NovelToon NovelToon
THE BRITISH ROYAL FAMILY

THE BRITISH ROYAL FAMILY

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: Moms Celina

Deskripsi

The British Royal Family karya Moms Celina adalah novel roman kerajaan yang mengisahkan perjuangan cinta, pengorbanan, dan harapan kedua kalinya. Berlatar di istana megah Inggris, cerita ini mengikuti perjalanan Elizabeth yang harus menyeimbangkan hati dan tanggung jawab, serta Taylor yang harus memilih antara takhta dan orang yang dicintainya. Dengan alur yang menegangkan, adegan yang hangat, dan konflik yang menyentuh hati, novel ini cocok bagi pembaca yang menyukai kisah cinta yang melawan aturan, serta ikatan keluarga yang tak tergoyahkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms Celina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang di Balik Senyuman

Angin sore bertiup semakin kencang, menggoyangkan kelopak bunga mawar yang mekar di sekeliling mereka, seolah ikut merasakan gejolak yang meledak di dalam dada setiap orang yang ada di situ. Taylor masih berlutut di atas rumput, memeluk tubuh mungil Hunter erat-erat seolah takut anaknya akan lenyap begitu saja jika dia melepaskannya sedikit pun. Air mata yang selama bertahun-tahun dia tahan, akhirnya jatuh bebas membasahi pipinya, menetes ke bahu anak laki-lakinya.

Selama ini dia hidup dalam kekosongan. Sejak Elizabeth pergi tanpa pesan, tanpa kabar, dia berusaha menenggelamkan dirinya dalam tugas kerajaan, berusaha menjadi sosok Pangeran yang tangguh dan sempurna seperti yang diharapkan seluruh rakyat dan anggota istana. Tapi di balik seragam kebesarannya, di balik senyum yang selalu dia pamerkan di depan umum, hatinya selalu terasa hampa, seolah separuh jiwanya ikut pergi bersama wanita yang dia cintai. Dan kini, di hadapannya berdiri bukan hanya Elizabeth, tapi juga buah hati mereka—bukti dari cinta yang pernah mereka miliki, yang kini tumbuh menjadi anak laki-laki yang tampan dan ceria.

“Ayah menangis ya?” suara polos Hunter terdengar lembut di telinga Taylor. Anak itu mengangkat tangannya yang mungil, mengusap pipi ayahnya yang basah dengan jari-jarinya yang halus. “Jangan menangis, Ayah. Hunter senang akhirnya bertemu Ayah.”

Kata-kata sederhana itu membuat hati Taylor terasa meleleh. Dia mengangkat wajahnya, menatap mata anaknya yang cokelat terang, persis seperti mata Elizabeth, lalu mencium kening anaknya berulang kali dengan penuh kasih sayang. “Ayah tidak menangis karena sedih, Nak. Ayah menangis karena bahagia. Sangat bahagia, sampai Ayah tak bisa menahan air mata ini.”

Elizabeth berdiri di tempatnya, memandang kedua orang yang dia cintai dengan air mata yang menetes di pipinya. Selama empat tahun dia membesarkan Hunter sendirian, ada kalanya dia merasa lelah, ada kalanya dia merasa takut tak bisa memberikan yang terbaik untuk anaknya, dan ada kalanya dia rindu pada laki-laki yang selalu ada di dalam hatinya. Kini melihat mereka berdua bersama, dia merasa bahwa semua perjuangan dan rasa sakit yang dia lalui selama ini terbayar lunas.

Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Dari arah gerbang taman, terdengar langkah kaki yang teratur dan cepat, membuat ketiganya menoleh ke arah sumber suara. Terdapat tiga orang laki-laki berjalan mendekat, dengan pakaian rapi dan sikap yang penuh wibawa. Di depan berjalan Xaverius, penasihat utama keluarga kerajaan yang selama ini selalu berada di sisi Raja dan Ratu. Di belakangnya ada Savero dan Briant, dua orang pengawal pribadi yang selalu mengikuti ke mana pun Taylor pergi.

Wajah Xaverius yang biasanya selalu tenang dan ramah, kini terlihat kaku dan penuh kekhawatiran. Dia berhenti beberapa langkah dari mereka, lalu membungkuk sedikit sebagai tanda hormat, sebelum matanya beralih menatap Elizabeth dengan pandangan yang sulit diartikan.

“Yang Mulia,” ucap Xaverius dengan suara rendah, matanya melirik sekeliling untuk memastikan tak ada orang lain yang memperhatikan mereka. “Kami sudah mencarinya ke seluruh penjuru kawasan istana. Raja dan Ratu menunggu Anda untuk menghadiri jamuan makan malam bersama para duta besar dari luar negeri. Kita harus segera pergi, Yang Mulia.”

Taylor perlahan berdiri, masih memegang tangan kecil Hunter erat-erat, matanya menatap tajam ke arah penasihat itu. “Aku tak akan pergi ke mana pun sekarang, Xaverius. Ada hal yang jauh lebih penting yang harus aku selesaikan di sini.”

Wajah Xaverius berubah sedikit pucat. Dia melirik Elizabeth sekali lagi, lalu menatap gadis kecil yang berdiri di samping Pangeran, sebelum kembali berbicara dengan nada yang lebih rendah dan tegas. “Yang Mulia, Anda tahu betul aturan yang berlaku di istana. Kehadiran wanita ini, dan anak ini... hal ini bisa menimbulkan masalah yang sangat besar. Raja dan Ratu takkan senang jika mengetahui hal ini, apalagi saat kita sedang dalam masa kunjungan kenegaraan yang sangat penting. Kita harus menyelesaikan ini dengan cara yang benar dan teratur, tanpa menarik perhatian orang banyak.”

Kata-kata penasihat itu seperti air dingin yang disiramkan ke atas kepala Elizabeth. Dia sadar, sejak awal dia tahu bahwa kembali ke sini berarti dia harus menghadapi aturan yang keras, aturan yang pernah memisahkan mereka berdua lima tahun yang lalu. Di mata keluarga kerajaan, status Elizabeth bukanlah orang yang pantas berada di sisi pewaris takhta. Dia hanyalah anak dari keluarga bangsawan kelas bawah, tanpa pengaruh dan kekuasaan, yang dianggap tak pantas menjadi ibu dari pewaris darah kerajaan.

“Xaverius benar, Taylor,” suara Elizabeth terdengar lembut namun tegas, membuat semua mata beralih menatapnya. “Kita tak bisa membiarkan hal ini tersebar begitu saja. Kita tak bisa membuat masalah di saat situasi sedang seperti ini. Aku dan Hunter akan pulang dulu. Kita bisa bicara lagi nanti, saat waktunya sudah tepat.”

Taylor menoleh menatap wanita yang dia cintai, matanya memancarkan rasa takut kehilangan yang sama seperti lima tahun yang lalu. “Aku takkan membiarkanmu pergi lagi, El. Tidak kali ini. Aku takkan membiarkan aturan bodoh atau siapa pun memisahkan kita lagi. Kamu dan Hunter adalah keluargaku, dan aku takkan membiarkan siapa pun menyakiti kalian.”

“Tapi kita harus berhati-hati, Taylor,” jawab Elizabeth, tangannya terulur untuk menyentuh lengan laki-laki itu dengan lembut. “Aku tak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu, atau pada Hunter. Aku sudah menunggu lima tahun, aku bisa menunggu sedikit lebih lama lagi. Yang penting kita sudah bertemu, dan aku tahu kau akhirnya tahu kebenaran.”

Hunter memandang wajah ayah dan ibunya bergantian, lalu menarik ujung seragam ayahnya dengan tangannya yang kecil. “Ayah, Ibu benar. Kita bisa main lagi besok, kan? Hunter mau main bola sama Ayah.”

Mendengar suara anaknya, napas Taylor perlahan teratur kembali. Dia menatap mata Elizabeth dalam-dalam, seolah ingin mengingat setiap detil wajah wanita itu, sebelum akhirnya dia mengangguk perlahan. “Baiklah. Tapi berjanjilah padaku, kau takkan pergi lagi. Kau takkan menyembunyikan dirimu dariku lagi. Aku akan datang menemuimu besok pagi, tak peduli apa pun yang terjadi. Katakan padaku di mana tempat tinggalmu, aku akan datang sendiri.”

Elizabeth memberinya alamat rumah yang disiapkan Fransiskus, lalu mereka berpisah di gerbang taman. Taylor memandang punggung wanita dan anaknya yang berjalan menjauh, sampai mereka lenyap di ujung jalan, sebelum akhirnya dia berbalik dan masuk ke dalam mobil bersama rombongannya. Sepanjang perjalanan kembali ke istana, dia duduk diam di kursi belakang, tangannya tergenggam erat, matanya menatap keluar jendela tanpa melihat apa-apa. Di dalam pikirannya, ribuan rencana dan pertanyaan berputar kencang. Dia harus mencari cara untuk membuat keluarganya diakui, dia harus melawan aturan yang sudah ada selama ratusan tahun, dan dia harus menghadapi orang tuanya yang takkan mudah menerima kenyataan ini.

Sementara itu, di dalam mobil, Xaverius duduk di kursi depan, matanya menatap ke arah jalan, tapi pikirannya melayang ke kejadian yang baru saja dia saksikan. Dia sudah mendengar desas-desus selama lima tahun ini, dia tahu bahwa Elizabeth adalah wanita yang dicintai Pangeran, dan dia tahu bahwa kepergian wanita itu adalah penyebab perubahan besar pada sifat dan sikap Taylor. Tapi dia tak pernah menyangka bahwa di balik kepergian itu, tersembunyi sebuah rahasia yang bisa mengguncang seluruh fondasi keluarga kerajaan.

Sesampainya di dalam Istana Buckingham, Taylor langsung berjalan masuk ke dalam kamar pribadinya, mengabaikan semua orang yang menyapanya di sepanjang lorong. Begitu pintu kamarnya tertutup rapat, dia menyandarkan punggungnya di balik pintu, lalu menghembuskan napas panjang yang tertahan sejak tadi. Tangannya terangkat menyentuh dadanya, merasakan detak jantungnya yang masih berdebar kencang. Selama ini dia berpikir bahwa dia harus berjuang sendirian, tapi kini dia menyadari bahwa dia tak lagi sendirian. Dia memiliki keluarga, dan dia akan melakukan apa saja untuk melindungi mereka.

Namun ketenangan di dalam hatinya tak berlangsung lama. Terdengar ketukan di pintu, dan suara David, salah satu sahabat dan penasihat kepercayaannya, terdengar dari balik pintu. “Yang Mulia, Raja dan Ratu memanggil Anda ke ruang kerja mereka. Mereka ingin membahas persiapan jamuan malam ini, dan juga rencana perjalanan Anda ke negara tetangga bulan depan.”

Jantung Taylor terasa berdebar kencang lagi. Dia tahu bahwa pertemuan dengan orang tuanya kali ini takkan berjalan mulus. Jika Xaverius saja sudah bereaksi sekeras itu, dia bisa membayangkan betapa marah dan kecewanya Raja dan Ratu saat mengetahui kebenaran. Dia menghembuskan napas sekali lagi, lalu berjalan membuka pintu. “Baiklah. Aku akan datang sekarang juga.”

Saat dia berjalan menuju lorong sayap barat istana, tempat kamar dan ruang kerja Raja dan Ratu berada, dia melihat Guetta dan Berlin berdiri di dekat jendela, berbisik-bisik satu sama lain, dan menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Keduanya adalah kerabat jauh dari keluarga kerajaan, yang selalu mencari kesempatan untuk mendapatkan kekuasaan dan pengaruh lebih besar di dalam istana. Selama ini mereka selalu berusaha mendekatinya, tapi Taylor selalu tahu bahwa niat mereka tak pernah tulus.

Saat matanya bertemu dengan mata Guetta, wanita itu tersenyum tipis, senyuman yang terasa dingin dan penuh makna tersembunyi, sebelum akhirnya dia membungkuk sedikit sebagai tanda hormat. “Selamat sore, Yang Mulia. Wajah Anda terlihat sangat berseri hari ini. Apakah ada kabar gembira yang datang menghampiri Anda?”

Suara wanita itu terdengar manis, tapi bagi Taylor itu terdengar seperti ancaman terselubung. Dia hanya mengangguk singkat, lalu berjalan melewati mereka tanpa menjawab sepatah kata pun. Dia tahu bahwa kabar tentang kehadiran Elizabeth dan anaknya takkan bisa disembunyikan selamanya. Di dalam istana ini, dinding memiliki telinga, dan setiap langkah yang dia ambil pasti akan diawasi dan dibicarakan. Jika Guetta dan Berlin sudah mulai mencium sesuatu, maka tak lama lagi seluruh penghuni istana akan tahu, dan hal itu hanya akan membuat perjuangannya menjadi semakin sulit.

Sesampainya di depan pintu ruang kerja Raja, dia berhenti sejenak untuk mengatur napas dan menenangkan pikirannya, sebelum akhirnya dia mengetuk pintu dan masuk ke dalam. Di dalam ruangan yang luas dan mewah itu, Raja duduk di kursi besar di belakang meja kerjanya, sementara Ratu berdiri di dekat jendela, memandang keluar ke arah taman istana dengan wajah yang tenang namun penuh perasaan.

“Kau terlambat, Taylor,” suara Raja terdengar berat dan tegas, membuat suasana di dalam ruangan menjadi semakin dingin. “Apa yang membuatmu begitu sibuk sampai melupakan tugas dan kewajibanmu sebagai Pangeran Kerajaan?”

Taylor berdiri tegak di tengah ruangan, menatap mata ayahnya dengan kepala terangkat tinggi. “Maafkan aku, Ayah. Aku bertemu seseorang yang sangat penting bagiku, dan hal itu membuatku terlewat waktu.”

Raja menatap anaknya dalam-dalam, matanya tajam seolah bisa membaca apa yang tersembunyi di dalam pikiran anaknya. “Aku dengar dari Xaverius bahwa kau bertemu dengan wanita yang membuatmu lupa akan segalanya lima tahun yang lalu. Wanita yang membuatmu berubah menjadi orang yang dingin dan keras selama ini. Wanita yang membuatmu melupakan posisimu dan kewajibanmu terhadap negara dan rakyatmu.”

Napas Taylor terasa tercekat. Dia tahu bahwa Xaverius pasti sudah melaporkan segalanya pada Raja. Dia menelan ludah, lalu menjawab dengan suara yang tenang namun tegas. “Benar, Ayah. Aku bertemu Elizabeth lagi. Dan kali ini aku takkan membiarkannya pergi lagi. Dia adalah wanita yang aku cintai, dan dia adalah ibu dari anakku.”

Suasana di dalam ruangan seolah berhenti bergerak. Ratu yang berdiri di dekat jendela berbalik cepat, matanya melebar tak percaya, sementara wajah Raja berubah merah padam karena marah.

“Anakmu?” suara Raja meninggi, tangannya mengepal di atas meja. “Kau benar-benar gila, Taylor! Kau tahu betul aturan yang berlaku! Wanita itu tak pantas berada di sisimu, apalagi menjadi ibu dari pewaris takhta! Dan kau berani menyembunyikan hal sebesar ini dari kami selama bertahun-tahun?!”

“Aku tak menyembunyikannya, Ayah! Aku baru tahu kebenarannya sore ini juga!” jawab Taylor, suaranya ikut meninggi, tak lagi bisa menahan amarah dan perasaannya. “Dan tak peduli apa kata aturan, tak peduli apa kata siapa pun, Elizabeth dan Hunter adalah keluargaku. Aku takkan membiarkan siapa pun memisahkan kami lagi, bahkan jika itu adalah Ayah dan Ibu sendiri!”

Di saat ketegangan mencapai puncaknya, pintu ruang kerja terbuka perlahan, dan Valeria berjalan masuk dengan langkah yang lembut dan anggun. Wanita muda itu adalah putri dari keluarga bangsawan tertinggi, yang selama ini dianggap sebagai calon istri yang sempurna untuk Taylor. Dia berjalan mendekat, lalu berdiri di samping Ratu, menatap Taylor dengan mata yang terlihat sedih dan terluka, seolah hatinya hancur mendengar kata-kata yang baru saja diucapkan Pangeran.

“Yang Mulia,” suaranya terdengar lembut dan bergetar, membuat semua mata beralih menatapnya. “Aku tahu perasaanmu, dan aku mengerti betapa besar cintamu pada wanita itu. Tapi tolong ingat, posisimu bukan hanya milikmu sendiri. Kau adalah pewaris takhta, dan kau memiliki tanggung jawab yang besar pada negara dan seluruh rakyat Inggris. Apakah kau rela mempertaruhkan masa depan kerajaan hanya demi perasaan pribadi?”

Taylor menatap wanita di hadapannya, lalu menatap orang tuanya, dan untuk pertama kalinya dia sadar seberapa berat perjuangan yang harus dia lalui. Di hadapannya berdiri aturan, tradisi, tekanan dari keluarga dan kerajaan, serta banyak orang yang ingin melihatnya gagal. Namun di dalam hatinya, ada dua orang yang dia cintai lebih dari nyawanya sendiri, dan dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan melakukan apa saja, tak peduli seberapa berat rintangannya, untuk bisa hidup bersama mereka selamanya.

Karena baginya, takhta dan kekuasaan tak ada artinya jika dia harus hidup tanpa orang yang dia cintai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!