"Bagaimana cara menangkap pembunuh yang dilindungi oleh waktu itu sendiri?"
Insiden 06-06 bukan sekadar kecelakaan beruntun biasa. Di balik pekatnya polusi Jakarta dan pemadaman listrik total, ada konspirasi berdarah yang terencana rapi.
Samuel, seorang penyelidik BPI yang aslinya otaku garis keras, terpaksa harus menggunakan kartu as rahasianya: kemampuan memanipulasi waktu.
Bersama rekan jeniusnya, Ahmad, Samuel harus melompati belasan rute masa lalu, menjinakkan paradoks, dan menahan sakit kepala yang siap meremukkan otaknya. Baginya, angka 7-14 bukan lagi sekadar penanda hari, melainkan hitung mundur menuju kematian orang paling penting dalam hidupnya.
Saat waktu kehilangan maknanya, mampukah sang "Penguasa Waktu" memutus rantai takdir tak kasat mata ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dean Jeremia Sp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rokok palsu
Samuel melangkah mantap menuju ruang informasi untuk mengajukan pertemuan dengan Mas Dimas—Sang Kepala BPI.
Di balik meja konter, petugas informasi yang bertugas tampak menelan ludah dengan gugup begitu melihat sosok Samuel yang tampil dengan atribut penuh. Aura kasual yang biasanya melekat pada diri Samuel menguap total, digantikan oleh tatapan dingin seorang penyelidik nomor dua paling berprestasi.
"P-Pak Samuel... ada yang bisa saya bantu?" tanya petugas itu dengan senyum profesional yang dipaksakan akibat rasa segan yang teramat sangat.
Samuel mengembangkan senyum ramah—yang sayangnya, justru diartikan oleh orang-orang di ruangan itu sebagai senyuman dingin penuh intimidasi. "Tolong buatkan aku jadwal pertemuan dengan Pak Dimas hari ini juga, ya."
"S-siap, Pak!" Petugas itu dengan cepat jemarinya menari di atas kibor komputer, memproses permintaan dengan kilat. "Pak Samuel, Anda mendapatkan jadwal bertemu dengan Pak Dimas pukul 15.00 sore ini di ruangannya. Dan ini surat izin menghadapnya, Pak."
"Makasih, ya," ucap Samuel ramah seraya mengambil kertas tersebut.
Begitu langkah kaki Samuel keluar dari ruangan, embusan napas lega yang serempak terdengar dari para petugas di dalam ruang informasi. Di sisi lain, Samuel sendiri juga menghela napas panjang. Ia merasa lega karena akhirnya selesai berakting menjadi sosok penyelidik teladan yang kaku.
Sembari menunggu pukul tiga sore, Samuel memutuskan untuk pergi ke ruang kerja timnya di lantai dua. Sepanjang koridor, bisikan-bisikan kecil dari penyelidik lain yang terkejut melihat penampilannya terus terdengar, memaksa Samuel bolak-balik membalas hormat hingga lengannya terasa pegal.
Di depan pintu ruangan kerja timnya, sebuah plakat kuningan bertuliskan "Ahmad / Samuel" terpampang dengan jelas.
Begitu pintu dibuka, pemandangan kontras langsung menyambutnya. Dua asisten penyelidik mereka—Rizki (anak buah Samuel) dan Agus (anak buah Ahmad)—sedang asyik menonton Ahmad yang sibuk bermain game di ponselnya dengan posisi kaki diangkat ke atas meja.
Kehadiran Samuel yang berpakaian super rapi langsung memecah keheningan ruangan. Bukannya segan, Ahmad justru meledak dalam tawa yang sangat keras hingga hampir terjatuh dari kursinya.
"FUHAHAHAHA! Pakaian macam apa itu, Sam?! Lu mau ikut upacara kemerdekaan?!" ejek Ahmad terpingkal-pingkal.
Samuel tidak memedulikan ejekan sahabatnya. Ia berjalan menuju mejanya sendiri, lalu ikut tertawa terbahak-bahak setelah Rizki memperlihatkan pantulan wujudnya di cermin kecil.
"MUHAHAHA! Gile, rapi banget gue! Pantesan orang di bawah pada ketakutan, hahaha!" seru Samuel sambil menepuk-nepuk meja kerjanya. Logika di kepalanya akhirnya terjawab mengapa hawa di ruang informasi tadi terasa sangat mencekam.
Setelah sisa tawa mereda, Rizki membuka suara dengan ekspresi heran. "Ngapain datang ke kantor pakai baju begituan, Bos? Kan hari libur."
Samuel menyalakan PC kantornya, pandangannya beralih serius. "Gue mau ketemu Mas Dimas."
Ahmad yang sedari awal sudah bisa menebak arah pikiran sahabatnya, menurunkan kakinya dari atas meja. "Sudahlah, Sam. Aku sudah beresin kasus ini. Yogi udah diserahin ke pihak berwajib, dan si Wisnu juga masih berada di bawah pengawasan ketat anak buah gue."
Samuel bangkit dari kursinya, mengambil posisi berdiri dengan gaya chuunibyou andalannya. Tangan kanannya menunjuk dramatis ke arah langit-langit ruangan. "Ahmad, analisis konyolmu kali ini salah besar. Yogi... bukan pelaku aslinya!"
Ahmad tampak tersentak mendengar pernyataan itu. Namun, tepat di detik yang sama, ponsel di saku celana Ahmad bergetar keras. Panggilan dari istrinya. Dengan wajah yang mendadak berubah kaku, Ahmad meminta maaf kepada Agus, Rizki, dan Samuel, lalu terburu-buru mengemas barangnya dan beranjak pulang.
Setelah pintu ruangan tertutup rapat, Samuel menoleh ke arah Rizki dan Agus. "Ahmad kemarin datang ke kantor gak?"
Kedua asisten penyelidik itu kompak menggelengkan kepala.
Samuel mengernyitkan dahi. Kecurigaannya semakin menebal. Namun, sebelum ia sempat tenggelam dalam analisis komputernya, fokusnya mendadak terdistraksi oleh Rizki yang menyalakan mesin PlayStation di sudut ruangan. "Ayolah Bos, satu match aja sebelum lu ketemu bos besar!"
Lupa akan waktu, Samuel akhirnya terhanyut menghabiskan waktu berjam-jam bermain game bersama kedua asistennya. Dominasi Samuel yang tak terkalahkan akhirnya runtuh di tangan Rizki, membuatnya terpaksa menyerahkan stik controller kepada Agus.
Tepat saat ia hendak mengambil napas, suara dering telepon internal di atas meja kerjanya berbunyi nyaring. Samuel mengangkat gagang telepon tersebut. Detik berikutnya, suara napas berat dan penuh amarah langsung bergemuruh di speaker.
"CEPAT KE RUANGAN KU SEKARANG, SIALAN!"
Klik. Sambungan diputus secara sepihak. Itu suara Mas Dimas.
Samuel tersentak. Tanpa sempat berpamitan atau memberikan salam kepada kedua asistennya, ia berlari kencang menuju koridor dan langsung menekan tombol lift menuju lantai tujuh—lantai tertinggi di gedung pusat BPI yang hanya dihuni oleh satu ruangan eksklusif berpapan nama: "Dimas / Dina".
Samuel berdiri di depan pintu kayu ek tebal itu, mengatur napasnya yang memburu sebelum mengetuk pintu.
"MASUK!" teriakan berat dari dalam memberikan izin.
Samuel membuka pintu perlahan. Hal pertama yang ia lihat adalah sosok Ahmad yang duduk di atas kursi laras, posisinya membelakangi pintu masuk dan menghadap lurus ke arah jendela besar luar ruangan. Di dalam ruangan luas ini, terdapat satu meja kosong lain yang bertuliskan nama Dina, sang Wakil Kepala BPI yang sedang tidak ada di tempat.
Secara perlahan, kursi kerja utama di tengah ruangan berputar. Menampilkan sosok Dimas. Pria paruh baya dengan kumis tebal, rambut panjang yang tersisir rapi ke belakang, dan sepasang kacamata hitam yang bertengger di hidungnya. Di sela jarinya, terselip sebatang rokok yang mengepulkan asap tipis. Di atas pangkuannya, seekor kucing persia berbulu putih tampak mendengkur malas di bawah elusan lembut tangannya.
Dimas menatap tajam ke arah Samuel yang berdiri tegap dengan seragam penuh pangkat dan lencana. Keheningan mencekam itu bertahan selama tiga detik, sebelum akhirnya tawa bergemuruh dari sang Kepala BPI pecah memenuhi ruangan.
"GEHAHAHAHAH! Gilak... gilak! Penyelidik otaku yang dulu gue ajarin cara megang pistol dan nyelesaiin kasus, sekarang datang nemuin gue dengan seragam full pangkat begini cuma buat minta kelanjutan kasus yang udah ditutup? HAHAHAHA!"
Ketegangan di dada Samuel runtuh seketika. Ia ikut tertawa lepas melihat tingkah konyol atasannya. Mata tajam detektifnya menangkap satu detail kecil pada rokok di tangan Dimas. "Itu rokok mainan elektrik yang ngeluarin uap abu ya?! HAHAHA! Asem lu, Mas! Gue kira lu beneran ngerokok di dalam ruangan ber-AC!"
Setelah puas menertawakan properti intimidasi palsu milik atasannya, Samuel langsung menarik napas dalam-dalam, kembali ke mode formal. Ia mengambil posisi siap, memberi hormat tegap, lalu menurunkannya perlahan.
"Pak, saya meminta dengan segala hormat agar berkas kasus Insiden 06-06 kembali dibuka, dan saya diberikan izin resmi untuk melakukan penyelidikan ulang," ucap Samuel lantang dengan nada bicara profesional.
Dimas berhenti mengelus kucingnya. Tawa di wajahnya menguap total, digantikan oleh ekspresi dingin yang mutlak. Dengan suara berat penuh penekanan, ia menolak mentah-mentah. "Yang benar saja, Samuel. Tidak ada sejarahnya BPI membuka kembali kasus yang sudah resmi dinyatakan selesai. Balik kanan, dan keluar dari ruangan saya sekarang juga!"
Samuel sudah menduga reaksi ini sejak awal. Mengetahui watak keras kepala atasannya, ia hanya bisa menghela napas pasrah, berbalik badan, dan melangkah menuju pintu keluar.
Namun, tepat sebelum jemari Samuel menyentuh gagang pintu, suara berat Dimas kembali terdengar dari belakang, kali ini dengan aksen khas pejabat tua yang santai namun mengikat. "Kalau kau mau... tanggal 14 jam tujuh malam, kita pergi makan dan minum berdua."
Samuel menghentikan langkahnya. Posisinya masih membelakangi Dimas, namun sebuah senyuman lebar langsung terkembang di wajahnya. Undangan makan malam privat dari seorang Kepala BPI di tanggal spesifik bukanlah sekadar ajakan biasa; itu adalah kode hijau bahwa Dimas mengizinkannya menyelidiki kasus ini secara tidak resmi di belakang layar.
"Ya, tentu saja, Kak. Aku akan datang," jawab Samuel, tanpa sengaja menggunakan panggilan akrab masa lalunya kepada sang atasan.
Dimas yang mendengar sebutan "Kak" itu hanya bisa tersenyum tipis di balik kumis tebalnya. Sudah sangat lama ia tidak mendengar panggilan itu keluar dari mulut Samuel.
Samuel melangkah keluar dari gedung BPI dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Lu emang gak pernah berubah, Mas. Tetap pengertian kayak dulu, batin Samuel hangat.
Sebelum kembali ke apartemen, Samuel menyempatkan diri mampir ke sebuah restoran untuk membeli dua porsi makanan porsi besar demi dinikmati bersama saksi kuncinya.
Sesampainya di dalam apartemen, Samuel menaruh bungkusan makanan di atas meja makan. Mengira Riza sedang berada di dalam kamar, ia berteriak memanggil namanya. "Riz! Makan malam udah siap!"
Tidak ada jawaban dari dalam kamar. Samuel mengernyit bingung. Tepat saat ia hendak berbalik menuju ruang tengah—
"BAH!"
Riza tiba-tiba melompat muncul dari balik dinding koridor, berteriak tepat di depan wajah Samuel.
Refleks seorang penyelidik elit tidak bisa bohong. Samuel tidak berteriak, melainkan melompat mundur sejauh satu meter dengan posisi tubuh merendah, sementara tangan kirinya secara otomatis sudah mencengkeram saku bagian dalam jasnya—siap menarik Glock 21 miliknya dalam hitungan milidetik.
Riza yang melihat reaksi defensif super heboh itu langsung meledak dalam tawa puas. Ia bersandar di dinding sambil memegangi perutnya yang kram karena tertawa. "HAHAHA! Gila, refleks lu kocak banget, Sam! Bau tau, mandi dulu sana baru kita makan!"
Setelah membersihkan diri dari keringat kantor dan menyantap makan malam bersama, hari itu akhirnya ditutup dengan rutinitas lama mereka. Samuel kembali mengurung diri di ruang tengah, bergelut dengan PlayStation-nya hingga fajar menyingsing, sementara Riza tertidur lelap di dalam kamar utama—kamar yang sejak hari pertama telah menjadi zona teramannya di apartemen itu.