NovelToon NovelToon
The Farmer'S Muse

The Farmer'S Muse

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Cintapertama
Popularitas:693
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

【Tina gadis yang tangguh×Andry pengusaha kaya penyayang+Cinta Pandangan Pertama+Keluarga, Komedi Romantis】

Rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung justru menjadi sumber beban batin bagi Tina. Ia terjebak dalam dinamika keluarga yang timpang​Kehidupan Tina mulai terusik oleh kehadiran seorang pemuda kota kaya yang diam-diam kagum akan ketangguhan dan ketulusannya. Tanpa diduga, pemuda tersebut datang membawa rombongan besar untuk melamar Tina.​Bagi orang lain, pernikahan ini mungkin dianggap sebagai tiket emas untuk lolos dari penderitaan. Namun, sebagai wanita dewasa yang realistis, Tina tidak langsung mengiyakan. Ia tahu pernikahan bukanlah pelarian, melainkan babak baru yang penuh tanggung jawab. Di hadapan lamaran itu, Tina berdiri dengan sejuta tanya: apakah ini awal dari kebahagiaannya, atau justru awal dari badai yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

*Tut... tut...*

Suara nada sambung telepon terdengar datar selama beberapa detik sebelum akhirnya digantikan oleh suara bariton yang khas dan terdengar sangat tenang di seberang sana.

"Halo, Tante," sapa Andry begitu sambungan telepon terhubung.

"Halo, Dry! Kamu ini di mana?" sahut Ibu Yuna langsung tanpa basa-basi. Nada suaranya terdengar sangat bersemangat, kontras dengan ketenangan keponakannya.

"Masih di jalan, Tan. Ada apa?" tanya Andry matanya tetap fokus menatap jalanan aspal yang terbentang di depannya sembari memutar kemudi dengan satu tangan.

"Tidak, Tante cuma mau bertanya... bagaimana rencanamu selanjutnya untuk mendekati Tina? tasi setelah kamu pulang, Tante langsung berikan bingkisan kue premium yang kamu titipkan itu. Tapi kamunya malah langsung menghilang," selidik Ibu Yuna, tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya yang menggebu-gebu.

Andry terkekeh pelan di balik kemudi. "Ah, Tante tidak usah khawatir. Aku sudah punya rencana sendiri yang tersusun rapi. Jadi, Tante tidak usah pusing-pusing memikirkan bagaimana caranya, oke?"

"Ih, kamu ini ya! Jangan meremehkan waktu, Andry. Tina itu anak gadis yang sangat baik, di desa ini banyak sekali pemuda yang suka dan mengincarnya. Jangan sampai kamu keduluan orang lain, baru nanti kamu kapok dan gigit jari!" omel Ibu Yuna, memberikan peringatan keras demi kelancaran misi makcomblangnya.

"Iya, Tanteku sayang... Tante tidak usah cemas.

Aku sudah punya rencana yang sangat matang. Semuanya ada di bawah kendaliku," jawab Andry dengan nada penuh keyakinan dan senyum misterius yang tersungging di bibirnya.

"Okelah, terserah kamu saja kalau begitu. Tapi, coba kamu pikirkan lagi, kenapa tidak tinggal di rumah Tante saja selama di sini? Rumah Tante kan besar dan sepi. Daripada kamu harus capek Bolak-balik setiap hari dari desa ke kota kabupaten, jaraknya kan jauh," tawar Ibu Yuna, tulus mengkhawatirkan keponakan kesayangannya.

"Tidak usah, Tan. Lagipula, kebetulan aku memang sedang ada proyek pengawasan lahan dan pembangunan di dekat wilayah desa Tante, jadi jaraknya tidak terlalu jauh dari tempatku menginap sekarang," kilih Andry, sengaja menyembunyikan detail pekerjaannya. "Sudah dulu ya, Tan. Kebetulan di layar ponselku sedang ada panggilan kerjaan lain yang masuk. Aku tutup dulu ya."

"Oh, oke, oke. Hati-hati di jalan!"

Sambungan telepon terputus. Di teras rumah panggungnya, Ibu Yuna menurunkan ponsel dari telinganya sambil menggerutu pelan dengan dahi berkerut.

"Ada proyek di dekat desa? Dasar anak jail! Bukannya bilang dari kemarin-kemarin. Aku kan jadi telanjur menghawatirkan keselamatannya di jalan karena mengira dia bolak-balik ke kota demi mengejar cinta," gumam Ibu Yuna, menggeleng-gelengkan kepalanya gemas. Namun, sesaat kemudian, sebuah pertanyaan baru melintas di benaknya. "Tapi, ngomong-ngomong... dari mana sebenarnya anak itu bisa kenal dan tahu tentang Tina? Hmmm, sudahlah. Besok-besok saja kalau dia datang lagi aku tanya langsung sampai tuntas."

Keesokan paginya, suasana di rumah kediaman Pak Rahman sama sekali tidak diawali dengan ketenangan. Sebaliknya, atmosfer di ruang tengah terasa sangat tegang dan menyesakkan dada sejak matahari baru saja terbit.

"Astaghfirullahaladzim, Fandi... kamu begadang lagi semalam, Nak?" suara Bu Aminah terdengar bergetar menahan lelah dan sedih, menatap anak laki-lakinya yang baru keluar dari kamar dengan mata merah, wajah kusam, dan langkah sempoyongan.

Fandi tidak menjawab, ia hanya mendengus kasar dan berjalan menuju meja makan untuk mencari air minum tanpa memedulikan tatapan ibunya.

"Begadang terus-menerus itu tidak baik, Nak. Selain tidak ada gunanya, itu bisa merusak kesehatan tubuhmu. Cobalah mulai mengubah kebiasaan, cari kegiatan yang positif," tutur Bu Aminah lagi, berusaha menasihati dengan sisa-sisa kesabaran seorang ibu.

"Ah! Bisa tidak sih pagi-pagi begini tidak usah banyak ceramah? Telingaku bosan dengarnya!" bentak Fandi kasar, menghentakkan gelas kaca ke atas meja hingga menimbulkan bunyi berdenting yang keras.

"Fandi! Yang sopan kamu kalau berbicara sama Mamamu!" sebuah teguran keras akhirnya keluar dari bibir Tina. Gadis itu berdiri di depan kompor, membalikkan badannya dengan spatula yang masih di tangan. Tatapan matanya menajam, tidak terima melihat ibunya yang sudah tua diperlakukan tidak sopan.

"Ah, capek aku! Rumah ini isinya cuma orang-orang sok suci!" umpat Fandi ketus. Tanpa rasa bersalah sedikit pun, ia membalikkan badan, melangkah kembali ke dalam kamarnya, dan membanting pintu kayu tersebut dengan sangat keras hingga dinding papan rumah mereka bergetar. Tak lama kemudian, terdengar bunyi derit tempat tidur saat Fandi mengempaskan tubuhnya kembali ke atas kasur untuk melanjutkan tidur.

Tina yang sedang menggoreng ikan di dapur hanya bisa terdiam mematung. Dadanya sesak, sesak yang teramat sangat hingga membuat tenggorokannya tercekat. Perlahan, setitik air mata lolos dari sudut matanya. Ia segera berbalik membelakangi meja makan, diam-diam menyeka air mata itu dengan ujung dasternya agar tidak terlihat oleh sang ibu yang kini terduduk lemas di kursi. Rumah ini benar-benar terasa seperti neraka kecil yang perlahan membunuh kewarasannya.

"Lisa, ayo cepat makannya. Nanti kamu bisa telat ke sekolah," ucap Tina berusaha menstabilkan nada suaranya begitu melihat adik bungsunya keluar kamar dengan seragam rapi.

"Ah, iya, Kak," sahut Lisa pelan. Ia sempat melirik ke arah pintu kamar Fandi dengan pandangan muak, namun memilih diam demi menjaga perasaan Tina.

Tina merogoh saku dasternya, mengeluarkan beberapa lembar uang kertas yang sudah agak lusuh, lalu meletakkannya di dekat tas sekolah Lisa. "Lisa, nanti kalau pulang sekolah, kamu singgah dulu ke warung depan ya. Tolong belikan garam, tepung terigu, sama micin. Ini uangnya."

"Iya, Kak, nanti Lisa belikan pas pulang," jawab Lisa patuh, memasukkan uang tersebut ke dalam dompet kecilnya.

Mencoba mencairkan suasana yang teramat kaku dan dingin di dalam rumah, Tina menata piring-piring berisi nasi dan ikan goreng di atas meja. "Ma, Abah... ayo sarapan dulu bersama."

Bu Aminah mengusap dadanya pelan, mencoba tersenyum meski matanya menyiratkan kelelahan batin. "Makanlah duluan bersama adikmu, Nak. Mama tidak nafsu sarapan sekarang. Lagipula, sebentar lagi Mama mau pergi ke rumah Ibu Adam untuk bantu-bantu di sana."

Tina menghentikan gerakannya sejenak. "Bantu-bantu apa, Ma?"

"Anaknya kan mau menikah minggu depan, jadi tetangga-tetangga mulai datang untuk membantu mempersiapkan keperluan dapur dan tenda," jelas Bu Aminah.

"Anak Ibu Adam yang mana, Ma? Siapa? Sopia?" tanya Tina memastikan.

"Iya, Sopia."

Tina mengangguk-angguk paham, lalu menoleh ke arah ayahnya yang sejak tadi hanya diam terpaku di sudut ruangan sembari memandangi cangkir kopinya. "Abah mau makan sekarang? Ina ambilkan nasinya ya?"

Pak Rahman mendongak, tersenyum tipis seraya menggelengkan kepalanya dengan lembut. "Tidak usah, Nak. Tolong bungkuskan saja nasi dan ikannya ke dalam wadah. Abah mau langsung pergi ke kebun sekarang, nanti Abah makan di kebun saja kalau sudah jam istirahat."

"Abah hari ini mau mengerjakan apa di kebun?" tanya Tina sembari dengan cekatan mengambil kotak bekal dan mengisinya dengan nasi hangat.

"Itu... pohon-pohon cokelat di kebun kan sudah waktunya harus dipupuk, supaya buahnya bagus dan tidak diserang hama," jawab Pak Rahman, berdiri dari duduknya dan bersiap mengambil cangkul serta tas rajutnya di sudut pintu. Sebelum melangkah keluar, pak Rahman menghentikan langkahnya, menatap Tina dengan pandangan mata yang penuh dengan kasih sayang seorang ayah.

"Nanti kalau kamu sudah pulang mengajar sekolah, kamu tidak usah menyusul Abah ke kebun lagi seperti biasanya, ya. Pergi saja langsung ke rumah Ibu Adam untuk membantu-bantu orang di sana. Biar tetangga-tetangga senang. Supaya nanti... kalau tiba waktunya kamu yang menikah, banyak orang desa yang datang untuk membantu kita," ucap Pak Rahman, diakhiri dengan sebuah senyuman tulus yang menenangkan.

Tina tertegun mendengarnya, wajahnya mendadak terasa sedikit hangat. "Ah... Abah ini bicara apa sih," gumamnya malu, menyodorkan kotak bekal ke tangan ayahnya. Pak Rahman terkekeh pelan, lalu melangkah pergi meninggalkan rumah menuju area perkebunan.

Pukul delapan pagi, rutinitas baru kembali dimulai. Tina sudah berdiri tegak di depan kelas PAUD Desa Sukamaju. Baginya, ruangan kecil yang sederhana dan semi-permanen ini adalah satu-satunya tempat perlindungan terbaik di dunia. Di sinilah, di antara dinding-dinding kayu yang mulai menua, ia bisa sepenuhnya melupakan statusnya sebagai "tulang punggung tersembunyi" yang memikul beban berat seluruh anggota keluarganya.

Saat melihat anak-anak kecil berwajah polos itu berlarian di halaman, bernyanyi bersama lagu *Pelangi-Pelangi* dengan suara lantang yang menggemaskan, dan tertawa lepas tanpa beban materi, seluruh penat dan kesedihan di pundak Tina seolah terangkat lenyap seketika, digantikan oleh kedamaian yang utuh.

Namun, kedamaian itu tidak bertahan lama. Waktu berjalan cepat hingga jam istirahat anak-anak tiba. Dari balik jendela kelas kayu yang terbuka lebar, Tina yang sedang merapikan buku absen mendadak menangkap sebuah pemandangan yang tidak biasa di halaman sekolah yang biasanya sepi dari kendaraan.

Sebuah mobil SUV hitam mengkilap—mobil yang sangat mewah dan berkelas, persis sama dengan mobil yang ia lihat terparkir di depan rumah Ibu Yuna kemarin—kini tampak bergerak perlahan dan terparkir dengan sangat rapi di bawah naungan pohon beringin besar yang rindang dekat pintu gerbang luar sekolah.

Kehadiran mobil asing itu tentu saja langsung memicu kegemparan kecil. Beberapa ibu-ibu wali murid yang sedang duduk-duduk di teras luar sembari menunggu anak-anak mereka bermain perosotan tampak langsung saling berbisik-bisik heboh. Mereka sesekali mencuri pandang dengan mata berbinar penasaran ke arah kaca mobil yang gelap tersebut.

Tak lama kemudian, ketegangan itu terjawab. Pintu kemudi mobil mewah tersebut terbuka perlahan, dan seorang pemuda turun dari dalam kabinnya yang sejuk.

Pemuda itu tampil dengan gaya yang sangat semi-formal namun memikat. Ia mengenakan kemeja linen berpotongan modern berwarna putih bersih, dengan bagian lengan yang digulung rapi hingga sebatas siku, memamerkan jam tangan kulit hitam yang melingkar di pergelangan tangannya. Kemeja itu dipadukan dengan celana jins gelap yang pas dan membentuk kakinya yang jenjang dengan sempurna. Sosoknya tinggi tegap, dengan kulit bersih, rahang tegas, dan potongan rambut klimis serta rapi khas pria metropolitan yang merawat diri dengan sangat baik di salon ternama. Kehadiran pemuda itu di tengah lingkungan Desa Sukamaju yang berdebu benar-benar bak sebongkah permata berharga yang jatuh di tengah-tengah hamparan lumpur yang cokelat.

"Permisi, selamat pagi," sebuah suara bariton yang terdengar berat, dalam, namun penuh dengan ketegasan yang sopan tiba-tiba menginterupsi lamunan Tina yang sempat terpaku di balik jendela.

Tina tersentak, buru-buru membetulkan posisi berdirinya. Pemuda itu rupanya berjalan dengan langkah tegap menaiki undakan teras kelas PAUD, dan kini telah berdiri hanya terpaut beberapa langkah saja dari tempat Tina berada, dipisahkan oleh daun pintu kelas.

Tina mengerjapkan matanya beberapa kali, mendadak merasa sedikit gugup dan salah tingkah karena sepasang manik mata elang milik pemuda itu menatapnya dengan begitu tajam, lurus, dan intens, seolah-olah mengunci seluruh pergerakannya. "I-iya, selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu, Pak?" jawab Tina akhirnya, berusaha sekuat tenaga menekan debaran aneh di dadanya dan menjaga profesionalismenya sebagai seorang guru.

Pemuda itu mengulas sebuah senyuman tipis yang sangat menawan—sebuah senyuman sekilas yang sukses membuat beberapa ibu-ibu wali murid di kejauhan spontan menahan napas dan saling menyenggol lengan satu sama lain karena terpesona.

"Nama saya Andry," ucap pemuda itu memperkenalkan diri, sengaja menggunakan nama sapaan yang sedikit berbeda dari nama panggilannya di kota. "Saya sedang mencari pengelola atau guru utama di sekolah ini.

Apakah benar Anda adalah Ibu Tina?"

"Benar, saya sendiri, Tina," jawab Tina, mencoba mengendalikan nada suaranya agar tetap terdengar datar. "Ada keperluan apa ya, Pak... maaf, Pak Andry?"

Andry bergerak tenang, mengeluarkan sebuah map kulit eksklusif berwarna cokelat tua dari balik dekapannya, lalu menunjukkannya kepada Tina. "Saya adalah perwakilan resmi yang diutus oleh Yayasan Nirwana Utama dari kota. Saat ini, yayasan kami sedang melakukan agenda survei lapangan dan pemetaan wilayah untuk program penyaluran bantuan dana sosial, serta rencana renovasi total fasilitas pendidikan anak usia dini di daerah-daerah pelosok yang tertinggal. Dan berdasarkan data yang kami himpun, Desa Sukamaju ini adalah salah satu kandidat terkuat yang masuk dalam prioritas daftar kami."

Mendengar rangkaian kalimat "bantuan dana sosial" dan "renovasi total" keluar dari bibir pemuda itu, sepasang mata manis milik Tina langsung berbinar cerah, melupakan rasa gugupnya yang tadi sempat mendominasi. Kompleks bangunan PAUD tempatnya mengabdi ini memang sudah berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan; kayu-kayunya mulai lapuk dimakan usia, atap sengnya selalu bocor parah setiap kali musim hujan tiba, dan fasilitas mainan luar ruangan milik anak-anak sudah banyak yang patah dan berkarat hingga membahayakan.

"Oh, benarkah? Ya ampun, mari, Pak, silakan masuk ke dalam ruangan dulu. Kita bisa duduk dan berbicara di dalam dengan lebih leluasa, kebetulan anak-anak juga sedang asyik bermain di luar halaman," sambut Tina dengan nada suara yang kini berubah menjadi jauh lebih ramah dan penuh antusiasme.

Andry mengangguk perlahan sebagai respons. Ia melangkah masuk, melewati pintu kayu, dan menjejakkan sepatu kulit mahalnya di atas lantai semen ruangan kelas yang sempit dan sederhana itu. Pemuda kota itu kemudian mulai mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling ruangan, mengamati setiap sudut kelas.

Namun, alih-alih menunjukkan ekspresi jijik, risih, atau meremehkan kondisi ruangan yang sangat bersahaja, berdebu, dan beratap rendah tersebut, sorot mata Andry justru dipenuhi oleh rasa ingin tahu dan kekaguman yang sangat mendalam. Pandangannya perlahan terhenti, tertuju pada jajaran tempelan kertas origami warna-warni berbentuk hewan dan bunga yang menghiasi dinding kayu kelas. Dekorasi itu dibuat dengan sangat rapi, kreatif, dan penuh dengan sentuhan kasih sayang.

Andry membalikkan badannya kembali, menatap lurus ke arah wajah Tina yang sedang menunggunya dengan perasaan harap-harap cemas. "Semua dekorasi, hiasan dinding, dan alat peraga ini... Anda sendiri yang membuatnya secara manual?" tanya Andry dengan nada suara yang melunak, mengawali sebuah jerat pesona yang perlahan namun pasti mulai ia tebarkan di sekeliling kehidupan gadis desa itu.

1
Mamah Dini11
ya mendingan di ambil tin kan gajinya gede ,jdi bisa bantu ortumu. kalau masalah paud carikan dulu penggantimu, ya setidaknya kalau gajinya gede kan bisa mengurangi bebanmu
Mamah Dini11
kenapa gk ngontrak aja tin atau ngekos gitu biarkan kakamu yg malas dan benalu itu yg ngerjain di rumah itu , permisi thor mampir ni...moga ceritanya menarik 🙏
Imi Omi
yah ngayal 🤣
Imi Omi
aku suka ceritanya, lanjut terus Thor 👍
Imi Omi
😤
Imi Omi
katanya nunggu tapi kalau ngak di terima kayaknya dia bakalan buat rencana gila lagi🤣
Imi Omi
jadi bahan gosip sekampung🫠
Imi Omi
mungkin yang di maksud Lisa tu, aku atau kak Tina 🤣🤣🤣
Imi Omi
🤣
Imi Omi
waduh di lamar dong 🤭
Imi Omi
😭😭
Imi Omi
Akhirnya dia sadar juga😭
Imi Omi
baru juga dinasehati udah nasehatin orang 🤣
Imi Omi
Dimarahin Bu Yuna gak tuh🤣
Imi Omi
uwah ketahuan
Imi Omi
ngak tahu diri banget si jadi anak laki-laki 😤
falea sezi
buruk bgt cerita muter doank g jelas. MC. nya bodoh mood baca jd anjlok
falea sezi
MC oon semua😒
falea sezi
🤣🤣 tina goblok novel apaaan ini muter doank😒 MC nya bloon kok lulusan sarjana lulusan SD. kali. makanya oon ma adek g bs tegas. ma. ortu jg gt
Imi Omi
🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!