NovelToon NovelToon
Ceo'S Plus Size Wife

Ceo'S Plus Size Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Sejak kematian istrinya, Darren, seorang CEO kaya raya, hidup dalam kesepian. Bukannya mendapat dukungan, ia justru dimanfaatkan oleh ketiga anaknya yang hanya peduli pada harta warisan. Saat mencari ketenangan di taman, hidupnya berubah ketika bertemu Jihan, gadis baik hati yang baru saja dihina dan ditinggalkan kekasihnya karena penampilannya.
Ketika Darren tiba-tiba terkena serangan jantung, Jihan tanpa ragu menolongnya dan bahkan menghabiskan tabungan terakhirnya untuk biaya rumah sakit. Ketulusan Jihan menyentuh hati Darren hingga ia melamar gadis itu sebagai bentuk rasa terima kasih dan kekaguman.
Akankah Jihan menerima lamaran pria kaya yang jauh lebih tua darinya? Dan mampukah mereka menghadapi amarah anak-anak Darren yang merasa posisi mereka terancam oleh kehadiran calon ibu tiri yang tak pernah mereka bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Jihan melangkah ke halaman depan dan menghampiri sebuah sepeda motor matic biasa yang sudah disiapkan dan dipanaskan oleh sopir keluarga.

Jihan dengan cekatan naik ke atas jok, lalu menyodorkan sebuah helm ber-SNI berwarna merah muda ke arah anak gadis tirinya.

"Ayo, pakai helmnya," ucap Jihan santai sembari membetulkan posisi kaca helmnya sendiri.

Angela memandangi sepeda motor matic itu dengan tatapan horor.

Mengendarai motor ke kampus adalah mimpi buruk terbesar dalam hidupnya.

Dengan enggan, Angela mengerucutkan bibirnya dalam-dalam, menyambar helm tersebut, dan naik ke boncengan dengan gerakan terpaksa.

"Aku bukan anak kecil lagi, Ma! Tidak perlu sampai diantar-antar begini seperti anak TK!" gerutu Angela kesal di sepanjang jalan.

"Memang bukan," sahut Jihan setengah berteriak menembus angin jalanan.

"Tapi Mama ingin tahu siapa saja teman-teman gaulmu di luar rumah, dan kampus tempat kamu menuntut ilmu itu seperti apa."

Sesampainya di depan gerbang utama kampus elite tersebut, kehadiran Angela yang turun dari motor matic biasa langsung menarik perhatian.

Beberapa mahasiswi berpenampilan sosialita dengan tas-tas branded mewah segera menghampirinya.

Di antara kerumunan itu, tampak pula Jonas—lelaki tertampan yang menjadi idola dan dikagumi oleh satu kampus karena ketampanan dan kekayaannya.

"Angela? Apa kami tidak salah lihat?" tanya salah satu teman wanitanya sambil menutup mulut, menatap motor dan penampilan Jihan dengan pandangan meremehkan.

"Kamu diantar sama... gajah? Sejak kapan sopir atau pembantumu berubah jadi sebesar ini?"

Seketika itu juga, teman-teman sosialita Angela termasuk Jonas tertawa terbahak-bahak, menganggap penampilan subur Jihan sebagai bahan lelucon yang sangat lucu.

Wajah Angela memerah padam dan menenggelamkan wajahnya ke dalam inti bumi saat itu juga karena malu.

Namun, Jihan tetap tenang. Ia turun dari motor, melepas helmnya, lalu menatap kerumunan mahasiswa sombong itu dengan senyuman yang sangat anggun dan berwibawa.

"Perkenalkan, nama saya Jihan. Saya adalah mama baru Angela," ucap Jihan dengan suara lantang dan penuh percaya diri.

Glek.

Tawa riuh itu seketika terhenti seketika. Suasana di depan gerbang kampus mendadak sunyi senyap bak kuburan.

Mereka semua terdiam dengan mata membelalak syok.

Mereka mengira Jihan hanyalah pelayan baru atau pengasuh yang disewa, tetapi ternyata wanita bertubuh subur di depan mereka ini adalah nyonya baru di keluarga Bramantyo yang terhormat.

Jihan melirik ke arah teman-teman Angela yang mendadak mati kutu, lalu tatapannya beralih pada Angela yang tertunduk malu.

"Jadi, mereka ini teman-teman dekatmu, Angela?" tanya Jihan dengan nada meremehkan yang sengaja dikeraskan.

"Saran Mama, lebih baik kamu jauhi saja manusia-manusia berwajah palsu seperti mereka. Daripada kamu menghabiskan uang sakumu yang dua juta itu hanya untuk menerbangkan gengsi di depan orang-orang yang tidak punya tata krama seperti ini."

Mendengar kalimat menohok dari Jihan, teman-teman Angela hanya bisa menggigit bibir mereka menahan malu, sementara Jonas langsung membuang muka karena harga dirinya tersentil.

Angela yang sudah tidak kuat menahan rasa malunya yang bercampur aduk, langsung berbalik badan tanpa pamit dan berlari cepat masuk ke dalam area kampus.

Jihan tersenyum puas melihat anak tirinya masuk, lalu kembali memakai helmnya.

Tugas pertama selesai, sekarang saatnya ia meluncur ke kantor pusat untuk mengantarkan dompet suaminya tercinta.

Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit membelah kemacetan kota, Jihan akhirnya tiba di depan gedung pencakar langit megah yang menjadi kantor pusat Bramantyo Corporation.

Dengan santai, ia memarkirkan motor matic-nya di deretan parkiran motor umum, lalu berjalan mantap menuju lobi utama sambil menjinjing helm merah mudanya.

Begitu melangkah masuk ke dalam lobi yang berlapis marmer mengkilap itu, penampilan Jihan yang bertubuh subur, mengenakan pakaian sederhana, dan membawa helm langsung menjadi pusat perhatian para karyawan yang berlalu-lalang.

Jihan berjalan menghampiri meja resepsionis yang dijaga oleh seorang wanita cantik berpenampilan modis.

"Selamat pagi. Saya ingin mengantarkan dompet Mas Darren yang tertinggal," ucap Jihan sopan.

Resepsionis itu mengerutkan keningnya, menatap Jihan dari atas ke bawah dengan pandangan menilai.

"Maaf? Mas Darren? Maksud Anda, CEO kami, Bapak Darren Bramantyo? Apakah Anda sudah membuat janji temu sebelumnya?" tanyanya dengan nada ketus dan meremehkan.

"Saya tidak perlu membuat janji. Saya istri Mas Darren," jawab Jihan dengan tenang dan lugas.

Mendengar ucapan Jihan, dua orang satpam bertubuh kekar yang berjaga di dekat pintu lobi langsung berjalan mendekat.

Bersama sang resepsionis, mereka bertiga seketika tertawa terbahak-bahak, menggelegar memenuhi ruangan lobi yang mewah itu.

Suara tawa mereka yang mengejek membuat beberapa karyawan ikut menoleh.

"Istri? Hahaha! Jangan mimpi di siang bolong! Sepertinya perempuan ini sudah gila karena terlalu terobsesi dengan Pak Darren!" seru salah satu satpam dengan wajah menyebalkan.

"Heh, Nona! Sadar diri sedikit! Bos kami itu orang terkaya dan paling terhormat di kota ini. Mana mungkin beliau punya istri yang berantakan dan bertubuh sebesar gajah seperti kamu!" timpal satpam yang satunya lagi dengan nada membentak.

"Sudah, cepat keluar dari sini sebelum kami seret! Mengotori pemandangan saja!" usir sang resepsionis dengan kibasan tangan yang menghina.

Jihan tetap berdiri kokoh di tempatnya. "Saya benar-benar istrinya. Ini saya membawakan dompetnya yang tertinggal."

"Banyak alasan! Keluar kamu!"

Karena Jihan tidak kunjung bergerak, salah satu satpam yang temperamental langsung maju dan mencengkeram bahu Jihan, lalu mendorong tubuh subur wanita itu dengan sangat kasar ke arah luar pintu lobi.

Bruk!!

Dorongan yang kuat itu membuat Jihan kehilangan keseimbangan.

Tubuhnya terjatuh keras di atas lantai luar lobi yang kasar.

Rasa perih yang menyengat langsung menjalar di kaki bawahnya.

Saat Jihan melihat ke bawah, kulit lututnya rupanya tergores dalam hingga darah segar mulai mengalir membasahi kain roknya.

Melihat Jihan terjatuh dan terluka, para satpam dan resepsionis itu justru tersenyum puas tanpa ada rasa bersalah sedikit pun.

Jihan menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sakit di lututnya sekaligus rasa perih di dadanya karena diperlakukan sekejam ini. Namun, ia tidak menangis.

Dengan sisa tenaganya, Jihan duduk bersandar di dekat pilar lobi, membuka tasnya, lalu mengambil ponsel genggam miliknya.

Dengan jari yang sedikit gemetar, Jihan langsung mencari kontak suaminya dan menekan tombol panggil.

Begitu nada sambung berbunyi, hanya dalam hitungan detik, suara berat Darren langsung terdengar di seberang telepon.

"Halo, Sayang? Ada apa?" tanya Darren dengan nada yang sangat lembut, berbanding terbalik dengan suasana panas di lobi saat ini.

Jihan menarik napas panjang, mencoba menormalkan suaranya agar tidak terdengar gemetar.

"Mas, aku ada di lobi kantor kamu sekarang. Bisakah Mas turun ke bawah sekarang juga?" ucap Jihan lirih.

Darren yang berada di ruang kerja lantai atas seketika menghentikan aktivitasnya. Instingnya langsung menangkap ada yang tidak beres dari nada suara istrinya.

"Jihan? Kamu di lobi? Ada apa? Mengapa suaramu seperti itu?"

"Turunlah, Mas... lututku berdarah," jawab Jihan singkat, sebelum akhirnya memutus sambungan telepon tersebut.

Di atas sana, mendengar kata 'berdarah', Darren seketika langsung berdiri hingga kursi kerjanya terjungkal ke belakang.

Aura membunuh langsung terpancar dari wajah sang CEO nomor satu itu.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Darren berlari kencang keluar dari ruangannya menuju lift khusus, bersiap untuk meratakan siapa saja yang telah berani menyentuh ratunya.

Ting!

Pintu lift khusus CEO terbuka dengan sentakan keras.

Darren melangkah keluar dengan napas memburu dan rahang yang mengeras sempurna. Sorot matanya yang biasanya tenang kini berkilat penuh amarah, memindai seisi lobi utama dengan tajam.

Langkah kakinya yang lebar langsung terhenti saat melihat sosok yang sangat dicintainya sedang duduk bersandar di dekat pilar luar lobi.

Darren menatap nanar ke arah lutut Jihan yang tergores dalam, di mana darah segar masih mengalir membasahi kain roknya.

"Jihan!!" teriak Darren bergemuruh.

Sang CEO langsung berlari menghampiri istrinya. Tanpa memedulikan jas mahalnya yang akan kotor terkena noda, Darren langsung berlutut di lantai kasar tersebut.

Ia meraih tubuh subur Jihan dengan tangan yang bergetar karena menahan amarah sekaligus rasa khawatir yang membubung tinggi.

"Sayang, kamu kenapa? Kenapa bisa terluka seperti ini?!" tanya Darren dengan suara yang bergetar lembut, menangkup wajah Jihan dengan penuh kasih sayang.

Mendengar kata 'Sayang' yang keluar begitu tulus dan panik dari mulut seorang Darren Bramantyo, suasana di lobi kantor seketika membeku.

Resepsionis yang tadinya memasang wajah angkuh langsung menjatuhkan pulpennya, sementara kedua satpam yang mendorong Jihan mendadak pucat pasi dengan lutut yang lemas.

Mereka semua terdiam seribu bahasa, menyadari bahwa kiamat karier mereka baru saja tiba.

Jihan menatap suaminya, lalu mengalihkan pandangannya ke arah para petugas keamanan yang kini sedang gemetaran di tempat.

"Mereka mendorongku sampai terjatuh, Mas. Mereka juga menertawakanku dan mengatakan kalau aku wanita gila yang berhalusinasi," ucap Jihan dengan nada lirih namun terdengar jelas di tengah keheningan lobi.

Jihan merogoh tasnya, mengeluarkan dompet hitam milik Darren, lalu meletakkannya di telapak tangan suaminya.

"Aku hanya ingin mengantarkan dompetmu yang tertinggal ini. Mas, tolong katakan pada mereka semua yang ada di sini, kalau aku ini benar-benar istri sah kamu."

Darren menerima dompetnya, lalu perlahan berdiri tegak.

Begitu ia membalikkan badan menghadap para karyawannya, aura hangat seorang suami langsung lenyap, digantikan oleh aura dingin mematikan dari seorang penguasa tertinggi Bramantyo Corporation.

Darren menatap tajam ke arah dua satpam dan resepsionis yang kini sudah tertunduk dengan tubuh gemetar hebat.

"Buka telinga kalian lebar-lebar!!" bentak Darren dengan suara menggelegar yang menggema di seluruh sudut gedung pencakar langit itu, membuat beberapa staf wanita refleks memekik kaget.

"Wanita bertubuh subur yang baru saja kalian hinakan dan kalian lukai ini... adalah Nyonya Jihan Bramantyo! Dia adalah istri sahku, ratu di rumahku, dan pemilik tunggal dari seluruh harta serta perusahaan ini!"

Mendengar penegasan mutlak dari sang CEO, kedua satpam itu langsung menjatuhkan diri berlutut di atas lantai, sementara sang resepsionis mulai menangis tersedu-sedu karena ketakutan.

1
sri hastuti
punya anak2 laki2 biadab semuanya thor, jangan dikasih harta, biar tau rasa ,pengrn tak bikin mati aja 2 anak itu 😡😡😡
my name is pho: iya kak
total 1 replies
falea sezi
gugat cerai aja deh laki bego
falea sezi
laki goblok😒 g tau diri
sri hastuti
jd anak kok durhaka spt itu thor, pengen tak lenyap o aja 2 anak gak tau diri itu, atau semua hartanya jangan dikasih, kasih ke panti aja,biar tau rasa 😡😡😡😡
Vie
hadir kak.... 👍👍👍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!