- Hamid: Sopir travel, usia 38 tahun, sudah beristri dan punya dua anak, terlihat ramah dan sopan tapi pandai menyembunyikan sifat aslinya.
- Nova: Guru SD, usia 28 tahun, cantik, bertubuh mungil, sudah bersuami tapi rumah tangganya terasa hambar.
- Ain: Guru SMP, usia 30 tahun, wajah biasa saja, giginya agak tonggos, belum menikah, pendiam dan mudah percaya orang, sangat membutuhkan kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caesarius A Enda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: JEJAK MASA LALU YANG KEMBALI MENGHANTU
Sudah lima tahun berlalu sejak Rumah Harapan dibangun kembali menjadi lebih megah dan lengkap. Ain kini berusia hampir 50 tahun, wajahnya masih terlihat cantik dan berwibawa meski kerutan usia mulai terlihat di sudut mata dan dahinya. Ia masih aktif memimpin semua kegiatan di tempat itu, menjadi ibu dan tempat berlindung bagi ratusan wanita serta anak-anak yang terluka hati. Nova juga semakin dihormati di lingkungannya, rumah tangganya menjadi teladan, anak-anaknya sukses dan berbakti. Sari yang dulunya penuh luka dan dendam, kini menjadi wanita yang paling lembut dan penuh kasih sayang, selalu ada untuk mendengarkan keluh kesah siapa pun yang datang.
Hidup mereka terasa begitu damai dan bahagia, seakan semua masa lalu yang kelam sudah benar-benar terkubur dalam-dalam dan tidak akan pernah muncul lagi. Namun, siapa sangka bahwa takdir masih menyimpan satu kejutan besar yang akan mengguncang kedamaian yang sudah mereka bangun dengan susah payah selama bertahun-tahun. Kejutan yang berasal dari bagian masa lalu yang sama sekali tidak pernah mereka duga.
Suatu pagi yang cerah, saat Ain sedang memeriksa laporan keuangan dan kegiatan harian di ruang kerjanya, seorang gadis muda berdiri di depan pintu dengan ragu-ragu. Gadis itu terlihat masih sangat muda, sekitar 19 atau 20 tahun, wajahnya cantik tapi pucat dan penuh kesedihan, matanya merah karena terlalu banyak menangis. Pakaiannya sederhana agak kusam, seakan sudah lama tidak diganti, dan tubuhnya kurus kering seakan kurang makan dan perhatian.
"Selamat pagi Bu Ain... bolehkah saya masuk?" tanyanya pelan dengan suara gemetar, kepalanya terus menunduk tidak berani menatap mata Ain.
Ain segera menutup berkas-berkas di tangannya, berdiri dan tersenyum ramah, memberi isyarat agar gadis itu masuk dan duduk di kursi depan mejanya. "Tentu saja Nak, silakan masuk. Ada apa yang membuatmu terlihat begitu sedih? Ceritakan saja pada Ibu, di sini kamu aman, tidak perlu takut atau malu apa pun," kata Ain lembut, mencoba membuat gadis muda itu merasa tenang dan nyaman.
Gadis itu perlahan duduk, tangannya meremas ujung bajunya dengan kuat, napasnya keluar masuk dengan berat seakan menahan beban yang sangat berat di dadanya. Setelah hening beberapa saat, ia akhirnya mengangkat kepalanya sedikit, menatap Ain dengan mata yang berkaca-kaca.
"Nama saya Lira Bu... saya datang dari kota jauh di sebelah timur, perjalanan saya memakan waktu hampir tiga hari naik bus dan mobil. Saya datang khusus untuk menemui Ibu, Bu Nova, dan Bu Sari. Sebenarnya... saya datang untuk menyampaikan pesan sekaligus membuka satu rahasia besar yang selama ini tidak pernah kalian ketahui. Rahasia yang disembunyikan sangat rapat sampai orang yang mengetahuinya meninggal dunia baru-baru ini," katanya dengan suara yang hampir tidak terdengar, membuat hati Ain langsung berdebar kencang dengan firasat buruk.
Ain merasa ada sesuatu yang tidak beres, jantungnya berdetak semakin cepat, dingin merayap di sekujur tubuhnya. Ia segera memanggil Nova dan Sari untuk datang ke ruangannya, merasa bahwa hal yang akan didengar ini sangat penting dan berkaitan dengan mereka bertiga. Tidak lama kemudian Nova dan Sari datang, duduk di sebelah Ain, menatap gadis muda itu dengan penuh tanda tanya dan kekhawatiran.
"Baik Nak Lira, sekarang kami bertiga sudah ada di sini. Katakan apa saja yang ingin kamu sampaikan, jangan ada yang disembunyikan apa pun itu, kami siap mendengarkan," kata Ain dengan suara tenang meski di dalam hatinya sudah penuh ketakutan dan kecemasan.
Lira menarik napas panjang, menyeka air mata yang mulai menetes di pipinya, lalu mulai menceritakan semuanya dari awal dengan jelas dan terperinci.
"Sebenarnya... saya adalah anak bungsu dari wanita bernama Ratih. Kalian mungkin tidak pernah mendengar nama itu, tapi beliau adalah wanita lain yang juga pernah menjadi korban penipuan Hamid, sama seperti kalian bertiga. Beliau bertemu dengan Hamid sekitar 25 tahun yang lalu, saat Hamid masih bekerja sebagai sopir angkutan desa sebelum menjadi sopir travel seperti yang kalian kenal dulu. Saat itu Hamid masih muda, tampan, pandai bicara manis, dan pandai menyembunyikan identitas aslinya. Beliau jatuh cinta sepenuh hati pada Hamid, percaya semua janji manisnya, bahkan rela meninggalkan keluarganya dan pergi ikut Hamid ke tempat yang jauh," cerita Lira, membuat ketiga wanita itu terdiam kaku, darah mereka serasa berhenti mengalir mendengar nama baru yang sama sekali tidak mereka kenal.
"Dan sama seperti nasib kalian, Hamid akhirnya meninggalkan ibu saya begitu saja saat beliau sedang mengandung saya. Hamid bilang dia sudah tidak mencintai ibu saya lagi, bilang dia sudah menemukan wanita lain yang lebih baik, lebih cantik, dan lebih kaya. Ibu saya hancur lebur, hampir gila karena kesedihan dan rasa malu. Keluarganya mengusirnya karena hamil di luar nikah, tidak ada satu pun yang mau membantunya atau menerimanya. Akhirnya ibu saya hidup menyendiri di tempat terpencil, menderita dan bekerja sangat keras untuk membesarkan saya seorang diri tanpa bantuan siapa pun," lanjut Lira, air matanya mengalir semakin deras, suaranya terputus-putus karena tangis yang menahan amarah dan kesedihan mendalam.
"Selama bertahun-tahun ibu saya hidup dalam penderitaan, rasa sakit, dan rasa malu yang tidak pernah hilang. Beliau selalu menyimpan dendam dan kebencian yang sangat besar pada Hamid, juga pada semua wanita yang pernah menjadi pasangannya, karena ibu saya merasa kalian semua penyebab Hamid meninggalkan beliau. Beliau selalu bilang kalau kalian semua mengambil kebahagiaan dan nasib baik yang seharusnya menjadi milik kami. Beliau sering sakit-sakitan karena terlalu banyak pikiran dan kesedihan, sampai akhirnya sebulan yang lalu beliau meninggal dunia karena sakit hati yang sudah parah," isak Lira, membuat hati Ain, Nova, dan Sari terasa tercabik-cabik, rasa bersalah yang sudah lama hilang kini kembali menyerbu masuk dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
"Tapi sebelum meninggal, ibu saya menyuruh saya datang menemui kalian bertiga. Beliau bilang dia tidak mau membawa rahasia ini ke dalam kubur, dan ada satu hal yang paling penting harus kalian ketahui. Saat Hamid meninggal dulu, ternyata beliau tidak hanya meninggalkan harta dan surat untuk kalian bertiga saja. Ada satu amplop besar tersendiri yang disimpan ibu saya selama ini, yang ditujukan khusus untuk kalian semua. Isinya adalah catatan harian lengkap Hamid selama bertahun-tahun, yang berisi semua kejadian, semua kebohongan, semua rahasia, dan semua dosa yang pernah beliau lakukan seumur hidupnya. Ibu saya bilang, ini hak kalian untuk tahu kebenaran yang sebenarnya, sepenuhnya tanpa ada yang ditutupi lagi," kata Lira sambil mengeluarkan sebuah amplop besar berwarna cokelat yang sudah sangat kusam, warnanya memudar dan kertasnya sudah agak rapuh dimakan usia, lalu menyerahkannya kepada Ain dengan tangan gemetar.
Ain menerima amplop itu dengan tangan yang sama gemetar, dadanya terasa sesak luar biasa. Mereka tidak menyangka bahwa Hamid ternyata memiliki lebih banyak korban dari yang mereka bayangkan, tidak menyangka ada wanita lain yang menderita lebih parah dan lebih lama dari mereka. Rasa bersalah dan rasa sedih memenuhi seluruh hati mereka, merasa bahwa bagian dari penderitaan wanita bernama Ratih itu juga menjadi tanggung jawab mereka, meskipun mereka sama sekali tidak tahu keberadaannya dulu.
"Terima kasih Nak Lira, terima kasih sudah mau datang dan memberitahu kami semua ini. Kami benar-benar tidak tahu sama sekali, kami tidak bermaksud menyakiti ibumu atau membuat kalian menderita begini. Kami juga korban sama seperti ibumu, kami juga baru tahu semua kejahatan Hamid saat semuanya sudah terlambat," kata Ain dengan suara parau, matanya penuh air mata, ia segera memeluk gadis muda itu erat-erat, mencoba memberikan rasa tenang dan kasih sayang yang selama ini tidak pernah Lira dapatkan.
Nova dan Sari juga ikut menangis, mereka merasa sangat sedih mendengar nasib Ratih dan anaknya. Mereka berjanji dalam hati akan menerima Lira sebagai bagian dari keluarga mereka, akan memberikan semua yang dibutuhkan gadis muda itu sebagai bentuk penebusan dosa dan rasa hormat pada almarhumah Ratih.
"Jangan khawatir Nak, mulai hari ini kamu tidak sendirian lagi. Kamu punya kami, kami akan menjadi ibumu, keluargamu, tempat berlindungmu selamanya. Kamu tidak perlu menderita atau hidup susah lagi seperti ibumu dulu," kata Sari sambil memegang tangan Lira dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Setelah Lira sedikit tenang dan ditenangkan di ruangan lain, ketiga wanita itu membuka amplop besar itu dengan hati-hati. Isinya berupa buku catatan tebal berisi tulisan tangan Hamid yang panjang dan rinci, menceritakan semua perjalanan hidupnya dari kecil sampai akhir hayatnya. Saat mulai membaca lembar demi lembar tulisan itu, mereka semakin terkejut dan hancur. Ternyata Hamid selama hidupnya sudah menyakiti dan menghancurkan hidup lebih dari sepuluh wanita di berbagai tempat, semua dengan cara yang sama: kata-kata manis, janji palsu, lalu dibuang begitu saja saat bosan atau menemukan yang baru. Semua rahasia yang selama ini tersembunyi kini terbuka sepenuhnya di depan mata mereka, membuat mereka semakin sadar betapa jahat dan berbohongnya pria yang pernah mereka cintai dulu.
Mereka sadar, tugas mereka belum selesai. Rumah Harapan yang sudah dibangun ternyata belum cukup, mereka harus memperluas jangkauan, mencari dan membantu semua wanita lain yang pernah menjadi korban Hamid, memberikan keadilan dan kebahagiaan yang selama ini dirampas dari mereka. Perjalanan panjang dan berat masih menanti di depan mata, tapi kali ini mereka tidak akan mundur lagi. Mereka akan terus berjuang sampai semua kebenaran terungkap dan semua korban mendapatkan hak serta kebahagiaan yang layak mereka dapatkan.