Pernikahan yang terlihat harmonis, ternyata penuh penghianatan. Celsi memilih pergi saat mengetahui suaminya berselingkuh dengan sepupunya sendiri.
"Aku pergi, Mas!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3
Bab 3 — Orang yang Disalahkan
Bandung terasa lebih panas siang itu.
Bukan karena matahari.
Tapi karena tempat yang akan didatangi Celsi.
Rumah orang tua Rangga.
Acara makan siang keluarga.
Sederhana katanya.
Hanya kumpul biasa.
Tapi Celsi tahu.
Di keluarga besar suaminya, tidak pernah benar-benar ada acara yang sekadar makan.
Selalu ada pertanyaan.
Selalu ada perbandingan.
Dan hampir selalu…
ujungnya kembali ke satu hal.
Anak.
Celsi berdiri di depan cermin kamar sambil merapikan kerudung.
Rangga sedang memakai jam tangan.
Dia melirik istrinya.
"Kamu cantik."
Celsi tersenyum kecil.
"Rayuan sebelum perang ya?"
Rangga tertawa.
"Segitunya?"
Celsi menoleh.
"Kamu tau sendiri."
Rangga diam sebentar.
Lalu mendekat.
Tangannya membenarkan ujung kerudung Celsi.
"Nanti kalau ada yang ngomong macam-macam, nggak usah didengerin."
Celsi mengangkat alis.
"Terus?"
Rangga tersenyum.
"Pulang aja."
Kalimat sederhana.
Dan seperti biasa…
cukup untuk bikin Celsi merasa tenang.
Dia mengangguk.
"Oke."
Mereka berangkat.
Sepanjang jalan Rangga bercerita soal kantor.
Celsi ikut tertawa.
Tidak ada yang aneh.
Tidak ada yang berubah.
Sampai mereka sampai.
---
Rumah keluarga Rangga ramai.
Ada beberapa mobil.
Suara anak kecil.
Tawa.
Dan aroma masakan.
Begitu masuk, Celsi langsung disambut beberapa keluarga.
"Eh datang."
"Celsi makin cantik."
"Kurus ya."
Dia tersenyum dan menyalami satu per satu.
Lalu…
seperti yang sudah diduga.
Pertanyaan pertama muncul.
Seorang tante tersenyum.
"Celsi… kapan nih?"
Celsi masih tersenyum.
"Doain aja."
Tante itu tertawa.
"Tiga tahun lho."
Yang lain ikut tertawa kecil.
Celsi tetap tersenyum.
Biasa.
Sudah sering.
Mereka duduk.
Makan dimulai.
Awalnya normal.
Sampai sepupu Rangga datang sambil menggendong bayi.
Semua langsung heboh.
"Masyaallah lucu."
"Baru tiga bulan ya?"
"Mirip bapaknya."
Ibu Rangga mengambil bayi itu.
Wajahnya langsung berubah lembut.
Dia menggendong lama.
Lalu berkata sambil tertawa kecil.
"Capek juga ya nunggu cucu."
Suasana meja mendadak lebih sunyi.
Kalimat itu terdengar ringan.
Tapi semua orang paham arahnya.
Celsi menunduk.
Rangga diam sambil makan.
Salah satu om menimpali.
"Rangga udah tiga tahun ya?"
"Iya."
"Jangan ditunda-tunda."
Celsi menarik napas.
Rangga tetap diam.
Tante yang tadi kembali bicara.
"Udah periksa belum?"
Celsi tersenyum.
"Udah."
"Terus?"
Celsi menjawab pelan.
"Normal."
Tante mengangguk.
Tapi kemudian tertawa.
"Kadang dokter juga nggak enak ngomong."
Beberapa orang ikut tersenyum.
Celsi mulai tidak nyaman.
Lalu suara lain muncul.
"Kalau perempuan susah hamil ya harus usaha lebih."
Celsi menoleh.
Masih senyum.
Tapi sekarang terasa berat.
Dia meletakkan sendok.
Pelan.
Lalu berkata.
"Masalah anak bukan cuma usaha."
Ruangan agak diam.
Celsi lanjut bicara.
"Kalau memang belum dikasih ya belum."
Tante tertawa kecil.
"Iya sih."
Lalu menambahkan.
"Tapi jangan egois juga."
Celsi diam.
"Egois?"
Tante mengangguk santai.
"Kasihan laki-laki kalau nggak punya penerus."
Kalimat itu.
Mengenai tepat.
Celsi menoleh ke Rangga.
Menunggu.
Mungkin dia akan bilang sesuatu.
Mungkin dia akan membela.
Mungkin dia akan menghentikan.
Rangga hanya tersenyum kecil.
Dan berkata…
"Udah makan aja."
Celsi diam.
Tidak marah.
Tapi…
ada sesuatu yang terasa jatuh.
Pelan.
---
Setelah makan.
Beberapa orang berkumpul di ruang tengah.
Celsi sedang mengambil minum saat mendengar percakapan.
"Kasihan Rangga ya."
"Iya."
"Padahal dia anak tunggal."
"Kalau nggak bisa ya harus cari solusi."
Celsi berhenti.
Tidak masuk.
Dia berdiri di balik dinding.
Dan mendengar.
"Masa keluarga berhenti."
"Perempuan tuh tugas utamanya ya itu."
Celsi menggenggam gelas.
Sampai akhirnya seseorang sadar dia ada.
Mereka langsung diam.
Tersenyum.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Celsi masuk.
Duduk.
Lalu tersenyum.
Tapi kali ini…
dia mulai capek.
---
Sore.
Saat hendak pulang.
Ibu Rangga memanggil.
"Celsi."
Dia menoleh.
Mertuanya memberikan map.
"Ini."
Celsi bingung.
"Apa?"
"Buka di rumah."
Celsi menerimanya.
Di mobil.
Dia membukanya.
Dan seluruh tubuhnya membeku.
Hasil pemeriksaan.
Atas namanya.
Bagian yang dilingkari merah.
Kemungkinan infertilitas tinggi.
Disarankan program lanjutan.
Celsi membaca berulang.
Tangannya mulai dingin.
Dia menoleh.
"Ini apa?"
Rangga melihat sekilas.
"Oh."
Celsi menatapnya.
"Kamu tau?"
Rangga diam sebentar.
Lalu mengangguk.
Celsi tidak bergerak.
"Kapan?"
Rangga menatap jalan.
"Beberapa minggu lalu."
Sunyi.
Celsi menelan ludah.
"Kenapa aku nggak tau?"
Rangga diam.
Lalu menjawab pelan.
"Aku nggak mau bikin kamu sedih."
Celsi tertawa kecil.
Tapi matanya mulai panas.
"Jadi… kamu tau… dan nggak bilang?"
Rangga menarik napas.
"Celsi…"
Dia menoleh.
"Aku pikir nanti."
Celsi menatap kertas.
Lalu berkata pelan.
"Tapi kita pernah periksa dan normal."
Rangga diam.
"Kenapa sekarang beda?"
Rangga tidak langsung menjawab.
Hanya berkata.
"Dokter beda."
Celsi memegang map itu.
Jari-jarinya gemetar.
"Aku nggak ngerti."
Rangga memegang setir.
"Kita cari jalan."
Tapi Celsi tidak mendengar lagi.
Kepalanya penuh.
Semua omongan tadi.
Kasihan laki-laki.
Anak tunggal.
Perempuan tugasnya.
Harus cari solusi.
Infertilitas.
Tidak subur.
Tidak subur.
Tidak subur.
Mobil berhenti di rumah.
Celsi turun.
Masuk.
Diam.
Rangga ikut masuk.
"Celsi."
Dia tidak menjawab.
Masuk kamar.
Duduk di tepi ranjang.
Dan untuk pertama kalinya…
dia menangis.
Bukan karena belum punya anak.
Tapi karena…
untuk pertama kalinya…
dia merasa sedang dinilai gagal sebagai seorang istri.
Pintu terbuka.
Rangga masuk.
Duduk di samping.
"Celsi."
Dia tidak menoleh.
Rangga memegang tangannya.
"Kita hadapi sama-sama."
Celsi menutup mata.
Lalu bertanya lirih.
"Kalau memang aku nggak bisa punya anak…"
Sunyi.
Dia melanjutkan.
"Kamu bakal tetap pilih aku?"
Rangga diam.
Tidak lama.
Hanya beberapa detik.
Tapi cukup.
Cukup untuk membuat hati Celsi terasa dingin.
Lalu Rangga tersenyum kecil.
"Kamu kenapa mikir sejauh itu?"
Dia memeluk Celsi.
Dan Celsi membalas pelukannya.
Tapi entah kenapa…
untuk pertama kalinya…
pelukan itu tidak lagi terasa seperti rumah.
Dan malam itu…
sambil memegang hasil tes…
dia belum tahu…
bahwa yang paling menyakitkan bukan hasil itu.
Tapi fakta…
bahwa sebentar lagi…
dia akan tahu siapa yang sebenarnya sedang berbohong.