"Tuhan!, tidak banyak yang ku pinta, hanya kuatkan hati ku, bimbing langkahku, agar aku selalu sabar dan ikhlas dengan semua kehendak dan ketentuan mu ini".
Kisah perjuangan hidup seorang anak manusia, seorang remaja miskin, putra dari seorang penderita odgj bernama Kaenan.
Hinaan, caci maki, fitnah dan perundungan bahkan kekerasan fisik, sudah menjadi lauk makan sehari hari.
Meskipun hidup dalam kemiskinan dan tak punya siapa siapa, satu hal yang masih di yakini Kaenan, dia masih punya Allah dan doa doa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvinoor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
"Kau benar mas, jika memang jodoh, Allah pasti akan mendekat yang yang paling jauh sekalipun, namun jika bukan jodoh kita, yang paling dekat sekalipun akan menjauh!" jawab Kaenan.
Diwaktu yang sama, disebuah kafe di pinggiran kota bagian Utara, dengan pemandangan pantai berpasir putih, nampak dua orang pria paruh baya sedang berbicara hal yang serius. Itu nampak dari tatapan mata dan cara mereka berdua berbicara.
"Kak!… ada urusan apa lagi sih, kau mengajak aku bicara empat mata di tempat sejauh dan sesepi ini?" tanya tuan muda Irfan pada kakak nya Arifin.
"Sabarlah de!, jangan bicara ngegas terus, ada sesuatu hal yang perlu kita rundingkan" sahut Arifin berusaha menekan kemarahan nya se rendah mungkin, agar semua rencana nya menjadi sukses.
"Masalah apa?" tanya tuan muda Irfan mulai merendahkan nada bicara nya.
"Bagai mana kabar putra mu itu de, aku sangat senang mendengar kabar kau berhasil menemukan keponakan ku yang hilang sepuluh tahun yang lalu itu" ujar tuan muda Arifin ber basa basi.
Tuan muda Irfan menarik nafas nya dalam dalam, meskipun mereka bersaudara, tetapi sebenarnya tidaklah benar benar akur.
"Baik, bahkan sangat baik, dia belum bersedia ikut kami, dia bersama mamah sekarang" sahut tuan muda Irfan.
Tuan muda Arifin tersenyum ramah, "oooh syukur lah kalau begitu, lalu bagai mana pendapat mu dengan keputusan papah itu?, terus terang aku tidak setuju, seharus nya papah adil, membagi warisan untuk kita berdua Fifty-Fifty , iya kan?" tanya tuan muda Arifin mulai memasang ancang ancang.
Yang namanya tuan muda Irfan dan tuan muda Arifin itu sama belang nya, maka mudah saja hasutan tuan muda Arifin masuk ke dalam otak nya.
"Iya sih kak!, menurut tuntunan agama juga papah salah, seharusnya kita berdua yang mewarisinya" ujar nya menanggapi hasutan kakak nya, tanpa sedikitpun mau berfikir.
Padahal jika dia mau merenung sedikit saja, bagian Syafea dan Kaenan sudah tujuh puluh persen di tangan. Namun karena ambisi dan hawa nafsu, hitungan itu tak lagi dipikirkan oleh nya. Yang muncul di otak nya, bagai mana supaya bisa mengakali harta warisan orang tua mereka, untuk kepentingan nya sendiri.
Bahkan setelah Kaenan menolak tinggal bersama nya, dia tidak lagi terlalu respek dengan anak muda itu.
"Aku punya usul, bagai mana jika pertentangan masalah warisan ini kita hentikan saja, biar kita miliki bersama saja seluruh harta warisan papah itu" usul dari tuan muda Arifin akhirnya keluar.
Tuan muda Irfan tersentak kaget mendengar usul dari kakak nya itu. Bukankah dengan usul itu, masalah jadi blunder lagi?, tanpa tahu kejelasan nya seperti apa.
"Maksud kakak bagai mana?" tanya tuan muda Irfan tidak paham.
"Kita satu kan putri ku dan putra mu, bagai mana, kan akhirnya tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang?" tanya Arifin.
"Putri mu sudah dua puluh empat tahun, sementara putra ku baru empat belas tahun, mana dia mau beristri sama tante tante?" tanya tuan muda Irfan ragu ragu.
"Itu mah mudah de, aku mendengar dia putra angkat Kiai Nuruddin, nah kita buat kesan........!" tuan muda Arifin berbisik di telinga adik nya, yang disambut tawa geli tuan muda Irfan.
"He, he, he, he!, akal manusia licik, papah pasti panik setengah mati, dan ujung ujung nya meminta bantuan Kiai Nuruddin untuk membujuk Kaenan , dan aku yakin jika Kiai yang turun tangan, anak itu akan menurut, oke oke aku setuju dengan saran kaka tadi" sahut tuan muda Irfan.
Sebenarnya bukan masalah persaingan yang di pikirkan oleh tuan muda Irfan, tetapi nilai saham perusahaan yang kelak akan dia genggam. Bayangan tiga puluh persen saham milik Syafea, lalu empat puluh persen milik Kaenan, ditambah nanti tiga puluh persen milik Bianca yang juga akan menjadi milik nya, sehingga seratus persen saham perusahaan itu akan menjadi milik nya sendiri. Itu berarti perusahaan Hanggada group yang besar itu akan menjadi milik nya sendiri sepenuh nya.
Jika perusahaan sudah menjadi milik nya semua, sangat gampang baginya untuk menyingkirkan kakak nya Arifin dan juga Bianca putri nya itu dari kehidupan nya.
Sebenarnya dia tidak terlalu suka jika Kaenan menikah dengan Bianca, masalah usia yang terpaut sepuluh tahunlah yang membuat nya tidak suka. Namun demi tujuan yang lebih besar lagi, dia rela melakukan apa saja, meskipun harus mengorbankan keluarga nya.
Semenjak pembicaraan secara rahasia itu terjadi, entah hasilnya dil atau tidak, yang pasti, tuan muda Arifin dan tuan muda Irfan semakin pasang jarak, bahkan jarang berbicara, jika pun berbicara, hanya sekedar basa basi dihadapan tuan besar Baskoro saja.
Semakin lama, pertentangan antara dua saudara itu semakin terlihat nyata, dari saling berbalas sindiran, hingga perkelahian mulut, bahkan mulai merambah pada saling ancam.
Tuan besar Baskoro bukan nya tidak tahu, dia tahu pertentangan antara kedua orang putra nya itu, namun jika dia turuti, perusahaan di bagi menjadi dua, dia yakin tidak akan berjalan hingga satu tahun, Hanggada group akan tinggal sejarah saja. Karena kedua orang putranya itu, meskipun sarjana ekonomi, namun sedikitpun tidak memiliki bakat di bidang Dunia usaha. bakat keduanya hanya ber hura Hura, bermabuk mabukan dengan teman teman nya yang kebanyakan para preman itu.
Meskipun sudah berusia paruh baya, dan memiliki putra putri, namun sikap kedua nya, seperti tidak pernah dewasa saja.
Tuan muda Arifin dan tuan muda Irfan, meskipun bekerja dalam satu kantor dengan papah nya, namun sangat terasa suasana tegang yang terjadi.
Kini didalam kantor, terlihat seperti terbagi menjadi dua kubu, yaitu kubu tuan muda Arifin dan kubu tuan muda Irfan, masing masing tidak mau mengalah, masing masing ingin memiliki pengaruh mayoritas di kantor.
Sebagai akibat nya, jalan nya perusahaan mulai terganggu, akibat ulah kedua putra mahkota Hanggada group itu.
Pada satu ketika, saat tuan besar Baskoro baru saja datang ke kantornya, dia naik ke ruangan nya mempergunakan lift khusus petinggi perusahaan, tidak bercampur dengan lift umum.
Saat baru saja dia keluar dari pintu lift, pria tua itu tertegun mendengar obrolan dua orang pegawai nya.
"Wid!, kau merasa tidak jika sekarang suasana kerja semakin tidak enak saja, ikut sana salah, ikut sini salah" suara obrolan seorang wanita di dalam sebuah ruangan.
"Iya sih Sri, diam tidak ikut ikutan, dianggap membela lawan nya, ikut ikutan juga salah" sahut yang lain nya lagi.
"Tuan besar tahu tidak ya Wid?" ....
"Kaya nya sih, tahu Sri, hanya saja tuan besar masih diam saja" ....
"Lalu menurut mu, kita harus bagai mana?, apa ngikuti yang lain lain nya, untuk mundur dari perusahaan ini?" ....
"Mau mundur, aku tidak punya apa apa lagi Sri, seharus nya tuan besar bisa meredam masalah kedua orang putra nya itu" ujar Widari kepada Sri rekan kerja nya.
"Bagai mana cara nya Wid?" tanya Sri lagi.
"Kawinkan putra tuan muda Irfan dengan putri tuan muda Arifin, kalau berbesan, pasti mereka tidak lagi cakar cakaran, karena semua harta yang mereka perebutkan itu menjadi milik putra putri mereka juga!" ujar Widari kepada rekan nya itu.
"Kau gila Wid!, mana mau pak Irfan, kudengar putra nya baru berusia empat belas tahun, sementara nona Bianca sudah dua puluh empat tahun, selisih sepuluh tahun Wid, bukan tiga atau empat tahun, tapi sepuluh tahun, kaya kawin sama Tante Tante dong!" ....
"He he, he, he!, biar Tante Tante, tapi kan cantik, seksi berpendidikan tinggi, dan dada serta bokong nya itu lho Sri, ngalah ngalahin janda enam kali, he, he, he, he!" tawa Widari pecah
"Hus!, di dengar tuan muda Arifin, tahu rasa kau!" tegur Sri.
Obrolan random dua orang karyawan nya itu sebenarnya tidak terlalu berarti, hanya obrolan dua orang wanita biasa saja.
Namun tuan besar Baskoro, justru termenung di dalam ruangan pribadinya, memikirkan obrolan dua orang tadi.
Pikiran tuan besar Baskoro dilema, seandainya nya perusahaan diserahkan kepada kedua orang putra nya, maka bisa dipastikan, hanya dalam waktu tidak lebih dari satu tahun, Hanggada group akan tinggal sejarah saja, usahanya semenjak usia muda, lenyap sia sia, jika tidak di serahkan, kedua orang putranya akan saling gontok gontokan, memperebutkan harta kekayaan nya.
"Kawinkan putra tuan muda Irfan dengan putri tuan muda Arifin, kalau berbesan, pasti mereka tidak lagi cakar cakaran, karena semua harta yang mereka perebutkan itu menjadi milik putra putri mereka juga!" .
Kata kata obrolan dua orang karyawan nya tadi tiba-tiba terngiang ngiang kembali di dalam telinga tuan besar Baskoro.
Tuan besar Baskoro berdiri, melangkah ke jendela, menatap sekitar dari ketinggian ruangan nya itu, merenung beberapa saat. Namun sebenarnya pria tua itu tidak benar benar melihat pemandangan, pikiran nya berkeliaran kemana mana.
"Ku biarkan saja, sama hal nya aku menyimpan bara yang lambat lain akan membakar semuanya, tetapi jika aku bertindak seperti ucapan orang orang tadi, kasihan Kaenan yang akan menjadi korban nya, namun jika tidak, rasa nya tidak ada lagi jalan lain nya selain itu" pikir tuan besar Baskoro.
Tuan besar Baskoro menghempaskan tubuhnya diatas sofa, menyandarkan tubuh nya sambil memejamkan mata nya, pelipisnya terlihat berdenyut keras.
"Kawinkan putra tuan muda Irfan dengan putri tuan muda Arifin, kalau berbesan, pasti mereka tidak lagi cakar cakaran, karena semua harta yang mereka perebutkan itu menjadi milik putra putri mereka juga!" .
"Tapi jika itu ku lakukan?, sudah tepat kah kira kira?, orang orang akan menertawakan aku, tetapi… jika tidak ku lakukan, bahaya perpecahan tak akan bisa terhindarkan lagi, aku takut mereka akan saling bunuh demi harta benda ku, oh! Hanya sampai disini saja kah kekayaan yang ku cari dengan susah payah?, haruskah hancur sampai disini saja, kedua orang putra ku tidak ada yang mampu meneruskan usaha ku!" keluh tuan besar Baskoro di dalam hati nya.
Pria tua itu kembali berdiri dan melangkah ke arah jendela, menatap ke kejauhan, namun pikiran nya melayang entah kemana, sehingga suara pintu ruangan di ketuk pun dia tidak mendengarnya.
...****************...