Lin Chen, seorang pemuda yang dianggap sampah karena memiliki Meridian Spiritual rusak, secara tidak sengaja menyentuh Phoenix bayi yang sedang bereinkarnasi. Pertemuan itu justru memberinya warisan terlarang tertinggi — "Sembilan Ikatan Phoenix Abadi".
Teknik kultivasi ini mengharuskan ia menikahi dan melakukan kultivasi ganda dengan Sembilan Phoenix Agung. Semakin banyak Phoenix yang ia taklukkan, semakin kuat ia. Namun, teknik ini dianggap melanggar tatanan langit, sehingga seluruh dunia kultivasi ingin membunuhnya.
"Dunia bilang aku terlarang? Baiklah… aku akan menikahi semua Phoenix dan membakar langit ini hingga hangus!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 : Batas yang Semakin Dalam
Pada hari ketujuh di Pegunungan Cang Lei, Lin Chen akhirnya menghadapi rasa kesendirian nya
Malam itu, ia duduk di depan api unggun kecil yang menyala di depan tempat berlindungnya. Di sekelilingnya, hutan malam mengeluarkan berbagai suara yang saling bersahutan.
Desiran angin, gemerisik dedaunan, dan suara makhluk malam yang bersembunyi di antara pepohonan menciptakan irama yang aneh namun menenangkan.
Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Klan Lin, Lin Chen membiarkan pikirannya mengembara.
Ia memikirkan semua yang telah terjadi.
Tentang Lin Hai dan keluarganya yang membuangnya.
Tentang Yue Suyin yang memilih masa depan daripada janji yang pernah mereka buat.
Tentang Wei Hao yang selalu memandangnya dengan senyum penuh kemenangan.
Dan tentang Malam Penilaian, ketika Batu Pengukur hanya memancarkan cahaya redup yang membuat seluruh aula kembali menertawakannya.
Tujuh belas tahun.
Selama tujuh belas tahun hidupnya, ia selalu berusaha membuktikan bahwa dirinya layak diterima.
Namun semakin keras ia berusaha, semakin jauh ia merasa dari tempat yang seharusnya disebut rumah.
Kini ia berada jauh dari Klan Lin.
Sendirian di tengah pegunungan yang berbahaya.
Tanpa kekuatan, tanpa seorang pun yang benar-benar peduli apakah ia akan kembali hidup-hidup atau tidak.
Lin Chen menatap kobaran api di hadapannya.
Nyala kecil itu bergoyang mengikuti hembusan angin malam.
Kadang melemah.
Kadang hampir padam.
Namun selalu kembali berdiri tegak.
Pemandangan sederhana itu membuatnya teringat pada seseorang.
Ibunya.
Kenangan lama perlahan muncul di benaknya.
Saat itu ia masih berusia tujuh atau delapan tahun.
Hari itu menjadi salah satu hari terburuk dalam masa kecilnya karena latihan kultivasi yang kembali berakhir dengan kegagalan. Ia pulang sambil menangis dan merasa dirinya tidak berguna.
Ibunya hanya tersenyum sambil mengusap kepalanya.
"Chen'er," katanya lembut, "api yang kecil bukan berarti api yang lemah."
Lin Chen masih mengingat suara itu dengan jelas.
"Yang menentukan bukan seberapa besar nyalanya saat ini, melainkan seberapa kuat ia bertahan ketika angin mencoba memadamkannya."
Perlahan, Lin Chen menundukkan pandangannya.
Tangannya menyentuh gelang kayu yang melingkar di pergelangan tangan.
Ia melepaskannya dan menggenggam benda itu erat-erat.
Gelang sederhana berwarna merah tua.
Peninggalan terakhir dari ibunya.
Sembilan tahun yang lalu, kedua orang tuanya menghilang dalam sebuah misi yang tidak pernah dijelaskan secara rinci oleh klan.
Yang ia dengar hanyalah bahwa mereka pergi menjalankan tugas penting.
Lalu tidak pernah kembali.
Awalnya Lin Chen terus menunggu.
Namun seiring berjalannya waktu, harapan itu perlahan berubah menjadi pertanyaan yang tidak pernah terjawab.
Meski begitu, jauh di dalam hatinya, ia masih menyimpan keyakinan kecil.
Suatu hari nanti, ia akan menemukan kebenarannya.
Dan untuk melakukan itu, ia harus menjadi lebih kuat.
Lin Chen memasang kembali gelang tersebut di pergelangan tangannya.
Kemudian ia berbaring di atas alas daun kering yang telah disusunnya sebagai tempat tidur.
Melalui celah-celah dedaunan, langit malam terlihat begitu luas.
Ribuan bintang berkilauan seperti serpihan kristal yang tersebar di atas kain hitam.
Dalam keheningan itu, Lin Chen mulai menilai dirinya sendiri dengan jujur.
Apa yang ia miliki saat ini?
Tubuh yang sehat.
Pikiran yang tenang.
Pengetahuan bertahan hidup yang cukup baik.
Cara baru menyerap energi alam yang masih sangat lemah, tetapi telah menunjukkan hasil.
Sebuah pisau sederhana.
Sedikit persediaan makanan.
Dan tekad yang belum hancur meskipun berkali-kali dihantam kegagalan.
Lalu apa yang tidak ia miliki?
Kekuatan.
Sekutu.
Tujuan yang jelas.
Memikirkan semua itu justru membuatnya tersenyum tipis.
Karena ia sadar satu hal.
Selama masih memiliki kemauan untuk terus melangkah, ia belum benar-benar kehilangan segalanya.
Perlahan, pandangannya beralih ke arah utara.
Selama beberapa hari terakhir, ia terus merasakan aliran energi alam yang mengarah ke sana.
Semakin jauh ke utara, semakin padat energi yang memenuhi pegunungan ini.
Seolah ada sesuatu yang terus menarik dan memengaruhi seluruh wilayah di sekitarnya.
Lin Chen tidak tahu apa yang menunggunya di sana.
Mungkin harta karun.
Mungkin bahaya.
Mungkin sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang mampu ia bayangkan.
Namun instingnya mengatakan bahwa jawaban yang ia cari berada di arah itu.
Karena itulah, ia telah mengambil keputusan.
Besok pagi, ia akan melangkah lebih jauh ke dalam Pegunungan Cang Lei.
Lebih jauh dari sebelumnya.
Lebih dekat menuju sumber aliran energi yang selama ini ia rasakan.
Perlahan, Lin Chen memejamkan matanya.
Di kejauhan, suara makhluk malam masih terdengar samar.
Angin berembus melewati pepohonan tua yang telah berdiri selama ratusan tahun.
Pegunungan Cang Lei tetap diam dalam keheningan yang kuno dan misterius.
Sementara di depan tempat berlindungnya, api kecil itu terus menyala.
Tetap bertahan.
Tetap melawan.
Tidak peduli berapa kali angin mencoba memadamkannya.