Rain dan Ayyara adalah definisi manusia modern yang mandiri. Di usia kepala tiga, keduanya telah mencapai titik nyaman: karier yang stabil, gaya hidup childfree, dan prinsip teguh anti-pernikahan. Bagi mereka, cinta hanyalah distraksi yang mengancam kebebasan yang telah mereka bangun dengan susah payah.
Namun, semesta memiliki rencana lain.
Dalam perjalanan bisnis menggunakan kereta cepat, sebuah cahaya putih seterang kilat menghantam dan melemparkan kesadaran mereka ke masa tujuh belas tahun yang lalu.
Di tengah pencarian cara untuk kembali ke masa depan, sebuah pertanyaan mulai menghantui: Jika mereka berhasil memperbaiki masa lalu, apakah "kebebasan" di masa depan masih menjadi hal yang mereka inginkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaRo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Hari yang Melipat Waktu
Alarm ponselku menjerit, memutus paksa mimpi tidur nyenyak yang baru saja kumulai. Aku mengerang, merasakan seluruh persendianku seolah terkunci. Tubuhku protes; perjalanan darat enam jam dan penerbangan tengah malam tadi benar-benar menguras sisa tenaga di usia tiga puluh empat ini.
Pagi itu, aku memaksakan diri bangun untuk membereskan tumpukan oleh-oleh yang kubawa. Aku memisahkannya ke dalam beberapa kantong plastik besar—satu untuk Bapak dan Ibu, satu untuk keluarga Bian, dan satu kantong khusus berisi camilan premium untuk Nenek Elia. Melihat tumpukan benda-benda itu, aku teringat kembali betapa "noraknya" aku kemarin.
Sambil melipat baju-baju kotor, ingatanku melayang ke suasana ibu kota yang kutinggalkan beberapa jam lalu. Sebuah kota yang tidak pernah diam, di mana gedung-gedung pencakar langit seolah mencoba menusuk awan, dan lampu-lampu neonnya bersaing terang dengan bintang.
Aku tertawa kecil sendirian mengingat tingkahku. Sebagai orang yang baru pertama kali menginjakkan kaki di pusat pemerintahan itu, aku benar-benar melepaskan gengsi. Aku berfoto di depan monumen-monumen ikonik dengan gaya yang sangat amatir—bergaya seolah sedang menopang gedung tinggi atau menjepit puncak menara dengan jempol dan telunjuk.
Sore harinya, Sepulang kerja aku memesan ojek online untuk membawaku ke rumah sewa tempat keluarga Bian menginap. Di atas motor yang membelah kemacetan, aku mendekap ranselku yang berisi kebaya.
Begitu sampai di depan gerbang rumah sewa, keramaian sudah terasa. Aku menarik napas panjang, menguatkan mental. Aku melangkah masuk dengan tangan penuh tenteng oleh-oleh, berharap benda-benda ini bisa menjadi "tameng".
Di saku celanaku, ponselku terasa hangat—berisi puluhan foto cantik dengan wajah kencang usia 24 tahun yang menjadi bukti bahwa aku pernah memiliki satu hari yang sepenuhnya menjadi milikku sendiri.
Malam itu, rumah sewa keluarga ini berdenyut oleh keriuhan yang melelahkan. Aku duduk di sudut kamar yang kupakai bersama Cinta, mencoba fokus pada layar notebook yang menyala terang. Tumpukan berkas di sampingku sudah seperti menara kecil yang siap runtuh kapan saja.
Tiba-tiba, ponselku bergetar. Sebuah nama dari divisi keuangan muncul. Ini panggilan penting—dan rahasia—terkait audit internal yang sedang kami kerjakan.
"Halo? Iya, sebentar..." Aku bergegas berdiri. Karena butuh privasi total agar pembicaraan ini tidak bocor ke telinga keluarga, aku melangkah keluar kamar menuju balkon belakang yang sepi, meninggalkan notebook-ku dalam keadaan terbuka dan dokumen yang berantakan.
Tak lama setelah aku keluar, Cinta masuk ke kamar. Ia tampak bosan setelah seharian membantu urusan katering. Matanya langsung tertuju pada meja kerja.
"Mbak Ara!" teriaknya dari ambang pintu, melihatku yang sedang menempelkan ponsel di telinga di kejauhan. "Pinjam notebook-nya bentar ya? Mau cek inspirasi riasan!"
Aku hanya memberikan lambaian tangan—lampu hijau dariku agar ia tidak terus menginterupsi pembicaraan seriusku di telepon.
Cinta duduk di kursiku. Begitu layar menyala dari mode sleep, ia terkesiap. Layar utamaku menampilkan salah satu hasil foto terbaik dari pantai kemarin—aku dengan gaun casual, wajah kencang tanpa flek, dan sorot mata yang begitu hidup.
"Wah... Mbak Ara? Cantik banget!" gumam Cinta takjub. "Siapa sih fotografernya? Kalau di desa ada yang jago begini, aku mau banget difoto pas nikahanku nanti."
Rasa penasaran Cinta yang besar membawanya untuk mencari folder asal foto itu. Ia ingin melihat lebih banyak lagi. Sambil bersenandung kecil, jemarinya lincah membuka folder demi folder sampai ia menemukan satu folder tersembunyi berisi puluhan jepretan kamera profesional.
Mata Cinta membelalak. Ia melihat foto-foto yang bukan sekadar potret cantik, melainkan foto pasangan. Ia melihat Rain yang menatapku dengan begitu dalam, dan aku yang tertawa lepas di sampingnya dengan latar belakang ombak yang dramatis.
"IBU!!! IBU, KESINI CEPAT!" teriak Cinta histeris.
Bukan hanya Ibu yang datang berlarian. Bian yang sedang mencoba jas, Bapak yang sedang menyeruput kopi, bahkan Kakek Andrew dan Nenek Elia yang kebetulan sedang berkunjung untuk koordinasi terakhir, ikut menyerbu masuk ke kamar. Bahkan penjaga rumah yang sedang merapikan taman pun ikut melongok dari pintu karena mengira ada keadaan darurat.
"Ada apa, Cin?" tanya Ibu panik.
"Lihat ini, Bu! Lihat Mbak Ara sama Kak Rain!" Cinta menunjuk layar dengan semangat membara.
Nenek Elia, yang selalu paling sigap jika menyangkut urusan cucunya, langsung mendekat. Namun, sebagai orang tua yang bijak dan sadar privasi, ia mengangkat tangannya.
"Tunggu, Cinta. Pastikan foto yang kamu perlihatkan difilter dulu sebelum diperlihatkan pada semua orang," ujar Nenek Elia dengan nada berwibawa namun menyimpan binar jenaka.
"Mbakmu itu sudah dewasa, dunianya berbeda. Jangan sampai ada foto yang... privat... terlihat oleh Bapak dan Kakekmu."
Keluarga besar itu akhirnya berkerumun di depan layar. Mereka berdecak kagum melihat kualitas foto hasil kamera pro yang menampilkan kami bak model majalah. Namun, setelah foto-foto estetik itu habis, Cinta menemukan folder lain: Hasil Jepretan HP.
Di sanalah "kebenaran" versi mereka terungkap. Foto-foto norak kami di ibu kota. Aku yang memakai bando kucing menyala, Rain yang berpose memegang puncak monumen, dan foto-foto selfie kami berdua dengan latar lampu kota yang gemerlap.
"Fix! Ini mah bukan jalan-jalan biasa," seru Cinta dengan nada kemenangan di depan seluruh keluarga. "Ibu, Bapak, Kakek... lihat cara Kak Rain menatap Mbak Ara di foto ini. Ini mah fiks foto pre-wedding! Mereka diam-diam sudah merencanakan semuanya!"
Ibu menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca haru. Bapak hanya bisa mengangguk-angguk sambil tersenyum bangga, sementara Bian tertawa bangga melihat kakaknya ternyata jauh lebih "maju" daripadanya.
Aku yang masih menempelkan ponsel di telinga di balkon belakang, sama sekali tidak sadar bahwa benteng rahasia yang kubangun susah payah di ibu kota, baru saja runtuh total di tangan adikku sendiri.
Aku menutup telepon dengan helaan napas lega, merasa urusan kantor akhirnya terkendali. Namun, saat aku membalikkan badan untuk kembali ke kamar, keheningan yang janggal menyambutku.
Ruang tengah yang tadinya bising dengan suara obrolan keluarga, kini mendadak sepi.
Langkahku terhenti di ambang pintu kamar. Mataku membelalak.
Di sana, di depan meja kerjaku, seluruh "pasukan" keluarga besarku berkumpul. Ibu, Bapak, Bian, Kakek Andrew, bahkan Nenek Elia dan penjaga rumah ikut berdesakan menatap layar notebook-ku yang masih menyala terang.
Cinta berdiri di tengah-tengah mereka seperti seorang pemandu wisata yang baru saja menemukan harta karun tersembunyi.
"Mbak Ara! Kok nggak bilang-bilang kalau sudah sejauh ini?" pekik Cinta begitu melihatku. Wajahnya berseri-seri penuh kemenangan.
Aku terpaku. Jantungku serasa merosot ke perut saat melihat layar menampilkan fotoku dan Rain yang sedang saling menatap di tepi pantai—salah satu jepretan kamera profesional yang paling dramatis.
"Maksudnya apa ini, Cin?" suaraku bergetar, mencoba meraih notebook itu, tapi Bian dengan cepat menghalangiku.
"Wah, Mbak... ternyata diam-diam menghanyutkan ya. Aku baru mau nikah besok, Mbak sudah punya foto sekeren ini sama Kak Rain," goda Bian sambil tertawa bangga. "Lihat deh, Pak, Bu. Ini bukan sekadar foto jalan-jalan. Ini mah fiks foto pre-wedding!"
Ibu menghampiriku, matanya berkaca-kaca haru. Beliau menggenggam tanganku erat. "Ara, kenapa harus sembunyi-sembunyi ke ibu kota cuma buat foto ini? Kalau memang sudah sejauh ini sama Nak Rain, Ibu dan Bapak kan malah senang. Nggak usah takut kami nggak setuju.
Nenek elia mendekat dan membisikkan sesuatu yang membuat telingaku panas. "Foto yang di folder HP lebih lucu, Ra. Apalagi yang pakai bando kucing itu. Kak Rain kelihatan sangat... pasrah demi kamu."
"IBU! BAPAK! NEK! Itu cuma..." aku mencoba membela diri, namun suaraku tenggelam oleh sorakan Cinta.
"Nggak ada tapi-tapi, Mbak! Fiks, ini" seru Cinta bersemangat.
Aku hanya bisa menyandarkan punggung di pintu, menutupi wajahku dengan kedua tangan. Benteng rahasia yang kubangun susah payah di ibu kota—semua kenorakan, tawa, dan keintiman tanpa kata itu—kini sudah menjadi konsumsi publik keluarga.
Satu hal yang pasti: besok di pernikahan Bian, aku tidak akan bisa lagi bersembunyi di balik status "hanya sahabat" dengan Rain. Karena di mata keluargaku, foto-foto itu adalah janji yang lebih kuat dari sekadar kata-kata.
Di ambang pintu dapur yang terhubung langsung dengan area ruang tengah, sebuah bayangan tegap berdiri mematung. Rain sudah ada di sana. Ia sebenarnya baru saja sampai, berniat mengantarkan sisa hantaran yang tertinggal di mobilnya, namun langkahnya terhenti tepat saat suara melengking Cinta memecah keheningan.
Ia berdiri di kegelapan koridor, tidak terlihat oleh kerumunan keluarga yang sedang mengerumuni notebook di dalam kamar. Dari posisinya, Rain bisa mendengar setiap detak jantungnya sendiri yang berpacu kencang saat nama "Kak Rain" disebut-sebut sebagai aktor utama dalam skenario "Pre-wedding" versi keluarga.
Rain meremas pegangan tas hantaran di tangannya. Ia mendengar tawa Bian yang bangga, suara haru Ibu ku, hingga celetukan Nenek Elia soal bando kucing yang memalukan itu. Pipinya mendadak terasa panas.
Kenangan malam itu di ibu kota—saat ia merasa bebas dari tuntutan dunianya sendiri—kini sedang dibedah habis-habisan oleh keluarga besar.
Ia melihat ku dari kejauhan. Gadis itu berdiri menyandar di pintu, menutupi wajah dengan kedua tangan, tampak benar-benar ingin menghilang dari muka bumi.
Ada rasa bersalah yang muncul di hati Rain, namun di saat yang sama, ada kehangatan aneh yang menyelinap. Melihat bagaimana keluarga ku menyambut "foto" itu dengan penuh syukur, seolah-olah kehadirannya adalah kado pernikahan yang sesungguhnya bagi mereka.
"Wah, Kak Rain ternyata romantis banget ya kalau di luar kota," suara Cinta terdengar lagi, diikuti bunyi klik mouse yang menandakan mereka sedang menggeser foto berikutnya.
Rain menarik napas panjang. Ia tahu, jika ia masuk sekarang, keadaan akan menjadi sangat canggung atau justru semakin meledak. Namun, ia tidak bisa terus bersembunyi.
"Permisi... ," suara Rain rendah namun tegas, memotong sorak-sorai di dalam kamar.
Seketika, "sidang" itu bubar jalan. Semua kepala menoleh ke arah sumber suara. Aku tersentak, menurunkan tangannya dari wajah dengan mata membelalak sempurna.
Ia menatap Rain seolah melihat hantu yang baru saja keluar dari layar komputernya.
"Eh, Nak Rain! Sudah dari tadi di situ?" tanya Bapak dengan nada yang jauh lebih akrab dari biasanya, hampir seperti menyapa menantu sendiri.
Rain melangkah masuk ke dalam cahaya lampu ruang tengah, mencoba memasang wajah sedatar mungkin meski telinganya masih merah padam. "Baru saja, Pak. Ini ada titipan hantaran yang ketinggalan di jok belakang."
Cinta, dengan keberanian yang tidak ada habisnya, langsung memutar layar notebook ke arah Rain. "Kak! Ini beneran foto prewed kan? Ngaku aja, nggak usah sembunyi-sembunyi lagi. Kita semua sudah lihat folder 'Model Pemula'-nya!"
Rain menatap layar itu sebentar—foto saat ia menatap ku di tepi pantai—lalu perlahan beralih menatap aku yang sudah pucat pasi.
Alih-alih membantah dengan logika keras seperti biasanya, Rain hanya tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang tidak memberikan jawaban "ya" atau "tidak", namun sukses membuat seisi ruangan tertahan napasnya.
"Fotonya bagus ya, Cin? Fotografernya memang profesional," ucap Rain tenang, lalu meletakkan hantaran di meja.
"Ra, aku pamit dulu. Besok pagi aku jemput jam tujuh."
Tanpa menunggu balasan, Rain berbalik dan berjalan keluar, meninggalkan aku yang membeku dan keluarga besar yang semakin yakin bahwa diamnya Rain adalah sebuah konfirmasi paling romantis yang pernah mereka dengar.