Nasib Alea, memutuskan menikah dengan pria yang sudah dia pelajari selama kurang lebih 2 tahun.
Siapa sangka pernikahan itu tidak sesuai dengan impian. Keluarga dari suaminya bukanlah orang sembarangan, menginginkan keturunan yang jelas dari menantu mereka. Alea jelas mampu memberikan keturunan untuk keluarga suaminya.
Tetapi masalah sesungguhnya bukan terjadi pada dirinya, tetapi pada Dharma suaminya yang mengalami masalah pada hubungan seksual.
Sampai akhirnya kekonyolan dari sang suami, meminta sahabatnya yang sudah dianggap sebagai keluarga untuk menggantikan posisi dirinya menanamkan benihnya rahim istrinya.
Bagaimana Alea menghadapi pernikahannya yang tidak waras, terjerat dalam hubungan yang tidak benar dengan sahabat suaminya. Lalu apakah Alea akan bertahan dan justru menjalin hubungan intes dengan Raidan sahabat suaminya?"
Ayo jangan lupa untuk memberi dukungan pada karya saya, baca dari bab 1 sampai akhir dan jangan pernah nabung bab....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonecis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10 Tidak Memahami
"Mas tunggu...." Alea berlari mengejar Dharma yang buru-buru keluar dari rumah kedua orang tuanya.
"Mas!" Alea berhasil menahan tangan suaminya itu tetapi langsung ditepis oleh Dharma membuat Alea kaget dengan perlakuan Dharma yang cukup kasar.
"Apa?" tanya Dharma dengan wajahnya tampak begitu kesal.
"Sungguh aku keluar rumah karena memang bosan terus berada di apartemen. Aku benar-benar minta maaf," ucap Alea berusaha menjelaskan kepada suaminya itu atas apa yang terjadi.
Dharma menarik nafas dan membuang perlahan ke depan dengan berkacak pinggang berdiri di hadapan sang istri.
"Kamu lihat atas kecerobohan yang kamu lakukan hah! Aku hanya ingin kamu untuk berada di rumah dan hanya menyelesaikan tugas kamu bersama dengan Raidan, bukan keluyuran. Bagaimana jika pandangan Papa jelas dan apa yang terjadi setelah itu hah! Dia akan bertanya-tanya mengapa kamu berada di Indonesia dan sementara kita berpamitan untuk berbulan madu,"
"Apa kamu tidak pernah memikirkan apa akibat dari perbuatan kamu Alea!" tegas Dharma benar-benar sangat kesal kepada istrinya itu.
"Maaf mas...." Alea hanya bisa memegang tangan Dharma dengan suaranya yang lirih karena menurutnya tidak ada pembelaan atas kecerobohannya.
"Aku janji tidak akan ceroboh lagi, akan lebih hati-hati lagi, aku tidak menyangka jika semuanya bisa terjadi. Aku benar-benar minta maaf," ucap Alea.
Dharma menarik nafas panjang dan membuang perlahan ke depan, berusaha untuk mengendalikan emosinya.
"Baiklah, aku anggap kejadian ini adalah sebuah pelajaran untuk kamu ke depannya, masih untung Papa tidak menyadari semuanya. Aku tidak punya alasan untuk tidak memaafkan kamu, kamu sudah melakukan banyak hal untukku," ucap Dharma.
"Makasih. Mas, lain kali ini tidak akan terjadi," ucap Alea.
"Ya sudah," sahut Dharma.
"Kita sebaiknya pulang," ajak Dharma.
Alea menganggukan kepala sudah merasa lega karena suaminya tidak mempermasalahkan atas kecerobohan yang dia lakukan dan semua benar-benar sudah baik-baik saja.
Pasangan suami istri itu meninggalkan kediaman kedua orang tua Dharma dengan memasuki mobil, ternyata Raidan mendengarkan pertengkaran suami istri tersebut hanya karena masalah kecil.
Raidan muncul dari balik tembok melihat kepergian mobil tersebut keluar dari area rumah mewah itu. Reaksinya tampak tidak terbaca entah apa yang saat ini dia pikirkan, tetapi dia bisa melihat bagaimana sikap Dharma terlalu berlebihan kepada Alea dan bahkan hampir saja membuat Alea jatuh.
*****
Malam hari terlihat Dharma sedang berdiri di depan jendela sembari menelepon. Alea memasuki kamar melihat suaminya itu tampak fokus pada panggilan telepon yang tidak diketahui siapa yang menelponnya.
Alea menarik nafas panjang dan membuang perlahan ke depan. Alea kemudian menghampiri Dharma dengan memeluk Dharma dari belakang.
Dharma menyadari keberadaan istrinya dengan pergerakan matanya.
"Baiklah! Nanti saya akan menelpon kamu," ucap Dharma mengakhiri panggilan telepon tersebut.
Kemudian tangannya memegang lengan Alea yang berada di pinggangnya.
"Ada apa Alea?" tanya Dharma.
"Mas sedang menghubungi siapa? Kenapa sejak tadi begitu fokus pada ponsel?" tanya Alea dengan lembut.
"Klien," jawab Dharma.
"Kenapa klien masih harus menelpon di jam seperti ini? Apa dia tidak mengetahui bahwa seseorang juga perlu untuk istirahat?" tanya Alea.
Dharma menarik nafas dan ngomong perlahan ke depan, kemudian menghadap istrinya.
"Alea ada hal penting yang dibicarakan dalam bekerja, aku juga sering mengganggu para klien jika memang hal itu sudah sangat penting," jawab Dharma.
"Lalu apa menurut Mas aku tidak pentin?" tanya Alea.
"Hey, kenapa kamu tiba-tiba mempertanyakan jawaban yang sudah pasti kamu tahu jawabannya, Alea semua kepentingan yang aku hadapi dan yang paling terpenting dan nomor satu itu adalah kamu," ucap Dharma.
"Benarkah?" tanya Alea.
"Iya sayang," jawab Dharma.
Alea tersenyum kemudian memeluk erat Dharma.
"Mas kita sudah menikah, tetapi kenapa Mas tidak menyentuhku? Apa Mas tidak akan menyentuhku karena aku sudah disentuh akan orang lain?" tanya Alea.
"Kenapa kamu harus berpikiran buruk seperti itu Alea, aku yang meminta kamu untuk melakukan hal itu dan semuanya tidak ada kaitannya, saat ini aku benar-benar lelah dan butuh istirahat," ucap Dharma.
Alea melonggarkan pelukan itu dan menatap serius suaminya, seolah-olah katakan katanya ingin kebenaran atas apa yang diucapkan Dharma.
"Sungguh hanya karena itu saja?" tanya Alea terlihat keraguan dari sorot matanya.
"Benar sayang, hanya karena itu saja. Kamu jangan memikirkan apapun dengan semua pikiran kamu yang buruk kepadaku, pernikahan kita memang kurang karena kekuranganku dan kamu wanita sempurna yang memberikan kesempatan untuk memiliki keturunan, aku mencintaimu Alea," ucap Dharma.
Alea tersenyum mendengar kata-kata cinta yang manis itu membuat wajahnya tampak memerah. Alea kembali memeluk erat sang suami.
Dratt- dratt- dratt-.
Dharma melepas pelukan itu ketika ponselnya kembali berdering.
"Sebentar ya sayang. Aku angkat telepon dari klien dulu," ucap Dharma langsung berlalu dari hadapan sang istri.
Alea hanya menghela nafas melihat kepergian suaminya itu.
"Mas Dharma padahal kita sudah lama tidak bertemu, tetapi kamu benar-benar memiliki kesibukan yang sangat teriak sampai kita tidak memiliki waktu untuk quality time untuk bersama,"
"Bukankah banyak hal yang harus kita bicarakan, kita diskusikan agar pernikahan kita tidak canggung seperti ini,"
Alea berbicara sendiri merasa pernikahannya seperti memudar tidak ada ke indahan yang dia impikan.
*****
Alea keluar dari kamar yang sudah mandi dan terlihat cantik dan anggun menggunakan dress berwarna putih di atas lututnya.
"Raidan...." Alea cukup kaget melihat kehadiran Raidan di dalam rumahnya yang sedang duduk di ruang tamu dan Raidan juga langsung melihat ke arah Alea.
"Alea!" sapa Raidan dengan tersenyum tipis.
"Hmmmm, kamu kenapa bisa ada di sini? Lalu di mana, Mas Dharma?" tanyanya kebingungan.
"Dharma keluar sebentar mengangkat telepon," jawab Raidan.
"Mengangkat telpon kenapa harus keluar?" Alea semakin kebingungan dan sementara Raidan tidak punya jawaban untuk pertanyaan itu hanya mengangkat kedua bangunnya.
"Seharusnya bisa mengangkat telepon di kamar jika memang sangat penting," Alea masih membutuhkan jawaban yang pasti.
Tidak lama orang yang mereka bicarakan masuk kembali.
"Sayang kamu sudah bangun?" tanya Dharma.
"Hmmm, baru saja. Mas dari mana?" tanya Alea.
"Oh, tadi mengangkat telpon sebentar dari klien," jawab Dharma singkat.
"Sepenting itu sampai harus keluar?" tanya Alea.
Dharma melangkah menghampiri istrinya dengan memegang kedua bahu Alea.
"Tidak ada yang lebih penting daripada kamu," ucap Dharma dengan lembut mengecup bibir Alea.
Melihat hal itu membuat Raidan mengalihkan pandangannya dan fokus pada laptop yang sejak tadi berada di atas meja.
"Hmmmm, aku belum sarapan dan begitu juga dengan Raidan. Kamu tidak memiliki niat untuk membuat sarapan atau kita memesan sarapan saja?" tanya Dharma.
"Baiklah, aku akan membuat sebentar sarapan untuk kalian berdua," ucap Alea.
"Aku tunggu," sahut Dharma tersenyum dan Alea berlalu dari hadapan suaminya menuju dapur, sementara Dharma kembali ke ruang tamu untuk membahas pekerjaan dengan Raidan.
Alea mulai sibuk mengeluarkan alat masak dan juga menghidupkan kompor dengan memasak apa adanya dengan bahan-bahan yang masih tersisa di rumah tersebut.
"Sayang aku keluar sebentar ya, ada yang aku harus temui beberapa menit," ucap Dharma berdiri dari tempat duduknya melihat bagaimana Dharma tanpa begitu buru-buru.
"Memang mau kemana?" pertanyaan Alea sedikit berteriak tidak sempat dijawab oleh Dharma yang sudah pergi begitu saja.
Alea hanya menghela nafas melihat kepergian suaminya dengan buru-buru dan pandangan matanya kembali tertuju pada ruang tamu di mana Raidan masih berada di sana dan mungkin memang benar apa yang dikatakan Dharma jika pertemuan itu hanya sebentar saja.
Tetapi entahlah apa yang sebenarnya dilakukan Dharma, tidak sempat berpamitan kepadanya dan pergi begitu saja. Raidan menyadari bahwa dirinya setiap hari dilihat membuatnya juga melihat ke arah Alea.
Keduanya saling menatap cukup lama dan entahlah apa yang di dalam pikiran keduanya sampai akhirnya Alea mengalihkan pandangannya dan kembali melanjutkan pekerjaannya begitu juga dengan Raidan.
Bersambung.....