ester tak ingin kehilangan haknya atas semua fasilitas dari sang ayah maka ia harus mau menikah dengan Yoga Setyawan.
Supir pribadi sang ayah,
brugh....
Ester pingsan....
apa yang akan terjadi.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khitara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5 hukuman masih berlanjut
Mobil yang di kendarai tuan Anthony dengan Ester yang duduk gelisah di sampingnya memasuki area pelataran rumah besarnya.
Di belakang mobil tuan Anthony turut mengikuti mobil Ester yang di bawa oleh Yoga,
Namun berbeda dengan tuan Anthony yang membawa mobilnya ke halaman rumah,
Yoga membawa mobil Ester langsung ke garasi,
Setelah itu, pemuda itu masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang.
Tadi pagi tuan Anthony sudah menunjukkan semua bagian rumah ini juga kamarnya kepadanya.
Sementara itu,
Ketika Yoga masuk ke dalam rumah dan menyapa semua orang pelayan rumah itu sebelum akhirnya ia masuk ke dalam kamar,
Tuan Anthony terlihat turun dari mobil dan di ekori oleh Ester.
Pria baya itu mendekat kepada sang istri yang nampak telah berdiri di teras rumah dengan wajah cemas.
Tadi ia sudah mengabari semuanya kepada istrinya itu.
" bagaimana ?! Apa yang terjadi ?!
kali ini apalagi yang sudah di lakukan oleh Ester ?! "
berondong nyonya Hagia kepada sang suami sembari menatap Ester tajam.
" sebaiknya kau tanyakan sendiri pada putrimu yang penurut itu,
aku sangat lelah hari ini " jawab tuan Anthony, tak lama ia melanjutkan langkah masuk ke dalam rumah.
Meninggalkan Ester yang sedang di tatap tajam oleh sang mama.
" kau lihat ?! Kau lihat wajah lelah papamu ?! Sampai kapan kau akan terus membuat kekacauan dan terus berbuat liar seperti ini Ester...
Kau itu bukan anak kecil lagi....kasihanilah kami yang sudah tuan ini Ester...." ucap nyonya Hagia dengan menahan geram.
Ester hanya diam,
" sekarang jawab,
apa yang sedang kamu lakukan sampai sampai kau menabrak orang yang hanya berdiam bahkan saat dia sudah berada di tepian jalan ?! " tanya nyonya Hagia lagi sedikit membentak hingga Ester sedikit terjengkit.
" itu trotoar jalan mama....
bukan tempat orang berjualan, itu salah orang itu sendiri kenapa dia harus beraktifitas di sana " jawab Ester membela diri dan enggan mengakui kesalahannya.
Mendengar jawaban sang putri nyonya Hagia meradang,
Sang putri benar benar tidak tahu diri, bukannya mengakui kesalahannya tapi dia malah melempar kesalahannya kepada orang lain.
Dan sayangnya
Orang lain itu justru korban dan seseorang yang paling di rugikan oleh kelakuannya.
Dada nyonya Hagia terasa bergemuruh, ia merasa gagal mendidik putri bungsunya itu.
Ia baru saja akan berteriak membentak Ester tapi bentakan dari dalam rumah lebih dulu terdengar.
" Ester.....!! "
teriak tuan Anthony yang ternyata masih berada di balik pintu dan mendengar semua ucapan sang putri.
Baik nyonya Hagia maupun Ester terkejut kaget karena teriakan itu.
Ester tanpa sadar mendekat dan memeluk sang mama.
Nyonya Hagia pun memeluk putri bungsunya itu,
nalurinya sebagai seorang ibu sontak keluar.
" masuk ke dalam kamar sekarang dan kamu tidak papa izinkan lagi membawa mobil sampai batas waktu yang tidak di tentukan " tuan Anthony yang telah berdiri di ambang pintu melotot kepada sang putri
Satu tangannya bertengger di pinggangnya sedangkan satu tangannya yang lain menunjuk Ester dengan ujung jarinya.
Ia sangat marah,
Ester yang menyembunyikan wajahnya di dada sang mama menoleh menatap sang papa demi mendengar ucapan sang papa,
" tapi pa...itu bukan salah es.... "
" diam...
jangan membantah atau kau ingin papa menambahkan lagi hukuman untukmu "
" kalau Ester nggak boleh bawa mobil, bagaimana Ester ke kampus dan pergi sama teman teman Ester ?! "
" ke kampus kamu bisa naik angkot, urusan dengan teman temanmu itu bukan urusan papa.
Dan ingat...
Naik angkot pergi ke kampus, dan kalau sampai papa tahu kamu di jemput maka yakinlah....papa akan menambah hukumanmu jadi lebih berat.
Masuk ke kamar sekarang....!! " bentak tuan Anthony,
Merasa tak lagi berdaya, Ester melepaskan pelukannya dari sang mama dan berlari ke kamar sambil menangis.
Ia kesal bukan main,
Ia merasa itu tak adil baginya.
" pa...keningnya..." nyonya Hagia berucap lirih,
" hemmm aku tahu..
itu sebabnya aku menyuruhnya ke kamar " jawab tuan Anthony,
Tentu ia tahu luka di kening Ester yang di balut kain kasa itu sejak di kantor polisi tadi.
Dan tentu itu membuatnya cemas bukan main, tapi karena ingin sedikit memberi pelajaran kepada sang putri.
Tuan Anthony memilih pura pura abai.
" kenapa dia bisa terluka ?! Apa itu tidak berbahaya ?! " tanya nyonya Hagia cemas dan khawatir.
Bagaimanapun kelakuan Ester, tetap saja baginya Ester adalah putri kecilnya.
" keningnya terantuk setir, menurut perawat di kantor polisi tadi tidak apa apa....
hanya luka kecil saja " jelas tuan Anthony.
" tetap saja itu di kepala pa....
kita tidak boleh mengabaikannya "
" iya aku tahu...
tapi jangan sekarang.....mama ngerti kan ?! "
" iya pa....." jawab nyonya Hagia sendu.
Tuan Anthony memeluk pundak sang istri dan membimbingnya masuk ke dalam rumah.
" ini semua salahku....aku yang tidak becus mendidiknya " rintih nyonya Hagia menyalahkan dirinya sendiri atas perangai buruk sang putri.
" tidak,
ini bukan hanya salahmu...tapi salah kita berdua...
kita terlalu memanjakannya...." ucap tuan Anthony menyanggah ucapan sang istri.
Ia tak setuju istrinya menyalahkan dirinya sendiri melihat perilaku putri bungsu mereka yang kian hari kian membuat mereka kecewa.
Namun tak dapat ia pungkiri, meski perilaku Ester sungguh membuat dirinya juga sang istri kecewa...
tetap saja,
Rasa sayangnya juga sang istri kepada putri bungsu mereka itu seolah mampu menepis rasa kecewa itu.
Tuan Anthony terus membimbing sang istri untuk masuk ke dalam kamar,
Sesaat sebelum masuk ke dalam kamar, laki laki paruh baya itu menoleh ke atas.
Tepatnya ke arah kamar Ester yang berada di lantai dua.
" kau ingin menemuinya ?! " cicit nyonya Hagia, ia paham betul perasaan sang suami.
" tidak nanti saja.....
biarkan dia sedikit merenung " jawab tuan Anthony, tak lama ia melanjutkan langkah masuk ke dalam kamar.
makasih udah up di hari Minggu ya Kak Thara, aku beneran ga nyangka, love sekebon deh😍😍😍😍
ngakuuuuuuuuuu udah mulai tersepona dan teryoga yoga🤣🤣🤣