NovelToon NovelToon
Monokrom

Monokrom

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Sci-Fi / Anak Genius
Popularitas:576
Nilai: 5
Nama Author: aytysz_

Bertahan atau melangkah pergi?

Memberi pertolongan atau malah menyudutkan?

Banyak hal yang harus di mengerti dengan meluaskan pendengaran ataupun penglihatan. Agar mempercayai tidak mendapat balasan dari seorang penghianatan-- yang tersembunyi di balik kesalahannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

00^18

Mengalihkan pandangannya untuk melihat bangunan di sisi kananya. Di mana tempat tinggal seorang gadis yang terus berusaha untuk tetap terlihat baik-baik saja. Walau nyatanya tidak seperti itu. Dan, ia juga tidak bisa memberi pertolongan itu sepenuhnya. Karena, hidupnya akan jauh lebih suram jika terlibat dalam masalah orang lain.

"Apa yang kau bicarakan dengan wanita itu?"

Suara familiar ampuh membuat sang empu menoleh. Melihat seorang pria dewasa yang kini tengah menutup coffe shop miliknya.

"Bukan apa-apa." Balas Aldi dengan lengkungan tidak sempurna. Melangkah mendekat, tepat di hadapan sang pria yang telah membesarkan Aldi sendiri, tanpa sosok pendamping dalam hidupnya.

"Benarkah?" Ada keraguan yang tertanam di kedua mata sang pria.

Dan Aldi hanya bergumam sebagai tanggapan. Membuat kepala pria itu mengangguk kecil.

"Jangan pernah kau menutupi apapun dari ayah Aldi, ingat itu. Karena, tidak semua orang yang terlihat tulus itu menyimpan kebaikan dalam hatinya. Jadi kau harus waspada dengan siapapun saat ini." Penuh peringatan pria itu mengatakannya.

"Teman baik pun juga bisa menjadi monster paling menakutkan." Sambungnya, sembari berjalan beriringan dengan Aldi. Ke arah di mana mobil hitam yang terpakir tidak jauh dari lokasi mereka berada.

"Bagaimana jika, ada satu alasan yang mengharuskan mereka menjadi monster? Contohnya, masalah nilai. Orang tua akan menuntut anak mereka agar menjadi yang pertama, hingga membuat anak mereka mau tidak mau melakukan hal yang di luar dugaan. Seperti, merundung temannya sendiri." Diam sejenak, Aldi kini masuk kedalam mobil.

"Bukankah penyebab utama dalam masalah itu adalah orang tua?" Sambung Aldi, sembari melekatkan sabuk pengaman pada tubuhnya. melihat sang ayah melakukan hal yang sama.

"Jika orang tua tidak menutut anak mereka, kemungkinan besar, perundungan tidak akan pernah terjadi. Dan, saling menjatuhkan karena nilai pun juga tidak akan pernah ada." Tambah Aldi yang entah kenapa menjadi sosok yang banyak bicara saat beradu argumen dengan sang ayah.

"Sebenarnya itu bukan tuntutan orang tua untuk sang anak." Jawab pria itu, sebentar melihat Aldi sembari melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.

"Karena sebagain besar orang tua tidak ingin melihat masa depan anak mereka suram karena kurang pendidikan. Dan bukan berarti mereka gila akan kedudukan." Lanjut sang pria.

"Orang tua hanya ingin anak mereka mendapat perlakuan baik dari orang-orang di sekitar." Diam sejenak melena ludah getirnya. "Mungkin sebagain besar dari orang tua melakukan hal seperti itu. Karena orang tua pernah berada di posisi, di mana banyak orang tidak pernah menghargai kehadirannya ataupun pendapatnya. Itu sangat melukai harga diri mereka."

"Bagaimana jika orang tua terlalu obsesi terhadap nilai anak mereka karena gengsi?" Tanya Aldi yang tercetus begitu saja dari mulutnya.

"Penekanan, mungkin ada satu pihak keluarga yang membuat orang tua seperti itu. Dan, sebuah ancaman yang menakutkan." Rendah sang ayah. Berharap Aldi mengerti akan perkataannya.

Diam sesaat tidak langsung membuka suaranya kembali. Aldi berusaha tetap tenang saat melontarkan perkataannya. "Apa ancaman itu ada pada ibu?"

Entah karena lampu lalu lintas yang berubah menjadi merah, atau karena ucapan dari Aldi . . membuat sang ayah menginjak rem begitu saja, yang ampuh menyentakkan tubuh Aldi. Sedikit terdorong ke depan.

"Aku tadi sempat melihatnya bersama temannya di tempat ibu mencari nafkah. Seharusnya aku menghampirinya, bukannya pergi begitu saja." Sangat tenang, Aldi mengungkapkan apa yang terjadi pada dirinya malam ini, sembari menyandarkan punggungnya. pandangan lurus kedepan, tanpa adanya ukiran senyum di wajahnya, yang terlihat sedikit murung.

"Dan aku juga ingin tahu, apa alasannya memilih pekerjaannya ketimbang keluarganya." Mengangguk pelan dengan kalimat sebagai pengimbuh perkataannya.

"Seharusnya dia mengunjungi ku sesekali, jika pun dia sangat membenci ayah." Diam. Sesuatu terlintas di kepala Aldi. Dengan cepat menatap lekat sang ayah. Perlahan menaikan sebelah alisnya. Karena Aldi melayangkan sorot mata penuh curiga.

"Jangan bilang, ayah melarang ibu untuk tidak menemuiku." Tambah Aldi.

"Jika ayah bisa mengobrol dengan ibumu, ayah akan menahannya pergi ketempat itu dan menyuruhnya diam di rumah untuk mengurus mu." Jelas sang pria, seraya menginjak pedal gas pada mobilnya yang kini kembali melaju saat lampu lalu lintas berubah menjadi warna hijau.

"Bukankah surat cerai itu belum ayah miliki. Jadi ayah masih berhak mengatur kehidupan ibu. Karena ayah kepala rumah tangga." Sedikit memberi saran, Aldi tidak memiliki harapan sedikit pun terhadap ayahnya sendiri. Karena semaki tinggi harapan itu dalam bayangannya, akan semakin mudah hidupnya melangkah kejalan yang penuh kesuraman.

"Jika itu sangat mudah di lakukan, ibumu tidak akan pernah keluar dari rumah itu." Pelan sang pria untuk mengakhiri obrolannya bersama Aldi malam ini.

...ʚɞ...

Ketakutan yang ada dalam diri telah hilang entah kemana, akan kepercayaan diri selalu tertanam dalam sukma. Untuk tidak merasa tertindas saat lawan bicara terus melontarkan kalimat kasar untuknya.

Karena terlihat lemah di hadapan sang lawan, akan memudahkan mereka menjatuhkan harga dirinya sebagai sosok yang tidak mudah di rendahkan sebagai seorang perempuan.

Sekilas melihat seorang pelayanan yang baru saja menyambut kepulangannya dari ruang belajar, tidak membuat gadis itu membalas sapaan dia wanita yang terlihat sedikit jauh lebih tua dari gadis itu.

"Di mana ibumu? Kenapa kau pulang sendiri." Tanya sang ayah sembari melangkah mendekat. Membuat kaki jenjang gadis itu mengurungkan niatnya untuk menaiki beberapa anak tangga itu.

"Apa dia berpamitan ingin menjemputku?" Balik tanya sang gadis itu katakan dengan senyum kecil yang sulit untuk di lihat lawan bicara.

"Dia tidak bersamamu ternyata." Gumam sang pria yang masih sangat jelas masuk ke pendengaran gadis itu.

"Masuklah ke kamar mu dan bersihkan tubuh mu. Setelah itu turun dan makan, karena kepala mu itu akan lelah jika di penuhi oleh kalimat-kalimat dari bukumu." Pinta sang ayah. Diam sebentar melihat putrinya, sebelum memutar tumit untuk melangkah pergi dari hadapan putrinya. Yuna.

"Kuharap ibu tidak membuat kekacauan." Rendah Yuna, yang mulai menapakkan kakinya pada anak tangga.

Hingga langkah itu kembali terhenti saat suara langkah kaki yang masuk ke telinga Yuna. Menghentikan langkah kakinya dengan pandangan melihat ke arah wanita yang terus melangkah tanpa sadar jika Yuna melihat kepulangannya dari tempat tujuannya hari ini.

"Ini bukan kali pertamanya aku melihat ibu pulang dengan wajah gelisah. Sebenarnya siapa yang ibu temui? Kenapa ibu tidak berpamitan dengan jujur pada ayah? Dan selalu menjadikan ku sebagai alasan ibu." Lontar Yuna begitu saja. Ampuh membuat langkah kaki Diandra terhenti akan suara itu.

Perlahan menoleh ke arah di mana Yuna berada dengan sorot mata yang sangat tajam penuh arti.

1
Ros 🍂
hallo mampir ya Thor 💪🏻
M ipan
halo🌹 salam kenal
aytysz: haii, salam kenal jugaa🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!