NovelToon NovelToon
Jalan Kultivasi Sang Dewa

Jalan Kultivasi Sang Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Timur / Epik Petualangan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Adit

Di sebuah desa kecil yang terlupakan dunia, seorang anak pemburu hidup dalam kemiskinan sambil merawat ibunya yang sakit parah. Setiap hari ia mempertaruhkan nyawanya di hutan demi bertahan hidup, tanpa mengetahui bahwa takdir besar sedang menunggunya.
Sebelum menghembuskan napas terakhir, sang ibu mengungkap rahasia yang selama ini disembunyikan—ayahnya masih hidup, dan berada di Dunia Atas, tempat para kultivator kuat menguasai langit dan bumi.
Dengan tekad untuk menemukan ayahnya dan mengubah nasibnya, pemuda itu memulai perjalanan kultivasi dari dunia paling bawah. Bersama teman yg ditemui Nya waktu dia masih kecil, ia menghadapi monster, sekte, pengkhianatan, dan perang antar dunia demi mencapai puncak kekuatan.
Sebuah perjalanan dari seorang pemburu desa… menuju penguasa langit tertinggi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9 - Batas Dunia yang Menghambat

Pagi hari itu, kabut tipis masih menyelimuti reruntuhan Desa Awan Timur. Desa yang dahulu dipenuhi kehidupan kini tenggelam dalam kesunyian yang menyakitkan. Tidak ada lagi suara tawa anak-anak yang berlarian di jalanan, tidak ada lagi para pedagang yang membuka toko sejak fajar menyingsing. Yang tersisa hanyalah rumah-rumah yang hangus terbakar, puing-puing yang berserakan, dan jalan-jalan kosong yang seolah menjadi saksi bisu tragedi malam sebelumnya.

Di pinggiran desa, tepat di tempat yang selama ini selalu ia datangi ketika ingin menenangkan diri, Cang Xuan berdiri di hadapan sebuah makam sederhana. Dalam perjalanan menuju tempat itu, ia sempat memetik beberapa bunga liar yang masih tumbuh di antara rerumputan. Bunga-bunga itu kini berada di tangannya sebelum perlahan ia letakkan di depan batu nisan yang berdiri sunyi di hadapannya.

Makam itu adalah makam ibunya.

Setelah menancapkan bunga-bunga tersebut dengan hati-hati, Cang Xuan berlutut di depan nisan lalu menundukkan kepala.

Beberapa saat berlalu dalam keheningan. Cang Xuan tetap berlutut di depan makam itu sambil menatap batu nisan yang sederhana, seolah orang yang dirindukannya masih dapat mendengar setiap kata yang akan ia ucapkan. Baru setelah angin pagi berembus perlahan melewati area pemakaman, ia membuka mulutnya.

"Ibu, desa kita telah hancur." Suaranya terdengar pelan, tetapi jelas. Tatapannya perlahan menurun ketika mengingat kembali peristiwa yang terjadi malam sebelumnya. "Pelindung desa tiba-tiba hancur, lalu Monster Abyss menyerang dari segala arah. Semuanya terjadi begitu cepat hingga tidak ada yang sempat bersiap."

Untuk sesaat, ia terdiam sebelum kembali melanjutkan. "Akibatnya tidak ada satu pun warga yang selamat. Maafkan aku, Bu. Aku gagal menyelamatkan mereka."

Angin kembali berembus pelan, menggoyangkan bunga-bunga liar yang baru saja ia letakkan di depan makam. Cang Xuan mengepalkan tangannya erat-erat. Rasa sedih masih ada di dalam hatinya, tetapi kini bercampur dengan tekad yang jauh lebih kuat daripada sebelumnya.

"Tapi aku tidak akan menyerah," lanjutnya sambil mengangkat pandangan. "Aku akan mencari cara untuk menuju Dunia Atas. Aku akan menemui Ayah dan meminta penjelasan darinya. Aku juga akan mencari cara untuk menghentikan atau memusnahkan Monster Abyss agar tragedi seperti ini tidak terus terjadi."

Bayangan desa yang hancur masih terlihat jelas di benaknya. Ia tidak ingin melihat tempat lain mengalami nasib yang sama seperti Desa Awan Timur. Tidak ingin ada anak lain yang kehilangan keluarganya, atau seseorang yang harus menyaksikan rumahnya lenyap dalam semalam.

Tatapannya perlahan berubah semakin tegas. "Aku berjanji, Bu."

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Cang Xuan berdiri perlahan. Ia menatap makam ibunya untuk beberapa saat, seolah ingin mengingat pemandangan itu dalam-dalam sebelum pergi. Kemudian, tanpa mengatakan apa pun lagi, ia berbalik dan mulai berjalan meninggalkan area pemakaman.

Namun ketika hampir mencapai gerbang batu yang menjadi pintu masuk area pemakaman, langkah Cang Xuan mendadak terhenti karena sebuah suara tua terdengar dari samping.

"Hei, anak muda."

Cang Xuan segera menoleh ke arah sumber suara. Tidak jauh dari dinding pembatas makam, berdiri seorang lelaki tua berpakaian lusuh yang sebelumnya sama sekali tidak ia sadari keberadaannya. Jubah yang dikenakan orang tua itu tampak usang dan penuh tambalan, sementara rambutnya yang berwarna putih terlihat berantakan tanpa sedikit pun usaha untuk dirapikan.

Yang paling mencolok adalah sikapnya yang sangat santai.

Ia sedang bersandar pada dinding batu sambil memegang sebuah kendi kecil berisi arak. Sesekali ia meneguk isinya sebelum mengembuskan napas panjang dengan ekspresi puas, seolah sedang menikmati pemandangan pagi yang indah dan bukan berdiri di tengah area pemakaman yang sunyi.

Melihat penampilan lelaki tua tersebut, alis Cang Xuan sedikit berkerut. Ia cukup yakin bahwa beberapa saat yang lalu tidak ada siapa pun di tempat itu. Namun entah sejak kapan, orang tua itu telah berada di sana tanpa menarik perhatiannya sedikit pun.

Orang tua itu tersenyum santai sambil kembali meneguk sedikit arak dari kendi di tangannya. Setelah menelan minuman tersebut, ia memandang Cang Xuan dan berkata, "Aku mendengar semua yang kau katakan tadi. Desamu hancur, ya? Sungguh sangat disayangkan sekali."

Mendengar itu, tatapan Cang Xuan langsung berubah waspada. Tangannya perlahan bergerak menuju gagang pedang di pinggangnya, sementara seluruh perhatiannya tertuju pada lelaki tua yang tiba-tiba muncul di tempat ini. "Siapa kau? Sejak kapan kau ada di situ?" tanyanya dengan nada dingin.

Orang tua itu hanya tertawa kecil seolah tidak merasakan sedikit pun tekanan dari sikap Cang Xuan. "Tenang saja, aku tidak berniat melukaimu sama sekali."

Namun kata-kata tersebut sama sekali tidak membuat kewaspadaan Cang Xuan berkurang. Bayangan malam ketika Desa Awan Timur dihancurkan masih terpatri jelas di benaknya. Ia tidak lagi mudah mempercayai orang asing, terlebih seseorang yang bisa muncul tanpa disadarinya.

Dalam satu gerakan cepat, pedangnya langsung terhunus.

Sreet!

Ujung bilah pedang yang dingin segera mengarah tepat ke dada lelaki tua itu. "Darimana kau tahu apa yang terjadi pada desa ini?" tanya Cang Xuan sambil menatap lawannya tanpa berkedip. Setelah jeda sesaat, nada suaranya menjadi semakin tajam. "Jangan-jangan kau yang menghancurkan pelindung desa?"

Alih-alih marah atau tersinggung, lelaki tua itu justru tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha!"

Tawanya bergema di area pemakaman yang sunyi. Ia bahkan sampai menggelengkan kepala beberapa kali sebelum akhirnya berhasil menenangkan diri. "Kau cepat sekali mengambil kesimpulan seperti itu. Sangat lucu sekali, meskipun memang wajar. Bagaimanapun juga, kau masih terlihat sangat muda."

Ia kembali meneguk araknya sebelum melanjutkan dengan nada yang jauh lebih tenang. "Aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan kehancuran desamu. Aku hanya melihat semuanya dari kejauhan."

Kali ini senyum santainya perlahan menghilang.

Tatapannya menjadi sedikit lebih serius saat memandang Cang Xuan.

"Aku melihat bagaimana kau bertahan semalaman melawan Monster Abyss, dan aku juga melihat bagaimana kau menjadi satu-satunya yang selamat dari tragedi itu."

Mendengar kata-kata tersebut, Cang Xuan tidak memberikan jawaban. Pedangnya tetap terarah ke depan, sementara pikirannya bekerja cepat mencoba menebak identitas orang tua yang berdiri di hadapannya. Jika apa yang dikatakan lelaki itu benar, berarti ia telah menyaksikan kehancuran Desa Awan Timur sejak awal. Namun yang membuat Cang Xuan semakin sulit memahami keadaan adalah fakta bahwa ia sama sekali tidak dapat merasakan keberadaan ataupun kekuatan orang tua tersebut. Seolah lelaki lusuh yang sedang memegang kendi arak itu hanyalah orang biasa, tetapi instingnya terus mengatakan bahwa sosok di hadapannya jauh dari kata sederhana.

Melihat kewaspadaan di wajah Cang Xuan belum sepenuhnya menghilang, lelaki tua itu hanya tersenyum santai. Ia tidak terlihat terganggu meskipun beberapa saat yang lalu ujung pedang masih mengarah ke dadanya. Setelah meneguk sedikit arak dari kendi di tangannya, pandangannya perlahan beralih ke pedang milik Cang Xuan.

"Itulah alasan aku tertarik padamu," ujarnya dengan nada ringan. Setelah jeda sesaat, ia kembali melanjutkan, "Selain itu, kau juga seorang kultivator di dunia ini, bukan?"

Mata Cang Xuan sedikit menyipit. Ia tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut dan justru membalas dengan nada hati-hati. "Memangnya kenapa kalau aku seorang kultivator?"

Orang tua itu hanya mengangkat bahu seolah pertanyaan tersebut tidak terlalu penting baginya. "Kalau begitu, biar aku bertanya sesuatu yang lain. Apakah akhir-akhir ini kau sering merasa kesulitan mengendalikan energi spiritualmu? Padahal kau sudah berlatih selama bertahun-tahun."

Begitu mendengar kalimat itu, tubuh Cang Xuan langsung membeku.

Selama ini, masalah tersebut hanya diketahui oleh dirinya sendiri. Ia tidak pernah menceritakannya kepada siapa pun karena memang tidak ada orang yang bisa diajak berdiskusi mengenai kultivasi di Desa Awan Timur.

"Itu..."

Untuk pertama kalinya sejak pertemuan mereka dimulai, ekspresi tenang di wajahnya sedikit goyah.

Melihat reaksinya, senyum tipis segera muncul di wajah lelaki tua itu.

"Aku benar, bukan?"

Cang Xuan terdiam beberapa saat sebelum perlahan menurunkan pedangnya. Tatapannya tetap dipenuhi kewaspadaan, tetapi kini juga bercampur rasa penasaran yang sulit disembunyikan.

"Bagaimana kau bisa tahu tentang itu?"

Pertanyaan tersebut langsung dijawab oleh lelaki tua itu dengan nada santai, seolah sedang membicarakan hal yang sangat biasa.

"Karena masalahnya memang bukan pada dirimu." Ia kembali meneguk araknya sebelum melanjutkan, "Masalahnya ada pada dunia ini."

Cang Xuan langsung memusatkan seluruh perhatiannya.

"Dunia ini memiliki energi spiritual yang sangat tipis," lanjut lelaki tua itu sambil menatap langit di atas mereka. "Karena itulah, sekeras apa pun kau berlatih, peningkatan kekuatanmu akan sangat lambat. Energi spiritual yang bisa kau serap terbatas, begitu pula dengan tenaga spiritual yang bisa kau kumpulkan. Pada akhirnya, kekuatanmu akan selalu terhambat oleh batas dunia ini."

Kata-kata itu membuat mata Cang Xuan sedikit membesar.

Selama empat tahun terakhir, ia terus bertanya-tanya mengapa perkembangan kultivasinya terasa begitu lambat. Tidak peduli seberapa keras ia berlatih atau seberapa sering ia bermeditasi, energi spiritual yang dimilikinya selalu terasa kurang stabil dan sulit berkembang lebih jauh.

Kini, untuk pertama kalinya, seseorang akhirnya memberinya penjelasan yang masuk akal.

Dan yang lebih mengejutkan lagi, penjelasan tersebut langsung menjawab keraguan yang selama ini terus menghantuinya.

End Chapter 9

1
asri_hamdani
tangkap 1-2 kan bisa untuk ganjel perut lapar 🤔
.: karena menurut Cang xuan menangkap hewan hewan kecil seperti kelinci ataupun kucing hutan itu hanya membuang-buang waktu karena hewan tersebut memiliki pergerakan yg cukup lincah Apalagi walaupun berhasil menangkap dia hanya mendapatkan koin yg sedikit apalagi dia mempunyai waktu terbatas yaitu jangan sampai malam hari karena banyak monster abbys yg berkeliaran oleh karena itu daripada membuang buang waktu ke hewan yg memiliki nilai koin yg sedikit menurut Cang xuan lebih baik mencari hewan yg ukuran nya cukup besar dan mendapatkan koin yg lebih banyak dibandingkan harus bersusah payah menangkap hewan ukuran kecil
total 1 replies
Kevandra
B🌻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!