NovelToon NovelToon
Kembaranku Penggantiku

Kembaranku Penggantiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Bullying dan Balas Dendam / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Nadira selalu hidup dalam bayang-bayang saudara kembarnya, Nayla. Wajah mereka identik, tetapi nasib mereka sangat berbeda. Nayla adalah anak kebanggaan keluarga—cantik, pintar, dan selalu diprioritaskan. Sementara Nadira dianggap cadangan, seseorang yang hanya dipanggil saat keluarga membutuhkan “pengganti.”
Semua berubah ketika Nayla mengalami kecelakaan misterius sehari sebelum pertunangannya dengan Arsen Wijaya, pewaris keluarga kaya yang dingin dan sulit ditebak. Demi menjaga nama baik keluarga dan kontrak bisnis miliaran rupiah, Nadira dipaksa menyamar menjadi Nayla sampai kondisi saudara kembarnya pulih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 — Arsen Tidak Pernah Memilihku

Hujan akhirnya reda menjelang subuh.

Udara dingin masih terasa saat mobil Arsen melaju pelan meninggalkan gudang tua itu. Jalanan kota mulai sepi.

Lampu-lampu jalan memantul di kaca mobil yang basah.

Namun suasana di dalam mobil jauh lebih sunyi.

Nayla duduk di depan sambil memandang keluar jendela tanpa bicara.

Sedangkan Nadira duduk di belakang bersama Arsen.

Tidak ada yang tahu harus mulai dari mana setelah malam segila itu.

Rafael tertangkap.

Mereka selamat.

Tapi anehnya…

Rasanya semuanya justru makin rumit.

“Aku mau turun di rumah sakit,” ujar Nayla tiba-tiba.

Papanya yang ikut di mobil lain langsung menelepon beberapa kali sejak tadi, tapi Nayla tidak mengangkat satu pun.

Arsen menatap kaca depan.

“Kondisimu belum stabil.”

“Aku nggak mau pulang.”

“Nay…”

“Aku capek.”

Suara Nayla kecil sekali.

Bahkan terdengar kosong.

Dan Nadira tahu kenapa.

Karena kehilangan orang yang dicintai dalam semalam rasanya memang seperti itu.

Meskipun orang itu menghancurkan hidupmu.

Satu jam kemudian mereka sampai di rumah sakit.

Nayla turun lebih dulu tanpa banyak bicara.

Namun sebelum masuk ke lobby, langkahnya berhenti.

Ia menoleh pelan ke arah Nadira dan Arsen.

Tatapannya jatuh pada tangan mereka yang tanpa sadar masih saling menggenggam sejak tadi di mobil.

Deg.

Nadira langsung melepaskan tangannya cepat-cepat.

Tapi terlambat.

Nayla sudah melihatnya.

Dan senyum kecil pahit muncul di wajah saudara kembarnya.

“Pantes aja.”

Kalimat itu pelan.

Namun cukup membuat dada Nadira langsung sesak.

“Nayla…” Nadira buru-buru turun dari mobil.

Namun Nayla menggeleng pelan.

“Tenang.”

Tatapannya beralih ke Arsen.

“Sekarang aku ngerti.”

Arsen diam.

Sedangkan Nadira mulai panik.

“Nggak kayak yang kamu pikir—”

“Arsen nggak pernah pilih aku ya?”

Deg.

Dunia terasa berhenti sesaat.

Nadira langsung membeku.

Dan Nayla tertawa kecil.

Tawa yang terlalu rapuh.

“Lucu juga.”

“Nay…”

“Selama ini aku pikir aku kalah

sama perempuan lain.”

Air mata mulai jatuh di pipinya.

“Padahal aku kalah sama saudara kembarku sendiri.”

“Nggak ada yang kalah,” kata Arsen akhirnya.

Nayla langsung menatapnya.

“Kalau nggak ada, kenapa kamu lihat dia kayak gitu?”

Sunyi.

Arsen tidak menjawab.

Dan diamnya itulah jawaban paling menyakitkan.

Nayla tersenyum kecil sambil mengusap air matanya sendiri.

“Setidaknya sekarang aku nggak penasaran lagi.”

Lalu tanpa bicara apa-apa lagi, ia berjalan masuk ke rumah sakit sendirian.

Meninggalkan Nadira dengan dada penuh rasa bersalah.

“Aku harus jelasin ke dia.”

Begitu masuk kembali ke mobil, Nadira langsung bicara cepat.

“Jelasin apa?”

“Kalau nggak ada apa-apa antara kita!”

Arsen menoleh santai.

“Kamu yakin?”

Deg.

Nadira langsung salah tingkah.

“Aku cuma nggak mau Nayla salah paham.”

“Dia nggak salah paham.”

Kalimat itu membuat jantung Nadira mulai kacau lagi.

“Arsen…”

Pria itu mengembuskan napas pelan lalu bersandar di kursi.

“Mau sampai kapan pura-pura nggak sadar?”

Nadira langsung diam.

Karena itulah masalahnya.

Ia sadar.

Terlalu sadar.

Dan justru itu yang membuatnya takut.

“Aku saudara kembar tunangan kamu,” bisiknya lirih.

“Tunangan.”

Arsen menekankan satu kata itu pelan.

“Bukan istri.”

“Itu tetap salah.”

“Menurut siapa?”

“Menurut semua orang normal!”

Arsen tertawa kecil.

Namun matanya tetap serius.

“Nadira.”

“Hm?”

“Aku nggak pernah nyentuh Nayla seperti aku nyentuh kamu.”

Deg.

Napas Nadira tercekat.

“Aku nggak pernah peduli Nayla nangis.”

Dadanya makin sesak.

“Aku juga nggak pernah takut kehilangan dia.”

“Stop…”

Suara Nadira melemah.

Karena semakin Arsen bicara…

Semakin sulit baginya bertahan.

Namun pria itu tetap menatap lurus ke matanya.

“Tapi waktu Rafael nyulik kamu…” suara Arsen turun rendah, “aku hampir bunuh orang.”

Jantung Nadira langsung terasa mau meledak.

Dan sialnya…

Sebagian dirinya senang mendengar itu.

Sangat senang.

Hari-hari berikutnya terasa aneh.

Terlalu tenang.

Rafael ditahan polisi.

Kasus penipuan dan percobaan pembunuhan mulai diproses.

Media ramai memberitakan skandal keluarga Maheswara dan Wijaya.

Namun untungnya identitas Nadira sebagai “pengganti Nayla” masih belum bocor.

Setidaknya untuk sekarang.

Namun yang paling membuat Nadira tidak tenang justru Arsen.

Karena setelah malam di gudang itu…

Pria itu tidak lagi menyembunyikan perasaannya.

Sama sekali.

“Kenapa kamu ngikutin aku terus?”

Nadira memelototi Arsen yang lagi-lagi muncul di café tempatnya duduk.

Pria itu santai menarik kursi di depannya.

“Karena kamu target pembunuhan beberapa hari lalu.”

“Aku mau beli cheesecake doang.”

“Aku ikut.”

“Kamu nggak kerja?”

“Aku bos.”

Nadira mendecih pelan.

Menyebalkan.

Namun diam-diam…

Ia mulai terbiasa ditemani seperti ini.

Dan itu bahaya.

“Kamu suka banget stroberi ya.”

Nadira langsung menoleh.

Arsen sedang memperhatikan cheesecake di depannya.

“Emang kenapa?”

“Lucu aja.”

“Apa lucunya?”

“Kalian kembar, tapi selera kalian beda total.”

Nadira tersenyum kecil.

“Iya.”

Lalu tanpa sadar ia berkata,

“Makanya aku bingung kenapa orang selalu nyamain kami.”

Tatapan Arsen langsung berubah lembut.

“Karena mereka nggak benar-benar lihat kamu.”

Deg.

Kalimat sederhana itu lagi-lagi berhasil membuat jantung Nadira kacau.

Sial.

Namun kebersamaan mereka tidak bertahan lama.

Karena malam itu semuanya berubah lagi.

Saat Nadira baru keluar dari café, beberapa wartawan tiba-tiba mengepung mereka.

“Nona Nayla!”

“Benar Anda terlibat kasus penipuan investasi?!”

“Apakah hubungan Anda dan Tuan Arsen retak?!”

Flash kamera langsung menyilaukan mata.

Nadira refleks mundur panik.

Arsen langsung berdiri di depannya melindungi.

“Geser.”

“Tuan Arsen, apakah benar Anda dekat dengan saudara kembar tunangan Anda sendiri?!”

Deg.

Nadira langsung membeku.

Wartawan lain ikut berteriak.

“Apakah benar selama ini yang menemani Anda adalah Nadira, bukan Nayla?!”

Jantung Nadira jatuh.

Mereka tahu.

Arsen langsung menggenggam tangan Nadira erat lalu membawa gadis itu masuk kembali ke dalam café.

Pintu ditutup cepat oleh security.

Nadira masih pucat.

“Mereka tahu…”

“Belum semuanya.”

“Tapi tinggal sebentar lagi!”

Napasnya mulai tidak stabil.

“Aku nggak bisa…”

Arsen langsung memegang kedua pundaknya.

“Lihat aku.”

Nadira menatapnya dengan mata panik.

“Tarik napas.”

“Aku takut…”

“Aku di sini.”

Dan lagi-lagi…

Kalimat itu membuat Nadira sedikit tenang.

Namun ketenangan itu langsung hancur saat ponsel Arsen berbunyi.

Pria itu mengangkat telepon sambil tetap memperhatikan Nadira.

“Iya?”

Wajahnya langsung berubah dingin.

“Siapa yang bocorin?”

Deg.

Nadira langsung merasa firasat buruk.

“Ada apa?”

Arsen mematikan telepon perlahan.

Tatapannya gelap.

“Media dapet foto kamu waktu nyamar jadi Nayla.”

Tubuh Nadira langsung dingin.

“Hah…?”

“Mereka bakal publish malam ini.”

Dunia terasa berhenti.

Selesai sudah.

Kalau semua orang tahu…

Keluarga mereka hancur.

Dan Nayla—

Nayla bakal makin terluka.

Malam itu rumah keluarga Maheswara berubah kacau.

Papanya mengamuk besar-besaran.

BRAK!

Gelas pecah menghantam lantai.

“GOBLOK!”

Mamanya menangis di sofa.

Sedangkan Nadira berdiri diam dengan wajah pucat.

“Aku udah bilang semua ini bakal ketahuan!” bentak Nadira akhirnya.

Papanya langsung menunjuknya marah.

“Kalau kamu nggak terlalu dekat sama Arsen, wartawan nggak bakal curiga!”

Deg.

Ruangan mendadak sunyi.

Dan kalimat itu terasa seperti tamparan.

Karena untuk pertama kalinya…

Papanya menyalahkan dirinya bukan karena gagal menjadi Nayla.

Tapi karena menjadi dirinya sendiri.

“Aku nggak pernah minta semua ini,” bisik Nadira.

“Kalau bukan karena kamu—”

“CUKUP!”

Semua langsung menoleh.

Nayla berdiri di tangga dengan wajah dingin.

Tatapannya tajam ke arah papanya.

“Jangan salahin Nadira terus.”

“Nayla—”

“Semua ini salah aku.”

Papanya langsung diam.

Nayla turun perlahan.

“Aku yang mulai semuanya.”

Air matanya jatuh lagi.

“Aku yang nyolong uang perusahaan.”

“Aku yang percaya Rafael.”

“Aku juga yang bikin Nadira harus hidup jadi aku.”

Suasana mendadak berat.

Dan untuk pertama kalinya…

Nayla terlihat lelah sekali.

“Aku capek jadi alasan semua orang terluka.”

“Nay…”

Namun Nayla menggeleng pelan.

Lalu menatap Nadira lama.

Tatapan rumit.

Sedih.

Tapi juga tulus.

“Maaf.”

Nadira langsung membeku.

“Apa?”

“Aku terlalu sibuk iri sama kamu sampai lupa…” Nayla tersenyum kecil pahit, “kamu juga menderita.”

Air mata Nadira langsung jatuh.

Karena setelah bertahun-tahun…

Mereka akhirnya benar-benar saling melihat.

Bukan sebagai saingan.

Bukan bayangan.

Tapi saudara.

Namun kedamaian kecil itu tidak berlangsung lama.

Karena beberapa detik kemudian—

Ponsel Nayla berbunyi.

Nomor tak dikenal.

Nayla mengangkatnya pelan.

“Halo?”

Wajahnya langsung berubah pucat.

“Apa?”

Nadira langsung merasa tidak enak.

“Nayla?”

Namun saudara kembarnya justru mulai gemetar.

“Tidak mungkin…”

“Nayla ada apa?!”

Perlahan Nayla menurunkan ponselnya.

Matanya membesar.

Penuh ketakutan.

“Itu Rafael.”

Deg.

“APA?!”

“Nggak mungkin…” Arsen langsung berdiri.

“Dia bilang…” suara Nayla pecah, “dia kabur.”

Dan saat itu juga…

Lampu rumah mendadak mati total.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!