JANGAN DIBACA NANTI KETAGIHAN! 😝😘
Bagi Haura Widjaja, hidup adalah angka, target, dan ruko jastip yang harus berjalan sempurna. Di usianya yang ke-38, ia tidak butuh pria—apalagi bocah tengil yang hobi menebar pesona.
Namun, Marco Permana hadir membawa kekacauan. Mahasiswa DKV berusia 20 tahun itu bukan hanya sekadar asisten magang yang nekat; dia adalah bratt yang tahu persis bagaimana cara meruntuhkan benteng pertahanan Haura.
Satu adalah "Beauty" yang kaku dan perfeksionis.
Satu adalah "Brat" yang liar dan tak kenal takut.
Dua dunia yang seharusnya tidak pernah beririsan kini terjebak di tengah tumpukan kardus dan aroma lakban. Ketika si bocah tengil memutuskan untuk memburu hati sang Ratu Jastip, bisakah Haura tetap dingin, atau justru ia yang akan bertekuk lutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Matahari sudah lama terbenam, menyisakan lampu-lampu kota Jakarta yang berpendar melalui dinding kaca besar ruko. Kesibukan hari ini telah usai; Arlo, Kevin, dan Emilia sudah melesat pulang dengan motor dan mobil mereka masing-masing, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di lantai satu yang kini hanya diterangi lampu pilar yang remang.
Haura berdiri di dekat pintu kaca, baru saja mengunci rolling door bagian dalam. Ia menoleh ke belakang, mendapati Marco yang sedang duduk di atas meja packing kayu yang kokoh. Pemuda itu sedang mengamati salah satu pena dari set hadiah yang diberikan Haura tadi siang.
"Co, lo nggak mau ke kontrakan gue aja atau rumah Arlo tuh?" celetuk Kevin sebelum ia benar-benar keluar tadi. "Daripada di sini sendirian, ntar lo digangguin penunggu ruko, tahu rasa lo."
Marco tidak menoleh pada Kevin. Matanya justru tertuju lurus pada punggung Haura yang terbalut blus sutra berwarna emerald. "Nggak. Gue suka di sini."
Begitu pintu benar-benar tertutup rapat dan suara deru knalpot teman-temannya menjauh, keheningan di dalam ruko menjadi begitu nyata. Haura menghela napas, berjalan mendekati Marco dengan langkah yang sedikit ragu.
"Marco, ini udah jam sebelas malam," suara Haura memecah sunyi. "Kamu beneran mau tidur di kamar tamu yang sempit itu?"
Marco melompat turun dari meja packing dengan satu gerakan mulus. Ia melangkah mendekati Haura, memangkas jarak hingga wanita itu bisa merasakan aroma maskulin yang bercampur dengan bau kertas baru di tubuh pemuda itu.
"Gue nggak bilang gue mau tidur di kamar tamu," bisik Marco, suaranya berat, serak, dan penuh magnet yang berbahaya.
Haura tertegun, punggungnya menabrak tumpukan kardus yang sudah siap kirim. Ia mendongak, mendapati tatapan Marco yang tidak lagi jenaka. Tatapan itu berubah liar, seperti api yang telah disiram minyak. "Terus... kamu mau apa?"
Marco tidak menjawab. Tangan besarnya terulur, jemarinya yang hangat menyusuri garis rahang Haura, turun ke leher, lalu berhenti tepat di tenggorokan wanita itu di mana denyut nadinya berdegup kencang. Ia mendekatkan wajahnya, napasnya yang panas menerpa bibir Haura. "Gue pengen lo. Cuma lo."
Haura merasa dunianya berputar. Logikanya memerintahkan untuk berlari, namun tubuhnya justru menegang, menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya. "Marco... kita di ruko. Ini gila."
"Gue emang gila karena lo," sahut Marco. Ia menarik pinggang Haura dengan satu sentakan, membuat tubuh wanita itu merapat sempurna pada tubuhnya yang bidang.
Marco menunduk, mencium leher Haura dengan intens, meninggalkan jejak-jejak hangat di kulit halus yang kini memerah. Haura mendesah, kepalanya terkulai ke belakang, membiarkan Marco menjelajahi setiap inci area sensitifnya. Tangan Haura yang gemetar meremas rambut tebal Marco, menariknya semakin dekat seolah dia tidak ingin melepaskan pria di depannya.
Marco mengangkat Haura ke atas meja packing kayu yang luas. Meja itu berdenting pelan saat pinggul Haura menyentuh permukaannya yang dingin. Tanpa memutus tautan bibir mereka, Marco menekan tubuhnya lebih dalam ke arah Haura.
"Ra," desis Marco di sela ciuman mereka yang kini terasa sangat menuntut. "Malam ini, jangan minta gue buat berhenti."
Haura tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melingkarkan kakinya di pinggang Marco, menarik pria muda itu dalam ciuman yang lebih dalam dan penuh gairah. Tangannya bergerak liar, membuka kancing blus Haura satu per satu dengan jari yang sedikit gemetar karena adrenalin.
Keadaan di dalam ruko mendadak terasa begitu panas. Suara napas mereka yang memburu, gesekan kain, dan rintihan tertahan Haura memenuhi ruang packing yang biasanya hanya berisi suara lakban. Marco bertindak dengan dominasi yang tak terbantahkan, memperlakukan Haura bukan sebagai bos, melainkan sebagai satu-satunya wanita yang ia inginkan di dunia ini.
Di atas meja packing yang keras, di antara tumpukan barang jastip yang menjadi saksi bisu, mereka larut dalam gairah yang liar. Tidak ada lagi perbedaan umur, tidak ada lagi status sosial yang membatasi. Hanya ada dua jiwa yang saling mencari kepuasan di tengah malam yang panjang.
Marco memuja setiap inci tubuh Haura, memberikan ciuman dan sentuhan yang membuat wanita itu merasa hidup kembali. Haura, yang selama ini selalu menutup diri dalam topeng Boss Lady yang sempurna, kini membiarkan dirinya hancur berantakan di bawah sentuhan berondong yang mencintainya dengan cara yang begitu ekstrem.
Setiap gerakan terasa lebih intens. Marco memastikan setiap sentuhannya membawa Haura ke puncak yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Di dalam ruangan yang hanya diterangi lampu remang, bayangan mereka menari di dinding, menyatu menjadi satu kesatuan yang utuh.
Ketika semua gairah itu memuncak, ruko yang biasanya sibuk dengan pesanan orang lain, kini menjadi saksi akan janji mereka. Marco membisikkan sesuatu di telinga Haura, sebuah janji yang akan mengubah segalanya esok pagi.
Saat napas mereka akhirnya kembali teratur, Marco memeluk Haura dengan erat. Mereka berdua terdiam, membiarkan detak jantung mereka perlahan melambat. Haura menyandarkan kepalanya di bahu Marco yang kini basah oleh keringat.
"Besok," bisik Marco, mengecup bahu Haura dengan lembut. "Besok, dunia nggak bakal sama lagi buat kita."
Haura tidak menjawab, ia hanya mengeratkan pelukannya. Malam itu, di dalam ruko yang terkunci rapat, mereka berdua telah melewati garis yang tak akan pernah bisa ditarik kembali. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Haura merasa dia akhirnya menemukan tempat di mana dia bisa menjadi dirinya sendiri—bukan sebagai seorang bos, bukan sebagai putri dari keluarga Widjaja, tapi sebagai wanita yang dicintai dengan cara yang paling liar dan berapi-api oleh Marco Permana.
***
Cahaya matahari pagi yang menusuk melalui celah-celah rolling door ruko jastip seolah menjadi alarm alami yang tidak diharapkan. Di dalam kamar tamu lantai bawah yang sempit, suasana masih terasa begitu hangat dan berat. Marco terbaring telentang, dengan satu tangan masih melingkar protektif di atas pinggang Haura, sementara wanita itu meringkuk nyaman dalam dekapannya, kepalanya terbenam di ceruk leher pemuda itu.
Napas Haura masih teratur, menunjukkan bahwa ia belum berniat bangun dari tidurnya yang nyenyak. Di wajahnya, sisa-sisa kelelahan dan gairah semalam masih terlihat samar, namun terselip kedamaian yang belum pernah ia rasakan selama bertahun-tahun hidup di bawah tekanan keluarga Widjaja.
Di luar kamar, tepatnya di area operasional ruko, Emilia baru saja membuka rolling door dengan kunci cadangannya. Ia datang lebih awal karena berniat menyelesaikan laporan stok yang tertunda. Namun, langkahnya terhenti seketika di tengah ruko.
Mata Emilia membelalak lebar, hampir keluar dari soketnya.
Pemandangan di depannya benar-benar kacau. Meja packing yang biasanya menjadi kebanggaan ruko karena kerapiannya, kini tampak seperti baru saja diterjang badai. Beberapa kardus terbalik, gulungan lakban berserakan di lantai, dan yang paling membuatnya syok adalah tas tangan milik Haura yang tergeletak begitu saja di atas meja kerja, persis di tempat mereka melakukan "eksekusi" semalam.
"What...?" gumam Emilia pelan, suaranya tercekat. Ia menatap sekeliling, lalu matanya terpaku pada pintu kamar tamu di sudut lorong yang tertutup rapat. "Jangan bilang... jangan bilang mereka beneran...?"
Emilia melangkah mendekat dengan sangat hati-hati, seperti seorang detektif yang sedang menyelinap ke TKP. Ia bisa mendengar suara napas yang teratur dari balik pintu kayu itu. Rasa panik dan rasa ingin tahu yang besar bercampur menjadi satu di dadanya. Tanpa sadar, ia mengetuk pintu tersebut dengan pelan.
"Ra? Haura? Lo di dalem?" panggil Emilia dengan suara yang ia usahakan setenang mungkin.
Di dalam kamar, Haura tersentak bangun. Matanya terbuka lebar, dan saat ia menyadari di mana ia berada dan dalam pelukan siapa ia tertidur, jantungnya seolah berhenti berdetak.
"Em... Emilia?" bisik Haura panik, suaranya gemetar. Ia segera melepaskan pelukan Marco dengan gerakan terburu-buru, hampir jatuh dari kasur kalau saja Marco tidak menahannya dengan tangan yang masih cukup kuat meski setengah sadar.
Marco mengerang pelan, matanya yang sayu terbuka perlahan. Ia menatap Haura dengan senyum miring yang sangat menyebalkan. "Baru jam tujuh pagi, Sayang. Biarin aja dia nunggu di luar."
"Marco! Diam!" bisik Haura galak, wajahnya kini merah padam semerah tomat. Ia menepuk tangan Marco agar melepaskannya. "Itu Emilia! Dia lihat tas aku di meja! Gawat, gawat, gawat!"
Haura dengan panik mencari-cari pakaiannya yang berserakan. Ia harus terlihat seolah-olah dia baru saja datang, bukan baru saja menghabiskan malam yang panas di sini.
"Ra? Lo denger gue kan? Gue masuk ya?" teriak Emilia dari luar, diikuti suara gagang pintu yang mulai diputar.
"Jangan! Jangan masuk, Em!" teriak Haura kalap, akhirnya berhasil memakai blusnya dengan sedikit berantakan. "Tunggu lima menit! Aku... aku lagi ganti baju!"
Emilia berhenti memutar gagang pintu, ia tertawa sinis di balik pintu. "Oh, ganti baju? Di jam tujuh pagi? Di ruko? Nice excuse, Ra. Gue tunggu di depan, dan kalau kalian nggak keluar dalam lima menit, gue bakal panggil Arlo sama Kevin biar mereka bisa liat 'keajaiban' apa yang terjadi di sini."
Haura mendesah frustrasi, menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangannya. "Habis sudah karier aku. Emilia pasti bakal ngeledek aku seumur hidup."
Marco bangkit dari kasur, ia merapikan rambutnya yang berantakan dengan santai, lalu menatap Haura dengan tatapan teduh. "Biarin aja dia tahu, Ra. Bukannya dari kemarin kita udah nggak bisa nutupin lagi?"
"Tapi nggak begini caranya, Marco!" protes Haura dengan nada memelas.
Mereka akhirnya keluar dari kamar tamu dengan wajah yang dipaksakan senormal mungkin. Haura merapikan rambutnya berkali-kali, sementara Marco berjalan di belakangnya dengan senyum puas yang tidak bisa ia sembunyikan.
Begitu mereka keluar ke area operasional, Emilia sudah berdiri dengan tangan bersedekap di dada, menatap mereka dari atas ke bawah dengan tatapan tajam.
"Jadi?" tanya Emilia menuntut. "Kalian beneran...?"
Haura menatap lantai, tidak berani membalas tatapan sahabatnya. "Em... aku bisa jelasin..."
"Jelasin apa?" potong Emilia, suaranya meninggi. "Tas lo ada di meja packing, baju lo kelihatan kusut banget, dan lo berdua keluar dari kamar tamu jam segini? Haura, lo sadar nggak apa yang lo lakuin? Dia itu anak magang, lo bosnya, dan kalian... oh my god, gue beneran nggak percaya ini!"
Marco melangkah maju, berdiri di samping Haura dan merangkul bahu wanita itu dengan protektif. Haura sempat ingin menepisnya, tapi kali ini ia merasa butuh dukungan itu.
"Em, dengerin aku," ucap Haura, suaranya kini lebih tenang meski masih terselip rasa gugup yang hebat. "Semalam aku... aku emang butuh dia. Dia habis dipukul sama papanya, dia nggak punya tempat pulang. Dan... ya, semuanya terjadi begitu saja. Aku tahu ini nggak profesional, dan aku tahu ini salah secara etika pekerjaan. Tapi..."
"Tapi apa?" tanya Emilia, suaranya melunak sedikit saat melihat air mata yang menggenang di pelupuk mata Haura.
"Tapi aku nyaman sama dia," sambung Haura, menatap Marco sejenak sebelum kembali menatap Emilia. "Dan aku nggak mau bohong lagi sama kamu. Kita... ya, kita emang lagi dekat. Lebih dari sekadar hubungan bos dan asisten."
Emilia memijat pelipisnya, merasa kepalanya mau pecah. "Gue tahu kalian dekat, Ra. Tapi nggak nyangka bakal secepat ini dan sedekat ini! Lo itu dewasa, Ra. Lo punya reputasi! Kalau Pak Anggara tahu, apa yang bakal terjadi sama ruko ini?"
"Itu urusan nanti, Em," potong Marco dengan nada yang tegas namun sopan. "Yang penting sekarang, Haura bahagia. Dan gue nggak bakal biarin dia sendirian lagi ngadepin tekanan keluarganya."
Emilia menatap mereka berdua bergantian, lalu menghela napas panjang, rasa frustrasinya perlahan berubah menjadi rasa kasihan sekaligus rasa pasrah. "Oke, oke. Gue nggak bakal bilang siapa-siapa dulu. Tapi tolong, bersihin meja packing itu sekarang juga! Jangan sampai Kevin atau Arlo lihat sisa-sisa kelakuan kalian di sana!"
Haura tersipu malu, ia langsung bergegas menuju meja packing untuk merapikan segalanya secepat mungkin. Marco hanya tertawa kecil, memberikan tatapan penuh rasa terima kasih kepada Emilia.
Di tengah kekacauan itu, Haura menyadari bahwa apa yang dikatakan Marco tadi malam benar adanya: mulai pagi ini, dunianya benar-benar sudah berubah. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi batasan, dan mungkin, tidak ada lagi jalan untuk kembali ke kehidupannya yang tenang dan membosankan. Kini, dia punya Marco, dan dia harus siap menghadapi segala konsekuensi yang akan datang setelah pagi yang berantakan ini.
***
Malem-malem aku dapet notif kalo novelku yang sebelah masuk kategori YAAW dong 😝😍😍
ada masih inget Mika sama Al nggak, hehe♥️😭
Doain ya gaes aku menang. Bismillah 🙏
Aku percaya banget sih Alvaro bakal menang 😍
semangattt